by

Manusia Suci Kesepuluh, Imam Kedelapan; Imam Ali ar-Ridha As

imam ridha

Manusia Suci Kesepuluh,

Imam Kedelapan; Imam  Ali ar-Ridha As

 

Nama                      : ‘Ali

Gelar                      : ar-Ridha’

Panggilan               : Abul Hasan

Nama Ayah             : Musa al-Kazhim

Nama Ibu                : Ummul Banin Najmah

Wiladah                  : Madinah, Kamis, 11 Dzulhijjah 148 H.

Syahadah            : Syahid pada usia 55 tahun pada hari Selasa, 17 Safar 203 H akibat diracun oleh Ma’mun, Khalifah Abbasiyah

Haram                     : Masyhad, Iran

Imam ‘Ali Ridha dibesarkan oleh ayahandanya selama tiga puluh lima tahun. Kecerdasan dan kejeniusannya dalam bidang agama yang dipadu dengan pendidikan dan gemblengan yang didapatkan dari ayahnya membuat dia unggul dalam kepemimpinan spiritual. Imam Ridha adalah sebuah teladan hidup sifat ketakwaan Nabi Saw dan sikap pengasih Imam ‘Ali bin Abi Thalib.

Suksesi

Imam Musa Kazhim sangat sadar akan rencana busuk pemerintahan Abbasiyah terhadap masalah Imâmah. Oleh karena itu, selama masa hidupnya, ia mendeklarasikan di hadapan seratus tujuh puluh satu tokoh-tokoh agama terkemuka bahwa penggantinya kelak adalah Imam Ridha dan meminta anak-anak dan keluarganya untuk tunduk kepada Imam Ridha dan merujuk kepadanya dalam seluruh masalah. Imam Musa juga meninggalkan sebauh dokumen tertulis yang mengumumkan penggantinya adalah Imam Ridha yang ditandatangani dan disahkan oleh tidak kurang dari enam belas orang ternama. Langkah-langkah perlu ini diambil oleh Imam Musa sebagai langkah antisipatif guna menghindari kekacauan yang bisa saja timbul setelah kesyahidan ia.

Imâmah

Imam Musa Kazhim diracun ketika ia masih berada dalam penjara dan pada tanggal 25 Rajab 183 meraih syahadah. Pada hari yang sama, Imam Ridha diumumkan sebagai Imam Kedelapan dalam dunia Islam. Imam Ridha memiliki tugas berat di hadapannya yaitu menyelesaikan masalah penafsiran al-Qur’an; khususnya di dalam kondisi yang mengitari Imam Ridha ketika itu adalah di masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Banyak orang-orang beriman dipenjarakan dan mereka yang bebas dan tidak dapat dipenjara dihadapkan pada kekejaman dan kebiadaban. Imam Ridha, tentu saja, menanamkan pengaruhnya pada masanya dengan membawa misi Nabi Agung dengan cara damai meskipun pada masa-masa kacau, dan karena usahanya, ajaran Nabi Saw dapat tersebar dengan baik.

Imam Ridha mewarisi sifat-sifat utama baik dari segi kejeniusan dan kelembutan hati moyangnya. Dia adalah orang jenius dan menguasai beberapa bahasa. Ibnu Atsir al-Jazari menulis dengan baik bahwa Imam Ridha tanpa sangsi adalah seorang guru terbesar, wali dan alim pada abad kedua Hijriah.

Suatu waktu, dalam perjalanannya menuju Khurasan, ketika Imam dibawa dengan paksa oleh pengawal-pengawal Ma’mun dari Madinah, ia tiba di Naisabur. Banyak orang-orang berkumpul disekelilingnya dan jalan-jalan penuh-sesak ketika mereka hendak berjumpa dan melihat Imam Agung ini. Abu Dzar’ah ar-Razi dan Muhammad bin Aslam at-Tusi, dua ulama besar pada masa itu, berjalan keluar dari kerumunan massa dan meminta Imam untuk berhenti di situ sejenak sehingga orang-orang Mukmin dapat mendengarkan sepatah-kata dari lisan suci Sang Imam. Imam mengabulkan permintaan tersebut dan dalam kesempatan singkat tersebut Imam menyampaikan kepada khalayak di tempat itu tentang tafsir sesungguhnya dari kalimat Laa Ilâha Illallah. Dengan menukil kalimah Allah, ia melanjutkan bahwa kalimah ini adalah benteng Allah dan barang siapa yang memasuki benteng Allah maka dia aman dari murka Allah.

Ia berhenti sejenak dan melanjutkan bahwa ada beberapa syarat-syarat untuk memasuki benteng ini dan syarat utama adalah ikhlas dan tunduk-pasrah (taslim) kepada Imam Zaman ketika itu; dan dengan fasih dan jelas ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa setiap bentuk penolakan kepada Nabi Saw dan Ahlulbaitnya As akan menariknya jauh dari benteng tersebut. Satu-satunya jalan untuk mencapai keRidhaan Allah Swt adalah mematuhi Nabi Saw dan Ahlulbaitnya dan inilah satu-satunya jalan untuk meraih keselamatan dan keabadian.

Peristiwa yang disebutkan di atas menjelaskan secara terang popularitas Imam Ridha As, cinta, kesetiaan dan penghormatan kaum Muslimin kepada Imam mereka. Raja al-Ma’mun sadar akan kenyataan ini sehingga dia berpikir bahwa dia tidak akan selamat sepanjang dia tidak menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Besar dan mata-matanya menjelaskan kepadanya bahwa masyarakat Iran memiliki kesetiaan dan kecintaan tulus kepada Sang Imam dan Ma’mun hanya dapat menguasai mereka jika berpura-pura menghormati dan menaruh simpati kepada Imam Ridha. Ma’mun adalah orang yang sangat licik. Ia membuat rencana mengundang Imam Ridha dan menawarkan kepadanya kursi mahkota. Imam Ridha dipanggil melalui panggilan resmi kerajaan dan dipaksa – dalam keadaan seperti itu, untuk meninggalkan Madinah – di mana Imam hidup dengan damai dan tentram – dan menghadirkan dirinya di istana Ma’mun.

Setibanya di Madinah, Ma’mun menunjukkan sikap ramah dan penghormatan, lalu berkata kepada Imam: “Aku ingin mengundurkan diri dari khilâfah dan melimpahkannya kepadamu.” Namun Imam Ridha menolak tawaran Ma’mun ini. Kemudian Ma’mun mengulangi tawarannya ini dalam sebuah surat yang berisikan: “Jika anda menolak apa yang aku tawarkan kepada anda, maka anda harus menerima warisan setelahku.” Namun sekali lagi, Imam Ridha menolak tawaran ini dengan tegas. Ma’mun memanggilnya lagi. Imam berdua bersama al-Fadl bin Sahl, orang yang merangkap dua jabatan (militer dan sipil). Tidak ada orang lain lagi dalam pertemuan mereka. Ma’mun berkata kepada Imam Ridha, “Aku pikir bahwa sepatutnya aku menanamkan otoritas atas kaum Muslimin di atas pundak anda dan melepaskan diriku dari tanggung-jawab dengan menyerahkannya kepada anda. Ketika Imam menolak lagi tawaran ini, Ma’mun berkata kepadanya seakan-akan mengancam Imam atas penolakannya. Dalam pidatonya, dia berkata, “Umar bin Khattab membuat syura untuk memilih khalifah. Di antara mereka terdapat datukmu, Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib. Umar mensyaratkan bahwa siapa yang menentang keputusan syura harus dibunuh. Jadi, tidak ada jalan lain kecuali menerima apa yang aku tawarkan kepada anda. Aku akan mengabaikan penolakanmu.”

Dalam jawabannya, Imam Ridha berkata: “Aku akan setuju dengan apa yang engkau tawarkan kepadaku, dengan syarat bahwa aku tidak memerintah, tidak memberikan komando, tidak membuat keputusan-keputusan hukum, tidak menjadi hakim, tidak menunjuk, tidak memecat, tidak mengganti apa yang kini sudah ada.” Ma’mun menerima semua syarat yang diajukan oleh Imam Ridha.

Pada hari ketika Ma’mun diperintahkan untuk menyampaikan bai’at kepada Imam Ridha, salah seorang sahabat Imam Ridha yang hadir kala itu, menceritakan: “Pada hari itu, aku berada di depannya. Dia melihatku sementara aku merasa gembira atas apa yang telah terjadi. Dia memberikan tanda kepadaku untuk mendekat. Aku datang mendekat kepadanya dan dia berkata bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mendengar, “Jangan engkau taruh masalah ini di hatimu dan jangan bergembira tentang tawaran ini. Karena hal ini tidak akan tercapai.”

Mengutip Allamah Sibil dari kitabya al-Ma’mun, kami memahami utuh bagaimana Ma’mun memutuskan menawarkan kepemimpinannya kepada Imam Ridha.”

“Imam Ridha adalah Imam Kedelapan dan Ma’mun terpaksa harus menerima keadaan Imam sebagai seorang yang memiliki wibawa dan kehormatan karena ketakwaan, hikmah, ilmu, tawadu’, santun dan kepribadian Imam. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menominasikan Imam sebagai pewaris mahkota. Pada awal-awal tahun 200 H, Ma’mun mengundang keluarga Abbasiyah. Tiga puluh tiga ribu Abbasiyah memenuhi undangan tersebut dan dilayani bagai seorang tamu raja. Selama mereka tinggal di pusat kota, Ma’mun dengan leluasa dapat mengawasi dan memperhatikan kemampuan mereka, akhirnya dia sampai pada kesimpulan bahwa tidak seorang pun dari Dinasti Abbasiyah yang memiliki kelayakan untuk menggantikannya. Dia meminta bai’at kepada Imam Ridha dari orang-orang dalam pertemuan ini dan mengumumkan bahwa jubah raja akan semakin hijau di masa-masa mendatang, warna yang memiliki keunikan karena dikenakan oleh Imam. Keputusan kerajaan diumumkan bahwa Imam Ridha akan menggantikan Ma’mun.

Bahkan setelah deklarasi suksesi ketika kesempatan bagi Imam untuk hidup secara mewah, ia sedikit pun tidak mengindahkan kesenangan-kesenangan material dan membaktikan dirinya sepenuhnya untuk menyebarkan konsepsi sebenarnya ajaran-ajaran Nabi Saw dan al-Qur’an. Imam menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan beribadah kepada Tuhan dan berkhidmat kepada khalayak.

Dengan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan kedudukannya yang tinggi di kerajaan, Imam mengadakan majalis (pertemuan-pertemuan) mengenang syuhada Karbala. Majalis ini pertama kali diadakan pada masa Imam Muhammad Baqir dan Imam Ja’far Shadiq, akan tetapi Imam Ridha memberikan majalis ini dengan kekuatan baru dengan memotivasi para penyair yang menulis syair-syair indah yang menggambarkan sisi moral dari tragedi ini dan penderitaan Imam Husain dan para sahabatnya.

Ma’mun sangat takut dengan bertambahnya popularitas Imam dan kenyataan bahwa dia telah menunjuk Imam sebagai pewaris mahkota hanya ingin memenuhi ambisi dan berencana jahat serta memanfaatkan Imam untuk mewujudkan rencana kejinya. Tapi Imam menolak untuk memberikan jaminan kepada rencana-rencana Ma’mun yang bertentangan dengan ajaran Islam itu. Dengan demikian, Ma’mun sangat kecewa kepada Imam dan memutuskan untuk memeriksa popularitas Imam yang sedang naik daun dan menyatakan satu-satunya jalan untuk selamat adalah kembali kepada tradisi lama, membunuh Imam. Untuk melakukan hal ini, tentu sangat pelik dan sukar bagi Ma’mun. Maka dia memilih jalan halus dengan mengundang Imam makan malam, dan memberikan anggur beracun kepada Imam. Imam syahid pada tanggal 17 Safar 203 H. Ia dikebumikan di Tus (Masyhad) dan Haram Agung Imam bercerita baik tentang kepribadian agung yang dimiliki oleh Imam. Jutaan kaum Muslimin berziarah ke Haram Imam setiap tahun untuk menyatakan hormat kepada Sang Imam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed