by

Sesnsor Diri Dalam Sejarah Islam

imamah

Sensor Diri dalam Sejarah Islam:

Sebuah Studi Kasus atas Da’wat dzu’l Asyira

 
Pengantar
Kebanyakan pelajar dalam bidang sejarah Islam memulai dengan asumsi bahwa jika sebuah peristiwa atau sebuah perkataan tidak dinukilkan dalam kitab-kitab sumber awal sejarah kaum Muslimin atau hadis seperti as-Sirah an-Nabawiyah-nya Ibnuu Hisyam atau Sahih al-Bukhari, maka keberadaan hadis atau suatu peristiwa pada kitab lainnya niscaya terjadi sebuah pemalsuan sehingga tidak dapat diandalkan kebenarannya. Mereka cenderung mengabaikan bias (keberpihakan) dan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh sejarawan itu, mungkin karena aturan penguasa atau juga karena kecendrungan pribadi mereka. Bias-bias ini tidak hanya relevan dalam memalsukan sosok mistikal, peristiwa dan perkataan, tetapi ia juga selaras dalam mengabaikan dan dengan diam-diam melewatkan begitu saja cerita-cerita atau tokoh-tokoh sejarah tertentu.
Tulisan ini bermaksud untuk menguji metode para sejarawan muslim yang berhubungan dengan dakwah pertama kepada Islam yang lebih dikenal sebagai ” Da’wat dzu ‘l Asyira .”
 
Dakwah Pertama kepada Islam
Islam bermula ketika Nabi Muhammad Saw berusia empat puluh tahun. Sebelumnya dakwah Rasulullah Saw bersifat sembunyi-sembunyi. Kemudian tiga tahun selepas kedatangan Islam, Nabi Saw diperintahkan supaya memulai dakwah terbuka untuk menyampaikan pesan-pesan samawi. Kejadian ini berlangsung ketika Allah Swt mewahyukan ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Qs.Asy-Syu’araa [26]:214)
Ketika ayat ini turun, Rasulullah Saw mengadakan sebuah perjamuan yang dikenal dalam sejarah sebagai ” Da’wat dzu ‘l Asyira “. Rasulullah Saw mengundang sekitar empat puluh laki-laki kerabat beliau dari Bani Hasyim dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan jamuan makan malam. Setelah menjamu tamu-tamu beliau dengan makanan dan minuman, Rasulullah Saw bermaksud untuk berbicara kepada mereka tentang Islam, Abu Lahab mendahuluinya sambil berkata kepada para tamu ketika itu, katanya: “Tuan rumahnya telah sekian lama menyihir anda “. Seluruh tamu membubarkan diri sebelum Rasulullah Saw menyampaikan pesan beliau.
Rasulullah Saw kemudian mengundang mereka lagi pada hari berikutnya, Setelah perjamuan, beliau bersabda kepada mereka: ” Wahai Bani Abdul Muttalib, Demi Allah, Aku tidak kenal seseorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada umatnya lebih baik dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa sesuatu untuk kebaikan kalian dunia dan akhirat. Aku telah diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengajak kalian kepada-Nya. Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang ingin membantuku dalam urusan ini sehingga ia akan menjadi saudaraku (akhi), pelaksana wasiatku (wasiyyi) dan khalifah sepeninggalku?
Panggilan ini adalah panggilan pertama ketika Rasulullah Saw berdakwah secara terbuka kepada mereka dalam hubungannya untuk menerima beliau sebagai utusan dan Rasul Allah Swt; beliau juga menggunakan kalimat: ” akhi wa wasiyyi wa khalifati ” – saudaraku, penggantiku, khalifahku ” dengan alasan, ialah yang akan membantunya dalam menunaikan misi Rasulullah Saw. Ketika itu mereka semua diam dan tidak menjawab seruan Nabi, mereka semuanya mundur teratur menghadapi seruan ini, kecuali seorang yang paling muda di antara mereka yakni Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: “Aku akan bersedia menjadi penolongmu, wahai Rasulullah.”
Nabi Saw kemudian menaruh tangannya di pundak Ali dan berkata: ” Innâ hadzâ akhii wa wasiyyi wa khalifati fikum, fasma’u lahu wa athi’u – sesungguhnya ia ini adalah saudaraku, penggantiku dan khalifahku di antara kalian, dengarkan dan taatilah ia.”[1]
Proklamasi ini merupakan perkataan yang terang karena para hadirin memahami penunjukkan Ali ini dengan sangat jelas. Beberapa di antara hadirin, termasuk Abu Lahab, bahkan dengan bercanda kepada Abu Thalib ia berkata bahwa kemenakanmu, Muhammad, memerintahkanmu untuk mendengarkan anakmu dan mentaatinya! Setidaknya, seloroh Abu Lahab ini menunjukkan bahwa pengangkatan Ali bin Abi Talib adalah masalah yang terang dan jelas (eksplisit), tidak samar (implisit).
 
Ibnu Hisyam dan Da’wat
Satu pertanyaan yang mengemuka dalam hubungannya dengan masalah ini, mengapa Abdul Malik Ibnu Hisyam (wafat 213 H) tidak menyebutkan peristiwa ini dalam kitabnya, as-Sirah an-Nabawiyyah? Padahal ia adalah sejarawan pertama.
Apa yang dikenal sebagai Sirah-nya Ibnuu Hisyam sebenarnya adalah ringkasan kitab Muhammad Ibnu Ishaq (lahir tahun 85 Setelah Hijriah di Madinah dan wafat 151 Setelah Hijrah di Baghdad). Kitab Târikh Ibnu Ishaq merupakan kitab yang masih utuh, lengkap belum diringkas. Dan kitab ini tidak dapat dijumpai lagi. Jadi pertanyaan yang kini  harus dirumuskan kembali adalah: “Apakah Ibnu Ishaq tidak menyebutkan peristiwa ini  di dalam kitabnya?”
Pertimbangan-pertimbangan politik yang mempengaruhi Ibnu Hisyam dalam menghilangkan beberapa peristiwa tertentu dan menjaga yang lainnya jelas sesuai dengan komentarnya sendiri. Selagi menyusun daftar bagian-bagian yang telah ia  hilangkan, Ibnuu Hisyam menulis: “Hal-hal yang tidak perlu untuk didiskusikan, perkara yang akan merusak pikiran kebanyakan orang, hal-hal ini yang telah aku hilangkan”.[2]  Penyunting kitab Sirah Ibnu Hisyam pada tahun 1955 edisi Mesir dalam kitab itu menulis bahwa Ibnu Ishaq mengutip peristiwa-peristiwa yang menggerahkan penguasa Abbasiyah “seperti keikutsertaan al-Abbas dalam jajaran pasukan kafir ketika perang Badar dan tertawannya ia oleh pasukan Muslim – cerita yang kemudian dihilangkan oleh Ibnu Hisyam karena takut terhadap penguasa Abbasiyah.[3]
Dan puja-pujian terhadap Imam Ali bin Abi Thâlib, khususnya dalam hadits dar, adalah salah satu bagian yang dihilangkan oleh Ibnu Hisyam dalam membuat ringkasan Sirah-nya Ibnuu Ishaq. Hadis dar adalah ihwal peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira sebagaimana telah disebutkan di  atas.
Pada kenyataannya, dapat disaksikan Ibnu Ishaq menukilkan peristiwa ini dari Ibnuu Ishaq, melalui sumber-sumber lain selain Ibnu Hisyam. Misalnya, at-Tabari (wafat 310 Setelah Hijrah) menukilkan peristiwa yang dimaksud dari Ibnu Ishaq. Syaikh Abu Ja’far Tusi (wafat 460 setelah Hijrah) juga menceritakan perisitwa yang dimaksudkan di atas melalui dua sanad yang berbeda : keduanya adalah melalui sanad dari Ibnu Ishaq melalui at-Tabari.[4]
 
 
tabel
Tabel ini menunjukkan secara jelas bahwa apa yang telah dikenali sebagai paling awal dan sejarah paling sahih tidak terlepas dari bias dalam mengabaikan beberapa peristiwa tertentu dan menukilkan orang-orang.
Ibnu Ishaq sendiri dikecam karena memiliki kecenderungan terhadap Syiah. Jika hal ini ada benarnya, maka boleh jadi pertimbangan Ibnu Hisyam dalam menghapus peristiwa tersebut karena alasan Syiah ini. Betapapun, al-Khatib al-Baghdadi dalam Târikh Baghdâd-nya dan Ibnu Sayyidi ‘ N Nas dalam ‘Uyunul Athâr, keduanya adalah tokoh sejarah Sunni, telah membuat pembelaan terhadap Ibnu Ishaq. Mereka membela Ibnu Ishaq atas segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya sebagai orang yang memiliki kecenderungan terhadap Syiah.[5]
 
Sensor Diri (self-censorship) oleh at-Tabari
Kasus Muhammad bin Jarir at-Tabari (wafat 310 Setelah Hijrah) merupakan kasus yang lebih menarik lagi. Peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira diberikan di atas berdasarkan kepada versi karya monumental Tabari: “Târikhul Umam wal Muluk. ” At-Tabari juga mengarang sebuah kitab tafsir Qur’an yang terkenal: “Jâmiul Bayân Ta’wil Âyatul Qur’ân”. Yang menarik adalah membandingkan antara Târikh Tabari dan tafsir Qur’annya sehubungan dengan pembahasan utama kita.
 Dalam Târikh-nya, at-Tabari mengutip kalimat-kalimat yang digunakan oleh Nabi Saw kepada Ali dalam perjamuan itu  secara keseluruhan,
“Akhi wa wasiyyi wa khalifati: saudaraku, penggantiku, khalifaku.[6]
Namun di dalam at-Ta’wil-nya (jilid.19, hal. 74) dalam mendiskusikan ayat yang berhubungan dengan Nabi yang diperintahkan untuk mengajak mereka kepada Islam, at-Tabari menggunakan sensor diri dan telah menyembunyikan fakta yang jelas dan terang (eksplisit) dari perkataan Nabi Saw dengan menulisnya sebagai berikut :
Akhi wa kadza wa kadza (saudaraku, demikian dan demikian).”
Ibnu Katsir, seorang ulama terkemuka dari Damaskus, pengarang kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah (jilid.3, hal.40), telah menggunakan Târikh Tabari sebagai sumber rujukannya. Namun ketika ia tiba pada peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira, ia meninggalkan Târikh Tabari dan menggunakan versi yang telah diramu dan diubah Jâmiul Bayan! Hal ini tidaklah mengherankan kita, mengingat bahwa Ibnu Katsir dikenal sebagai orang yang memiliki sikap anti-Syiah.
 
Sensor Diri di Abad Kiwari
Seorang penulis kiwari (modern) dari Mesir, Dr. Muhammad Husain Haikal, menulis sebuah buku ternama tentang riwayat hidup Nabi Saw. Buku ini dikenal sebagai Hayat Muhammad. Haikal pertama kali menerbitkan Hayat Muhammad ini dalam tulisan mingguannya as-Siyâsa. Peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira diterbitkan dalam suplemen # 2751 (12 Dzul-Qaidah)hal. 5, kolom 2. Salah satu kritikannya, menulis sebuah surat yang mengkritisi tulisan Haikal, menudingnya menggunakan sumber-sumber Syiah yang bercerita tentang Imam Ali. Haikal menanggapi tudingan ini dalam suplemen keluaran # 2758, hal. 6, kolom 4. Dengan mengingkari bahwa ia tidak menggunakan sumber Syiah ” karena seluruh hadis bercerita tentang peristiwa ini, perilaku Ali, dan mengutip hadis dari Shahih Muslim, Musnad Ahmad dan yang lainnya.[7]
Haikal tetap bersiteguh melawan tekanan yang memintanya supaya perkataan Nabi ihwal Ali dihilangkan, ketika buku itu hampir selesai dicetak menjadi sebuah buku. Dalam edisi perdana Hayat Muhammad, Haikal menukil peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira sebagai berikut: “Ketika mereka selesai menyantap jamuan yang disediakan, ia (Nabi) berkata kepada mereka: “Aku tidak mengenal satu pun dari kalangan bangsa Arab yang lebih baik daripada apa yang aku bawa kepada kalian, Aku datang kepadamu dengan sesuatu yang terbaik di dunia dan di akhirat. Tuhanku telah memerintahkanku untuk mengajak kalian kepada-Nya.
“Jadi siapa di antara kalian yang bersedia menolongku dalam urusan ini, sehingga ia akan menjadi saudaraku, penggantiku dan khalifahku di antara kalian?” Seluruh hadirin menjauh darinya dan bermaksud untuk meninggalkannya namun Ali berdiri meskipun ketika itu ia masih seorang belia yang belum mencapai masa baligh. Ali berkata: “Wahai Rasulullah, Aku bersedia menjadi penolongmu! Aku akan membantumu melawan siapa saja yang menentangmu. ” Bani Hasyim tersenyum, beberapa di antara mereka ada yang tertawa, dan pandangan mereka layangkan ke Abu Talib hingga ke anaknya, lalu mereka meninggalkan tempat itu sambil mencemooh kejadian tadi.”[8]
Haikal telah mengutip kalimat-kalimat penting dalam perkataan pertama Rasulullah yang meminta bantuan, namun secara sengaja meninggalkan seluruh jawaban Rasulullah atas kesediaan Ali tersebut untuk membantunya!
Pada edisi kedua, Haikal nampaknya mendapat tekanan para puritan sehingga ia bahkan menghapus kata-kata penting Rasulullah Saw dan hanya menulis: “….Dia berkata kepada mereka, ” Siapa di antara kalian yang ingin membantuku dalam urusan ini? Seluruh hadirin menjauh darinya …..”[9]
 
Keadaan di atas menunjukkan secara jelas bahwa Haikal tidak merasa ragu tentang peristiwa  Da’wat dzu ‘l Asyira namun ia kurang memiliki keberanian intelektual untuk bertahan pada kesimpulan logis dari temuan perdananya dalam kajiannya tentang sejarah.
 
Isnad “Da’wat dzu’l Asyira
Pandangan musuh-musuh Syiah secara wajar berupaya menanyakan kredibilitas beberapa perawi hadis dari peristiwa masyhur ini.
Ibnu Taimiyyah, seorang ulama Sunni yang terkenal sebagai anti-Syiah, secara terang-terangan mengumumkan bahwa hadis ini termasuk hadis palsu. Ia telah menyerang kredibilitas Abdul Ghaffar bin al-Qasim yang dikenal sebagai Abu Maryam al-Kufi”.[10] Abu Maryam adalah sumber rujukan Ibnu Ishaq dalam menukil peristiwa Da’wat dzu ‘l Asyira. Betapapun, dasar utama yang mempertanyakan kredibilitas Abu Maryam ini hanya karena hubungannya dengan Syiah. Namun, sebagaiamana setiap orang yang netral tahu, bahwa pandangan seperti yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyyah tersebut tidak memiliki landasan yang memadai dalam menolak riwayat dari Abu Maryam.  Para perawi hadis Syiah telah menghitungnya di antara perawi-perawi handal dapat dipercaya dalam meriwayatkan hadis dari Imam Keempat, Kelima, Keenam Syiah.”[11]
Salma bin al-Fadhl (wafat 191), adalah murid utama Ibnuu Ishaq, ia juga dikenal dapat dipercaya dalam meriwayatkan riwayat hidup Nabi Saw dari gurunya. Salma dikutip dalam sebuah kitab dengan mengatakan: “Aku mendengar al-Maghazi dari Ibnu Ishaq sebanyak dua kali, ” dan ia adalah seorang ulama ternama karena riwayat hadis darinya berasal dari Ibnu Ishâq.[12]
Menurut Muta at-Tarabishi, riwayat dari Salma bin al-Fadl tentang sejarah alam diterima oleh semua kalangan.[13] Ibnu Mu’in berkata “Salma bin al-Fadl al-Abrasy ar-Razi adalah seorang Syiah sebagaimana yang telah ditulis dan tidak ada cela dan aib dalam dirinya. Abu Zuhra berkata: “Penduduk Rey tidak menyenanginya karena keyakinannya yang “aneh” ( Syiah).[14] Adh-Dzahabi  menulis tentang Salma sebagai berikut: “Ia adalah orang yang istiqamah dalam salat dan penuh penghormatan kepada keyakinannya dan ia wafat pada tahun 191 Setelah Hijrah.”[15]
Syaikh Salim al-Bisyri telah mengemukakan pertanyaan ihwal mengapa Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan hadis ini dalam Sahih mereka. Syarafuddin al-Musawi menanggapinya sebagai berikut :
“Hadis ini menyebabkan konflik pandangan dari dua syaikh, Bukhari dan Muslim, karena termasuk urusan kekhalifahan dan hal ini adalah alasan mengapa mereka tidak mencatatnya dalam Sahih mereka. Mereka juga secara cermat menghindari beberapa hadis-hadis asli yang disyaratkan Khalifah demi Amirul Mukminin….sehingga boleh jadi menjadi senjata di tangan orang-orang Syiah, dan mereka secara sengaja menyembunyikan kebenaran. Tidak hanya Bukhari dan Muslim yang masuk dalam kategori ini, tetapi juga beberapa syaikh yang lain (yang termasuk senior) dikalangan Ahli Sunnah yang mengikuti praktik syaikhain (Bukhari dan Muslim) ini. Mereka menyembunyikan segala sesuatu dan terkenal akan keyakinan mereka dalam menyembunyikan fakta (yang mengutamakan Ali dan Ahli Baytnya). Hafiz Ibnu Hajar telah menukil perkataan ini dalam Fathul Bari-nya:
“Siapa saja yang tahu akan perilaku Bukhari terhadap Amirul Mukminin dan anggota lain dari Ahlulbait juga tahu bahwa penanya juga secara tetap menghilangkan hadis-hadis jelas dari Rasulullah Saw dalam menjelaskan keutamaan Ahlulbait dan pena Bukhari keburu menjadi kering sebelum menukilkan kelebihan mereka, keunggulan sifat mereka, dan siapa pun tidak akan terkejut atas lompatan-lompatannya  dalam meriwayatkan hadis tentang Ahlulbait dan hadis-hadis yang serupa.  Tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah, al’a’la wal Akbar.”[16]
 
Kesimpulan
Pandangan singkat ini seputar masalah Kendali Diri yang dipraktikkan oleh sejarawan masa-masa awal dan pengumpul hadis masa lampau membuktikan bahwa kealpaan sebuah peristiwa dalam sebuah kitab sejarah Islam masa awal yang terkenal dan hadis, tidak berarti bahwa peristiwa itu adalah hasil rekayasa Syiah yang menciptakan hadis itu atau tidak memandangnya sebagai suatu yang patut dipercaya. Seseorang harus lepas dari sekat-sekat palsu “masa awal ” dan sejarah resmi dari masyarakat muslim dan juga mengkaji sumber-sumber “non-ortodoks” lainnya untuk dapat memahami secara utuh drama kehidupan yang terjadi di masa lampau dan tidak disingkap pada masa permulaan sejarah Islam.[]
[1] . Kebanyakan sejarawan muslim dan penafsir Quran telah menukil peristiwa ini. Lihat sumber-sumber rujukan Sunni berikut ini: at-Tabari, at-Târikh, jilid. 1 (Leiden, 1980 offset dari edisi 1789) hal. 171-173; Ibn al-Atsir, al-Kâmil, jilid. 5 (Beirut, 1965) hal. 62-63; Abu al-Fida, al-Mukhtashar fi Târikh al-Basyar, jilid. 1 (Beirutm tanpa tahun) hal. 116-117; al-Khazin, at-Tafsir, jilid. 4, (Kairo, 1955) hal. 127; al-Baghawi, at-Tafsir (Ma’âlimu at-Tanzil), jilid. 6 (Riyadh: Dar Tayyiba, 1993) hal. 131; Al-Baihaqi, Dalâil an-Nubuwwah, jilid. 1, (Kairo, 1969) hal. 428-430; as-Suyuti, ad-Durru al-Mantsur, jilid. 5 (Beirut, tanpa tahun) hal. 97; Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummâl, jilid. 15 (Haidarabad, 1968) hal-hal, 100, 113, 115. Untuk referensi lebih lanjut, lihat ‘Abdu al-Husain al-Amini, al-Ghadir, jilid. 2 (Beirut, 1967) hal-hal. 278-289. Dalam bahasa Inggris, lihat, Sayid Saeed Akhtar Rizvi, Imamate: The Vicegerency of the Prophet (Tehran: WOFIS, 1985) hal-hal. 57-60 (edisi Indonesia, Imamah: Khalifah Rasulullah). Untuk diskusi panjang ihwal isnad dan makna hadis Nabi Saw dalam peristiwa ini, dan juga perbedaan-perbedaan pada sumber-sumber awal Sunni dan Syiah, lihat Dr. Sayid Talib Husain ar-Rifai, Yawmu ad-Dar (Beiru: Dar al-Azwa, 1986)
[2]. Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyyah, jilid. 1, (Kairo: Mustafa al-Halabi & Sons, 1955) hal. 11-12; Juga lihat terjemahan Inggrisnya oleh A. Guillaume, The Life of Muhammad (Lahore: Oxford University Press, 1955) hal. 691. Lihat juga pengantar oleh Dr. Asghari Mahdawi pada terjemahan Persia yang dilakukan oleh Rafiuddin Hamadani, Sirat-e Rasulullah, (Tehran, Bunyad Farhang-e Iran, 1360 Syamsiah) hal. Nun.
[3]. Ibn Hisyam, as-Sirah, jilid. 1, hal. 10.
[4] . Abu Ja’far at-Tusi, Kitâb al-‘Amali, jilid. 2 (Najaf: Maktabatu al-Haidari, 1964) hal. 194091.
[5].  Lihat pengantar as-Sirah an-Nabawiyyah, jilid. 1, hal. 15-17; lihat juga Guillaume, The Life of Muhammad, hal. xxxiv-xxxviii.
[6]. Lihat edisi 1879 EJ Brill, Leiden (jilid. 3 hal. 1173), edisi 1908 Daru al-Qamusi al-Hadits, Kairo (jilid. 1 & 2, hal. 217), dan juga edisi 1961 Dar al-Maarif, Kairo, editor Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim (jilid. 2, hal. 321) yang di dalamnya kalimat aslinya utuh dinukil. Bahkan edisi Inggris at-Tabari   yang dicetak oleh State University of New York, jilid. 6 (penerjemah: W. M. Watt dan MV McDonald) hal. 90-91 telah menukil kalimat asli Nabi Saw tanpa kealpaan.
[7]. Antonie Wessels, A Modern Arabic Biography of Muhammad (Leiden: EJ Brill, 1972) hal. 223, 245; Lihat juga ‘Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi, al-Muraja’at (Dialog Sunni-Syiah), yang diberi keterangan oleh Husain ar-Razi (Beirut: tanpa penerbit, 1982) hal. 189.
[8]. Haikal, Hayat Muhammad (Kairo: Edisi pertama) hal. 104
[9] . Haikal, Hayat Muhammad (Kairo: Edisi kedua) hal. 140
[10]. Ibn Taimiyyah, Minhâj as-Sunnah, jilid. 4 (Kairo: al-Matba’ al-Kubra al-Amiriyya, hal. 1322) hal. 81.
[11]. Sayid Abu al-Qasim al-Khui, Mu’jâm Rijal al-Hadits, jilid. 10 (Beirut: Madina al-‘Ilm, 1983) hal. 55-56.
[12]. Muta at-Tarabisyi, Ruwât Muhammad bin Ishâq bin Yasâr fi al-Maghâzi wa as-Siyâr wa Sâiri al-Marwiyyât (Damascus: Dar al-Fikr, 1994) hal. 149.
[13]. Ibid.
[14] . Sayid Syarafuddin al-Musawi, al-Murâja’ât, hal. 129; juga lihat terjemahan Inggris oleh M. A. H. Khan, The Right Path (Blanco, Texas: Zahra Publication, 1986) hal. 85-86.
[15]. Adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, jilid. 2 (Egypt, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyya, tanpa tahun) hal. 192.
[16]. Syarafuddin al-Musawi, al-Murâja’ât, hal. 191-192.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed