by

Manusia Suci Kesembilan, Imam Ketujuh; Imam Musa al-Kazhim As

musa kazim

Manusia Suci Kesembilan,

Imam Ketujuh; Imam Musa al-Kazhim As

Nama                     : Musa

Gelar                     : al-Kazhim      

Panggilan               : Abu Ibrahim

Nama Ayah           : Ja’far Shadiq

Nama Ibu              : Hamidah al-Barbariyah

Wiladah                  : di Abwa (sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah) pada hari Ahad, 7 Safar 128 H.

Syahadah                : Syahid pada usia 55 tahun, di Baghdad, 25 Rajab 183 H; akibat diracun oleh Harun ar Rasyid.

Haram                    : Kazhimiyyah, Baghdad.

Imam Musa Kazhim adalah Imam Ketujuh dari para Imam Maksum. Panggilannya adalah Abul Hasan dan gelarnya yang populer adalah al-Kazhim. Imam Musa al-Kazhim dalam urusan ibadah dan takwa tiada taranya sehingga ia juga digelari dengan “Abdus Salih” (Hamba Allah yang Saleh). Sikap pemurah merupakan persamaan kata dengan namanya dan tidak satu pun pengemis yang menyampaikan hajat kepadanya yang pulang dari pintunya dengan tangan kosong. Bahkan setelah ia tidak ada, ia masih tetap berkewajiban dan bersikap pemurah kepada para pengikutnya yang datang berziarah ke haramnya dengan menunaikan shalat yang secara khusus dianugerahkan oleh Allah Swt. Dengan demikian, salah satu tambahan gelarnya adalah “Babu’l Hawaij” (Gerbang Pemenuh Hajat).

 

Orang Tua

Imam Musa Kazhim adalah putra dari Imam Ja’far Shadiq, Imam Keenam. Nama ibundanya adalah Hamidah, seorang putri terpandang dari Negeri Barbary.

Masa Kecil

Imam Musa Kazhim melewati dua puluh tahun masa hidupnya di bawah bimbingan kasih ayahandanya. Kegeniusan dan keutamaan yang dimilikinya dipadu dengan bimbingan dan pendidikan yang tercerahkan dari Imam Ja’far Shadiq, menunjukkan pribadi cerlang di masa datang. Dia sangat menguasai ilmu tauhid sejak masa kecilnya.

Allamah Majlisi meriwayatkan bahwa suatu waktu Abu Hanifah kebetulan mampir mendatangi kediaman Imam Ja’far Shadiq untuk menanyakan masalah-masalah agama (masail). Imam Ja’far sedang tidur dan Abu Hanifah tetap menunggu di luar hingga Imam bangun. Sementara itu, Imam Musa Kazhim, yang ketika itu berusia lima tahun keluar dari rumah. Abu Hanifah, setelah menyampaikan salam kepadnya, bertanya:

Yabna Rasulullah! (wahai putra Rasulullah) Apa pendapatmu tentang amalan-amalan seseorang? Apakah dia melakukannya sendiri atau Allah Swt yang membuat mereka melakukannya?”

“Wahai Abu Hanifah!”, jawab bocah lima tahun tersebut, seperti nada kakek-kakeknya, “Perbuatan manusia dibatasi oleh tiga kemungkinan. Pertama, bahwa Allah sendiri yang membuat mereka melakukan perbuatan itu sementara manusia tidak ada daya dan upaya. Kedua, bahwa keduanya antara Allah dan manusia masing-masing memiliki saham atas perbuatan tersebut. Ketiga, manusia sendiri yang melakukannya. Kini, jika asumsi pertama benar, nampaknya akan terbukti ketidakadilan Tuhan dalam menghukum makhluknya atas dosa yang dia tidak lakukan. Dan jika asumsi kedua benar, maka Tuhan menjadi zalim jika Dia menghukum hambanya atas kejahatan yang dilakukannya bersama. Akan tetapi kedua asumsi ini tidak dapat dikenakan kepada Tuhan. Oleh karena itu, kini tinggal asumsi yang ketiga bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakukan.”

Imâmah

Imam Ja’far Shadiq menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 25 Syawal 148 H., dan secara resmi sejak saat itu, Imam Musa Kazhim menjadi Imam Ketujuh menggantikan ayahnya. Periode Imâmah Imam Musa Kazhim berlangsung selama tiga puluh lima tahun. Pada masa-masa awal Imâmah-nya, Imam Musa Kazhim dapat menjalankan kewajibannya dalam menyampaikan ajaran-ajaran Nabi Saw. Namun, tidak lama berselang, ia menjadi korban dari raja yang berkuasa dan sebagian besar hidup ia dihabiskan di dalam penjara.

Keadaan Politik

Imam Musa Kazhim hidup di dalam masa-masa paling krusial di bawah regim zalim Bani Abbasiyah yang menandai kezaliman dan kekejaman pemerintahannya. Imam semasa dengan Mansur Dawaniqi, Mahdi, Harun ar-Rasyid. Mansur dan Harun ar-Rasyid merupakan raja-raja yang zalim yang membunuh banyak keturunan Nabi Saw. Ribuan syuhada ini dikubur hidup-hidup di dalam sebuah bangunan atau ditempatkan di dalam penjara gelap selama masa hidup mereka. Kedua khalifah ini tidak mengenal belas-kasih atau rasa keadilan dan mereka membunuh dan menyiksa manusia untuk mendapatkan kesenangan. Kedua khalifah ini senang melihat orang menderita.

Imam Musa selamat dari kezaliman Mansur, karena asyik dengan proyeknya membangun kota Baghdad sehingga tidak memiliki waktu untuk mengusik Imam. Pada tahun 157 H kota Baghdad selesai dibangun. Selesainya pembangunan kota ini disusul oleh kematian pembangunnya. Setelah Mansur, putranya al-Mahdi naik tahta. Selama beberapa tahun al-Mahdi ini bersikap acuh-tak-acuh terhadap Imam. Pada tahun 164 H, dia datang ke Madinah dan mendengar tentang ketenaran figur Imam Musa. Dia tidak dapat menahan rasa iri dan dengki melihat keadaan ini. Ketenaran Imam ini membuat rasa benci kakeknya terhadap Ahlulbait menyala kembali.  Dia berencana ingin membawa Imam ke Baghdad bersamanya dan memenjarakan ia di sana. Akan tetapi, setelah setahun, dia menyadari kekeliruannya kemudian dia melepaskan Imam  dari penjara. Pada tahun 170 H., raja yang paling kejam dan bengis, Harun ar-Rasyid muncul sebagai raja Dinasti Abbasiyah. Pada masanya, Imam melalui sebagian besar masa hidupnya di dalam penjara hingga ia diracun.

Keunggulan Akhlak

Berkenaan dengan keunggulan akhlak, Ibnu Hajar al-Haitami berkata: “Karena kesabaran dan ketabahannya sehingga Imam Musa Kazhim digelari dengan al-Kazhim (orang yang menahan amarah). Dia adalah penjelmaan kebaikan dan sikap pengasih. Dia menghabiskan malamnya dengan beribadah kepada Allah Swt dan siangnya dengan berpuasa. Dia senantiasa memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya.”

Kebaikan dan sikap pengasihnya terhadap orang-orang membuat dia melindungi, menolong orang-orang miskin dan orang-orang yang dirundung kesusahan di Madinah dan menyediakan mereka uang, makanan, pakaian dan keperluan-keperluan sehari-hari secara sembunyi-sembunyi. Keadaan ini terus berlanjut, namun mereka tidak tahu siapa yang memberikan semua itu hingga setelah Imam tiada.

Prestasi  Ilmu Pengetahuan

Keadaan dan waktu tidak memberikan izin kepada Imam untuk membangun lembaga-lembaga guna menyebarkan ilmu agama kepada para pengikutnya sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya, Imam Ja’far Shadiq dan datuknya, Imam Baqir. Imam Musa tidak pernah diizinkan untuk menyampaikan khutbah kepada khalayak. Ia melaksanakan misi tabligh dan bimbingannya kepada khalayak secara diam-diam.

 

Syahadah

Pada tahun 179 H, Harun ar-Rasyid mengunjungi Madinah. Rasa dengki dan benci terhadap Ahlulbait membara dalam hatinya ketika dia melihat pengaruh besar dan popularitas Imam di tengah-tengah masyarakat Madinah. Dia memenjarakan Imam dan menyekapnya di Baghdad selama empat tahun. Pada tanggal 25 Rajab 183, Imam syahid akibat racun yang diletakkan oleh orang suruhan Harun ar-Rasyid pada makanannya. Bahkan jasadnya tak terhindar dari penghinaan dan dibawa keluar dari penjara dan ditinggal di Jembatan Baghdad. Namun, para pengikutnya, mengatur dan mengebumikan jenazahnya di Kazhimiyah Irak.

Mutiara Hadis Imam Musa Kazhim

  • Tidak ada sedekah yang paling utama selain membantu orang yang lemah.
  • Jangan pernah menyerah untuk belajar sesuatu yang tidak memberikan kepadamu kerugian, dan jangan pernah melalaikan untuk belajar []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed