by

Seri Kepeloporan Syi'ah (1)

qur 

Kepeloporan Syi’ah

Di Bidang Ulumul Quran (1)

 

 

 

Sebelum memulai pembahasan, perlu diingatkan kedudukan Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai pemulai dan pelopor dalam mengembangkan berbagai ilmu Ulumul Quran. Sesungguhnya beliau telah mendiktekan enam puluhan cabang ilmu Ulumul Quran, dan menyebutkan contoh yang khas untuk setiap cabang. Semua itu terhimpun dalam sebuah buku yang kami riwayatkan dari beliau melalui bebarapa jalur periwayatan yang tersedia pada kami sampai sekarang ini. Buku itu adalah pedoman pokok bagi setiap orang yang telah menulis mengenai macam-macam cabang ilmu Al-Quran.

Mushaf atau kitab pertama yang menghimpun ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan urutan masa penurunannya setelah wafat Nabi saw. adalah mushaf Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. Terdapat sejumlah riwayat mengenai hal ini dari jalur Ahlul Bait secara mutawatir, dan dari jalur Ahlisunah secara mustafidz (satu tingkat di bawah mutawatir). Sebagiannya telah kami singgung di dalam kitab pertama kami, yakni Ta’sisusy-Syi’ah li Fununil Islam. Di sana kami telah mendiskusikan pandangan Ibnu Hajar Al-Asqolani secara kritis.

 

 

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama Yang Mengarang Kitab Mengenai Ilmu Tafsir Al-Quran.

Orang pertama yang mengarang buku seputar ilmu Tafsir ialah seorang tabi’in bernama Said ibn Jubair r.a. Kala itu, ia adalah orang yang paling ahli di bidang Tafsir di antara para Tabi’in, sebagaimana yang dilaporkan oleh As-Suyuthi di dalam Al-Itqon dari periwayatan Qotadah seraya menyebutkan tafsirnya. Juga Ibn Nadim menying-gung nama Said di dalam Al-Fehrest tatkala menyebutkan karya-karya yang dikarang seputar tafsir Al-Quran. Sementara itu, sebelum Said belum ada tafsir yang pernah dinisbahkan kepada selainnya.

Said meninggal dunia pada tahun 94 H. Tak syak lagi, ia adalah salah satu Syi’ah yang tulus. Ulama-ulama kami telah memberikan kesaksian ini secara tegas di dalam kitab-kitab ilmu Rijal, seperti Allamah Jamaluddin ibn Al-Muthahhar di dalam Al-Khulashah dan Abi Amr Al-Kasyi di dalam Kitabun fir-Rijal. Yang terakhir ini di dalam kitabnya meriwayatkan sejumlah riwayat dari Imam-Imam a.s. mengenai sanjungan mereka kepadanya, kesyi’ahannya dan ketulusannya pada Syi’ah. Al-Kasyi mengatakan: “Dan alasan pembunuhan Hajjaj ibn Yusuf atas Said tidak lain adalah karena persoalan ini, yakni keSyi’ahaannya, pada tahun 94 H”.

Dan perlu diketahui bahwa sekelompok dari tabi’in Syi’ah telah memulai mengarang di bidang tafsir Al-Quran setelah Said ibn Jubair. Di antara mereka adalah As-Sudi Al-Kabir Ismail ibn Abdurrahman Al-Kufi Abu Muhammad Al-Qurasyi yang wafat pada tahun 127 H. Di dalam Al-Ithqon, As-Suyuthi mengatakan: “Karya tafsir terbaik adalah tafsir tafsir Ismail As-Sudi. Darinyalah para Imam-imam mazhab menukil banyak riwayat”.

Saya katakan bahwa selain As-Suyuthi, An-Najasyi pun telah menyebutkan tafsir As-Sudi. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Asma’ Mushannifis Syi’ah. Adapun Ibnu Qutaibah secara tegas memberikan kesaksiannya atas kesyi’ahan As-Sudi di dalam Kitabul Ma’arif, juga Ibn Hajar Al-‘Asqolani di dalam At-Taqrib dan Tahzibut Tahzib. Ismail As-sudi adalah salah satu sahabat Imam Ali ibn Husein, Imam Muhammad Al-Baqir dan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Di antara mereka adalah Muhammad ibn As-Saib ibn Bsyr Al-Kalbi, pengarang tafsir yang terkenal itu, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibn Nadim tatkala ia mengurut nama kitab-kitab yang dikarang berkenaan dengan tafsir Al-Quran. Ibn Uday dalam Al-Kamil-nya mengatakan: “Al-Kalbi mempunyai hadis-hadis yang sahih dan khas (Syi’ah, pent.) yang diriwayatkannya dari Abi Soleh, dan ia terkenal di bidang tafsir. Bahkan, tidak ada seorang pun yang mengarang tafsir setebal dan seindah karya tafsir Al-Kalbi”.

As-Sam’ani mengatakan: “Muhammad ibn As-Saib, pengarang tafsir, adalah warga kota Kufah. Ia menganut ajaran Raj’ah. Anaknya bernama Hisyam yang bernasab mulia dan bermazhab Syi’ah yang kuat”. Saya katakan bahwa Ibn Saib adalah seorang Syi’ah dan sahabat dekat Imam Ali Zainal Abidin dan Imam Muhammad Baqir a.s. Ia wafat pada 146 H.

Di antara mereka adalah Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi, seorang tokoh di bidang tafsir Al-Quran. Ia mempelajari ilmu ini dari Imam Muhammad Baqir a.s. dan ia termasuk orang-orang yang dekat dengan beliau. Jabir telah mengarang sebuah tafsir Al-Quran dan selainnya. Tercatat pada tahun 127 H ia meninggal dunia. Tafsir Jabir tidaklah sama dengan tafsir Imam Baqir yang telah disebutkan oleh Ibn Nadim tatkala ia mengurut nama kitab-kitab yang dikarang di bidang tafsir. Ibn Nadim mengatakan: “Kitab Muhammad ibn Ali ibn Husein Al-Baqir telah diriwayatkan oleh Abul Jarud Ziyad ibn Munzir, Imam mazhab Jarudiyah Zaidiyah”. Saya katakan bahwa  sekelompok dari perawi-perawi terpercaya Syi’ah seperti: Abu Bashir Yahya ibn Qosim Al-Asadi dan selainnya, telah menukil menukil kitab Imam Baqir tersebut dari Abul Jarud di masa-masa kemurnian kesyi’ahannya; yakni sebelum ia menjadi penganut Zaidiyah.

 

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama Yang Mengarang Di Bidang Qiroah Dan Merumuskannya Sebagai Ilmu, Dan Orang Pertama Yang Menghimpun Bacaan-bacaan Al-Quran

Perlu dicatat bahwa orang pertama yang merumuskan ilmu Qira’ah adalah Aban ibn Taghlab Ar-Ruba’i Abu Said. Ia biasa juga dipanggil Abu Umaimah Al-Kufi. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifis Syi’ah mengatakan: “Sesungguhnya Aban rahimahullah adalah pelopor di berbagai bidang ilmu Al-Quran, Fiqih dan Hadis. Aban juga memiliki bacaan tersendiri yang masyhur di kalangan para Qori’”. An-Najasyi dalam periwayatan kitab tafsir Aban mengurut sanadnya dari Muhammad ibn Musa ibn Abu Maryam, pengarang kitab Al-Lu’lu’, sampai ke Aban. Di sana Aban mengata-kan: “Dan pertama-tama hanyalah Hamzah sebagai pelatihan…”.

Ibnu Nadim dalam Al-Fehrest menyebutkan karangan Aban mengenai ilmu Qira’ah. Ia mengatakan: “Di antara karya-karya Aban ialah kitab Ma’anil Quran yang indah, Kitabul Qira’ah dan Kitab minal Ushul mengenai ilmu Riwayat menurut mazhab Syi’ah”.

Setelah Aban adalah Hamzah ibn Habib, salah seorang Pencetus tujuh bacaan, yang mengarang kitab Al-Qiroah. Ibn Nadim mengatakan di dalam Al-Fehrest: “Al-Qiroah adalah kitab yang ditulis oleh Hamzah ibn Habib; salah seorang dari tujuh sahabat terdekat Imam Ja’far Ash-Shadiq”. Sementara itu, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi telah menyinggung ihwal Hamzah ini di dalam Kitabur Rijal seputar sahabat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. Dan telah ditemukan catatan yang ditulis oleh Syeikh Syahid Muhammad ibn Makki dari Syeikh Jamaluddin Ahmad ibn Muhammad ibn Al-Haddad Al-Hilli, yaitu demikian: “Al-Kisaie telah belajar Al-Quran pada Hamzah, dan Hamzah pada Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq, dan Ash-Shadiq pada ayahnya, dan ayahnya pada ayahnya, dan ayahnya pada ayahnya, dan atahnya pada Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib”. Saya katakan bahwa Hamzah juga belajar pada Al-A’masy dan Himran ibn A’yan; yang keduanya adalah tokoh Syi’ah, sebagaimana yang akan kita kenal.

Hingga kini, belum ada nama yang dikenal selain Aban dan Hamzah dalam pengarangan kitab di bidang Qiroah. Misalnya, Adz-Dzahabi dan selainnya yang menulis mengenai generasi para pembaca Al-Quran mencatat bahwa orang pertama yang mengarang di bidang Qira’ah adalah Abu ‘Ubaid Al-Qosim ibn Salam yang wafat pada 224 H. Menurut catatan ini, jelas Aban telah memulai lebih dahulu, sebab Adz-Dzahabi sendiri dalam Al-Mizan dan As-Suyuthi di dalam Ath-Thabaqot menuliskan tahun wafat Aban pada 141 H. Maka itu, Aban 83 tahun lebih dahulu mengarang daripada Abu Ubaid. Begitu pula   sekaitan dengan Hamzah ibn Habib. Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menuliskan tahun kelahirannya pada 80 H dan tahun wafatnya pada 156 H. Ada yang mengatakan wafatnya pada 154 H, ada pula yang mencatatnya pada 158 H, kendati tahun yang terakhir ini tidak valid.

Ala kulli hal, dapat disimpulkan bahwa Syi’ah adalah pelopor di bidang penyusunan ilmu Qiroah dan bacaan  Al-Quran. Fakta ini tidaklah luput dari kesadaran sang Penghafal Al-Quran Adz-Dzahabi dan sang penghafal Al-Quran dari Syam As-Suyuthi. Hanya saja, mereka hendak menunjukkan muslim pertama di antara Ahli Sunnah yang mengarang kitab di bidang Qiroah, bukan di antara umat Islam secara umum.

Di samping itu, dalam perihal penyusunan ilmu Qiroah, terdapat sekelompok Syi’ah selain yang telah saya sebutkan seperti: Ibn Sa’dan Abu Ja’far ibn Sa’dan Adl-Dlurair. Ia aktif sebagai penyusun ilmu Qiroah sebelum Abu Ubaid. Pada pembahasan ‘Pembaca-pembaca Syi’ah’, Ibn Nadim dalam Al-Fehrest menuliskan: “Ibn Sa’dan adalah guru masyarakat Ahli Sunnah, salah seorang pembaca berdasarkan bacaan Hamzah, kemudian ia memilih bacaan untuk dirinya sendiri. Ia lahir di Baghdad, bermazhab Kufah (Syi’ah, pent.), wafat pada 131 di hari Arafah. Di antara karya-karyanya ialah Kitabul Qira’ah, Mukhtasharun Nahw. Dan ia pun memiliki kumpulan definisi, semacam kumpulan definisi Al-Fara’”.

Seperti juga Ibn Sa’dan adalah Muhammad ibn Al-Hasan ibn Abu Sarah Ar-RAwasi Al-Kufi, guru Al-Kisaie dan Al-Fara’. Ia adalah salah seorang sahabat dekat Imam Muhammad Baqir a.s. Abu Amr Ad-Danie telah menyebutkannya di dalam Thabaqotul Qurra’, dan mengatakan: “Muhammad ibn Al-Hasan telah meriwayatkan ilmu Huruf dari Abu Amr dan belajar pada Al-A’masy; seorang ulama Kufi (Syi’ah, pent.). Ia mempunyai mazhab yang khas dalam Qira’ah yang juga dianut oleh sebagian orang. Darinyalah Khallad ibn Khalid Al-Manqori dan Ali ibn Muhammad Al-Kindi belajar ilmu Huruf, darinya pula Al-Kisaie dan Al-Farra’ meriwayatkan ilmu tersebut”.

Muhammad ibn Al-Hasan wafat pada belasan tahun setelah seratus hijriyah. Di antara karya-karyanya ialah Kitabul Waqf, Al-Ibtida’ dalam edisi besar dan kecil, dan Kitabul Hamaz sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifis Syi’ah dan oleh selainnya.

Di sini perlu juga dibubuhkan nama Zaid, sang syahid. Ia mempunyai qiroah datuknya, Amiril Mukminin Ali bin Abu Thalib a.s., sebagaimana telah dinukil oleh Umar ibn Musa Ar-Rojhi. Di pembukaan kitab qiroah Zaid, Umar mengatakan: “Aku telah mendengar qira’ah ini dari Zaid ibn Ali ibn Al-Husein ibn Ali ibn Abi Thalib a.s. Sungguh aku tidak pernah menemukan orang yang paling mengerti tentang Al-Quran, ayat-ayat nasikh dan man-sukhnya, bentuk dan tata bahasanya, selain Zaid ibn Ali”. Zaid wafat pada tahun 122 H dalam keadaan syahid di masa kekuasaan Hisyam ibn Abdul Malik, salah seorang raja dinasti Bani Umayyah. Di saat wafat, ia berusia 42 tahun, lantaran ia lahir pada 82 H.

Semua nama-nama yang telah saya bawakan di atas tadi benar-benar telah memulai lebih dahulu dalam penyusunan dan perumusan ilmu qiraah (pembacaan Al-Qr’an) daripada Abu Ubaid Al-Qosim ibn Salam. Dengan demikian, dapat dibuktikan kepeloporan kaum Syi’ah di dalam penggagasan dan penyusunan ilmu Qira’ah. [Bersambung]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed