by

Kepeloporan Syiah Di Bidang Ilmu Kalam (1)

ilmu kalam

 Kepeloporan Syiah Di Bidang Ilmu Kalam

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama Yang Menulis Dan Merumuskan Ilmu Kalam

Ketahuilah bawhasanya Isa ibn Raudhah adalah seorang tabi’in Syiah Imamiyah yang mengarang kirab tentang Imamah. Usia Isa cukup panjang hingga hidup di jaman khalifah Abbasiyah; Abu Ja’far Al-Mansur, bahkan ia menjadi orang kepercayaannya. Demikian ini lantaran ia adalah budak Bani Hasyim. Dan Isa-lah yang menyingkapkan wajah asli (politik) Al-Mansur dan membongkar jati diri, maksud dan sikapnya. Ahmad ibn Abu Thahir telah menyebutkan ciri-ciri kitab kalam Isa nya di dalam Ta’rikhul Baghdad. Menurut pengakuannya, Ahmad telah melihat kitab tersebut; sesuai dengan apa yang digambarkan oleh An-Najasyi.

Kemudian, Abu Hasyim ibn Muhammad ibn Ali ibn Abu Thalib a.s. mengarang sebuah kitab di bidang ilmu Kalam. Bisa dikatakan bahwa Ialah seorang tokoh Syiah dan diakui sebagai peletak ilmu Kalam. Beberapa saat sebelum wafatnya, ia menyerahkan kitab-kitabnya kepada Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas; seorang tabi’in dari Abi Hasyim. Sejak itu kaum Syiah merujuk kepadanya, sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu Qutaibah di dalam Al-Ma’arif.

Tentunya, Isa ibn Raudhah dan Abu Hasyim sudah lebih dahulu menulis kitab mengenai ilmu Kalam dibandingkan dengan Abu Hudzaifah dan Washil ibn ‘Atha’; seorang imam mazhab Mu’tazilah yang diyakini oleh As-Suyuthi sebagai orang pertama yang mengarang di bidang ini.

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama Dari Imamiyah Yang Berdebat Seputar Syiah

Abu Utsman Al-Jahidz mngatakan: “Orang opertama yang berdebat tentang mazhab Syiah ialahn Al-Kumait ibn Zaid; seorang penyair tersohor. Ia membangun berbagai argumentasi. Sekiranya dia tidak melakukan itu, sungguh ulama tidak banyak mengenal berbagai macam argumentasi dan seluk-beluknya”. Saya katakan bahwa bahkan dalam hal ini, Abu Dzar Al-Ghifari ra. telah lebih dahulu melakukan. Yaitu tatkala ia tinggal di Damaskus selama beberapa waktu. Di sana ia menyerukan dakwahnya dan menyebarkan kesetiaan dan mazhabnya pada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan kepercayaan-kepercayaan syiahnya. Lalu, terdapat sekelompok masyarakat dari dalam Syam yang menerima dakwahnya. Kemudian Abu Dzar keluar menuju Sharfand dan Mies; dua daerah di Jabal Amil (selatan Lebanon, pent.) dan mengajak penduduknya kepada Syiah. Segera mereka pun menyambut ajakan tersebut.

Bahkan di dalam kitab Amalul Amil disebutkan, bahwa tatkala Abu Dzar bergerak menuju Syam lalu menetap di sana beberapa waktu, tak lama kemudian sekelompok masyarakat Syam memilih Syiah. Karena itu, Muawiyah mengusirnya dari kota itu ke Al-Qira, sampai akhirnya ia singgah di Jabal Amil. Lagi-lagi masyarakat di sana menerima ajakan syiahnya dan mereka tetap sebagai orang-orang Syiah sampai sekarang ini.

Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest megatakan: “Orang pertama yang melakukan perdebatan mengani mazhab Syiah Imamiyah ialah Ali ibn Islmail ibn Maitsam At-Tammar. Ia adalah seorang sahabat terhormat Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Di antara karya-karya Ali adalah Kitabul Imamah dan Kitabul Istihqoq”. Saya katakan bahwa sesungguhnya Isa ibn Raudhah –sebagaimana telah Anda Ketahui- jauh lebih dahulu daripada Ali, apalagi Al-Kumait di bandingkan dengannya. Karena, Ali hidup sejaman dengan Al-Hisyam ibn Al-Hakam. Ia tinggal di Baghdad. Di sana ia berdebat dengan Abu Hudzail dan Dhirar ibn Amr Adh-Dhobiy tentang masalah Imamah. Begitu pula, Ali berdebat dengan An-Nidzam sampai membungkamnya di berbagai kesempatan, sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Murtadha di dalam Al-Fushulul Mukhtarah.

Oleh karena, dapat dikatakan bahwa Ali ibn Ismail adalah salah seorang tokoh ilmu Kalam dari kaum Syiah, bukan orang pertama dari Syiah yang membahas persoalan Imamah. Sebab, terdapat bebarapa sahabat seperti Abu Dzar dan sebelas kawannya, yaitu Khalid ibn Sa;id ibn Al-Ash, Salman Al-Farisi, Al-Miqdad ibn Al-Aswad Al-Kindi, Buraidah Al-Aslami, Ammar ibn Yasir, Ubai ibn Ka’ab, Khuzaimah ibn Tsabit, Abul Haitsam ibn At-Tihan, Sahal ibn Hanif dan Abu Ayyub Al-Anshari ra. Mereka itu telah mendahului Ali ibn Ismail dalam memperbincangkan permasalahan Imamah, sebagaimana yang termaktub di dalam hadis Al-Ihtijaj yang diriwayatkan di dalam kitab Al-Ihtijaj, karya At-Tabarsi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed