by

Manusia Suci Keempat, Imam Kedua; Imam Hasan Mujtaba As.

hasan

Manusia Suci Keempat

Imam Kedua; Imam Hasan Mujtaba As

Nama                : al-Hasan

Gelar                : al-Mujtaba

Panggilan          : Abu Muhammad

Nama Ayah       : ‘Ali bin Abi Thalib

Nama Ibu          : Fatimah binti Muhammad Saw

Wiladah             : Madinah, Selasa, 15 Ramadan 3 H

Syahadah           : Syahid pada usia 46 tahun, di      Madinah, Kamis, 28 Safar 50 H.

Haram               : Jannatul Baqi Madinah

Imam Hasan merupakan putra sulung dari Imam ‘Ali dan Hadrat Fatmiah. Ketika Nabi Saw menerima berita gembira kelahiran cucunya, ia datang ke rumah putri kinasihnya, menggendongnya, membacakan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, dan sesuai dengan perintah Allah Swt, Nabi Saw memberikan nama anak tersebut dengan nama al-Hasan.

Masa Kanak-kanak

Masa tujuh tahun pertama dari masa kecilnya diberkati dengan perlindungan Nabi Saw, yang menganugerahkan kepadanya seluruh keutamaan dan menghiasinya dengan ilmu-ilmu Ilahi, toleransi, intelegensi, sikap pemurah dan keberanian. Karena maksum sejak kecil dan dihiasi dengan ilmu-ilmu Ilahiah oleh Allah Swt, cakrawala pemikirannya menembus hingga al-Lawhul Mahfuz.

Imam yang suci ini segera menjadi akrab dengan seluruh kandungan al-Qur’an yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menyingkapkan kandungan-kandungan ayat suci al-Qur’an kepada kerabat dekatnya. Nabi Saw bahkan terkejut ketika Hadrat Fatimah As membacakan ayat-ayat dengan tepat persis setelah baru saja diwahyukan sebelum Nabi Saw menyingkapkannya kepadanya. Ketika Hadrat Zahra ditanya, dia menjawab bahwa melalui al-Hasan dia belajar Wahyu.

Mengingat Allah (Dzikrullah)

Imam As banyak menyibukkan dirinya dengan ibadah sedemikian banyaknya, sehingga seluruh anggota badannya disibukkan dengan sujud sampai menyisakan goresan dan bekas-bekas sujudnya. Hampir seluruh malam dihabiskan dalam doa dan munajat. Perasaan tawadu’ dan asyik dalam ibadah kepada Allah Swt  membuat air matanya tumpah-ruah karena takut kepada Allah Swt. Pada waktu mengerjakan wudu, ia bergetar takut dan raut wajahnya menjadi  pias tatkala waktu shalat tiba. Kegemarannya dalam mengerjakan shalat dan keasyikannya yang luar biasa dalam bercengkerama dengan Allah Swt membawanya tidak sadar terhadap keadaan di sekelilingnya.

Ketakwaan dan Sifat Qana’ah

Imam Hasan memiliki harta dunia dan dapat menikmati kehidupan yang mewah, akan tetapi seluruh harta dan kesempatan untuk menikmati kehidupan mewah itu digunakan untuk membantu memperbaiki keadaan orang-orang miskin disekitarnya.

Dia sangat pemurah dan rendah-hati sehingga tidak pernah ragu untuk duduk bersama para pengemis di jalan-jalan kecil dan dalam perjalanan safar menuju ke Madinah untuk memenuhi taklif mereka. Karena sikapnya yang ramah dan hangat, dia tidak pernah membiarkan kaum fakir dan orang-orang miskin merasa rendah di hadapannya ketika mereka mengunjunginya.

Imâmah

Wafatnya Rasulullah Saw yang disusul oleh sebuah peristiwa di mana dunia Islam (di bawah penguasa sumbang) masuk mengambil alih kendali dengan semangat ekspansionisme dan penaklukan. Namun bahkan di dalam tahap revolusioner seperti itu, Imam Hasan tetap membaktikan dirinya dengan tugas-tugas suci perdamaian dalam mendakwahkan Islam dan ajaran-ajaran kudus Nabi Saw bersama ayahnya Imam ‘Ali As.

Syahadahnya Imam ‘Ali As yang terjadi pada tanggal 21 Ramadan menandai naiknya Imam Hasan ke kursi Imâmah. Mayoritas kaum Muslimin menyampaikan dukungan kepadanya dan mengakhirinya dengan formalitas bai’at. Tidak lama setelah mengambil alih kendali kepemimpinan, Imam Hasan As harus berhadapan dengan tantangan Mua’wiyah Gubernur Syiri’a, yang menyatakan perang terhadapnya. Sesuai dengan kehendak Allah Swt dan dengan perhitungan yang matang untuk mencegah jatuhnya korban dari pihak kaum Muslimin,  Imam Hasan As menyetujui sebuah perjanjian gencatan senjata (damai) dengan Mu’awiyah dengan syarat-syarat (yang tidak diakuri dan dijalankan oleh Mu’awiyah), namun demi menyelamatkan Islam dan menghentikan perang saudara. Akan tetapi, gencatan senjata ini tidak berarti diserahkannya tampuk Imâmah kepada Mua’wiyah. Gencatan senjata hanya bersifat sementara, peralihan administrasi pemerintahan kekuasaan Islam, dengan syarat bahwa administrasi pemerintahan diserahkan kembali kepada Imam Hasan As setelah Mu’wiyah meninggal lalu diserahkan dan diwariskan kepada Imam Husain As. Setelah melepaskan dirinya dari kesemrawutan tanggung jawab administrasi, Imam Hasan menjaga kepemimpinan agama dan membaktikan dirinya untuk penyebaran Islam dan ajaran-ajaran kudus Rasulullah Saw di Madinah.

 

Syahadah Imam Hasan As

Kejahatan Mu’awiyah terhadap Imam Hasan As makin tak terkendali dan pada akhirnya Mu’awiyah mengadakan persekongkolan dengan istri Imam Hasan, Jadah binti Ash’ath. Dia diperalat oleh Mu’awiyah untuk memberikan racun terhadap makanan Imam Hasan yang mengoyak jantungnya. Imam Hasan jatuh kepada rencana keji Mu’awiyah dan meraih syahadah pada tanggal 28 Safar 50 H. Prosesi  penguburan Imam Hasan dihadiri oleh Imam Husain dan anggota keluarga Bani Hasyim. Jasad suci Imam Hasan ketika diusung ke pemakaman dekat haram Rasulullah Saw, panah-panah dilancarkan oleh musuh-musuhnya (di bawah pengawasan dan persetujuan Aisyah), dan jasad Imam Hasan itu harus dialihkan ke pemakaman umum Jannatul Baqi di Madinah. Haram-nya dirubuhkan bersama marqad-marqad (kuburan)  lainnya pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April 1926) oleh penguasa Saudi yang naik ke tampuk kekuasaan di Hijaz.

Syarat-syarat perjanjian segera dilanggar, akan tetapi hanya menyisakan kemenangan yang sekejap bagi Mu’awiyah. Konsekuensinya membawa neraka dan malapetaka bagi nasib anaknya Yazid dan bencana bagi seluruh Bani Umayyah. Setelah kematian Mu’awiyah, Imam Husain muncul sebagai gunung kebenaran yang tak terdaki. Dalam tragedi Karbala, dengan kekuatan pasukan besar, dan dengan mengisolir ke-tujuh puluh dua sahabat Imam Husain dan mencegah mereka untuk mendapatkan air selama tiga hari, Yazid berhasil membunuh ke-tujuh puluh dua sahabat Imam Husain termasuk anggota keluarga Imam Husain yang ikut serta dalam kafilah tersebut.

Kesuksesan pengecut Yazid ini, bagaimanapun, berusia pendek. Kaum Muslimin beralih menentangnya setelah mengetahui perbuatan keji dan kepengecutan yang dia lakukan dan akibatnya Yazid diturunkan dari kekuasaan dan Bani Umayyah punah dari muka bumi.

 

Allamah Tabataba’i menulis:

Imam Hasan Mujtaba As, adalah Imam Kedua. Dia dan saudaranya Imam Husain merupakan putra Imam ‘Ali As dan Hadrat Fatimah As, putri Rasulullah Saw. Berulang kali Nabi Saw bersabda bahwa: “Hasan dan Husain adalah putraku.” Karena sabda Rasulullah Saw ini sehingga Imam ‘Ali berkata kepada anak-anaknya yang lain, “Kalian adalah anakku dan Hasan dan Husain adalah putra Rasulullah Saw.”

Imam Hasan As lahir pada tahun ke-3 Hijriah di Madinah, dan menghabiskan usianya selama tujuh tahun bersama datuknya Rasulullah Saw, tumbuh dewasa pada usia seperti itu di bawah bimbingan kasih Nabi Saw. Setelah wafatnya Nabi Saw yang berlangsung tidak lebih dari tiga –atau beberapa sesuai dengan riwayat yang lain– enam bulan lebih awal dari kematian Rasulullah Saw, Hasan ditempatkan secara langsung di bawah pengawasan ayahnya. Setelah ayahnya wafat, melalui instruksi Ilahi dan sesuai dengan wasiat ayahnya, Imam Hasan menjadi Imam; dia juga menduduki fungsi sebagai  khalifah selama enam bulan,  dia melaksanakan administrasi urusan-urusan kaum Muslimin. Selama masa itu, Mua’wiyah, yang merupakan musuh bebuyutan Imam ‘Ali dan keluarganya dan telah berjuang dengan gigih untuk menduduki kursi khalifah, menggiring pasukannya dari Irak, untuk menjatuhkan Imam Hasan dari khilâfah. Peperangan terjadi selama masa Mu’awiyah secara perlahan menyuap jendral dan pimpinan pasukan Imam Hasan dengan uang banyak dan iming-iming hingga pasukan memberontak terhadap Imam Hasan. Akhirnya, Imam Hasan terpaksa untuk menyetujui gencatan senjata dan menyerahkan khilâfah kepada Mu’awiyah, dengan syarat bahwa khilâfah harus diserahkan kepada Imam Hasan jika Mu’awiyah wafat dan keluarga Imam dan pengikutnya dilindungi dalam setiap keadaan.

Dengan cara seperti ini, Mu’awiyah menduduki khalifah dan memasuki Irak. Dalam sebuah pidato resminya, ia menginjak-injak isi perjanjian itu dan dalam segala kemungkinan menekan keluarga Imam (Ahlulbait Nabi Saw) dan pengikutnya. Selama sepuluh tahun masa Imâmah Imam Hasan As, Imam Hasan menjalani hidup dengan payah dan di bawah tekanan, tanpa rasa aman termasuk di rumahnya sendiri. Pada tahun 50 H, dia diracun dan disyahidkan oleh keluarganya sendiri, seperti yang dicatat sejarah, yang mendapat mandat dari Mu’awiyah.

Dalam hal kesempurnaannya, Imam Hasan merupakan cerminan kesempurnaan ayahnya dan teladan sempurna datuknya. Kenyataannya, selama Rasulullah Saw hidup, dia dan saudaranya senantiasa bersama Rasulullah Saw, terkadang Rasulullah Saw memanggul mereka berdua di pundaknya. Sumber-sumber maktab Sunni dan Syiah meriwayatkan sabda Nabi Saw ini berkenaan dengan Imam Hasan dan Husain:

“Kedua anakku ini adalah Imam, dalam keadaan berdiri atau duduk, (isyarat apakah mereka menjabat khalifah atau tidak)”. Juga, terdapat dalam banyak hadis-hadis Nabi dan Imam ‘Ali bertalian dengan kenyataan bahwa  Imam Hasan akan mendapatkan Imâmah selepas ayahnya. (Shiite Islam).[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed