by

Asal-Usul Syi'ah

imamah

Asal-usul Syiah

Faktor Politik atau Agama?

 
Pengantar
Dalam tulisan-tulisan polemis mazhab Sunni, ditegaskan bahwa Islam Sunni merupakan Islam Asli (ortodox) ” sementara Syiah adalah suatu “Firqah Bid’ah” yang  bertujuan untuk menyelewengkan Islam dari dalam. Pendapat ini kadang-kadang disuarakan dengan mengatakan bahwa Syiah bermula sebagai sebuah gerakan politik yang kemudian mengerucut menjadi gerakan keagamaan.
Sikap anti-Syiah ini tidak terbatas hanya pada penulis-penulis beberapa abad lampau, namun juga beberapa penulis Sunni pada abad kiwari cenderung memiliki pandangan yang serupa. Orang-orang seperti Abul Hasan Nadwi, Manzur Ahmad Nu’mani (keduanya berasal dari India), Ihsan Ilahi Zahir (Pakistan), Muhibbuddin al-Khatib dan Musa Jar Allah (keduanya dari Timur-Tengah) termasuk orang-orang yang mewakili abad kontemporer sebagai orang-orang yang anti-Syiah.[1] Tidak terbatas dalam lingkaran alumnus hawzah saja dan tidak bersentuhan secara langsung dengan so-called tokoh-tokoh akademis dunia. Orang-orang anti Syiah, seperti Ahmad Amin (Mesir) dan Fazlur Rahman (Pakistan) termasuk dalam kategori ini.
Sebagai contoh, Ahmad Amin menulis :
“Yang benar adalah Syiah merupakan sebuah pengembaraan yang orang-orangnya bermaksud ingin merusak Islam dari dalam dengan dasar permusuhan dan kecemburuan. Oleh karena itu, ajaran yang ingin diperkenalkan adalah Islam yang bermuatan ajaran nenek-moyang Yahudi, Nasrani atau Zoroaster, sehingga mereka dapat mencapai  tujuan kejinya di bawah  naungan ajaran kepercayaan ini.[2]
Dalam mencermati kasus Fazlur Rahman, kasusnya memang menarik. Setelah menyelesaikan pelajarannya dari Universities of Punjab dan Oxford, dan mengajar di Universities of Durham dan McGill, ia bekerja sebagai direktur Institut Pusat Penelitian Islam di Pakistan hingga tahun 1968. Dan ia harus kehilangan jabatannya sebagai akibat dari sikap kontroversialnya dalam memandang dan menafsirkan al-Qur’an. Kemudian, ia hijrah ke Amerika dan menjadi profesor kajian-kajian keislaman di Universities of Chicago. Dalam bukunya yang masyhur, Islam, digunakan sebagai textbook bagi para mahasiswa di berbagai universitas Barat, Dr. Fazlur Rahman mempersembahkan penafsirannya tentang asal-usul Syiah sebagai berikut:
“Setelah pembunuhan Ali, Syiah (partai) Ali di Kufah menuntut kedudukan khalifah dikembalikan kepada keluarga khalifah yang malang itu. Klaim legitimis ini disuarakan demi membela keturunan Ali merupakan awal dari doktrin politik Syiah.
“Legitimisme ini, adalah sebuah doktrin yang menegaskan bahwa kepemimpinan umat secara sah berada di pundak Ali dan keturunannya. Doktrin ini adalah tonggak asal-usul Syiah Arab yang murni merupakan gerakan politik.”
“Lalu, kita melihat Syiah telah menjadi –pada permulaan sejarah Islam– sebuah  kedok  untuk berbagai kekuatan sosial dan sikap ketidakpuasan politik. Namun dengan adanya pergantian (shift) dari tangan orang Arab kepada mereka yang non-Arab (‘Ajam), motivasi asli gerakan politik ini dibangun menjadi firqah agama dengan dogmanya sebagai dalil teologi. Atas alasan ini,  terukir keyakinan-keyakinan timur tentang cahaya Ilahi dan metafisika baru dibuat untuk keyakinan ini dan dibekali dengan gagasan-gagasan ‘Irfan Neo-Platonic Nasrani.[3]
Lebih jauh, ia berkomentar: “Gagasan ini membawa pada pembentukan firqah-firqah rahasia, dan Syiah disajikan untuk tujuan pendaulatan politik, sehingga di bawah jubahnya, orang-orang yang terlantar secara spirtual ini memulai memperkenalkan gagasan usang mereka kepada Islam.[4]
Dengan nada yang kurang-lebih hampir sama dengan yang di atas, penulis temukan sangat sukar untuk dipahami betapa seorang cendekiawan, berlatar belakang Syiah, dapat menggemakan gagasan yang sedikit mirip ihwal asal-usul Syiah yang ditulis oleh orang-orang anti-Syiah, ia menulis :
“Kebanyakan pembahasan-pembahasan awal ihwal imâmah dipandang dari sudut pandang politik, namun pada akhirnya debat mencakup muatan-muatan implikasi-implikasi agama sebagai penyelamatan. Memang benar bahwa hal ini adalah seluruh konsep-konsep Islam, lantaran Islam sebagai sebuah fenomena keberagamaan adalah akibat dari Islam sebagai sebuah realitas politik.”[5]
“Sejak hari-hari permulaan perang sipil pada tahun 656 M  beberapa orang muslim tidak hanya berpikir tentang kepemimpinan dalam istilah politik, namun juga memberikan penjelasan bahwa agama menekankan tentang kepemimpinan.” [6]
Berdasarkan pada dukungan orang-orang Syiah Kufah yang mengklaim bahwa kepemimpinan berada di pundak Ali, seorang penulis menuliskan:
“Dukungan atas kepemimpinan Ali, setidaknya pada awalnya, tidak bermuatan agama. Klaim kepemimpinan Ali menjadi sebuah keyakinan berlebihan yang dilontarkan dalam istilah-istilah ketaqwaan dari sunnah yang dinisbatkan kepada Nabi, dan secara perlahan menjadi bagian doktrin Kardinal Imamah, poros yang diatasnya seluruh keyakinan Syiah berputar.”[7]
Setelah menjelaskan kegagalan dan kesyahidan beberapa paderi agama yang bangkit melawan penguasa, ia menulis:
“Pergerakan mereka ini menandakan permulaan perkembangan sebuah penekanan agama ihwal peran kepemimpinan Ali.”[8]
 
Masa Permulaan Islam
Sunni, sebagaimana juga Syiah, meyakini bahwa Islam merupakan agama yang ajaran-ajaranya tidak hanya terbatas pada wilâyah ruhani kehidupan manusia semata, namun juga meliputi aspek politik kemasyarakatan. Termasuk tujuan-tujuan ideal politik dalam Islam tidak berarti bahwa Islam memulai atau merupakan sebuah pergerakan politik. Tengok kehidupan Nabi Muhammad Saw. Misi Rasul bermula di Mekah. Pada masa pra-hijrah, tidak ada program Rasulullah Saw yang menunjukkan program-program pergerakan politik. Program perdana Rasulullah Saw pada  masa pra-hijrah ini adalah sebuah pergerakan keagamaan.
Hanya setelah hijrah, ketika mayoritas penduduk Madinah menerima Islam, kesempatan untuk melaksanakan aturan sosial Islam terbuka dan Rasulullah Saw juga mengemban jabatan sebagai pemimpin politik. Beliau menandatangani sejumlah perjanjian dengan suku-suku yang lain, mengutus duta-duta kepada para raja dan kaisar, membentuk angkatan bersenjata sekaligus memimpinnya, duduk sebagai hakim, melantik gubernur, deputi-deputi, para pemimpin, dan mengangkat hakim serta mengumpulkan dan membagikan pajak. Namun demikian, Islam pada masa awal adalah sebuah pergerakan keagamaan yang  kemudian juga melingkupi aspek-aspek politik. Sehingga perkataan  “Islam adalah sebuah fenomena keberagamaan sebagai akibat dari Islam sebagai sebuah realitas politik” secara historis adalah perkataan yang tidak benar.
 
Asal-usul Syiah
Asal-usul Syiah tidak terlepas dari asal-usul Islam. Karena Nabi sendiri yang menuai tanamannya dengan memproklamasikan wishaya (pelaksanaan wasiat) dan khilafat (khalifah) Ali bin Abi Thalib As pada masa dakwah terbuka yang beliau lakukan di  Mekah.
Islam bermula ketika Nabi Muhammad Saw berusia empat puluh tahun. Sebelumnya dakwah Rasulullah Saw bersifat sembunyi-sembunyi. Kemudian  tiga tahun selepas kemunculan Islam, Nabi Saw diperintahkan supaya memulai dakwah terbuka untuk  menyampaikan pesan-pesan samawi. Kejadian ini berlangsung ketika Allah Swt mewahyukan ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat .” (Qs. Asy-Syu’arâ [26]:214)
Ketika ayat ini turun, Rasulullah Saw mengadakan sebuah perjamuan yang dikenal dalam sejarah sebagai “Da’wat dzu ‘l Asyira “. Rasulullah Saw mengundang sekitar empat puluh laki-laki kerabat beliau dari Bani Hasyim dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan jamuan makan malam. Setelah menjamu tamu-tamunya dengan makanan dan minuman, Rasulullah Saw bermaksud untuk berbicara kepada mereka ihwal Islam, Abu Lahab mendahuluinya sambil berkata kepada para tamu ketika itu, katanya: “Tuan rumahnya telah lama menyihir Anda”. Seluruh tamu membubarkan diri sebelum Rasulullah Saw menyampaikan pesannya.
Rasulullah Saw kemudian mengundang mereka lagi pada hari berikutnya. Setelah perjamuan, ia bersabda kepada mereka: “Wahai Bani ‘Abdul Mutthalib, Demi Allah, Aku tidak kenal seseorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada umatnya lebih baik dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa sesuatu untuk kebaikan kalian baik di dunia maupun di akhirat. Aku telah diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengajak kalian kepada-Nya. Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang ingin membantuku dalam urusan ini sehingga ia akan menjadi saudaraku (akhi), pelaksana wasiatku (washiyyi) dan khalifah sepeninggalku?”
Panggilan ini adalah panggilan pertama ketika Rasulullah Saw berdakwah secara terbuka kepada mereka dalam hubungannya untuk menerima beliau sebagai utusan dan Rasul Allah Swt; ia juga menggunakan kalimat: “akhi wa wasiyyi wa khalifati ” – saudaraku, penggantiku, khalifahku ” dengan alasan ialah yang akan membantunya dalam menunaikan misi Rasulullah Saw. Ketika itu mereka semua diam dan tidak menjawab seruan Nabi serta mundur teratur menghadapi seruan ini, kecuali seorang yang paling muda di antara mereka yakni Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: “Aku bersedia menjadi penolongmu, wahai Rasulullah.”
Nabi Saw kemudian menaruh tangannya di balik leher Ali dan berkata: “Inna hadza akhii wa washiyyi wa khalifati fikum, fasma’u lahu wa athi’u – sesungguhnya ia ini adalah saudaraku, penggantiku dan khalifahku di antara kalian; dengarkan dan taatilah dia.”[9]
Proklamasi ini merupakan perkataan yang terang karena hadirin memahami penunjukan Ali yang sangat jelas itu. Beberapa di antara hadirin, termasuk Abu Lahab, bahkan dengan berseloroh, dan kepada Abu Talib ia berkata bahwa kemenakanmu, Muhammad, memerintahkanmu untuk mendengarkan anakmu dan mentaatinya! Setidaknya, seloroh Abu Lahab ini menunjukkan bahwa pengangkatan Ali bin Abi Talib adalah masalah yang terang dan jelas (eksplisit), tidak samar (implisit).
Setelah itu, Nabi Saw di berbagai tempat menekankan masalah kecintaan terhadap Ahlulbaitnya, meminta bimbingan dari mereka, dan menarik perhatian umat kepada status khusus yang mereka miliki di hadapan Allah Swt dan Rasul-Nya.
Akhirnya, dua bulan berselang sebelum wafatnya, Rasulullah Saw secara jelas menunjuk Ali di Ghadir Khum sebagai pemimpin kaum muslimin (pemimpin agama sekaligus pemimpin politik). Nabi berkata: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Ia juga berkata: “Aku tinggalkan kepadamu dua hal yang berharga (tsaqalain), dan selama engkau berpegang teguh kepadanya niscaya engkau tidak akan sesat selamanya yaitu Kitâbullâh dan Itrahti (al-Qur’an dan Ahlulbaitku).”[10]
Peristiwa agung ini telah banyak menjadi bahan diskusi dan tulisan hingga saat ini. Para pembaca dapat merujuk kepada karya-karya tulis berbahasa Inggris di bawah ini :

  • A study on the question of al-Wilâyah oleh Sayyid Muhammad Baqir ash-Shadr, diterjemahkan oleh Dr. P.Haseltine. (Risalah ini pertama kali diterjemahkan di India dengan judul “Shiism:  The Natural Product of Islam“).
  • The Origin of Shia and its Principles oleh Muhammad Husain Kasyful Ghitâ.
  •  Imamate : The Vigerence of the Prophet oleh Sayyid Said Akhtar Rizvi.
  • Origins and Early Depelovment of Shia Islam oleh S.Hussain M.Jafri.
  • The Right Path oleh Syed Abdulhussein Syarafuddin al-Musawi.
  • The Meaning & Origin of Shi’ism oleh Sayyid Saeed Akhtar Rizvi dalam Right Path, jilid. 1 (Jan-Mar 1993) #3.[11]

 
Setiap orang yang membaca karya tulis ini akan melihat bahwa awal kedatangan Islam dan Syiah adalah bersamaan.  Dan sebagaimana Islam, Syiah merupakan sebuah pergerakan keagamaan yang juga meliputi aspek sosial dan politik. Dr.Jafri menuliskan: “Ketika kita menganalisa relasi kemungkinan perbedaan antara keyakinan-keyakinan agama dan konstitusi politik dalam Islam diemban oleh satu sama lainnya, kita temukan klaim dan trend doktrinal pendukung Ali lebih cenderung mengarah kepada aspek agama ketimbang aspek politik, dengan demikian kelihatan paradoks bahwa partai (syiah) yang mengklaim berdasarkan kepada kepemimpinan dalam bidang spiritual dan agamis, sebagaimana kita akan uji secara lebih jeluk nantinya, seyogyanya diberikan label sebagai gerakan politik sejak semula.[12]
Memang tidak dapat dibayangkan bahwa sahabat-sahabat utama Nabi Saw seperti Salman al-Farsi dan Abu Dzar berpikir bahwa Ali terutama adalah sebagai seorang pemimpin politik, dan kemudian berfikir lagi bahwa Ali juga adalah pemimpin agama.
Dalam karya akademisnya, Islamic Messianism, cendikiawan ini menghitung perang sipil sebagai permulaan dari “Keberagamaan Syiah”: “Sejak permulaan perang sipil yang berkecamuk pada tahun 656 M, beberapa orang di antara kaum muslimin tidak hanya berpikir ihwal kepemimpinan dalam istilah politik, tetapi bahkan memberikan tekanan agama di dalamnya.”[13] Namun dalam artikelnya yang dipersembahkan dalam sebuah pertemuan publik dan diterbitkan oleh salah satu markaz Islam, ia menempatkan permulaan Syiah sejak pada masa Ghadir Khum. Ia menulis “Proklamasi Nabi dalam peristiwa itu memunculkan ketegangan antara kepemimpinan ideal yang dipromosikan oleh Nabi melalui wilâyah Ali bin Abi Thalib dan fakta yang dipicu oleh kekuatan manusia untuk memberangus tujuan Allah Swt di muka bumi.”[14]
Dikotomi antara “Akademisi” dan “Mukmin ” memang sangat mengganggu. Semoga Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan seluruh pekerja iman keyakinan untuk bersiteguh atas keyakinan mereka pada seluruh pertemuan, baik dari dalam maupun dari luar (fis sirri wa l-ala’niyya).
 
Nama Syiah
Seorang penganut ajaran Islam disebut sebagai Muslim namun meyakini Imam Ali sebagai pengganti dan khalifah Rasulullah Saw dikenal sebagai  Syiah. Istilah Syiah ini merupakan singkatan dari Syiatu Ali شعة علي- – pengikut Ali.”
Kaum Muslimin merasa bangga karena berafiliasi dengan Nabi Ibrahim dan memang dibenarkan demikian. Demikian juga dikenal di kalangan kaum Muslimin bahwa Nabi Ibrahim juga diberi nama oleh Allah Swt dengan nama “Muslim” sebagaimana firman Allah Swt :
ماكان ابراهيم يهود يا ولانصر ا نيا ولكن
كا ن حنيفامسلما وما كا ن من المشر كين
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang yang musyrik. “ (Qs. Ali ‘Imran [3]:67)
Apa yang luput dari perhatian umat adalah Allah Swt memberikan nama Ibrahim juga dengan nama Syiah. Tentu saja bukan Syiahnya Ali tapi Syiahnya Nuh. Allah Swt berfirman: “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam” …. “Dan  Sesungguhnya  Ibrahim benar-benar termasuk golongannya Nuh “(Qs. Ash-Shaffaat:79 &83)
Jadi mereka yang memanggil dirinya sebagai Muslim dan Syiah sebenarnya mengikuti sunnah yang dititahkan Allah Swt dan dipanggil sebagai “pengikut” orang beriman tepat sebagaimana Nabi Ibrahim yang dijelaskan sebagai pengikutnya Nabi Nuh As.[]
 
[1] .  Penuli-penulis ini mewakili kaum Salafi/Wahabi, dan buku-buku anti-Syiah mereka telah disebarkan ke seluruh penjuru dunia atas dukungan dana raksasa dari negara-negara Petro-Dolar di Timur Tengah, khususnya setelah meletusnya Revolusi Islam di Iran yang dipimpin oleh ‘Ulama Syiah.
[2] . Fajrul Islâm, hal.33. yang membantah Aslusy Syiah wa Usluhu  karya Muhammad Husain Kâsyiful  Ghitâ  (Qum: Mu’assasa al-Imam Ali, 1515,) hal.140,142; juga lihat terjemahan Inggrisnya yang terakhir , The Shi’ah Origin and Faith (Karachi:Islamic Seminary,1982).
 
[3] . Fazlur Rahman, Islâm (Chicago: University of Chicago Press,1976) hal. 171-172.
[4] . Ibid, hal.173
[5] . Abdulaziz Abdulhussein Sachedina, Islâmic Messianism :The Idea of Mahdi  in Tewelver Shi’ism (Albany: State Universities of New York,1981) hal. 4. Dr. Sachedina dulunya belajar di Universities of Aligarh (India), Masyhad (Iran), dan Toronto. Islamic Messianism merupakan edisi revisi dari disertasi doktoralnya yang dipersembahkan pada tahun 1976 di University of Toronto.
[6] . Ibid, hal.5
[7]Ibid, hal.6.
[8]Ibid, hal.18
[9] .  Rujukan peristiwa ini dan pembahasannya, silahkan lihat bagian “Kendali-diri dalam Sejarah Muslim.
[10] . Untuk pembahasan lebih lanjut tentang peristiwa Ghadir Khum ini, lihat bagian “Ghadir Khum dan Kaum Orientalis”. Untuk otentisitas versi hadits ini (Kitabullah dan Ithrahku” sebagai lawan dari “Kitabullah dan Sunnahku), lihat, Hasan bin Ali as-Saqqaf, penulis Sunni, “The Book of Allah and What Else?” The Right Path, jilid.6 (#3 &4 Okt-Des 1997) hal. 44-49.
 
[11]. Pada daftar buku-buku rujukan ini, kita juga dapat menambahkan The Succesion of Muhammad oleh Wilferd Madelung diterbitkan pada tahun 1997.  Buku ini merupakan kajian pertama yang dilakukan oleh seorang cendekiawan Barat yang mengakui bahwa kekhalifaan Abu Bakar tidak melalui mufakat, dan perbuatanya itu telah ditantang oleh Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya. Karya ini merupakan terobosan baru di dunia Barat/Cendekiawan non-Muslim yang berkata bahwa fakta perbedaan Syiah-Sunni bermula setelah meletusnya perang sipil, yakni setelah terbunuhnya ‘Utsman bin Affan dan selama perang antara Imam Ali melawan Muawiyah.
[12] .  S. Hussain M. Jafri
[13]. Islamic Messianism, hal. 5
[14].  Sachedina, “Wilayah of Imam Ali and Its Theological-Juridicial Implications for The Islamic Political Thought” dalam Ghadir (Toronto: Islamic Shi’a Ithna- ‘Asheri Jamaat & NASIMCO, 1990), hal. 54.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed