by

Pengangkatan Ali: Jelas (eksplisit) atau Samar (implisit)

ghadir

Pengangkatan Ali:  

Jelas (eksplisit) atau Samar (implisit) 

 
Pengantar

Pembahasan ini dalam rangka mengenang seseorang yang telah memberikan identitas kepada kita sebagai ” Muslim Syiah “. Kita merasa bangga atas gelar “Syiah Ali” yang kita sematkan pada diri kita.

Fokus pemhasan ini akan berbicara tentang Khalifah Imam Ali bin Abi Talib karena beberapa pertanyaan yang diajukan ihwal kontroversi “pengangkatan yang jelas” kedudukan Imam Ali sebagai khalifah versus “pengangkatan yang samar”. Tidak hanya orang-orang dewasa, tetapi juga para pemuda datang mendekat dan bertanya kepada kami pertanyaan ini; dan sudah menjadi tugas saya untuk meyakinkan bahwa keyakinan-keyakinan kaum muda dalam masalah Imamah dan Khalifah Amirul Mukminin tetap tegar tanpa ada sedikit pun temaram keraguan yang menyelubunginya.

Kontroversi ini bermula pada ucapan seorang sarjana Syiah yang diterbitkan dalam Bio Ethics Encylopedia di bawah kepala judul (entry) “Islam”. Di dalam buku itu ia menulis:

“Muhammad wafat pada tahun 632 M telah membawa seluruh bangsa Arab berada di bawah pemerintahan Madinah. Namun, ia tidak meninggalkan satu pun perintah yang jelas seputar masalah penggantian kepada orang yang berwenang secara religius-politis.”[2]

Semula, ketika saya diberikan kopian dari artikel tersebut, saya tidak berpikir banyak tentang hal ini karena saya menyadari bahwa artikel itu adalah sebuah tulisan yang ditulis untuk pemirsa yang banyak. (meskipun idealnya masalah penggantian seyogyanya tidak disebutkan dalam artikel itu sama sekali, penghapusannya toh tidak akan mencederai artikel itu secara keseluruhan). Akan tetapi, jawaban penulis atas pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan kepadanya melalui internet oleh beberapa orang Syiah dari Inggris menjadi sebuah masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari kami. Ia menjawab sebagai berikut::

Pertanyaan apakah tidak ada perintah yang jelas (eksplisit) tentang penggantian Nabi Saw dalam wewenang agama dan politik agar menjadi jelas bahwa ucapan yang asserting tidak ada ucapan yang eksplisit (yakni, diucapkan dengan terang, tidak hanya mengandungi) perintah dalam masalah penggantian peran Nabi dalam urusan agama dan politik, ditegaskan oleh implikasi adanya ucapan yang makna implisit (yakni, perlu dilibatkan meskipun tidak jelas diucapkan) dalam masalah ini. Arahan tersirat Nabi ini disampaikan pada beberapa peristiwa selama masa hidupnya, termasuk, akhirnya pada peristiwa al-Ghadir sebagai arahan Nabi.

“Juga karena tidak adanya ucapan yang tersirat pada peristiwa ini bahwa Imam Ali tidak pernah digunakan untuknya dalam peristiwa-peristiwa ini, termasuk pada peristiwa al-Ghadir, ia diajukan sebagai calon Nabi hanya sebagai penggantinya yang sah. “[3]

Setelah 21 Ramadan 1418, tokoh kita ini mengeluarkan komentar yang lain yang didalamnya ia menegaskan kembali keyakinannya tentang tidak adanya ucapan yang tersurat atas pengangakatan Imam Ali dalam tulisannya: “Asas dari keimanan kita, adalah bahwa keyakinan Syiah berlandaskan pada pengangkatan tersirat ini.  Menurut sejarah (satu-satunya kedudukan yang dapat diambil dari artikel ini) sumber-sumber perpecahan umat  pada masa-masa awal adalah tidak adanya arahan tersurat dari Nabi ihwal suksesi di dalam umat.”

Ucapan Wilayah(man kuntu mawla[hu] fa hadza Aliyyun mawla[hu], yang merupakan dokumentasi bagi aklamasi Syiah dalam mendukung Imamah Imam Ali adalah dipandang sebagai sebuah ucapan yang tersirat ketimbang sebuah ucapan yang tersurat tentang masalah penggantian wewenang yang komprehensif.” Alasannya adalah kata mawla dalam bahasa Arab bersifat kabur sepanjang berhubungan dengan “suksesi” itu sendiri.”[4]

Tersurat vs Tersirat (eksplisit vs implisit)

Pertama-tama mari kita amati apakah pembagian kalimat pengangakatan khalifah ini dibagi menjadi “implisit dan eksplisit ” memiliki latar belakang sejarah dalam sejarah ilmu kalam Islam atau tidak. Mengingat terbatasnya waktu, kami hanya akan menyebut beberapa fakta sejarah berikut ini :

  1. Dalam masalah khalifah, kaum muslimin memiliki pandangan yang berbeda. Ahli Sunnah tidak meyakini bahwa Nabi Saw telah menunjuk seseorang sebagai penggantinya, baik tersurat maupun tersirat; dan masalah ini diserahkan kepada umat untuk memilih siapa yang mereka kehendaki. Sebaliknya, Syiah berkeyakinan bahwa Nabi telah menunjuk Ali sebagai khalifah dan pengganti beliau setelah wafatnya.
  2. Seluruh mazhab dalam Syiah (Imamiyah Itsna Asyariyya dan dua mazhab Ismai’liyyah : Bohras dan Agha Khan) meyakini bahwa Nabi Saw secara tersurat (jelas) menunjuk Imam Ali dalam berbagai kesempatan sebagai khalifahnya dan penggantinya.
  3. Mazhab Zaidiyyah memiliki keyakinan yang berbeda dengan Ahli Sunnah dan Syiah. Meskipun mereka percaya bahwa Ali adalah yang terbaik dan yang paling pantas untuk menjadi khalifah, mereka masih menerima Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai khalifah Rasulullah yang pertama dan kedua, namun mereka tidak menerima Ustman sebagai khalifah ketiga.
  4. Menurut sejarah, Jarudiyyah (sekte didalam mazhab Zaidiyyah) meyakini bahwa Nabi Saw telah menunjuk Ali tidak dengan menyebutkan namanya tapi hanya menjelaskan keutamaanya: “nassa bil wasf duna tasmiyya ” (Dia [Nabi] menunjuk dengan penjelasan tanpa menyebut namanya.”[5]

Berangkat dari keyakinan ini bahwa nass (petunjuk pengangkatan) dibagi kedalam “an-nass al-jali – petunjuk yang jelas/eksplisit – dan “an-nass al-khafi – tersembunyi dan implisit.”

Namun Syiah Imamiyah Itsna Asyariyyah tidak pernah mengabulkan pendapat ini bahwa ” azas keyakinan kami dibangun di atas pengertian yang tersirat.” Mereka percaya sepenuhnya bahwa Nabi Muhammad Saw dalam beberapa kesempatan, secara jelas dan terbuka mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai pengganti, khalifah dan imam kaum muslimin selepas beliau.[6] Hanya bila para ahli kalam Syiah berdebat melawan musuh-musuhnya (termasuk Zaidiyyyah), mereka menggunakan istilah “an-nass al-jali” dalam prinsip berhadapan dengan musuh-musuhnya dengan istilah mereka sendiri.[7]

Jadi, menurut catatan sejarah, tidak ada ahli kalam Syiah Imamayiah yang menggunakan cara implisit atau ekplisit dalam pengangakatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib As sebagai “azas keimanan kami ” dan tidak satu pun dari mereka yang menganggap bahwa hadis al-Ghadir sebagai sebuah pengangkatan yang tersirat.

  1. Mengapa Zaidiyyah bersikeras dalam mengimplisitkan pengangakatan Ali sebagai khalifah? Karena beberapa sekte di dalamnnya menerima kekhalifaan Abu Bakar dan Umar, meyakini pengangkatan Ali dengan menggunakan ungkapan eksplisit (tersurat) akan memberikan gambaran negatif terhadap dua khalifah ini – akan berarti bahwa dua khalifah ini menentang perkataan jelas Nabi Saw. Sehingga untuk menjaga wibawa kedua khalifah ini, pengangkatan Ali terselubung dan bersifat kabur dengan mengatakan bahwa sabda Nabi tersebut tidak tersurat melainkan tersirat. Dan karena sabda Nabi tersebut tidak jelas, kedua khalifah ini tidak akan disalahkan karena merampas kekhalifaan dari Amirul Mukminin!

Ini menunjukkan implikasi serius terhadap keyakinan bahwa pengangkatan imam hanya pengangkatan yang bersifat tersirat, berarti kesalahan yang terjadi setelah Nabi wafat dipulangkan kepada Nabi sendiri, tidak kepada khalifah. Ini akan bermakna bahwa kedua khalifah itu tidak merampas kekhalifaan dari Imam Ali karena apa yang mereka lakukan berdasarkan pikiran mereka, karena tidak ada perintah tersurat, dan inilah yang terbaik bagi Islam.

Jadi ketika keberatan-keberatan Syiah terhadap cendekia ini semakin bertambah, pada hari-hari terakhir Ramadan 1418, ia mengeluarkan sebuah surat edaran umum yang ditujukan kepada seluruh pengikut Syiah di seluruh dunia melalui internet :

      “Saya dalam kesempatan ini menyampaikan dalam istilah yang paling mutlak bahwa saya tidak hanya meyakini kebenaran dari peristiwa al-Ghadir yang terjadi pada 18 Dzulhijjah 11 H/632 M; tetapi juga saya meyakini bahwa sabda Nabi “Barang siapa yang menjadikan aku mawlanya, maka Ali adalah mawlanya” adalah penunjukan yang jelas, tersurat (eskplisit) bagi Imam Ali sebagai pemimpin kaum muslimin, sebagaimana ditopang oleh keyakinan Syiah Imamiyah Itsna Asayariyyah.”[8]

Penunjukan Eksplisit Pertama

Islam bermula ketika Nabi Muhammad Saw berusia empat puluh tahun. Sebelumnya dakwah Rasulullah Saw bersifat sembunyi-sembunyi. Kemudian  tiga tahun selepas kemunculan Islam, Nabi Saw diperintahkan supaya memulai dakwah terbuka untuk  menyampaikan pesan-pesan samawi. Kejadian ini berlangsung ketika Allah Swt mewahyukan ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs. Asy-Syu’araa:214)

Ketika ayat ini turun, Rasulullah Saw mengadakan sebuah perjamuan yang dikenal dalam sejarah sebagai ” Da’wat dzu ‘l Asyira“. Rasulullah Saw mengundang sekitar empat puluh laki-laki kerabatnya dari Bani Hasyim dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan jamuan makan malam. Setelah menjamu tamu-tamunya dengan makanan dan minuman, Rasulullah Saw bermaksud untuk berbicara kepada mereka tentang Islam, Abu Lahab mendahuluinya sambil berkata kepada para tamu ketika itu, katanya: “Tuan rumahnya telah lama menyihir Anda”. Seluruh tamu membubarkan diri sebelum Rasulullah Saw menyampaikan pesannya.

Rasulullah Saw kemudian mengundang mereka lagi pada hari berikutnya. Setelah perjamuan, ia berkata kepada mereka: “Wahai Bani Abdul Muttalib, Demi Allah, Aku tidak kenal seseorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada umatnya lebih baik dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa sesuatu untuk kebaikan kalian dunia dan akhirat. Aku telah diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengajak kalian kepada-Nya. Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang ingin membantuku dalam urusan ini sehingga ia akan menjadi saudaraku (akhi), penggantiku (wasiyyi) dan khalifah sepeninggalku?

Nabi Saw menggunakan kata “saudaraku, penggantiku, khalifahku.” Sabda Nabi ini adalah sabda yang jelas karena digunakan sebagai ajakan pertama untuk memeluk Islam! Tidak ada yang menjawab seruan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib yang ketika itu hanya berusia lima belas tahun. Nabi Saw meminta Ali untuk mendekat kepadanya, menepuk leher Ali dan berkata:

“Sesungguhnya ia ini adalah saudaraku, penggantiku, khalifahku di antara kalian. Oleh karena itu, dengarkan dan taati ia.”[9]

Proklamasi ini merupakan perkataan yang terang karena hadirin memahami penunjukan Ali sangat jelas. Beberapa di antara hadirin, termasuk Abu Lahab, bahkan dengan bercanda ia berkata kepada Abu Talib bahwa kemenakanmu, Muhammad, memerintahkanmu untuk mendengarkan anakmu dan mentaatinya! Setidaknya, seloroh Abu Lahab ini menunjukkan bahwa pengangkatan Ali bin Abi Talib adalah masalah yang terang dan jelas (eksplisit), tidak samar (implisit).

Bukti yang paling nyata atas kewajaran tersuratnya pengangkatan ini pada masa-masa awal misi Nabi Saw adalah upaya penulis Ahli Sunnah menyembunyikan kalimat yang digunakan oleh Nabi Saw. Sebagai contoh, sejarawan Islam yang terkenal, Ibnu Jarir at-Tabari (wafat 310 Setelah Hijrah), telah mencatat peristiwa ini dengan kalimat krusial yang utuh dan lengkap dalam Târikhul Umam wal Muluk-nya. Edisi 1879 dari Târikh-nya yang diterbitkan di Leiden (Belanda) dengan kalimat: “….inilah saudaraku, penggantiku dan khalifahku….” Namun sewaktu melangkah kepada Tafsir Tabari, ketika ia sampai pada tafsir “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat “ (Qs Asy Syu’araa:214), barangkali Tabari sendiri atau editornya yang melakukan perubahan di dalamnya dengan kalimat: “Inilah saudaraku, demikian dan demikian..”

      Seluruh upaya untuk menghilangkan peristiwa ini secara keseluruhan dari halaman sejarah atau merubah kata-kata pentingnya “penggantiku dan khalifahku” menjadi “demikian dan demikian” secara nyata menunjukkan bahwa istilah yang digunakan dalam hadis itu adalah bersifat tersurat yang mendukung pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti Nabi Saw. Jika sebaliknya, maka tidak perlu bagi musuh-musuh Syiah menyembunyikan atau merubah kata-kata tersebut.

 

Abu Sufyan Mengerti, Yang Lain Tidak?

Bersikeras terhadap anggapan bahwa pengangkatan Imam Ali tersebut adalah pengangkatan yang bersifat implisit demi menjaga dua khalifah pertama. Alih-alih mencari kebenaran atas cerita ini dan kemudian memberikan penilaian terhadapnya, sebaliknya mereka memutarbalikkan kebenaran untuk menjaga kedudukan kedua orang tersebut.

Sulit untuk dipahami bahwa para sahabat Nabi tidak mendengar Nabi mengangkat Ali As dalam beberapa kesempatan yang berlainan, dan tahu bahwa mereka adalah suku Quraisy yang berbahasa Arab, tidak dapat diterima oleh akal bahwa mereka tidak memahami secara jelas pengangkatan ini. Satu cara untuk mengetahui kebohongan ini adalah mengambil jalur menarik terhadap peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Nabi Saw.

Ketika Ali dan Bani Hasyim sibuk dengan urusan pemakaman Nabi Saw, seseorang datang mengetuk pintu dan menawarkan bantuan untuk menjaga kursi khalifah. Orang itu adalah Abu Sufyan. Iya, Abu Sufyan musuh besar Nabi yang berperang melawan Islam dan kaum muslimin   dan hanya menyerah ketika ia tidak dapat lagi memberikan perlawanan. Ia menyerah selang dua tahun sebelum wafatnya Nabi.

Ia datang ke rumah Ali dan mendendangkan sajak yang memuji keluarga Nabi. Ia berkata: “Wahai Bani Hasyim! Wahai Bani Abdul Manaf! Apakah kalian menerima Abu Fasil memerintah kalian? Demi Allah, jika kalian ingin, aku bersedia memenuhi kota Madinah ini dengan kuda-kuda dan pasukan.

Ali bin Abi Thalib kenal siapa Abu Sufyan. Ia tahu bahwa niat Abu Sufyan  itu tidak tulus, ia hanya mengambil manfaat dari perseteruan tentang masalah pengganti setelah Nabi. Abu Sufyan menginginkan Bani Hasyim dan kelompok Abu Bakar/Umar berperang dan melemahkan satu sama lainnya sehingga Bani Umayya dapat meraih supremasinya kembali atas bangsa Arab.  Dan Imam Ali menjawab: “Pergilah, Wahai Abu Sufyan! Demi Allah engkau tidak sungguh-sungguh dengan apa yang engkau katakan! Engkau selalu memperdaya Islam dan umatnya dan kami sedang sibuk dengan [pemakaman] Rasulullah Saw. Dan [mereka yang berkomplot untuk merebut kursi khalifah], mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.”[10]

 Memang tidak dapat dipercaya bahwa Abu Sufyan, dengan latar belakangnya, tahu bahwa Ali memiliki hak untuk menjabat sebagai khalifah umat sementara sahabat-sahabat “besar” lainnya tidak tahu atau tidak mengerti sabda Nabi dengan jelas.

Nampaknya Abu Sufyan bermaksud menghasut Ali untuk angkat senjata demi merebut kembali haknya sebagai khalifah. Pada saat itu, Ali menanggapinya dengan berkata: “Jika aku berbicara [demi menuntut hakku], mereka berkata, ia haus kekuasaan.” Dan bila aku berdiam diri, mereka berkata, “Ia takut mati.” Tidak, tidak sama sekali; setelah kekisruhan itu. Demi Allah, ini putra Abu Talib lebih bergembira terhadap kematian melebihi kegemibraan seorang anak yang menyusu pada ibunya!”[11]

 

Mengapa Ali tidak menggunakan Dalil-dalil ini?

Apakah  Imam Ali tidak menggunakan dalil Da’wat dzil ‘Asyira atau hadis al-Ghadir segera setelah wafatnya Nabi Saw karena ucapan-ucapan Nabi tersebut hanyalah sebuah ucapan yang tersirat? Seorang Ulama Syiah menulis: “Juga karena tidak adanya ucapan yang tersurat yang digunakan oleh Imam Ali dari peristiwa-peristiwa  ini, termasuk al-Ghadir, untuk ia ajukan sebagai satu-satunya orang yang berhak untuk menjadi khalifah Rasulullah Saw.”[12] Perkataan ini benar-benar sebuah cara novel dalam melihat perseteruan tentang masalah khalifah. Ahli Sunnah akan melebarkan masalah ini sedikit lebih jauh dan berkata bahwa Ali tidak menggunakan dalil-dalil ini karena memang tidak dapat dijadikan sebagai dalil sama sekali.

Untuk dapat memahami mengapa Ali tidak menggunakan dalil-dalil ini pada waktu itu, kita harus mengerti keadaan yang sebenarnya, musuh-musuhnya, dan akibat-akibat dari tindakan Imam Ali ini.

Keadaan-keadaan

Ketika Nabi Saw wafat, dalam komunitas muslim saat itu terdapat beberapa orang yang berlainan satu sama lain.

Pertama, ada beberapa so-called pengadu domba dalam diri kaum muslimin yang menantikan perang saudara untuk memadamkan cahaya Islam dan meraih kekuasaan atas bangsa-bangsa Arab. Abu Sufyan dan sukunya termasuk dalam kategori ini. Mereka tidak berada di Saqifah (bersama Abu Bakar, ‘Umar dll, AK.) juga tidak berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Al-Quran juga mengatakan ihwal wujudnya orang-orang munafik di antara kaum muslimin: “Orang-orang Arab Badui itu lebih sangat kekafirannya dan kemunafikannya dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah dan Rasulnuya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “ (Qs. at-Taubah [9]:97) Lalu ada Musalyma al-Kadzdzab dan Sajjah bint al-Harats yang mengklaim sebagai Nabi dan mendapatkan beberapa pengikut dari orang-orang Badui.

Setelah melakukan tinjauan atas peristiwa-peristiwa ini, apa yang dapat dilakukan oleh Ali?

Sebagai sebuah contoh, mari kita gambarkan keputusan Imam Ali dalam benak kita. Selama masa khalifah Umar, ada sebuah cerita tentang dua orang ibu yang bertengkar tentang siapa sebenarnya ibu dari bayi itu.  Keputusannya diserahkan kepada Imam Ali. Ketika Imam Ali melihat kedua ibu ini sama-sama ngotot untuk mendapatkan bayi itu, ia memutuskan untuk membelah bayi tersebut dan dibagikan masing-masing kepada kedua ibu tersebut. Bagaiamana reaksi kedua ibu (yang sebenarnya dan yang gadungan) tadi? Ibu gadungan mengusulkan agar bayi itu dibelah dua saja, sementara ibu yang sebenarnya memutuskan untuk merelakan bayi itu diambil olehnya.

Islam adalah ibarat bayi dalam pembahasan kita kali ini; para penjarah itu akan melakukan apa saja untuk menjaga kekuasaan, hatta kalau bisa Islam dikorbankan. Ali –di sisi lain– rela untuk melepaskan haknya demi menyelamatkan Islam dari kehancuran total. Inilah filsafat mengapa Imam Ali tidak mengakhiri kisah ini dengan pedang atau memberikan kesempatan kepada Abu Sufyan dan yang lainnya untuk angkat senjata. Ia rela haknya dikebiri demi menjaga Islam dari kehancuran.

Ali rela disingkirkan, tapi ia tidak berhenti memprotes dimana dan bilamana saja ada kesempatan. Ketika ia disingkirkan lagi setelah kematian Umar, ia menyampaikan pidato kepada dewan musyawarah yang telah memilih Utsman, ia berkata: “Kalian pasti mengetahui bahwa akulah yang paling pantas untuk menjadi khalifah daripada yang lain. Demi Allah, sepanjang keutuhan dan persatuan kaum muslimin tetap terjaga dan tidak ada kezaliman di dalamnya kecuali diriku yang terzalimi, maka Aku akan diam….”[13]

Musuh-musuh  

Berkenaan dengan musuh-musuh Syiah, mereka tidak bersedia mendengarkan sepatah-kata pun alasan tentangnya. Ketika anda mengetahui bahwa musuh anda tidak menentang anda karena keawamannya – dan bahkan mereka bersedia untuk membunuh anda – maka tidak ada gunanya untuk menyebutkan seluruh bukti yang ada kepada mereka. Anda boleh bertanya-tanya mengapa saya berkata seperti ini.

Anda mengingat kembali Da’wat dzul Asyira, Nabi Saw menggunakan tiga kata untuk Imam Ali. ” Saudaraku, penggantiku, dan khalifahku .” Kedua kata terakhir bersifat krusial dan penting atas klaim Ali sebagai khalifah. Kata yang pertama ” saudaraku ” tidak begitu berbahaya dan mengancam pihak musuh-musuh. Atas alasan ini mengapa, bahkan, penulis Ahli Sunnah menyembunyikan hadis Nabi Saw, mereka membiarkan kata “saudaraku” utuh tapi mengganti kata-kata “penggantiku, khalifahku” dengan kata “demikian dan demikian.”

Kini, untuk dapat mengerti sikap keras kepala musuh-musuh Ali, mari kita satu bagian saja dari obrolan sengit antara Imam Ali dan Umar bin Khattab selama hari-hari pertama khalifah.

Saya hanya akan meringkaskan apa yang terjadi sebelum obrolan yang sebenarnya: Setelah Umar dan kelompoknya yang memaksa kaum Ansar (Penduduk Madinah) untuk membai’at Abu Bakar di Saqifah, mereka datang ke Masjid Nabi dan mengumumkan bahwa Abu Bakar telah dipilih sebagai khalifah dan meminta semua orang untuk membaiatnya. Mereka diberitahu bahwa Ali dan anggota lain dari Bani Hasyim dan beberapa sahabat utama Nabi berkumpul di rumah Fatimah, menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar mengirim pesan tapi tidak ada satu pun dari mereka (orang-orang yang berkumpul di rumah Fatimah, –AK.) yang membaiatnya. Lalu Umar dengan orang-orangnya mendatangi mereka dan bahkan mengancam akan membakar rumah itu jika tidak ada yang mau keluar! Mereka akhirnya mendobrak pintu, mencederai Fatimah yang saat itu lagi hamil, dan memaksa orang-orang yang ada di rumah itu ke masjid dan membaiat Abu Bakar.

Imam Ali juga ditawan dan dibawa ke masjid. Di sini terjadi obrolan antara Imam dan Abu Bakar  yang isinya Imam Ali hanya digunakan oleh Quraisy Mekkah terhadap orang Ansar. Quraisy memiliki keutamaan  daripada Ansar karena Nabi berasal dari suku mereka, oleh karena itu, mereka lebih berhak untuk menjabat sebagai khalifah; Imam Ali melebarkan adu argumen itu dengan mengatakan bahwa kami berasal dari keluarga Nabi, oleh karena itu, kami lebih berhak atas khalifah daripada engkau.[14]

Ibnu Qutayba ad-Dinwari, seorang sejarawan Sunni tentang masalah khalifah, melanjutkan cerita ini :

Mereka berkata kepada Ali: Nyatakan Baiat!

Ali menjawab: “Jika aku tidak mau, lalu apa?

Mereka berkata: “Kalau begitu, Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, kami akan menggorok lehermu!”

Ali berkata: “Kalau begitu, kalian ingin membunuh seorang hamba Allah dan saudara Nabi-Nya!”

‘Umar berkata: “Sebagai hamba Allah, iya; tapi sebagai saudara Nabi-Nya, tidak!”[15]

Apa yang dikatakan oleh Umar ini? Di luar dari ketiga hal yang disabdakan oleh Nabi tentang Ali, ancaman terakhir adalah “saudaraku ” namun hari itu, ‘Umar bahkan tidak bersedia menerima Ali sebagai “saudara Nabi”! Sekarang katakan kepadaku mengapa Ali tidak berkata: ” Aku juga adalah wasiy Nabi dan khalifahnya”?

Ibnu Qutaybah meneruskan ceritanya: Selagi percakapan antara Imam Ali dan ‘Umar berlangsung, ” Abu Bakar tutup mulut, dan tidak berkata sepatah-kata pun. Lalu Umar berbalik padanya dan berkata : “Mengapa engkau tidak mengeluarkan perintah untuk menghukumnya? Abu Bakar berkata : ” Aku tidak ingin memaksakan segala sesuatunya selagi Fatimah berada di sisinya.”

Iya, Fatimahlah yang melindungi Ali selama hari kelabu itu dalam sejarah Islam. Ali dalam ketertindasannya, ia pergi ke pusara Nabi dan mengeluhkan dukanya kepada Nabi: “Wahai putra ibuku! Orang-orang menindasku dan hampir saja membunuhku.” Ucapan ini adalah ucapan yang sama yang digunakan oleh Harun ketika ia mengeluhkan Bani Israil kala Nabi Musa kembali dengan Taurat sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah ia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat)itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ” Duhai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.”  (Qs. al-A’raaf [7]:150) Ingatlah Rasulullah Saw sendiri bersabda: “Wahai Ali, engkau bagiku seperti Harun bagi Musa; hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[16]

 
Apakah Ali Menggunakan Dalil-dalil Ini?

Ali tidak menggunakan dalil-dalil ini pada hari-hari awal khalifah ini berkuasa karena dua alasan : 1. Demi menjaga keselamatan dan kelestarian Islam, 2. Karena tahu sikap keras kepala musuh-musuhnya. Sikap Ali ini tidak ada hubungannya dengan implisit vs eksplisit sama sekali. Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”[17]

Pada tahun 35 SH, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bawha orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[18]

Anda harus ingat bahwa peristiwa ini terjadi dua puluh lima tahun setelah peristiwa Ghadir Khum, dan selama berabad-abad saksi-saksi sejarah telah meninggal dunia atau gugur dalam medan perang. Dan sebagai tambahan bahwa kejadian ini terjadi di Kufa yang jauh dari Madinah, pusat para sahabat.[]

[1] . Abdulaziz Sachedina, “Islam”, The Bio Ethics Encylopedia, vol. 3 (1995) hal. 1289.

[2] . Lihat jawaban Dr. Sachedina yang secara luas didistribusikan di internet untuk kalangan Syiah.

[3] . Lihat edaran Sachedina yang ditujukan kepada “seluruh pengikut Ahlulbait.”

[4] . Lihat, Allamah al-Hilli, Manâhij al-Yaqin, editor M.R. al-Ansari (Qum, 1416) hal. 306; al-Mufid, Awâil al-Maqâlat, hal. 41-42. Zaidiyyah beranggapan bahwa setelah Ali, Hasan dan Husain, yang menjadi imam adalah Zaid bin Ali. Setelah Zaid, seluruh keturunan Ali dan Fatimah yang melakukan jihad dan angkat senjata melawan para penguasa zalim, bertakwa dan alim maka ia dapat menjadi imam mereka.

[5] . Lihat an-Nawbakhti, (edaran. Abad ketiga Hijriah), Firâq as-Syiah, (Beirut, 1984) hal. 19. buku ini sebenarnya merupakan ringkasan dari Maqalat al-Imamiyah karya Sa’ad bin ‘Abdullah al-Anshari al-Qummi dan secara keliru telah dinisbahkan kepada an-Nawbakhti. Lihat S. M. Riza al-Husaini al-Jalali, “Firâq as-Syiah aw “Maqâlat al-Imâmiyah li an-Nawbakhti am li al-Anshâri?” dalam keluaran pertama Turatsuna, (Qum: Muassasa Ali al-Bait 1504) hal-hal. 24-49.

[6] . Lihat sebagai contoh, salah satu buku kalam Syiah yang masyhur, Kasyf al-Murâd, ulasan (syarah) Allamah Hilli atas Tajrid al-I’tiqâdât karya Muhaqqiq at-Tusi terjemahan Abul Hasan Sya’rani (Tehran: Islamiyyah, tanpa tahun) hal. 516-518. Dalam Usul Fiqih, terma “an-Nass” berarti ucapan  yang memiliki arti jelas dan terang. Dalam istilah ini, an-nass, secara definisi ia tidak dapat bersifat kabur dan tersirat. Dan dengan demikian tidak dapat dibagi menjadi jali dan khafi.

[7]. Dikeluarkan pada akhir bulan Ramadhan atau awal Syawal 1418 H di internet.

[8]. Untuk penjelasan lebih lanjut atas peristiwa ini silahkan lihat bagian “Sensor-diri dalam Sejarah Islam di atas.

[9]. Al-Mufid al-Irsyâd, hal. 190; al-Ya’qubi, at-Târikh, vol. 2 (Beirut: Dar Sadir) hal. 126; Sibt ibn al-Jauzi, Tadzkira al-Khawwâsh al-Ummah, hal. 121; Ibn ‘Abdi Rabbih, al-‘Iqdu al-Farid, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983) hal. 257; al-Aqdi Abdul Jabbar, Al-Mughni fi at-Tauhid wa al-‘Adl, vol. 2 (Kairo: Dar al-Mishriyyah li at-Ta’lif) hal. 121; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, vol. 6 (Kairo: Dar Ihya Kutub al-Arabiyyah, 1959) hal. 17.

[10] . Lihat, Nahj al-Balâghah, khutbah No. 5.

[11] . Lihat kutipan pada bagian pertama dari bagian keempat ini.

[12]. Nahj al-Balâghah, khutbah 74; Lihat juga at-Tabari dalam Târikh-nya dan Ibn al-Atsir dalam Kâmil ihwal peristiwa 23 H; al-Azhari, Tahdzib al-Lugha, vol. 1 (edisi Kairo) hal. 341.

[13] . Apa yang telah saya tulis di atas bahkan tidak dapat dipandang sebagai ringkasan dari peristiwa Saqifah dan akibat-akibatnya. Untuk lebih detilnya peristiwa ini, lihat Rizvi, Imamate, hal-hal. 113-126; al-Askari, S. Murtadha, ‘Abdullah ibn Saba and Other Myths (Tehran: WOFIS, 1984) hal-hal. 69-95; Jafri, The Origin & Early Development, hal-hal. 27-53.

[14]. Untuk mengetahui percakapan yang disebutkan di sini lebih lanjut Lihat Ibn Qutaibah ad-Dinwari, al-Imâmah wa as-Siyâsah, bagian 1 (Kairo: al-Halabi Publications, tanpa tahun) hal. 20, berikut ini adalah ucapan Ibn Qutaibah sendiri:

فقالوا: “بايع. ” فقال: “ان انا لم افعل فمه؟”

فقالوا: “اذاً و الله الذی لا اله الا هو¸نضرب عنقك!”

فقال: “اذاً تقتلون عبدالله و اخا رسوله!”

فقال عمر: “اما عبدالله ، فنعم. اما اخو رسول الله، فلا!”

و ابو بکر ساکت لا یتکلم. فقال له عمر: “الا تامر فيه بامرك؟”

فقال: “لا اكرهه علی شئ ما کانت فاطمه الی جنبه.”

[16] .  Imam al-Bukhari telah meriwayatkan hadis ini pada dua tempat dalam kitab Shahih-nya, satu dalam bentuk ringkas (tanpa “hanya saja tiada nabi selepasku”) dan kemudian dalam bentuk yang lengkap. Lihat Shahih, vol. 5,  Arab dengan terjemahan Inggris oleh M. Mohsin Khan (Beirut: Dar al-Anbiyya, tanpa tahun) hal. 47, 492-493).

[17] . Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.

[18] . Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed