by

Wijhah; Get What You Want!

wijhah

Wijhah

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ * وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu. Oleh sebab itu, janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. Dan setiap umat memiliki kiblat (tersendiri) yang ditentukan oleh-Nya. Oleh karena itu, (janganlah banyak berdebat tentang masalah ini, dan sebagai gantinya) berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan. Di mana pun  kalian berada, pasti Allah akan mengumpulkan kalian semua (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al-Baqarah[02]:147-148).

Tafsir Ayat
Baitul Maqdis adalah kiblat ‘temporal’ pertama kaum muslimin. Konon, Rasulullah saw sedang menanti-nanti amr al-Ilahi (bimbingan wahyu) mengenai perpindahan kiblat. Di sisi lain, kaum Yahudi melakukan serangkaian fitnah, dan mempermasalahkan kesamaan kiblat kaum muslimin dengan mereka. Mereka melontarkan klaim kontradiktif; bahwa kaum muslimin sama sekali tidak mengerti persoalan kiblat. Tidak mandiri, dan hanya menjiplaknya dari mereka. Sehingga, muncul stigma negatif yang mengatakan; “Penerimaan kaum muslimin terhadap kiblat kaum Yahudi adalah berarti mengakui kebenaran agama mereka.”
Pada saat-saat sensitif itulah, Malaikat Jibril turun meraih tangan Rasulullah saw—ketika beliau sedang menunaikan shalat Zhuhur dengan para sahabat ra—dan memutarkan wajahnya ke arah Ka’bah. Hal tersebut diikuti shaf kaum muslimin. Peristiwa ini direkam di dalam al-Quran:
Kami telah mengetahui engkau sering menengadah ke langit (menunggu penentuan kiblat). (Sekarang) Kami akan memalingkanmu ke arah kiblat yang akan kau ridhai. Maka, palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kalian berada, palingkanlah muka kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui bahwa ketentuan itu adalah benar (telah datang) dari Tuhan mereka, dan Allah tidak akan lengah terhadap apa yang mereka lakukan itu. (QS.al-Baqarah[02]:144).
Luar biasanya, fenomena ini sekaligus menjadi salah satu argumentasi kenabian Rasulullah saw, sebagaimana diungkap  bagian akhir ayat di atas. Pengikut al-Kitab pun telah mengetahui prototype kenabian ini dalam kitab mereka. Bahwa, Nabi terakhir pasca-Isa al-Masih adalah nabi yang akan melakukan shalat pada dua kiblat. Ya, salah satu indikator kenabian Rasulullah saw adalah beliau membebaskan dirinya dari pengaruh adat kebiasaan sosial masyarakat kala itu. Juga, meninggalkan Ka’bah (tempat suci Bangsa Arab) dan menghadap ke arah kiblat kaum minoritas (Yahudi).
Fragmentasi ayat “dan Allah tidak akan lengah terhadap apa yang mereka lakukan itu…” adalah kecaman terhadap pengikut al-Kitab yang menyembunyikan hakikat kebenaran ini, dan memprovokasi kaum muslimin, dalam rangka membendung kebenaran argumentasi kenabian Rasulullah saw. Allah swt tidak akan melalaikan niat dan perlakuan mereka, dan kelak mereka akan mendapat balasannya.
Sebenarnya, Rasulullah saw memiliki keikatan khusus dengan Ka’bah, sebagaimana keikatan beliau terhadap Nabi Ibrahim as. Beliau mengetahui, bahwa Ka’bah adalah pondamen awal teologi (ketauhidan), dan karenanya beliau berharap segeranya perpindahan kiblat; dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Beliau menantikannya. Beliau senantiasa menengadahkan wajahnya ke langit. Tanpa kata. Tanpa do’a. Semua ini adalah bentuk istislam (kepatuhan) mutlak Rasulullah saw. Kami telah mengetahui engkau sering menengadah ke langit (menunggu penentuan kiblat).

Kiblat adalah Persoalan Kebenaran
Persoalan kiblat sangat sensitif, yang bisa memicu terjadinya perpecahan di tubuh kaum muslimin. Karenanya, perintah menghadap kiblat diulang dua kali; pertama khusus kepada Nabi saw, dan yang kedua perintah kepada seluruh kaum muslimin. Walaupun, belumlah ada satu ayatpun yang secara redaksi ‘khusus’ kepada Nabi, melainkan berlaku kepada seluruh kaum muslimin. Sebab, khitab al-Qur’an diperuntukkan secara universal kepada mereka. Bukan untuk Nabi saw saja.
Jika kita amati, al-Quran memberikan perhatian terhadap persoalan ini. Lihatlah pada runutan ayat berikutnya; 145-146. Akan nampak, bagaimana al-Quran membongkar kondisi psikis-teologis pengikut al-Kitab, serta upaya mereka dalam menyeret persoalan ini menjadi syubhat kenabian. Sehingga, sebagai muslim kita dipandu untuk menghindari konfrontasi polemik dengan mereka. Percuma. Tidak ada presentasi, hujjah, dan argumentasi yang akan membuka hati mereka. Mengapa? Sebab ini adalah persoalan kebenaran. Sebaliknya, tidak ada ruang bagi kita untuk mendiskusikan hal ini. Terlalu naif berharap mereka akan bersepakat dengan kaum muslimin dalam masalah kiblat. Toh, sesama mereka (Yahudi dan Nasrani) memiliki kiblat berbeda-beda.
Yang harus dipahami adalah, sepanjang sejarah kerasulan, para nabi telah memberi warna dalam hal ‘menghadap kiblat’; sebagian menghadap ke Baitul Maqdis, dan sebagian yang lain ke Ka’bah. Kiblat bukan persoalan ushuluddin, bukan pula hukum semesta (amr takwini) yang tidak dapat berubah. Namun, ia bersifat deduktif dan bimbingan wahyu secara langsung.
Salah satu masalah pengikut al-Kitab adalah fanatisme eksklusif. Secara faktual al-Qur’an menyebutkan, bahwa mereka mengetahui (baca:mengenal) hal ihwal Nabi saw; nama dan ciri-cirinya sama seperti mengenal anak cucu mereka. Hal ini dengan mudah kita ketahui, bila merujuk kisah Nabi saw di Kuil Bostra, tatkala Pendeta Bahira menjelaskan tentang nubuwat Nabi Muhammad kelak kepada Paman beliau; Abi Thalib. Atau, ketika salah satu ulama Yahudi; Abdullah bin Salam memeluk Islam, dan ia mengatakan; “Aku lebih mengenalnya (Nabi saw) lebih dari mengenal anakku sendiri.” Namun, fanatisme telah menutup logika mereka. Sehingga, apapun nilai-nilai yang dibawa oleh Nabi saw tidak akan diterima, betapapun argumentasi mendukungnya.
Kiblat adalah identitas. Ia adalah sebuah kebenaran yang harus diterima mutlak, tanpa ragu-ragu. Ia juga merupakan sebuah orientasi, perlambang tujuan, dan nilai sebuah visi. Ia adalah citra yang membedakan secara fisikal seorang muslim dengan lainnya. Sederhananya, kiblat bukan soal opini dan toleransi. Ia adalah nilai-nilai kebenaran. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu. Oleh sebab itu, janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.

Sebuah Interpretasi
Dan setiap umat memiliki  wijhah tersendiri. Para pakar menginterpretasi “wijhah” dalam beberapa versi. Pertama, Mujahid, Rabi’, Ibnu Zaid, dan Ibnu Abbas mengatakan; Wijhah adalah perbedaan millah (agama) bagi setiap kaum Yahudi dan Nasrani. Kedua, al-Hasan mengatakan; setiap para nabi memunyai satu wijhah yang sama, yaitu Islam. Sekalipun berbeda dalam sisi yurisdiksi (hukum), sebagaimana dimaksud ayat; Untuk tiap- tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS.al-Maidah[05]:48). Kedua pendapat ini mendukung  realitas pluralisme agama. Ketiga, Qatadah berpendapat; hal tersebut diatas menegaskan realitas prilaku para nabi; sebagian dari mereka melakukan shalat menghadap ke Baitul Maqdis, dan sebagiannya ke Baitullah di Ka’bah. Dan keempat, pendapat yang menginterpretasi kata ‘wijhah’ secara etimologis. Hal ini digagas oleh al-Juba’i. Ia mengatakan; secara kebahasaan, wijhah berarti arah. Maksudnya, secara geografis kaum muslimin berbeda arah dalam hal menghadap kiblat. Sebagian di belakang Ka’bah, sebagian di depannya. Ada yang di arah kanan, dan sebagian lain di arah kirinya. Wijhah pun diartikan dalam dua substansi; pertama, wijhah adalah kiblat. Ini digagas oleh Mujahid dan Ibnu Zaid. Kedua, wijhah adalah hukum-hukum syariat yang dikandung Islam. Pendapat ini disitir oleh al-Hasan.

Fokus Meraih Tujuan
Jika kiblat adalah sebuah identitas, kebenaran, dan visi dalam hidup, maka secara otomatis setiap manusia—individu maupun kelompok—memilikinya sesuai dengan keyakinan dan ideologinya. Ini alamiah. Sebab manusia memiliki tendensi, obsesi, dan capaian-capaian yang tidak mungkin keluar dari kemampuan nalarnya. Lingkungan, apa yang dibaca-didengar-dilihat-dirasakan, faktor sosial masyarakat dan segala hal yang melingkupinya adalah great line yang membatasi cara berpikir dan berprilaku. Ia tidak mungkin keluar dari kungkungan semua itu.
Sebagai sebuah kebenaran, berkiblat ke Ka’bah tidak bisa dipaksakan kepada sekelompok orang yang meyakini selain Islam. Sebagai sebuah identitas, ia tidak dapat disematkan kepada  non-muslim. Dan sebagai sebuah visi, ia tidak dapat dicreat dan diinclude dalam global mapping (rencana global) kaum sekuler dan hedonis. Maka, sebagai muslim kita dituntun untuk mengabaikan semua bentuk pemaksaan, dan memfokuskan diri meraih wijhah (maksud, tujuan, ending goal) dan kiblat ka’bah kita dengan kontinus dan dengan semangat sportifitas. Mengabaikan segala bentuk perbedaan; kecil atau besar, dan memfokuskan diri untuk berlomba-lomba dalam kebaikan adalah solusi dalam mengatasi keberbedaan, perselisihan, dan konflik.
Dan setiap umat memiliki wijhah (tersendiri) yang ditentukan oleh-Nya. Oleh karena itu, (janganlah banyak berdebat tentang masalah ini, dan sebagai gantinya) berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan…
Bila dicermati, ada perbedaan tipis antara berlomba-lomba dan ‘bertanding’. Pemilihan diksi yang sangat hati-hati; berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan. Bukan bertandinglah kalian dalam kebaikan. Ada lapis-lapis makna yang membedakan antara berlomba dan bertanding. Ambil beberapa contoh cabang olahraga, misalnya. Sepak bola, tinju, lari, dan renang. Dua yang pertama, adalah simpul dari ‘pertandingan’. Sedangkan dua yang terakhir adalah contoh dari ‘perlombaan’. Dalam realitas sepak bola, terdapat prilaku-prilaku tidak fair dan tidak sportif yang terjadi. Begitu pula dalam tinju. Untuk menang, perlu memukul jatuh lawan. Beda halnya dalam cabang olah raga renang atau lari. Masing-masing peserta memiliki line sendiri. Tidak ada yang harus dijatuhkan, disepak, atau dilukai. Semuanya hanya berfokus mencapai finish tercepat.
Dalam konteks keberagamaan, mestinya setiap muslim menganut asas fastabiqul khairat. Ini berlaku dalam seluruh aspek; teologis, falsafi, sosial dan politik. Sebab, seandainya Allah swt berkenan, niscaya semua umat manusia akan menjadi ‘satu’. Akan tetapi Dia hendak menjalankan hukum semesta-Nya, menguji manusia atas karunia yang diberikan oleh-Nya, serta mengejawantahkan nilai-nilai ‘ciptaan’ ke dalam seluruh makhluk-Nya; spirit survival, kausalitas, naluri, insting, dan lain sebagainya.  Tidak perlu, untuk menjadi benar harus menyalahkan orang lain. Untuk menjadi yang baik, tidak perlu memburukkan citra orang lain. Untuk menjadi hebat, tidak perlu mengkerdilkan orang lain. Ia dinilai benar, karena kelurusan jalan hidupnya. Ia dinilai baik dengan kebaikan-kebaikannya. Dan ia dinilai hebat karena prestasinya. Killing for a living (membunuh untuk hidup) hanya berlaku di hukum rimba. Bukan di alam Islami, dan bukan pula di masyarakat madani. Sebab, Islam memberikan kunci ‘sportifitas’ dalam hidup.
Berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan…
Di mana pun  kalian berada, pasti Allah akan mengumpulkan kalian semua (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Perjalanan hidup di dunia, hanyalah sebagian fase dari skenario penciptaan manusia dan alam semesta. Maka, segala yang terjadi di dalamnya adalah supraproses yang akan berujung di akhirat. Ini berarti hidup adalah pilihan. Life is choice. Sebagai muslim—yang semua nilai dalam kehidupannya berlandaskan Islam dan seluruh kreatifitas didedikasikan untuk Islam pula—menjadikan ‘perlombaan dalam  kebaikan’ adalah visi, guna meraih kebahagiaan sejati kelak di akhirat. Sebab, perlombaan kebaikan di dunia, akan dinilai di hadapan Rabb al-Izzah, Allah swt. Itulah garis finish kreatifitasnya; memperoleh ridha-Nya, dan bahagia di kehidupan akhirat.

Refleksi
Keindahan estetika pada untaian ayat di atas, menginspirasi setiap muslim untuk menciduk nilai-nilai luhur di dalamnya. Sebab, al-Qur’an adalah kitab petunjuk, jalan hidup, dan buku pedoman. Ia tidak hanya dipersembahkan bagi orang-orang yang menjadi saksi turunnya. Namun—sebagai miracle—nilai-nilai universal di dalamnya, abadi untuk umat manusia, sepanjang masa.
Berikut ini, kita akan mendedahnya dalam tadabbur sederhana, sebagai upaya mengaktualisasikan pesan luhur ayat di atas. Pertama, fragmentasi ayat; Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu. Penggalan ayat ini menegaskan bahwa kebenaran selalu datang dari Tuhan. Penilaian tentangnya pun haruslah dari-Nya. Manusia tidak memiliki hak untuk mengklaim kebenaran, memvonis dan memutuskan perkara kebenaran. Semuanya mutlak merupakan hak Allah swt. Bukankah di antara sekian asma-Nya, Dia menyematkan pada diri-Nya Al-Haq (Pemilik Kebenaran). Ibnu Juraij mengatakan; al-Haq adalah Allah swt, sebagaimana dikutip oleh al-Thusi. Semangat ayat ini akan menuntun setiap muslim menjadi pribadi yang;

  • Senantiasa berada di jalan al-Haq; sikap dan prilakunya.
  • Seluruh hidupnya berorientasi ‘ketuhanan’. Dalam bahasa sederhana, religius.

Kedua, penggalan ayat; Oleh sebab itu, janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. Dalam menerima al-Haq sebagai prinsip dan jalan hidup, seorang muslim tidak pernah ragu-ragu dalam mengikutinya. Tidak setengah hati. Ia begitu yakin dan optimis. Pesan ayat ini akan membentuk seseorang menjadi pribadi muslim yang;

  • Senantiasa memiliki sikap yang tegas, tidak ragu-ragu, serta memiliki kekokohan komitmen.
  • Memunyai pemikiran dan prilaku positif. Tidak pernah negatif

Ketiga, penggalan ayat; Dan setiap umat memiliki wijhah (tersendiri) yang ditentukan oleh-Nya. Oleh karena itu, (janganlah banyak berdebat tentang masalah ini, dan sebagai gantinya) berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan. Pesan luhur ayat ini berbicara tentang keragaman, kebhinnekaan, dan kemajemukan. Juga berisi uraian sikap yang mesti diambil oleh setiap muslim. Pengamalan ayat ini akan membentuk karakter muslim yang;

  • Menghargai ‘kebenaran’ yang diyakini orang lain, dan mampu bertoleransi dengan baik.
  • Memanfaatkan waktu. Sebab hidup adalah perlombaan kebaikan.
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas, sebagai renungan atas fastabiqul khairat.
  • Mampu memanajemen konflik, sehingga menjadikannya sebagai wahana berfastabiqul khairat. Bukan mengubah konflik menjadi kecarutmarutan, atau mengembangkannya sebagai keadaan yang lebih rumit.
  • Senantiasa meraih apa yang diharapkan, dengan kekuatan ruhaninya.

Dan keempat, ayat berbunyi; Di mana pun  kalian berada, pasti Allah akan mengumpulkan kalian semua (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pesan ayat ini menjelaskan ending perjalanan hidup manusia. Semua bermuara di hadapan-Nya, kelak di hari kiamat. Maka seluruh amalan dan perbuatan yang dilakukan, akan diminta pertangungjawabannya. Keimanan terhadap ayat ini, akan melahirkan sikap positif, di antaranya:

  • Berpandangan jauh ke depan (visioner).
  • Mempunyai rencana masa depan yang tersistemik. Sebab, seluruh orientasi hidupnya, didedikasikan untuk meraih finish di hadapan Allah swt, sebagai orang yang diridhai, dan memperoleh kebahagiaan hakiki.

Point-point penting di atas bukanlah keseluruhannya. Sebab semakin diciduk, akan semakin banyak kandungan yang didapat. Karenanya, di dalam pendahuluan buku “Membumikan Al-Quran”, sang penulis; DR. Quraish Shihab mengutip pendapat Syekh Syaltut, beliau mengatakan; “Al-Quran adalah mutiara, yang setiap sisinya memancarkan cahaya.”
Semoga, kajian ini bermanfaat untuk menuntun kita meraih garis finish hidup kita dengan sempurna. Get what you want![] Husain Syadid

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed