by

Manusia Suci Pertama, Nabi Muhammad saw.

nabi

Manusia Suci Pertama

Nabi Muhammad Saw

Nama                     : Muhammad

Gelar                     : al-Mustafa

Panggilan               : Abul Qasim

Nama Ayah           : ‘Abdullah bin ‘Abdil Mutthalib

Nama Ibu              : Aminah binti Wahab

Wiladah                  : Mekkah, 17 Rabiul Awwal pada hari Jum’at, bertepatan dengan Tahun Gajah.

Rihlah                    : Wafat pada usia 63 tahun di Madinah pada hari   Senin, 28 Safar, 11 H; dimakamkan di kediamannya  yang bersebelahan dengan masjid di Madinah.

 lsilah

 

Silsilah Keturunan

Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Yang pertama kali dicipta oleh Allah Swt adalah cahayaku (nuri).”

Suku dan kabilah yang paling tua dan paling mulia di kalangan bangsa Arab adalah Bani Hasyim. Mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim melalui anaknya Nabi Ismail. Bangsa Arab mencintai dan menghormati mereka karena sikap pemurah, pengetahuan dan keberanian mereka.

Abdul Mutthalib

‘Abdull Mutthalib adalah kepala suku Banu Hasyim sekaligus penjaga Ka’bah.

Di antara sepuluh anaknya, adalah ‘Abdullah ayah dari Nabi Saw dan Abu Thalib adalah ayah dari ‘Ali.

 

Muhammad

Bocah kecil Muhammad lahir di Makkah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 570 M. Ayahnya Abdullah bin Abdul Mutthalib, wafat sebelum ia lahir dan ketika ia berusia enam tahun, ia kehilangan ibu kinasihnya, Aminah binti Wahab

Kakeknya, Abdul Mutthalib, mengambil tanggung jawab untuk membesarkan si yatim. Pada usia sepuluh tahun, ia kehilangan kakeknya yang tercinta. Pada akhir hayatnya, Abdul Mutthalib menunjuk Abu Thalib untuk menjadi pengasuh Muhammad.

Pemuda tampan, tinggi, bertutur kata halus, Muhammad, menemani kafilah niaga Abu Thalib, melintasi sahara. Perjalanan niaga ini memberikan wawasan yang dalam tentang insan dan semesta.

Pada masa muda, Muhammad Saw turut serta dalam Hilf al-Fudul (konfederasi) dalam rangka menolong para janda dan anak yatim dan melindungi orang-orang yang dizalimi.

Khadijah

Janda kaya dan terhormat. Khadijah mencari seorang yang cakap untuk mengelola kafilah niaganya yang beraset besar, memilih Muhammad; al-Amin, cakap dan jujur. Muhammad adalah orang yang sukses dalam berniaga. Khadijah yang terpesona akan kepribadian Muhammad memberikan tawaran kepada Muhammad untuk mengikat tali perkawinan. Ketika mereka melangsungkan pernikahan, Muhammad berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah  berusia empat puluh tahun. Meskipun usia yang cukup senjang di antara mereka, pernikahan mereka membuahkan kebahagiaan.

Nabi

Pecinta tabiat dan pendiam, risau akan penderitaan manusia, Muhammad sering ber-khalwat (menyendiri) ke Gua Hira untuk melakukan perenungan. Suatu malam, Laylatul Qadr (malam kemuliaan) suara datang kepadanya, dan memerintahkan “Bacalah atas nama Tuhanmu.” Fenomena kunjungan Ilahi ini sangat memberikan kesan yang dalam pada diri Muhammad, ia segera kembali ke rumah menjumpai istrinya, Khadijah, yang mendengarkannya dengan seksama dan berkata “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Selang beberapa saat, kembali suara dari langit terdengar “Wahai orang yang berselimut, bangunlah, dan beri peringatan dan agungkanlah Tuhanmu.” Suara ini merupakan pertanda untuk memulai dakwah ajaran tauhid. Awalnya, Muhammad berdakwah kepada orang-orang yang terdekat dan kerabatnya untuk menerima iman yang baru. Orang yang pertama memeluk Islam di antara wanita adalah Khadijah dan dari kaum laki-lakinya adalah ‘Ali.  Segera setelahnya, Zaid bin al-Haritsah memeluk Islam kemudian disusul oleh Abu Bakar dan ‘Utsman. Kemudian,  ‘Umar,  yang tadinya merupakan penentang, berlaku kasar kepada kaum Muslimin, dan seorang musuh besar Nabi, memeluk Islam.

Khalifah

Selama tiga tahun berusaha secara diam-diam untuk menyapih orang-orang dari menyembah berhala dan hanya berhasil menarik tiga puluh orang pengikut. Kini, Muhammad memutuskan untuk menyeru secara terang-terangan kepada kaum Quraisy untuk meninggalkan menyembah berhala dan memeluk Islam.

Ia mengundang empat puluh orang kerabatnya untuk menghadiri perjamuan yang diadakan olehnya. Pada perjamuan itu, Muhammad menyebutkan bahwa dia telah lama hidup bersama mereka dan bertanya bahwa apakah dia pernah kedapatan berdusta? Orang-orang menjawab serentak “Tidak, kami tidak pernah mendapatkan engkau berdusta, engkau adalah al-Amin (orang terpercaya).” Nabi Saw bertanya kepada mereka jika sekiranya dia berkata bahwa musuh-musuh sekarang ini di balik bukit bersiaga untuk menyerang mereka, apakah mereka akan percaya? Jawaban mereka adalah Iya. Mereka akan percaya. Kini, apakah kalian akan percaya terhadap apa yang aku katakan sekarang?” Kembali mereka menjawab, Iya.” Lalu, Nabi Saw berpidato kepada mereka:

“Aku tidak mengenal seorang pun di semenanjung Arab, yang dapat menawarkan sesuatu yang paling baik kepada kerabatnya melebihi apa yang aku tawarkan kepada kalian. Aku tawarkan kepada kalian kebahagiaan, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Tuhan Yang Maha Kuasa telah memerintahkanku untuk mengajak kalian kepada-Nya, oleh karena itu, siapa di antara kalian yang siap membantuku, akan menjadi Saudaraku dan Khalifah setelahku?”

Mereka semuanya, ragu-ragu menyikapi masalah ini. ‘Ali (yang diberi gelar Amirul Mukminin oleh Rasulullah Saw) berdiri dan menyatakan bahwa ia siap untuk membantu Nabi Saw menunaikan tugas tersebut dan mengancam kepada mereka yang menentang Nabi Saw. Muhammad dengan perasaan gembira, memeluk ‘Ali dan menyatakan kepada mereka semua, untuk mendengar dan mentaati ‘Ali sebagai Wasiy dan Khalifah Rasulullah Saw. Perjamuan itu kemudian menjadi bahan tertawaan, mengejek Abu Thalib bahwa kini dia harus mematuhi anaknya.

Islam

Muhammad adalah pendiri agama besar Islam, islam berarti berserah diri kepada Allah Swt. Pengikut agama Islam biasanya diselaraskan dengan kata sifat muslim. Bahasa Persia mengambil sebuah kata sifat yang berbeda musalman, yang kata aslinya berasal dari musulman, Anglo-India. Akan tetapi muslim, tentu saja, tidak seperti dengan istilah Muhammedan atau Muhammadanism, yang nampaknya bagi mereka membawa implikasi ibadah (menyembah) kepada Muhammad, sebagaimana agama Kristen dan Kristianitas yang bermakna ibadah terhadap Kristus.

Agama yang baru ini adalah agama yang sederhana tanpa praktik-praktik yang sulit dan sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Agama ini memerintahkan untuk beriman, melakukan kebaikan, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dua perintah yang memberikan empat prinsip-prinsip untuk mencapai kesuksesan hidup.

Iman baru ini telah membuat sebuah revolusi yang mencengangkan dan menggoncang tatanan dunia. Para raja, pendeta, kaum tiran, pemeras-pemeras, menentang iman baru ini, dan mereka bersatu untuk menghambat laju pergerakan Islam.

Para penjaga Ka’bah dan para pemilik berhala, datang kepada Abu Thalib untuk menghentikan Muhammad untuk tidak berkata, “Tiada tuhan selain Allah (Laa Ilaha illa Allah). Paman yang menjaga Muhammad tersebut menyampaikan permintaan mereka bahwa mereka bersedia untuk memberikan Muhammad harta yang lebih banyak melebihi apa yang dimiliki oleh siapa saja, membuat Muhammad sebagai pemimpin atau bahkan raja mereka sekalipun. Muhammad menolak. Para kepala suku yang marah akibat penolakan Muhammad ini, mengancam boikot sosial, pengrusakan dan kematian. Abu Thalib (yang sebenarnya telah memeluk Islam tapi tidak mengumumkannya sehingga ia mampu membela Nabi Saw) berjanji untuk membela Muhammad.

Anak-anak pria dan wanita Mekkah mulai melempari dan mencaci Muhammad. Ali bin Abu Thalib, seorang pemberani dan setia kepada Muhammad, menghentikan perlakuan kasar dan buruk ini dengan tangannya yang kekar. Pelecehan dan penyiksaan yang dilakukan oleh bangsa Quraisy kepada Muhammad dan para pengikut Muhammad yang sedikit, semakin gencar dan parah. Beberapa pengikutnya diseret di atas padang pasir yang membara, ada yang dipenjara, dicambuk dan didera, tapi mereka tetap bersiteguh kepada iman mereka walaupun harus membayarnya dengan nyawa.  Umayah, majikannya Bilal, membawa Bilal menuju ke padang pasir dan membuatnya terlentang bertelanjang dada dengan wajahnya menghadap ke arah matahari yang bersinar terik dan meletakkan sebuah batu besar di atas dadanya. Umayah berkata kepada Bilal, “Engkau akan tetap tersiksa seperti ini, hingga engkau mati atau engkau meninggalkan Islam.” Bilal yang sekarat dengan dahaga ditengah terik siang dan di atas bara padang pasir hanya menjawab “Ahadun! Ahadun!.

Hampir sepuluh tahun kerja keras dan berdakwah, dengan segala kesusahan dan kepayahan, akhirnya menghasilkan seratus pengikut. Kekerasan fisik dan boikot sosial menjadikan kehidupan di Mekkah sangat berat. Nabi Saw menasihati para pengikutnya untuk mencari perlindungan di negara tetangga, Etopia. Delapan puluh delapan orang pria dan delapan belas orang wanita dikirim ke Bandar Negus, di bawah pimpinan Ja’far at-Tayyar (saudara ‘Ali) dan saudara sepupu Nabi Saw. Para kepala suku bangsa Arab mengejar mereka dan menuntut agar mereka dipulangkan ke Mekkah.

Ja’far menceritakan masalah para pengungsi kepada Raja Etopia:

“Wahai Baginda Raja! Kami dulu tenggelam di dalam kebodohan dan kebiadaban; kami menyembah berhala, kami tinggal di dalam kekotoran, kami memakan bangkai dan kami berkata-kata kasar dan mesum; kami tidak peduli akan perasaan kemanusiaan dan kewajiban-kewajiban beramah-tamah dan bertetangga; kami tidak mengenal hukum, kecuali kekuatan (kekuasaan), ketika Tuhan mengangkat seorang manusia di antara kami, yang kelahirannya, kebenarannya, kejujurannya, dan kesuciannya kami tersadar; dan dia mengajak kami kepada tauhid dan mengajarkan kepada kami untuk tidak menyekutukan apapun dengan-Nya, kami mengimaninya. Dia melarang kami menyembah berhala; dan menyeru kami untuk berkata  yang benar, beriman terhadap keyakinan, bersikap pengasih dan menunaikan hak-hak tetangga, dia melarang kami berbicara kasar terhadap wanita dan memakan harta anak yatim, dia memerintahkan kami untuk meninggalkan kejahatan dan menjauhi keburukan; mengerjakan shalat,  menunaikan zakat, melaksanakan puasa. Kami telah beriman kepadanya, kami telah menerima ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya. Atas alasan ini, kaum kami menentang kami, mereka telah menganiaya kami agar meninggalkan beribadah kepada Tuhan dan kembali menyembah berhala batu dan kayu serta hal-hal yang menjijikkan yang lain. Mereka menyiksa dan menciderai kami, hingga kami tidak lagi merasa aman bersama mereka, kami datang ke negeri Tuan dan mengharapkan perlindungan Tuan dari penindasan mereka.

Tuntutan bangsa Quraisy ditolak dan mereka kembali ke Mekkah. Beberapa kali, para kepala suku mendatangi Abu Thalib. Mereka berkata kepadanya, “Kami menghormati posisi dan kedudukan Anda, namun kami tidak lagi dapat menahan diri dari kemenakan anda. Hentikan dia atau kami akan memerangimu.” Abu Thalib meminta keputusan Muhammad atas perkara ini. Dengan linangan air mata, Nabi Saw dengan tegas menjawab, “Wahai pamanku! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, untuk menghentikan langkahku dari dakwah ini, aku tidak akan berhenti hingga Allah Swt menunjukkan keputusannya atau aku binasa dalam ujian ini.”

 

Tragedi

Dalam masa-masa sulit, cobaan dan ujian, dua tragedi yang paling menyedihkan menimpa Nabi Muhammad Saw. Cobaan pertama, pengasuh dan penjaganya yang berani Abu Thalib wafat dan tidak lama setelah itu, istrinya yang tercinta Khadijah pun wafat, meninggalkan putrinya Fatimah As –anak satu-satunya dari Nabi Saw– putri yang merawat ayahnya sedemikian rupa hingga Nabi Saw memanggil Fatimah dengan Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya).

 

 

 

Masa Muslim

Dengan kematian pelindung dan penjaga Abu Thalib, orang-orang Mekkah merencanakan untuk membunuh Muhammad Saw. Di bawah bimbingan Ilahi, ia meminta ‘Ali untuk tidur di pembaringannya dan Nabi Saw menyelimuti ‘Ali dengan kain warna hijau milik ia. Ketika para jawara Mekkah yang menyangka bahwa ‘Ali adalah Muhammad, Nabi Saw telah melakukan hijrah menuju ke Madinah.

Masa penanggalan Hijrah kaum Muslimin dinamakan setelah peristiwa ini berlangsung dan bermula sejak tanggal 17 Rabiul Awwal 622 M.

Semenjak pertama kali tiba di Madinah, Nabi Saw adalah sosok teragung yang pernah disinari oleh pelita sejarah. Kini, kita akan melihatnya sebagai, raja manusia, penguasa hati manusia, pemimpin yang memberikan hukum, dan hakim agung. Pendakwah yang berdakwah tanpa roti, lebih perkasa dari pada penguasa yang paling perkasa di muka bumi. Tidak ada emperor dengan tiara di kepala yang ditaati, seperti insan yang mengenakan sebuah jubah kasar sebagai pakaiannya ini.

Dia meletakkan fondasi persemakmuran kaum Muslimin dan menarik sebuah piagam yang diakui sebagai karya seorang negarawan terulung, seorang sutradara piawai tidak hanya pada zamannya, tetapi seluruh zaman.

Tidak seperti orang-orang Arab, Nabi Saw, tidak pernah menghunus senjata, kecuali ia dipaksa untuk membela Islam dengan kekuatan senjata. Semenjak perang Badar, rangkaian peperangan harus terjadi, yang dimenangkan oleh masyarakat yang baru lahir ini dengan gemilang.

Suatu hari, Muhammad tertidur di bawah sebuah pohon, yang letaknya jauh dari kamp. Tiba-tiba, ia dibangunkan oleh musuhnya, Du’tsur bin al-Harits dengan pedang terhunus. Du’tsur berdiri di hadapannya. “Wahai Muhammad! Siapa kini yang dapat menolongmu?” Allah!” Jawab Nabi Saw. Mendengar jawaban ini, badan Badui Arab ini bergetar dan pedangnya terjatuh. Nabi Saw memungut pedang itu dan bertanya, “Siapa yang kini dapat menolongmu?”. “Sayang, tidak ada seorang pun!” Nabi Saw berkata kepadanya, “Belajarlah dariku bersikap pengasih.” Hati Badui Arab ini takluk dan dia pun memeluk Islam.

Uhud

Tahun depan, Abu Sufyan, musuh masyhur Islam, kembali ingin menyerang kaum Muslimin di Uhud. Hamzah paman Nabi Saw, pembawa pertama panji Islam, dibunuh di medan laga. Meskipun perintah yang jelas dari Nabi Saw, beberapa lasykar kaum Muslimin meninggalkan posko mereka ketika kemenangan sudah di hadapan mata. Perbuatan mereka ini membuat alur peperangan menjadi berubah. Khalid bin Walid menyerang Nabi Saw. Dalam keadaan genting tersebut, jiwa Nabi Saw selamat dengan kedatangan ‘Ali yang tiba tepat pada waktunya. Lasykar musuh melarikan diri. Nabi Saw sangat berduka atas kematian Hamzah.

Mubahalah

Pada tahun ke-10 Hijriah seorang utusan Nasrani dari Najran datang ke hadirat Nabi Saw di Madinah dengan maksud ingin membahas masalah-masalah keagamaan. Meskipun dengan bukti-bukti yang jelas dan terang, kaum Nasrani itu menolak untuk beriman kepada Nabi Saw, karena mereka belum mau meninggalkan agama mereka dan menerima agama Islam.

Sesuai dengan dustur Ilahi dalam al-Qur’an:

“Yaitu orang-orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”  (Qs. al-Baqarah [2]:16)

Nabi Saw mengusulkan bahwa pada hari berikutnya, para pendeta Nasrani itu harus membawa wanita-wanita, anak-anak, dan kerabat mereka dan Nabi Saw membawa wanita-wanita, anak-anak, dan kerabatnya dan selepas itu berdoa meminta kutukan Tuhan kepada para pendusta, sehingga dapat menyelesaikan perdebatan.

Pada subuh harinya, Nabi Saw memasuki Madyan (medan) dengan cucunya, menuntun Hasan dengan tangan kanannya, dan menggendong Husain di tangan ia, putrinya yang tercinta Fatimah yang mengikuti dibelakang ia, dan ‘Ali berjalan di belakang Fatimah, dengan membawa panji Islam. Pendeta-pendeta Nasrani itu mengamati prosesi ini dari kejauhan, dan sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad Saw adalah Nabi Allah, karena ia telah membawa orang-orang yang paling dicintai dari anak-anak dan kerabatnya.

Para pendeta itu datang kepada Nabi Saw dan memberitahukan bahwa mereka tidak ingin berdoa untuk mendatangkan kutukan Tuhan kepada para pendusta, sebaliknya mereka ingin membayar jiz’yah (pajak) dan tinggal pada sebuah tempat yang dilindungi. Nabi Saw menunjuk ‘Ali untuk menyebutkan syarat-syaratnya.

Hudaibiyyah

Kaum Muslimin telah bertahan selama enam tahun dalam pengasingan dan mulai merasa rindu terhadap kampung halaman mereka, Mekkah. Nabi Saw berhasrat untuk menunaikan ibadah haji ke Ka’bah. Ketika ia meninggalkan kampung halaman, ia masih dalam keadaan lemah, tapi ketika ia ingin kembali, ia telah memiliki kekuatan. Nabi Saw tidak ingin menggunakan kekuatan pasukan untuk memasuki kota suci Mekkah. Melihat permusuhan bangsa Quraisy terhadapnya, akhirnya, Nabi Saw menyetujui sebuah piagam yang dikenal sebagai Perjanjian Damai Hudaibiyyah, yang kelihatannya tidak memberikan manfaat bagi kaum Muslimin, namun menunjukkan karakter islami akan moderasi dan keluhuran budi. Karena menahan kekuatan dan bersikap toleran adalah keberanian sejati. Setelah tiba di depan gerbang kota tempat lahir mereka dengan hati berbunga dan perasaan tak sabar ingin segera memasukinya, kaum Muslimin menarik langkah mereka dengan damai dan kembali ke Madinah, di bawah syarat-syarat perjanjian tersebut, yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk menunaikan haji pada tahun berikutnya.

Khaibar

Penghinaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh kaum Yahudi, memaksa Nabi Saw untuk angkat senjata melawan Khaibar pada tahun ke-7 Hijriah. Kaum Muslimin di bawah komando ‘Umar kembali dalam keadaan kecewa. Nabi Saw berkata: “Besok aku akan serahkan komando pasukan Muslimin kepada seseorang yang akan dianugerahi Allah Swt dengan kemenangan. Fajar menyingsing menjadi saksi panji Islam berkibar dengan gagah di tangan ‘Ali. Peperangan dimulai dengan jawara Yahudi Marhab. Dengan jiwa yang dibakar dengan seruan Allahu Akbar, pedang Dzulfiqar ‘Ali hinggap di badan Marhab dan menancap di tengkoraknya. Kekalahan Marhab ini disusul dengan kekalahan kaum Yahudi secara kesuluruhan. Kemenangan gemilang Islam ini dicapai dan membuat ‘Ali dikenal selamanya sebagai penakluk Khaibar.

 

Mekkah

Menghadapi penghujung tahun, Muhammad Saw  dengan para pengikutnya memanfaatkan perjanjian damai Hudaibiyyah untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Selama tiga hari, suku Quraisy mengevakuasi kota Mekkah  dan mengamati kaum Muslimin melaksanakan ibadah haji. Pengamalan ketat syarat-syarat perjanjian, sikap menahan diri dan setia kepada kata-kata yang telah diucapkan orang-orang beriman, menciptakan kesan yang luar biasa pada diri kaum musyrikin. Karena terpesona oleh kebaikan hati dan karamah Muhammad Saw membuat banyak kepala suku Quraisy menerima Islam.

Pada tahun ke-8 Hijriah, kaum musyrikin melanggar perjanjian Hudaibiyyah dengan menyerang kaum Muslimin. Serangan pihak musuh dapat dipatahkan dan kota Mekkah akhirnya jatuh di tangan kaum Muslimin.

Nabi Saw yang berhijrah dari Mekkah sebagai seorang buronan, kini kembali ke negerinya sebagai penakluk yang perkasa. Alih-alih mengadakan pembunuhan massal kepada mereka yang telah menganiaya Nabi Saw dan para pengikutnya namun Rahmatun lil ‘Alamin ini memasuki kota dengan kepada tertunduk rendah sebagai tanda syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa dan memerintahkan amnesti umum.

Tabuk

Pada pertengahan tahun 9 Hijriah, Nabi Saw memimpin sebuah ekspedisi ke Tabuk dekat perbatasan Syiria, karena ancaman yang dilancarkan oleh Kaisar Romawi. Kaum munafik dan para pemfitnah, menghina ‘Ali yang ditinggalkan dan memangku tugas deputi di Madinah karena kepergian Nabi Saw. Karena tidak kuasa menahan ejekan orang-orang munafik, ‘Ali yang prawira dan beriman menaiki unta dan dengan segera menyusul lasykar kaum Muslimin. ‘Ali menceritakan ejekan orang-orang munafik kepada Nabi Saw bahwa dia takut dan Nabi tidak senang terhadapnya. Nabi Saw tersenyum dan berkata: “Wahai ‘Ali! Tidakkah engkau rela kedudukanmu bagiku laksana kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada nabi selepasku?” ‘Ali yang cinta damai kembali ke Madinah. Lasykar kaum Muslimin tiba di medan Tabuk, tentara-tentara Roma telah mengalihkan arah perjalanan mereka ke medan yang lain. Nabi Saw kembali ke Madinah tanpa harus berperang.

 

Para Istri Nabi

Banyak lasykar kaum Muslimin gugur sebagai syuhada pada pertempuran Badar, Uhud, Khaibar, Hunain dan medan-medan tempur lainnya, sehingga meninggalkan istri-istri muda dan anak di belakang mereka. Masalah yang penting mengurus janda-janda dan anak-anak yatim, mengancam moralitas masyarakat Muslim. Muhammad memutuskan menikahi janda-janda ini dan menjadikan diri ia sebagai contoh bagi para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama.

Sebelum kemunculan Islam, seorang pria dapat menikahi berapa pun jumlah wanita. Akan tetapi Nabi Saw dalam hal ini berbeda dengan yang lain. Catatan sejarah menunjukkan, sifat tanpa cela dan aib Nabi Saw hingga usia dua puluh lima tahun, ketika ia mempersunting seorang janda puan Khadijah. Khadijah adalah satu-satunya istri Nabi Saw hingga sang istri tercinta wafat dan ketika itu Nabi Saw berusia lima puluh tahun. Pada usia matang lima puluh lima tahun ketika darah-muda  telah mencapai masa matang, dengan maksud untuk memecahkan masalah perang, janda-janda dan anak-anak yatim, Nabi Saw mulai menikahi istri-istri yang lain dengan waktu yang singkat, meskipun ia telah berusia senja dan memikul beban tanggung-jawab nubuwwah dan masalah-masalah negara Islam.

Syarat-syarat menikah lebih dari seorang istri adalah sangat ketat, sehingga hampir sedikit orang yang dapat memenuhi, pada masa-masa damai. Al-Qur’an berkata: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Qs. an-Nisa [4]:3)

Raja

Meskipun seorang Nabi dan seorang Raja, Muhammad adalah orang biasa. Ia makan dan duduk bersama mereka. Mencurahkan suka dan duka bersama, membantu kaum yang lemah, para janda, anak-anak yatim, dan menaruh simpati kepada orang-orang yang tertimpa masalah. Ia mendapatkan dunia yang tenggelam dalam kejahilan, takhayul, kekejian dan kekejaman; ia melihat orang-orang berpecah dan terlibat dalam peperangan yang tak berkesudahan, perang yang mempraktikkan kekejaman yang luar biasa; anak-anak putri dikubur hidup-hidup dan para janda ayah mereka diwariskan dan dijual oleh anak sulungnya. Di tengah-tengah segala kekacauan sosial ini, Muhammad Saw membangun sebuah tatanan dan mengilhamkan kepada mereka keyakinan kepada Satu Tuhan; melarang menyembah berhala dan membuat mereka berpikir, tidak hanya di dunia ini, tapi juga kehidupan pasca kehidupan dunia ini, yang lebih tinggi, lebih kudus, dan lebih terang. Nabi Saw meminta mereka untuk bersedekah, berbuat kebajikan, keadilan, rasionalitas dan cinta universal. Seluruh misi kenabian ini dapat dicapai selama masa hidup ia.

Ahl al-Kisa

Firman Allah dalam ayat: “Sesungguhnya Allah hendak bermaksud menghilangkan dosa dari diri kamu, hal Ahl al bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. al-Ahzab [33]:33)

Lima orang suci –Muhammad, ‘Ali, Fatimah, dan dua putra mereka, Hasan dan Husain– menjadi teladan sempurna amal manusia. Mereka menjalani hidup dengan penuh kebaktian, ketaatan, sarat manfaat, kebajikan, kebenaran dan amal saleh, memberikan standar nilai-nilai kemanusian bagi setiap amal perbuatan manusia. Sejarah kehidupan mereka merupakan cerminan kemuliaan dan keyakinan, mendakwahkan tauhid, kesetaraan, dan menghapuskan tirani para pendeta dan penguasa, memutuskan belenggu aqidah-aqidah sesat, ritual-ritual yang menindas, dogma-dogma yang merusak jiwa. Ia menghancurkan tatanan kasta-kasta, keistimewaan dan tirani para penanam kepentingan. Ia memproklamasikan pentingnya ilmu pengetahuan dan kerja keras.

Meskipun Nabi Saw sibuk mengurusi masalah-masalah umat, akan tetapi ia tetap memberikan perhatian kepada keluarganya. Beberapa orang mukmin, meminta kepada Nabi Saw untuk membolehkan mereka berkhidmat kepada Ahlulbait Nabi Saw dengan membelikan tanah dan membangunkan rumah baginya. Jawaban atas permintaan ini dijawab oleh Allah Swt melalui firman-Nya: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang (mawaddah) terhadap  keluargaku.” (Qs. asy-Syura [79]:23)

Dengan demikian, kaum beriman bertanya kepada Nabi Saw cinta kepada siapa yang diwajibkan kepada mereka? Nabi Saw menjawab, “Cinta kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Hajjatul Wida’

Di bawah bimbingan wahyu mengabarkan bahwa hari-hari akhir kehidupan ia semakin mendekat, Nabi Saw mempersiapkan diri untuk melaksanakan haji perpisahan ke Mekkah.

Sebelum menunaikan seluruh rangkaian acara haji, ia menyampaikan pidato kepada massa yang banyak dari puncak gunung ‘Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah 11 H yang kata-katanya senantiasa bergema dan hidup dalam setiap suasana:

Ayyuhannas! Dengarkanlah kata-kataku, karena aku tidak tahu  apakah aku mendapatkan diriku berada di antara kalian di tempat ini. Harta dan jiwa kalian adalah suci dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun, hingga kalian hadir di hadapan Tuhan, sebagaimana hari ini dan tahun ini suci bagi semuanya, dan ingatlah bahwa kalian semuanya akan hadir di hadapan Tuhan kalian, Yang akan menuntut setiap nilai amal dan perbuatan kalian. Ayyuhannas, kalian memiliki hak atas istri-istri kalian dan istri-istri kalian memiliki hak-hak atas kalian….perlakukanlah istri-istri kalian dengan kebaikan dan cinta.

Sesungguhnya, kalian telah mengambil mereka dalam pengamanan Tuhan dan membuat mereka halal bagi kalian dengan kalimat Allah. Jagalah amanah yang dititipkan kepada kalian dan hindarilah dosa. Perbuatan riba adalah haram hukumnya. Para peminjam mengembalikan modal pinjamanannya dan awalnya akan dibuat dengan hutang pamanku ‘Abbas bin Abdul Mutthalib. Oleh karena itu,  balas dendam darah dibayar dengan darah yang dipraktikkan pada masa jahiliyyah dahulu adalah haram.  Dan seluruh dendam  kesumat dihapuskan, dimulai dengan pembunuhan Ibn Rabi’ah bin al-Harits bin ‘Abdul Mutthalib.

Dan budak-budak kalian! Perhatikanlah bahwa kalian memberi makan kepada mereka dengan makanan yang kalian makan, dan berikan pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kalian pakai, dan jika mereka melakukan kesalahan yang membuat kalian berat untuk memaafkannya, maka itu merupakan bagian darinya, karena mereka adalah hamba-hamba Tuhan dan tidak untuk diperlakukan dengan kasar dan kejam.

Ayyuhannas! Dengarkanlah kata-kataku dan pahamilah, ketahuilah seluruh Muslim adalah bersaudara satu dengan yang lainnya. Kalian adalah satu persaudaraan, tidak ada yang dimiliki oleh satu orang adalah halal bagi yang lainnya, kecuali diberikan dengan bebas dan atas keRidhaannya. Jagalah diri kalian dari berbuat zalim.

Kepada siapa saja yang hadir kemudian menyampaikannya kepada mereka yang tidak hadir, maka baginya dikatakan lebih baik dari yang mendengarkan.

Hadis al-Ghadir

Segera setelah menyelesaikan ibadah haji, Nabi Saw bertolak ke Madinah. Dalam perjalanan menuju ke Madinah, di Ghadir Khum suara dari langit bergema: “Hai Rasul! Sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanku. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (Qs. Al Maidah:67)

Nabi Saw segera memerintahkan Bilal untuk memanggil kaum Muslimin, yang berada di depan, di belakang dan mereka yang sementara dalam perjalanan pulang ke tempat mereka masing-masing di Ghadir Khum ini. Mutakalim (ahli kalam) dan mufassir (penafsir) al-Qur’an, Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir-nya (vol.12, hal-hal. 49-50) menuliskan bahwa Nabi Saw mengambil tangan ‘Ali dan berkata:

“Barang siapa yang menjadikan Aku mawla-nya (pemimpin), maka ‘Ali adalah mawla-nya (pemimpin). Allahumma! Cintailah orang yang mencintainya, dan musuhilah orang yang bermusuhan dengannya.; tolonglah orang yang menolongnya, dan jauhilah orang yang menjauh darinya.”

Ar-Razi menulis lebih lanjut bahwa Abu Bakar dan ‘Umar memberikan ucapan selamat kepada ‘Ali dengan kalimat berikut ini:

“Selamat kepadamu, wahai putra Abu Thalib! Hari ini engkau menjadi mawla-ku dan mawla (pemimpin) seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.”

Sekali lagi dari arah langit terdengar suara bergema: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Qs. al-Maidah [5]:3)

 

Wafat (rihlah)

Pada perjalanan pulang Nabi Saw ke Madinah, ia sibuk dengan pembentukan organisasi provinsi-provinsi dan suku-suku yang telah memeluk Islam. Kekuatan ia secara cepat melemah dan racun (yang ditaruh pada makanan Nabi Saw di Khaibar oleh seorang wanita Yahudi) membuat keadaan ia semakin gawat. Sehingga ia wafat pada tanggal 28 Safar 11 H, setelah menjalani masa hidupnya yang dipersembahkan untuk berkhidmat kepada Allah Swt dan kemanusiaan semenjak lahir hingga akhir hayatnya.

Pendakwah sederhana ini telah bangkit menjadi penguasa di Semenanjung Arabia. Nabi Saw tidak hanya mengilhamkan kehormatan, akan tetapi juga kerendahan hati, kemuliaan, kesucian, kesederhanaan, kehalusan-budi dan berbakti kepada tugas-tugas yang terletak di pundaknya. Tuan Arab ini memberikan ilham kepada siapa saja yang datang kepadanya. Ia membagi makanannya yang sederhana, memulai menyantap makanannya dengan menyebut nama Allah dan mengakhiri dengan hamdalah; ia mencintai kaum fakir dan menghormati mereka; ia mengunjungi orang-orang sakit dan menghibur orang-orang yang terluka hatinya, ia melayani musuh-musuh yang paling keji sekalipun dengan ketabahan dan sikap pemurah; memperlakukan orang-orang yang menindas rakyat dengan keadilan, pikirannya sangat maju dan ia berkata bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa adanya usaha keras dan terus-menerus.

Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, salawat dan salam Tuhan senantiasa tercurah atas ia dan keluarganya yang suci.

Kehidupan Muhammad Saw dan ‘Ali sedemikian erat melebihi apa yang dapat dipikirkan, ditulis dan dibaca oleh setiap orang tanpa menyebut keduanya.

Imam ‘Ali berkata:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang diutus dengan agama masyhur dan Kitab tertulis dengan perintah yang kuat dan larangan untuk menepis khurafat-khurafat yang ada di tengah-tengah masyarakat dan memberikan bukti dan dalil-dalil rasional.”

“Dia diutus untuk membuat manusia takut akan ayat-ayat Allah dan hukuman-Nya. Allah Swt telah berbuat baik kepada kita dengan menganugerahkan kepada kita seorang Nabi, sehingga kita dapat mengikutinya.”

“Kemudian Allah menugaskan Muhammad Saw, sebagai seorang saksi, pemberi kabar gembira (basyira) dan peringatan (nadzira), terbaik di alam semesta sebagai seorang anak dan paling kudus sebagai seorang dewasa, orang tersuci dari orang-orang yang bersuci dalam perbuatan, paling pemurah di antara orang-orang yang melakukan kebaikan.”

“Hati-hati yang cinta kepada kebaikan dan orang-orang baik beralih kepadanya. Ia merajut tali persaudaraan. Sabdanya adalah firman Ilahi. Ia menyampaikan Pesan Allah tanpa mengurangi atau menambahnya.”

“Ia memberikan kabar gembira kepada mereka yang benar-benar mencari petunjuk dan ia membaca al-Qur’an. Ia adalah pancaran ilmu dan cahaya dunia.”

“Ia adalah seorang tabib besar. Salep ilmu pengetahuannya sangat ampuh dan mujarab. Ia mencari rumah-rumah yang di dalamnya tidak ada kedamaian dan ketentraman.”

“Semoga Allah Swt meninggikan ruh Muhammad di atas ruh-ruh yang lain, meninggikan derajatnya di sisi-Nya. Menganugerahkan kesempurnaan kepada kecerlangannya dan keparipurnaan bagi cahayanya. Sebagai ganjaran atas pelaksanaan tugas kenabiannya, menjamin kesaksiaannya diterima, dan penilaiannya adalah penilaian yang jelas dan terang. Semoga Allah menempatkan kita dan kebersamaannya adalah kebahagiaan hidup, anugerah yang melimpah, kepuasaan, kenikmatan, kemudahan hidup, kedamaian hati dan hadiah kemuliaan.”

“Ia adalah pemegang amanat Tuhan dan mengetahui rahasia-rahasia-Nya. Ia akan bersaksi di hari pembalasan. Memberikan ganjaran kepadanya. Membolehkan ia memberikan syafaat kepada pengikutnya, karena dia seorang yang adil dan dapat membedakan antara yang benar dan salah.”

“Segala puji bagi Allah Swt, yang tidak dapat digambarkan. Tidak seorang pun –betapapun berilmunya dia– yang dapat mengerti hakikat-Nya.”

“Muhammad adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi selepasnya. Tidak ada lagi wahyu ketika ia wafat. Putra-putri Nabi Saw adalah sebaik-baiknya manusia dan Ahlulbaitnya adalah sebaik-baiknya keluarga. Ikutilah Imam Maksum kalian.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed