by

Manusia Suci Ketiga, Imam Pertama; 'Ali bin Abi Thalib As

ali 2
 

Manusia Suci Ketiga, Imam Pertama;

‘Ali bin Abi Thalib As

Nama                     : ‘Ali

Gelar                     : al-Murtada

Panggilan               : Abu al-Hasan

Nama Ayah           : Abu Thalib

Nama Ibu              : Fatimah binti Asad

Wiladah                  : Di dalam Ka’bah Makkah Mukarramah, tanggal 13 Rajab 23 Sebelum Hijriah

Syahadah                : Syahid pada usia 63, di Kufah (Irak) pada hari Senin 21 Ramadan 40 H; ditikam dari belakang dengan sebilah pedang beracun yang melukainya secara serius di Masjid Kufah pada saat melaksanakan shalat Subuh pada tanggal 19 Ramadan;

Haram                    :Najaf al-Asyraf, Irak.

Imam ‘Ali merupakan saudara sepupu Nabi kita. Dia dilahirkan di dalam Rumah Suci (Ka’bah). Allah sendiri yang berperan dalam membawa ibunya menuju arah Ka’bah. Ketika ibunya memasuki Ka’bah, dia merasa berat oleh rasa sakit persalinan. Dia berlutut di hadapan Rumah Suci tersebut dan berdoa dengan khusyu’ kepada Allah Swt. ‘Abbas bin Abdul Mutthalib melihat Fatimah sedang berdoa. Tidak lama setelah dia mengangkat kepala dari doanya, kemudian tembok Rumah Suci terkuak oleh sebuah mukjizat. Fatimah memasuki Ka’bah dan bagian yang terkuak tadi kembali kepada keadaan semula. Abbas dan sahabatnya berkumpul di depan gerbang Rumah Suci yang terkunci itu, mereka berusaha untuk membukanya namun tidak berhasil. Mereka kemudian menyerah, dengan memandang bahwa kejadian itu adalah sebuah mukjizat dan iradah Ilahi. Kabar peristiwa ini segera tersebar ke seantero Makkah.

‘Ali lahir di dalam Ka’bah degan mata tertutup dan badannya secara tawadhu bersujud di hadapan Yang Maha Kuasa. Fatimah selama tiga hari  berada di dalam Ka’bah dan mendekati hari keempat ia melangkah keluar bersama bocah merah dalam gendongannya. Ia terkejut melihat Nabi Saw telah menantikannya untuk menerima bayi tersebut untuk ia gendong. Perasaan Imâmah tersentuh secara subtil (halus) oleh sentuhan Nubuwwah, ‘Ali membuka matanya dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, “as-Salâmu ‘Alaika ya Rasulullâh”.

Kelahiran ‘Ali di dalam Ka’bah merupakan sebuah hal yang luar biasa dalam sejarah umat manusia. Tidak seorang pun dari kalangan nabi juga tidak dari kalangan auliyah yang pernah mendapatkan kemuliaan seperti ini.

Dia dibesarkan dalam perawatan dan kasih sayang Nabi Saw. Sebagaimana ‘Ali berkata: “Nabi Saw membesarkanku dalam dekapannya dan memberikan makanan kepadaku dari  potongan  makanannya. Aku mengikutinya ke mana pun dia pergi ibarat seorang bayi unta yang mengikuti induknya. Setiap hari, sisi baru dari pribadinya menyinari dirinya yang mulia dan aku menerimanya dan mengikutinya sebagai sebuah perintah. (Nahjul Balâgah)

Sepuluh tahun bersama dengan Nabi Saw telah membuatku semakin lekat dan tidak dapat dipisahkan dengannya, sehingga aku satu dalam pribadi, pengetahuan, pengorbanan-diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan, kefasihan dan retorika.

Semenjak masa kecil, dia bersujud di hadapan Tuhan bersama Nabi Saw. Sebagaimana ia berkata sendiri: “Aku adalah orang yang pertama bersujud kepada Allah Swt bersama dengan Nabi Saw.

“‘Ali teguh dalam menapaki jalan Rasulullah Saw, “kata al-Mas’udi, sepanjang masa kecilnya. “Allah menciptakannya suci dan kudus serta  membuatnya teguh di jalan hak. Meskipun ‘Ali adalah orang yang pertama memeluk Islam ketika Nabi Saw mengajak para pendengarnya untuk memeluk Islam, namun, kenyataaanya bahwa sejak masa kecilnya dia dibesarkan oleh Nabi Saw dan mengikutinya dalam setiap amal dan perbuatan termasuk sujud di hadapan Allah Swt, dia dapat dikatakan lahir sebagai seorang Muslim, persis sebagaimana Nabi Saw sendiri.

‘Ali -sepanjang masa– menemani Nabi Saw, menolong dan melindunginya dari musuh-musuh.  Ia menuliskan ayat al-Qur’an dan mendiskusikannya dengan Nabi Saw segera setelah wahyu diturunkan melalui malaikat Jibril. Sedemikian dekatnya hubungan Ali dengan Nabi Saw sehingga segera setelah sebuah ayat diturunkan kepadanya pada siang atau malam hari, ‘Ali adalah orang yang pertama mendengarnya.

Nabi Saw berkata tentang ‘Ali:

Wahai ‘Ali, engkau adalah saudaraku di dunia ini dan akhirat.

Aku adalah kota ilmu dan engkau adalah gerbangnya.

Tidak ada orang yang mengenal ‘Ali kecuali Allah dan Aku

Tidak ada orang yang mengenalku kecuali Allah dan ‘Ali

Jika kalian ingin melihat ilmu Nabi Adam, ketakwaan Nabi Nuh, kebaktian Nabi Ibrahim, keteguhan Musa, dan khidmat dan zuhudnya Nabi Isa, lihatlah wajah cerlang ‘Ali.

Ketika Nabi Saw tiba di Yatsrib (Madinah) dan berjumpa dengan para pengikutnya yang baru saja tiba dari Mekkah atas panggilan Rasulullah Saw, ia segera menunjuk setiap pengikutnya dari penduduk Yatsrib yang dikenal sebagai Ansar, yang telah menerima kenabian Rasulullah Saw, menjadi saudara baginya. Penunjukan persaudaraan ini merupakan tindakan tepat bagi para pencari suaka yang dikenal sebagai Muhajir, yang meninggalkan rumah mereka dan datang ke Yatsrib. Nabi membuat ikatan persaudaraan yang mengikuti perdagangan yang sama sehingga Muhajirin dapat segera dipekerjakan. Sementara Nabi Saw menunjuk seorang Ansar sebagai saudara bagi seorang Muhajirin, ‘Ali yang hadir di sana, tidak ditunjuk sebagai seorang saudara bagi seorang Ansar. Nabi Saw ditanya mengapa ia tidak menunjuk seorang Ansar sebagai saudara bagi ‘Ali, Nabi menjawab: “Ia menjadi saudara bagiku.”

Sifat dan keutamaan ‘Ali sebagaimana dinilai oleh Mas’udi, “Jika nama agung ini orang pertama yang menjadi Muslim; seorang komrad (teman seperjuangan) Nabi dalam masa pengasingan, sahabat setia dalam pergulatan iman, sahabat karib dalam hidup, dan seorang kerabat; jika sebuah ilmu sejati dari semangat ajarannya dan kitabnya; jika itsar (mendahulukan orang lain) dan praktik keadilan, jika kejujuran, kesucian, dan cinta kebenaran; jika ilmu hukum dan pengetahuan, membuat pengakuan terhadap sifat-ulung dan  kemuliaan, maka semua orang harus memandang ‘Ali sebagai seorang Muslim yang utama. Kita akan mencari dengan sia-sia, entah di antara pendahulunya (kecuali satu) atau di antara penggantinya, atribut yang melekat pada diri ‘Ali.

Gibbon berkata: “Kelahiran, kelekatannya dengan Nabi, kepribadian ‘Ali yang memuliakan dia   atas sesama bangsanya, dapat membenarkan klaimnya kepada kekosongan kekuasaan Arab. Putra Abu Thalib memiliki hak atas kepemimpinan Bani Hasyim dan warisan penjagaan kota dan Ka’bah.”

‘Ali memiliki kualifikasi seorang pujangga, seorang serdadu, dan seorang wali; hikmatnya masih berhembus dalam sebuah kumpulan nasihat-nasihat moral dan religius; dan setiap musuh, dalam perang lisan atau pedang, ditundukkan oleh kefasihan dan keprawiraannya. Sejak saat-saat pertama misinya hingga saat-saat akhirnya penguburannya, Nabi Saw tidak pernah ditinggalkan oleh seorang sahabat yang pengasih, yang ia gembirakan dengan nama saudara, khalifah, dan manzilah (kedudukan) Harun bagi Musa.

Pernikahan

Di bawah titah dan dustur Ilahi, Rasulullah Saw menikahkan putri kinasihnya Fatimah dengan ‘Ali, meskipun beberapa orang telah datang untuk melamarnya.

Di antara anak-anak mereka, Imam Hasan, Imam Husain, Zainab dan Ummu Kultsum yang telah meninggalkan karya-karya cemerlang pada pelataran sejarah umat manusia.

Setelah syahadah Hadrat Fatimah, ‘Ali menikah dengan Ummul Banin. Dari pernikahan ini, lahirlah ‘Abbas. Abbas adalah seorang pemuda yang sangat rupawan sehingga ia kerap dipanggil sebagai Qamar Bani Hasyim (Purnama Bani Hasyim). Ia adalah manifestasi kesetiaan dan keprawiraan dan hal ini ditunjukkan pada pertempuran di Karbala.

Syahadah

Pada tahun 40 H, pada detik-detik terakhir menjelang fajar menyingsing tepatnya 19 Ramadan, ‘Ali diserang dengan sebuah pedang beracun oleh seorang Khawarij pada saat dia melaksanakan shalat di Masjid Kufah.

Singa Tuhan, Muslim paling prawira dan perkasa yang pernah hidup, memulai hidupnya yang agung dengan berbakti kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw dan mengakhirinya dalam perkhidmatan kepada Islam. “Dan jangan kalian menyangka orang-orang yang syahid di jalan Allah itu mati; tidak mereka hidup akan tetapi kalian tidak berpikir.” (Qs. Al Baqarah:154).

Para Imam dan Pemimpin Islam

Oleh: Allamah Tabataba’i

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah sampai kepada kesimpulan bahwa dalam agama Islam, setelah wafatnya Nabi Saw, ada seorang Imam yang senantiasa dan berketerusan dan berkesinambungan hidup dan hadir dalam komunitas (ummah) Islam.

Hadis-hadis nubuwwah dalam jumlah besar telah diriwayatkan dalam mazhab Syiah berkenaan dengan deskripsi Imam, jumlahnya, kenyataan bahwa mereka adalah berasal dari bangsa Quraisy dan keluarga Nabi Saw, dan kenyataan bahwa Mahdi yang dijanjikan berada di antara mereka dan Imam terakhir di kalangan mereka. Juga, terdapat kata-kata pasti Nabi Saw ihwal Imâmah Imam ‘Ali dan merupakan Imam Pertama dan juga sabda-sabda Nabi dan ‘Ali berkaitan dengan Imâmah Imam kedua selepasnya. Dengan cara yang sama para Imam sebelum meninggalkan statement-statement definitif (pasti) berkenaan dengan Imâmah yang akan datang selepas mereka. Sesuai dengan sabda-sabda mereka yang terkandung dalam sumber-sumber Syiah Imamiyah dua belas Imam dan nama-nama mereka sebagai berikut:

  1. ‘Ali bin Abi Thalib
  2. Hasan bin ‘Ali
  3. Husain bin ‘Ali
  4. ‘Ali bin Husain
  5. Muhammad bin ‘Ali
  6. Ja’far bin Muhammad
  7. Musa bin Ja’far
  8. ‘Ali bin Musa
  9. Muhammad bin ‘Ali
  10. ‘Ali bin Muhammad
  11. Hasan bin ‘Ali
  12. Mahdi bin Hasan

 

Imam Pertama

Amirul Mu’minin, ‘Ali As adalah putra dari Abu Thalib, seorang pembesar Bani Hasyim. Abu Thalib merupakan paman dan penjaga Rasulullah Saw dan orang yang membawa Nabi Saw ke rumahnya dan membesarkan Nabi sebagaimana anaknya sendiri. Setelah Nabi Saw terpilih untuk menunaikan misi nubuwwah. Abu Thalib tetap melindungi Nabi Saw dan menjauhkan segala kejahatan yang datang mengancam Nabi Saw dari kaum kuffar di antara bangsa Arab, khususnya dari bangsa Quraisy.

Menurut catatan hadis yang masyhur, ‘Ali lahir sepuluh tahun sebelum Nabi Saw memulai misi kenabiannya. Ketika mencapai usia enam tahun, sebagai akibat dari keadaan yang ada di sekeliling Mekkah, ia diminta oleh Nabi Saw untuk meninggalkan rumah ayahnya dan tinggal di rumah Nabi Saw. Di rumah Nabi Saw, ‘Ali ditempatkan secara langsung di bawah penjagaan dan pengawasan Nabi Saw.

Beberapa tahun berikutnya, ketika Nabi Saw dianugerahi oleh Allah Swt berupa misi nubuwwah dan pertama kalinya menerima wahyu Ilahi di gua Hira, sebagai Nabi Saw meninggalkan gua dan bertolak menuju kota Mekkah kemudian di tengah jalan menuju rumahnya ia bersua dengan ‘Ali. Nabi Saw menceritakan apa yang telah terjadi dan setelah mendengar cerita Nabi Saw, ‘Ali segera menerima iman yang baru dibawa oleh Nabi Saw. Kembali, dalam sebuah perlehatan, ketika Nabi Saw membawa seluruh kerabatnya bersama dan mengajak mereka untuk menerima Islam, ia berkata bahwa barang siapa yang menjadi orang pertama yang memenuhi ajakannya, maka ia akan menjadi khalifah, pewaris dan wakilnya. Satu-satunya orang yang berdiri dari tempatnya memenuhi ajakan Nabi Saw adalah ‘Ali As dan Nabi Saw mengumumkan kesiapan ‘Ali tersebut. Oleh karena itu, ‘Ali merupakan Imam yang pertama dalam Islam yang menerima iman dan merupakan orang pertama di antara pengikut Nabi Saw yang tidak pernah menyembah selain Allah Swt.

‘Ali senantiasa dalam persahabatan dengan Nabi Saw hingga Nabi Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah. Pada malam hijrah, ketika kaum kuffar mengepung rumah Nabi Saw dan siap untuk menyerang rumah tersebut hingga akhir malam dan memenggalnya hingga terpotong-potong ketika ia di atas pembaringan, ‘Ali tidur di tempat Nabi Saw sementara Nabi Saw meninggalkan rumah dan bertolak menuju ke Madinah. Setelah keberangkatan Nabi Saw, sesuai dengan kehendaknya, ‘Ali menyerahkan kembali amanah umat kepada mereka yang dititipkan kepada Nabi Saw. Kemudian ia pergi ke Madinah bersama ibunya, putri Nabi Saw, dan dua wanita lain. Di Madinah juga, ‘Ali tetap menjadi penolong Nabi Saw dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Nabi Saw memberikan putri satu-satunya dari Khadijah, Fatimah kepada ‘Ali sebagai istrinya dan ketika Nabi Saw mengikat tali persaudaraan di antara para sahabat, ia memilih ‘Ali sebagai saudaranya.

‘Ali hadir dalam setiap pertempuran yang diikuti oleh Nabi Saw, kecuali perang Tabuk ketika ia diperintahkan untuk tinggal di Madinah menempati posisi Nabi Saw. ‘Ali tidak pernah kembali dalam setiap pertempuran juga tidak pernah lari dari setiap musuh. Dia tidak pernah menentang perintah Nabi Saw, sehingga Nabi Saw bersabda: “‘Ali tidak pernah berpisah dari kebenaran dan kebenaran tidak pernah berpisah dari ‘Ali.”

Pada hari wafatnya Nabi Saw, ‘Ali berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun dia adalah orang yang terkemuka dalam masalah agama dan sahabat utama di antara sahabat-sahabat Nabi Saw, ia disingkirkan dari khalifah karena alasan bahwa ia masih terlalu muda dan ia memiliki banyak musuh di antara masyarakat Arab karena darah yang dia tumpahkan dalam perang yang ia jalani bersama Nabi Saw. Oleh karena itu, urusan publik ‘Ali hampir diputuskan sama sekali. Ia dirumahkan di mana ia memulai untuk menunjukkan kompetensi ilmu Ilahiyah dan dengan jalan ini ia lalui selama dua puluh lima tahun dari tiga khalifah pertama yang naik kekuasaan setelah Nabi Saw; khalifah pertama dipilih oleh beberapa kaum muslimin, yang kedua dipilih oleh khalifah pertama, dan khalifah yang ketiga dipilih oleh enam orang kandidat yang dinominasikan oleh khalifah kedua). Ketika khalifah ketiga dibunuh, masyarakat mem-bai’at ‘Ali dan memilihnya menjadi khalifah.

Selama masa kekhalifahan yang hampir mencapai masa empat tahun dan sembilan bulan, ‘Ali mengikuti sunnah Nabi Saw dan memberikan kekhalifahahannya sebuah bentuk gerakan spiritual dan memperbaharui serta memulai berbagai model reformasi. Secara umum, reformasi ini bertentangan dengan kepentingan beberapa kelompok yang mencari keuntungan mereka sendiri. Sebagai hasilnya, sebuah kelompok sahabat (di antara yang terkenal adalah Talha dan Zubair, yang juga didukung oleh ‘Aisya, dan khususnya Mua’wiyah) membuat sebuah dalih menuntut darah atas tewasnya khalifah ketiga. Mereka mengusung oposisi dan mulai memberontak dan melawan pemerintahan ‘Ali.

Untuk menghentikan perang saudara dan pemberontakan yang terjadi, ‘Ali bertempur dengan gemilang pada sebuah perang di dekat Basrah yang dikenal sebagai “Perang Jamal” melawan Talha dan Zubair. Dalam peperangan ini, ‘Aisyah, Ummul Mukminin, turut serta di dalamnya. Imam ‘Ali bertempur melawan Mua’wiyah di tapal batas Irak dan Syiria yang berlangsung selama satu tahun setengah dan dikenal sebagai “Perang Siffin”. Imam ‘Ali juga berperang melawan kaum Khawarij di Nahrawan, dalam sebuah pertempuran yang dikenal sebagai “Perang Nahrawan”. Dengan demikian, hari-hari pemerintahan ‘Ali diluangkan untuk mengatasi pemberontakan dan oposisi yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya. Akhirnya, pada waktu fajar 19 Ramadan 40 H, pada saat menunaikan shalat di Masjid Kufah, ia dilukai oleh salah seorang Khawarij dan gugur sebagai syahid tiga hari berikutnya, pada tanggal 21 Ramadan 40 H.

Sesuai dengan kesaksian sahabat dan musuh, ‘Ali tidak memiliki cacat dan cela dari sudut pandang kesempurnaan manusia. Dan dalam nilai-nilai Islam, ia merupakan teladan manusia sempurna yang digembleng dan dididik oleh Nabi Saw. Diskusi-diskusi dan buku-buku yang membahas ihwal kepribadiannya dilakukan oleh kaum Sunni, Syiah dan para pemeluk agama lain, juga setiap lembaga-lembaga keagamaan ternama, ia tidak dapat  disamakan dengan pribadi yang lain dalam sejarah. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ‘Ali adalah seorang sahabat Nabi Saw yang paling piawai. Dalam ceramah-ceramah ilmiahnya, ia merupakan orang pertama dalam Islam yang membuka pintu demonstrasi logika (burhan dan hujjah) dan membahas “ilmu Ilahima’arif-e ilahiyyah. Ia berbicara tentang aspek esoterik (batin) al-Qur’an dan alat tata-gramatika bahasa Arab guna menjaga bentuk ekspresi al-Qur’an. Ia adalah orang yang paling fasih dalam berbahasa Arab (sebagaimana yang telah disebutkan dalam bagian pertama buku ini).

Keprawiraan ‘Ali adalah ibarat pepatah. Dalam seluruh peperangan yang diikuti olehnya selama masa hidup Nabi Saw, dan juga selepasnya, ia tidak pernah menunjukkan sedikit pun rasa takut atau cemas. Meskipun dalam banyak pertempuran seperti Perang Uhud, Hunain, Khaibar dan Khandaq, para penolong Nabi Saw dan lasykar kaum Muslimin goyah dalam ketakutan atau tercerai-berai dan kabur, ‘Ali tidak pernah lari dari musuh. Tidak pernah musuh yang berduel dengannya dalam medan tempur keluar dalam keadaan selamat. Namun, dengan penuh ksatria ia tidak akan pernah membunuh musuh yang lemah juga tidak pernah mengejar mereka yang kabur. Ia tidak pernah asyik dengan serangan tiba-tiba atau memotong jalur air kepada musuh. Tercatat secara rapi dalam sejarah bahwa dalam perang Khaibar dalam serangan terhadap benteng ia capai pintu gerbang  dan dengan gerakan mendadak merobek pintu gerbang dan menghempaskannya. Juga, pada hari tatkala kota Mekkah ditaklukkan, Nabi Saw memerintahkan berhala-berhala yang ada untuk dihancurkan. Berhala “Hubal” yang merupakan berhala terbesar di Makkah, sebuah patung batu raksasa ditempatkan di atas Ka’bah. Mengikuti perintah Nabi Saw, ‘Ali menempatkan kakinya di atas pundak Rasulullah Saw, memanjat naik ke atas Ka’bah, mendorong “Hubal” dari tempatnya dan menjatuhkannya.

‘Ali dalam urusan zuhud dan ibadah tidak ada taranya. Dalam menjawab beberapa keluhan atas kemarahan ‘Ali terhadap mereka, Nabi Saw bersabda: “Jangan kalian mencerca ‘Ali karena ia berada dalam keadaan ekstasi.” Abu Darda, salah seorang sahabat, suatu hari melihat badan Imam ‘Ali pada salah satu kebun palm di Madinah berbaring di atas tanah ibarat sebuah kayu. Ia kemudian pergi ke kediaman ‘Ali untuk memberitahu kepada istrinya, putri Rasulullah Saw, dan menyampaikan bela-sungkawanya. Putri Rasulullah Saw berkata: “Saudara sepupuku tidak mati.” Sebaliknya, karena takutnya kepada Allah Swt membuat ia jatuh pingsan. Keadaan seperti ini sering terjadi.

Terdapat banyak kisah tentang kebaikan ‘Ali kepada orang-orang papah, rasa kasihan kepada kaum fakir dan miskin, sikap pengasih kepada mereka yang menderita kesusahan dan kemiskinan. ‘Ali meluangkan seluruh apa yang didapatkannya dari bekerja kepada orang-orang miskin, dan dirinya sendiri hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. ‘Ali suka bertani dan meluangkan banyak waktunya untuk menggali sumur-sumur, menanam pohon-pohon dan mencangkul di ladang. Namun, seluruh ladang-ladang yang ia garap atau sumur yang ia gali, diwakafkan kepada kaum miskin. Pemberian wakafnya ini dikenal sebagai “sadaqah ‘Ali”, yang mendapatkan pendapatan dua puluh empat ribu Dinar emas hingga akhir hidupnya.

M.A. Syakir menulis:

‘Ali adalah putra Abu Thalib dan saudara sepupu Rasulullah Saw.

 

Kelahiran

Imam ‘Ali lahir di Ka’bah pada tanggal 13 Rajab 23 sebelum Hijrah.

Ketika Abdul Mutthalib wafat, Abu Thalib ditunjuk untuk menjaga Muhammad dan diamanahi tugas untuk membesarkan Muhammad. Muhammad dan ‘Ali tumbuh dewasa pada rumah yang sama. Nabi Saw yang lebih tua, ia merawat dan menggembleng ‘Ali dengan penuh cinta dan kasih.

Rasulullah Saw bersabda bahwa dia dan ‘Ali berasal dari Nur yang sama.

 

Pengganti dan Khalifah

Menurut al-Qur’an, Nabi dan para Imam dipilih oleh Allah dan tidak dipilih, diseleksi dan dinominasikan atau ditunjuk oleh manusia.

  1. Pada waktu –atas petunjuk Ilahi– Nabi Saw mengundang empat puluh kepala suku Arab dan menyampaikan pesan Islam, ia memproklamirkan ‘Ali sebagai pengganti dan Khalifahnya.
  2. Ketika Rasulullah Saw kembali ke Madinah selepas menunaikan ibadah haji yang terakhir (Hajjatul Wida’) di Makkah pada tahun 11 H., ia –di bawah bimbingan wahyu– berhenti di Ghadir Khum dan di tengah kurang-lebih 124.000, kaum Muslimin, secara resmi memproklamasikan ‘Ali sebagai Pengganti dan Khalifahnya.  (Di samping dua kejadian ini, Rasulullah Saw pada banyak kesempatan, baik secara langsung atau tidak langsung, menunjuk ‘Ali sebagai Pengganti dan Khalifahnya).

Hari Bahagia

Si kecil ‘Ali melalui hari-hari bahagia di dalam pangkuan ibundanya Fatimah binti Asad, ayahandanya Abu Thalib dan saudara sepupunya Muhammad Saw.

Di bawah cinta, kasih dan kebahagiaan, ‘Ali tumbuh menjadi seorang pemuda yang rupawan, fasih, perkasa dan prawira.

Pada usia tiga belas tahun ini, Muhammad Saw memulai mendakwahkan Islam. Tentu saja, secara tabiat, ‘Ali adalah orang yang pertama yang mengumumkan keyakinanannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Siksaan

Hari-hari damai dan tenang berlalu. Kaum musyrikin mulai meneror Nabi dengan berbagai cara demi mencegah Nabi untuk menyampaikan kepada mereka pesan-pesan Tuhan. ‘Ali membantu dan mendukung Nabi Saw bilamana diperlukan.

Kaum musyrikin menjadikan anak-anak dan orang-orang jembel Mekkah untuk mengolok-olok Nabi Saw dan melemparkan batu-batuan kepadanya. ‘Ali yang prawira dan setia senantiasa hadir untuk membela Nabi Saw. Dengan kepalannya yang kuat, ia menghajar orang-orang itu dengan pukulan keras, setelah itu tidak ada yang berani mengganggu Nabi lagi.

 

Hijrah

Beban hidup di kota Mekkah bagi kaum Mukmin dan Rasulullah Saw tidak dapat dipikul lagi karena kekejaman dan gangguan kaum Musyrik. Oleh karena itu, Nabi memutuskan untuk hijrah ke kota Madinah.

Pada malam hijrah dari Mekkah, Nabi Saw meminta ‘Ali untuk tidur di pembaringannya, sehingga ia dapat meninggalkan kota Mekkah tanpa diketahui oleh kaum Musyrikin. Meskipun ‘Ali tahu bahwa rumah dikepung oleh empat puluh orang bersenjata lengkap, dia tanpa gentar tidur pada malam itu dan berkata bahwa dia tidak pernah tidur senyenyak malam itu. Nabi Saw tiba di Madinah dengan selamat dan tidak lama setelah itu ‘Ali datang menyusul bergabung dengan Nabi Saw.

 

 

 

 

Ksatria

‘Ali melaksanakan setiap perintah, aba-aba dan dustur al-Qur’an dan Nabi Saw. Dalam hal ini ‘Ali tidak ada duanya.

Badar

Para penyembah berhala Mekkah tidak rela membiarkan Islam berkembang dan tersiar dengan damai.

Abu Sufyan, kepala suku Bani Umayyah, yang merupakan seorang musuh bebuyutan Nabi Saw dan Islam, bergerak menuju Madinah dengan seribu lasykar bersenjata lengkap dan terlatih dengan maksud untuk membunuh Rasulullah Saw dan orang-orang beriman.

Rasulullah Saw mengumpulkan pengikutnya sebanyak tiga ratus tiga belas orang. Pertahanan telah disiapkan dengan peralatan tempur yang sederhana, termasuk anak-anak muda dan orang tua.

Alih-alih menantikan kedatangan penyerang, Nabi Saw justru memutuskan untuk menyambut mereka di luar kota Madinah di sebuah tempat yang dikenal sebagai Badar (150 Km dari kota Madinah).

Pertempuran berlangsung sengit, tajam dan membawa kemenangan atas orang-orang beriman. ‘Ali dalam pertempuran ini berjuang dengan prawira dan gagah-perkasa. ‘Ali dengan pedangnya yang membuat musuh kocar-kacir.

Uhud

Setahun berselang, Abu Sufyan datang lagi dengan lasykar sebanyak 10.000 orang. Nabi Saw datang menyambut mereka di Uhud dengan 1.000 lasykar orang beriman yang ditempatkan pada pos-pos strategis pertahanan.

Beberapa orang kaum muslimin diperintahkan untuk tidak meninggalkan posisi mereka apapun yang terjadi.

Pertempuran meletus dan dengan bantuan Allah, orang-orang beriman berhasil mengalahkan musuh yang mencoba untuk kabur menyelamatkan diri. Meskipun dengan perintah tegas dari Nabi Saw untuk tidak meninggalkan tempat mereka, beberapa orang kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka dan bersegera untuk mengambil harta pampasan perang musuh.

Khalid bin Walid, salah seorang lasykar Abu Sufyan, melihat tempat yang diduduki kaum Muslimin kosong, dari balik bukit menyerang orang-orang beriman. Banyak kaum Mukminin yang syahid termasuk Hamzah, paman Nabi yang pemberani dan memenangkan pertempuran yang tadinya sudah kalah. ‘Ali datang menyelamatkan Nabi dan mematahkan serangan yang dilancarkan terhadap Nabi Saw.

Setelah Hamzah dan Ja’far, ‘Ali adalah pembawa panji Islam. ‘Ali adalah satu-satunya komandan Nabi Saw selama masa hidup Nabi Saw dan tidak ada seorang pun yang memegang komando lasykar Rasulullah Saw dalam setiap peperangan yang di dalamnya Nabi juga turut serta.

Istri Abu Sufyan, mengoyak jasad suci dan memakan hati serta meminum darah Hamzah. Lalu, wanita bengis ini menjadikan telinga dan hidung Hamzah sebagai kalung.

Ketika kaum Muslimin kembali ke Madinah untuk menangisi dan berduka atas kematian orang-orang yang gugur, Nabi Saw memerintahkan untuk menyelenggarakan acara duka Hamzah sebelum mereka menyelenggarakan acara duka bagi kerabat dan keluarga mereka.

Khandaq

Peperangan Khandaq meletus karena Abu Sufyan menghimpun banyak suku-suku kaum Kuffar untuk memerangi Nabi dan menyerang ia di Madinah. Untuk membuat Madinah aman, Nabi Saw memerintahkan untuk menggali parit di sekeliling kota, dan oleh karena itu, peperangan ini disebut sebagai Perang Khandaq (parit). Dalam peperangan ini jawara pihak musuh ‘Amr bin Abduwud maju ke medan laga menantang kaum Muslimin untuk berduel. Seluruh sahabat Nabi Saw yang hadir pada saat itu, tidak bergeming untuk menjawab tantangan ini, kecuali ‘Ali. Tantangan tersebut diulang untuk yang kedua kalinya, namun tetap tidak ada yang menjawab tantangan ini kecuali ‘Ali. Kembali Nabi Saw mencegahnya. Ketika ‘Amr bin Abduwud mengulangi tantangannya untuk yang ketiga kalinya dan juga tetap tidak ada yang meladeni tantangan tersebut, akhirnya Nabi Saw memberikan izin kepada ‘Ali untuk maju berlaga melawan musuh. Singa Allah melompat ke medan laga dan menyambut tantangan tersebut.

Nabi Saw bersabda:

Seluruh iman kini akan bertarung dengan seluruh kufr dan satu sabetan dari pedang ‘Ali adalah lebih baik dari seluruh ibadah dan shalatnya mereka yang berada di langit dan di bumi.

‘Ali dengan satu sabetan pedangnya, Dzul Fiqar, menghabisi si jawara. Secara keseluruhan, perang ini membuahkan kemenangan bagi pihak Islam dan kekalahan bagi pihak Kafir.

Khaibar

Orang-orang Yahudi Khaibar melanggar perjanjian mereka dengan Nabi Saw dan memulai melecehkan dan membunuh kaum Muslimin.

Pasukan yang dipimpin oleh Nabi Saw mengepung benteng Khaibar. ‘Ali pada saat itu berada di Madinah karena matanya sakit.

Untuk beberapa hari, kaum Muslimin menyerang benteng tersebut namun tidak berhasil. Setelah beberapa hari Nabi Saw mengumumkan:

Besok, aku akan serahkan panji kepada orang yang tidak akan kabur, dia akan menyerang berulang-ulang hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya. Allah dan Rasul-Nya adalah sahabatnya dan dia adalah sahabat Allah dan Rasul-Nya.

Pagi berikutnya segera setelah shalat, seorang penunggang kuda datang terbang menerjang, gugusan awan terbang di belakangnya. Penunggang kuda ini adalah ‘Ali dan ketika ia turun dari kuda, Rasulullah menanyakan keadaan matanya. Ketika ‘Ali berkata bahwa matanya masih sakit, Nabi kemudian menggunakan air liurnya untuk mengobatinya. Sakit tersebut hilang dan ‘Ali berkata bahwa pandangannya tidak pernah sebaik ini.

Muhammad menyerahkan panji kepada ‘Ali dan mendoakan kemenangan baginya. ‘Ali tanpa rasa gentar bergerak menuju benteng Khaibar.

Marhab, seorang jawara musuh yang pemberani, datang menyambut ‘Ali untuk berduel dengannya. Sesuai dengan tradisi Arab, Marhab menceritakan keberaniannya dan berkata bahwa ibunya memanggilnya Marhab  (menakutkan). ‘Ali menukas bahwa ibunya memanggilnya Haidar (Singa Garang)

‘Ali memotong Marhab menjadi dua bagian dan benteng Khaibar ditaklukkan oleh Yadullah ‘Ali.

Negarawan

Pada perjanjian Hudaibiyyah, ‘Ali diminta oleh Nabi Saw untuk mengkonsep dan menulis perjanjian damai.

Pada peristiwa mubahala dengan para Nasrani Najran, Nabi Saw meminta ‘Ali untuk memberitahukan kepada mereka syarat-syaratnya.

‘Ali adalah pendiri sistem penghasilan tanah yang memberikan perlindungan hak-hak para pendulang tanah. Ia memberikan sistem ini kepada dunia, karena sistem ini tidak dikenal sebelumnya.

Ketika Surat at-Taubah harus dibacakan di hadapan penduduk Mekkah, Abu Bakar ditawarkan untuk menunaikan tugas tersebut dan ketika ia hendak bertolak menuju ke Mekkah, Malaikat Jibril turun dengan sebuah pesan dari Tuhan, meminta Rasulullah Saw untuk memanggil kembali Abu Bakar dan pergi sendiri atau mengutus seseorang yang mirip dengan dirinya. Karena Rasulullah Saw tidak dapat pergi, ia memutuskan untuk mengutus ‘Ali dan ‘Ali mewakili Nabi Saw untuk membawa surah ini dan membacakannya di hadapan suku Quraisy.

Pernikahan

Di bawah petunjuk Ilahi, Rasulullah Saw menikahkan putri kinasihnya Fatimah dengan ‘Ali.

Anak-anak yang lahir dari buah penikahan kudus ini adalah Imam Hasan, Imam Husain, Zainab dan Ummu Kultsum yang telah menorehkan sejarah emas pada pelataran sejarah kehidupan manusia.

Dengan istri yang lain, Ummul Banin, Allah Swt memberkati ‘Ali dengan putra yang bernama Abbas, yang karena rupawannya sehingga ia kerap dipanggil sebagai Qamar Bani Hasyim dan mempertontokan kesetiaan dan keprawiraannya di medan tempur Karbala.

 

 

Hadis

Tatkala Nabi Saw memimpin pasukan ke Tabuk, ia meninggalkan Imam ‘Ali untuk mengemban tugas sebagai Wakil, Khalifah, Wasi ia selama kepergiaannya. Pada peristiwa ini Rasulullah Saw bersabda:

“Kedudukan ‘Ali bagiku adalah ibarat kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”

Nabi Saw bersabda:

Aku tinggalkan dua pusaka berharga; Kitabullah dan Itrahti. Kalian tidak akan tersesat selamanya sepanjang kalian berpegang-teguh kepadanya.

Dan Nabi Saw bersabda:

“Aku, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain adalah berasal dari Nur yang satu.

Akan tetapi laksana butiran pasir yang berhamburan ketika diterpa angin, masyarakat Arab tidak setuju dengan hadis-hadis nabawi ini dan memperkenalkan bid’ah yang menyebabkan terpecah belahnya persatuan kaum Muslimin.

 

Wafatnya Rasulullah Saw

Selama hari-hari terakhir pada bulan Safar, Rasulullah Saw menderita sakit parah. Para sahabat Nabi Saw melihat bahwa Rasulullah Saw segera akan wafat.

Abu Bakar

Bangsa Arab (beberapa orang Ansar dan pada akhir pertemuan tiga orang Ansar) segera berkumpul di Saqifah untuk menunjuk seorang khalifah (sementara jenazah suci Nabi Saw belum lagi dikebumikan); dan akhirnya menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah pada tahun 11 H.

Bani Hasyim dan para Mukmin yang setia tidak berada dalam pertemuan itu karena mereka tidak dapat meninggalkan Nabi sendiri, yang wafat pada tanggal 28 Safar 11 H. Pada saat pertemuan berlangsung, Bani Hasyim dan orang-orang Mukmin yang setia harus melaksanakan prosesi suci penguburan Rasulullah Saw (lagi pula, Nabi Saw telah menunjuk ‘Ali sebagai khalifahnya).

Alasan atas kejadian yang mengejutkan ini adalah nafsu untuk berkuasa. Sepanjang kira-kira delapan puluh peperangan, tidak ada sanak famili atau sanak suku mereka yang tidak dibunuh oleh ‘Ali dalam jihad, meskipun Allah dan Rasul-Nya telah memilih ‘Ali sebagai pengganti dan khalifahnya.

Ketika Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, ia berkata bahwa kini ia ditugaskan menjabat sebagai khalifah dalam pemerintahan yang peduli, meskipun ia bukan  yang terbaik di antara mereka. Pada waktu ajal datang menghampirinya, ia mencalonkan Umar sebagai pengganti dan khalifahnya pada tahun 13 H.

 

Umar

Selama kurang-lebih sepuluh tahun Umar menjabat kedudukan khalifah, dan sebelum matinya, ia menominasikan sebuah kelompok yang terdiri dari enam orang (yang tidak sederajat dalam ilmu dan kedudukan) untuk memilih di bawah paksaan salah seorang dari mereka yang menjadi khalifah dan jika mereka gagal, mereka harus dibunuh. Imam ‘Ali menjadi salah seorang di antara enam orang anggota kelompok yang dibentuk oleh ‘Umar, setelah menolak untuk mentaati syarat-syarat yang ditentukan untuk mengikuti jejak dua khalifah sebelumnya, kelompok itu akhirnya memilih Utsman sebagai khalifah yang berasal dari Bani Umayyah sebagai khalifah ketiga pada tahun 23 H.

  

‘Utsman

Ketika ‘Utsman menjabat sebagai khalifah, para kerabat dan sanak-familinya, Umayyah, menjadi penguasa secara de-facto wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Islam. Khalifah ‘Utsman dengan gubernur-gubernurnya seperti Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (musuh utama dan pertama Islam), pertama dilantik oleh khalifah kedua sebagai gubernur di Syiria, dan bertanggung jawab atas pembunuhan Imam ‘Ali dan Imam Hasan. Putra Mu’awiyah, Yazid membantai Imam Husain (cucu Rasulullah Saw) di Karbala. Dan orang seperti Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ayt diangkat sebagai gubernur Kufah oleh ‘Utsman, juga Abdullah bin Abi Sarh menjabat sebagai gubernur Mesir, dan di atas semua itu, penasihat terdekat dan perdana menterinya adalah Marwan bin Hakam. Urusan pemerintahan nepotistis yang dijalankan oleh ‘Utsman seperti ini telah membuat umat Islam mengadakan pemberontakan terhadap ‘Utsman dan membunuhnya pada tahun 35 H.

‘Ali

Upaya ‘Ali untuk mendirikan kerajaan Allah di muka bumi dipotong oleh pedang pembunuh.

Ibnu Mulljam, suruhan Mua’wiyah, membunuh ‘Ali pada waktu ia melaksanakan shalat Subuh dan dianugerahkan dengan syahadah pada tanggal 21 Ramadan 40 H, kemudian dikebumikan di Najaf al-Asraf (Irak).

Lahir di Ka’bah Rumah Allah, dan dibunuh di Rumah Allah, singa Allah, orang yang paling berani dan gentle yang pernah hidup, memulai hidupnya yang agung dengan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengakhiri hidupnya dengan khidmat kepada Islam. Dalam kitab-Nya, Allah swt berfirman yang artinya bahwa, “Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs.al-Baqarah:154).

Penghulu Awliya’ Allah

Setiap orang bertakwa dan beriman mengenal Ali sebagai waliyullah. Di setiap tempat ‘Ali dikenal sebagai Penghulu Waliyullah. Kekuasaan ‘Ali yang pengasih dikenal dan dialami hingga hari ini oleh mereka yang mencintainya dan akan tetap berlanjut dirasakan hingga akhir zaman.

‘Ali, waliyullah, melakukan segala sesuatu yang membuat Allah Ridha dan Allah Swt menganugerahkan apa yang membuat ‘Ali Ridha.

‘Ali, jawara sengit dan tajam perang Khandaq, pemberani dan tak kenal rasa takut, penakluk Khaibar, adalah orang yang memiliki hati yang lembut terhadap orang-orang sakit dan pembela para janda dan anak yatim.

‘Ali, pangeran sedekah, bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, melebihi Hatim at-Ta’im, dengan memberikan sebuah karavan bermuatan kepada fakir-miskin ketika ia dimintai sepotong roti.

‘Ali, yang memakan roti kering dan garam, akan menggelar perjamuan untuk para fakir-miskin dan para pengemis.

‘Ali, samudra ilmu, tidak akan berbicara kecuali diminta.

Dalam upaya untuk menganugerahkan kemulian kepada pekerja yang jujur, ‘Ali menggulung sendiri lengan bajunya dan bekerja di ladang-ladang orang-orang Yahudi dan kaum Muslimin sebagai seorang buruh.

Khalifah yang kuat Empire Islam dan penakluk delapan puluh tiga jihad ini memperbaiki sepatunya sendiri, sebagaimana Nabi Saw.

Ada beberapa sabda-sabda ‘Ali dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dengan baik.

Nabi Saw bersabda:

Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Aku dan ‘Ali

Tidak ada yang mengenal Aku kecuali Allah dan ‘Ali

Tidak ada yang mengenal ‘Ali kecuali Aku dan Allah

Jika kalian ingin melihat ilmu Nabi Adam, ketakwaan Nabi Nuh, Kebaktian Nabi Ibrahim, keperkasaan Nabi Musa, khidmat dan kewaraan Nabi Isa pandanglah wajah cerlang ‘Ali.

Ali bersabda:

“Keturunan Nabi Saw adalah kepercayaannya, pelindung perintahnya, amanah ilmunya, penjaga al-Qur’an dan gunung-gunung keimanannya.”

“Merekalah yang telah membuat tulang punggung Islam tegak lurus. Kaum Muslimin takut kepada kaum Kuffar, akan tetapi mereka membuatnya berani dan prawira.”

“Tidak ada seorang pun dari pengikut Nabi Saw yang dapat dibandingkan dengan Ahlulbait Nabi Saw. Penerima tidak dapat disetarakan dengan pemberi rahmat.”

“Ahlulbait merupakan fondasi Islam dan tiang keimanan.”

“Setiap Muslim yang bergantung kepada pertolongan dan petunjuk mereka akan mendapatkan keselamatan.”

“Mereka mendapatkan keistimewaan dan hak Imâmah dan Khilâfah, yang mereka miliki. Dia yang berhak mendapatkan dan layak mewarisi khilâfah kini telah mendapatkannya.”

“Para abid dan pengikut kebatilan senantiasa berjumlah besar dan pengikut kebenaran senantiasa berjumlah kecil.”

“Ketika Rasulullah Saw wafat, banyak orang yang telah meninggalkan Ahlulbait Nabi Saw dan menolong yang lain. Mereka meninggalkan orang-orang yang diperintahkan untuk mereka cintai.”

“Khalifah telah diserahkan kepada orang-orang lain, yang hanya berhasrat kepada dunia, yang sarat dengan salah dan alpa. Mereka tidak memiliki dan juga tidak pernah mengklaim bahwa mereka memiliki kekuatan ruhani juga kemaksuman.”

“Ayyuhannas! Ketahuilah bahwa kami adalah Ahlulbait Nabi Saw. Para malaikat telah datang kepada kami. Kami adalah telaga ilmu. Kami adalah mata-air hikmah dan ilmu Allah Swt.”

“Dia yang menjadikan kami sebagai temannya dan penolong layak mendapatkan ampunan Ilahi, dan dia yang menjadi musuh bagi kami, menantikan hukuman dan siksa dari-Nya. Mereka berbicara dusta terhadap kami dan berlaku zalim kepada kami.”

“Allah Swt meninggikan derajat kami dan telah membuat mereka lebih rendah derajatnya dari kami. Dia telah membuka mata orang-orang melalui perantara kami.”

“Sesungguhnya, para Imam berasal dari bangsa Quraisy, yang merupakan keturunan Bani Hasyim. Tidak ada seorang pun dari Bani Hasyim kecuali layak mendapatkan Imâmah.”

“Aku nasihatkan kepada kalian untuk tidak menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apa pun dan tidak merusak Sunnah Nabi Saw. Jagalah dua pilar ini dan kalian akan terselamatkan dari kesalahan dan dosa-dosa.”

“Agama kalian adalah agama yang lurus dan Imam kalian adalah seorang yang arif. Aku adalah sahabatmu semasa hidup Rasulullah Saw. Ketahuliah dengan baik bahwa Imam adalah khalifah yang ditunjuk oleh Allah Swt.  Mereka mengatur umat semata-mata untuk Allah Swt. Ketahuilah dengan baik bahwa kami adalah sahabat sejati Rasulullah Saw. Kami adalah gerbang ajaran-ajarannya. Tidak sah bagi seseorang untuk memasuki rumah tanpa melalui pintunya. Bagi siapa yang tidak mengindahkan aturan ini adalah seorang pencuri.”

“Hanya mereka yang mentaati Allah dan Rasul-Nya yang akan masuk ke dalam firdaus dan mereka yang melakukan sebaliknya akan masuk Neraka. Sesungguhnya, Allah Swt telah membuatmu sebagai seorang Muslim dan Dia menghendaki kalian sebagai Muslim yang tulus. Barang siapa yang mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Ahlulbait Rasulullah dan bahkan ketika ia meninggal di atas kasur dan tidak berangkat jihad akan termasuk dalam golongan para syahid.”

“Ayyuhannas! Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku, karena sesungguhnya aku lebih mengenal lorong-lorong langit melebihi lorong-lorong bumi, dan sebelum pembuat onar tumbuh bersemi yang akan menyebabkan kalian menginjak-injak kehormatan dan meruyak tatanan berpikir umat.

“Kini, Aku ucapkan selamat tinggal kepada kalian; kalian akan kehilanganku dan menyadari keutamaanku. Kalian akan mengingatku ketika khalifah yang lain datang menggantikanku.” (Nahjul Balâghah)

Ketika Imam ‘Ali luka secara serius akibat tikaman pedang beracun Abdurrahman bin Muljam, ‘Ali membuat wasiat kepada Imam Hasan dan Imam Husain sebagai berikut:

“Aku nasihatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Swt dan tidak mengejar kesenangan dunia ini walaupun dia datang mengejarmu. Janganlah pernah menyesal atas apa saja yang kalian telah korbankan.  Berkatalah yang hak dan beramallah (dengan harapan) mendapatkan ganjaran. Jadikanlah diri kalian sebagai musuh para penindas dan penolong bagi orang-orang yang tertindas.

“Aku nasihatkan kepada kalian dan seluruh anak-anakku dan anggota keluargaku dan setiap orang yang membaca wasiat ini, untuk bertakwa kepada Allah Swt, jagalah urusan-urusanmu dengan baik, dan menjalin silaturahmi sesama kalian karena aku mendengar datuk kalian Rasulullah Saw bersabda: “Menyelesaikan ikhtilaf yang ada lebih baik dari shalat dan puasa.”

“Bertakwalah kepada Allah dan jagalah urusan anak-anak yatim. Sehingga mereka tidak kelaparan dan tidak binasa sementara kalian ada.”

“Bertakwalah kepada Allah dan ingatlah Allah dalam urusan-urusan tetanggamu, karena menjaga urusan tetangga adalah salah satu pokok sabda Rasulullah Saw. Imam ‘Ali melanjutkan nasihat tentang keutamaan tetangga hingga kami berpikir bahwa ia membolehkan tetangga mendapatkan warisan.”

“Bertakwalah kepada Allah Swt dan ingatlah Allah dalam urusan al-Qur’an. Tidak seorang pun yang akan mengungguli kalian dalam urusan ini.”

“Bertakwalah kepada Allah Swt dan ingatlah Allah dalam urusan shalat, karena shalat merupakan tiang agama.”

“Bertakwalah kepada Allah Swt dan ingatlah Allah karena Dia adalah Rabb al-Bait (Ka’bah). Jangan kalian tinggalkan selama kalian hidup, karena jika ditinggalkan kalian tidak akan terpisah darinya.”

“Bertakwalah kepada Allah Swt dan ingatlah Allah dalam jihad dengan menyumbangkan harta, jiwa dan lisan kalin di jalan Allah Swt.”

“Kalian harus menghormati kerabat dan meluangkan waktu untuk orang lain. Hindarilah menjauh dari orang lain dan memutuskan hubungan silaturahmi. Jangan menyerah untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar meskipun keburukan menimpamu, dan sehingga apabila kalian hendak shalat, shalat kalian tidak akan diterima.”[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed