by

Biografi Imam Ali as (4); Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib

imam ali

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib

Nasab Ali bin Abi Thalib

            Nasab Imam Ali bin Abi Thalib demikian Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lua’iy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhir bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Iyaas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

Kakek

            Abdul Mutthalib dikenal sebagai Syaibah Al-Hamd (orang tua yang suka bersukur) namun ia juga biasa dipanggil dengan Abu Al-Harts. Nasab Imam Ali bin Abi Thalib bertemu dengan nasab Rasulullah saw pada Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib beriman kepada Allah swt dan tahu dengan persis bahwa Muhammad saw akan menjadi seorang nabi.[1]

            Ketika Abdul Mutthalib mendekati ajalnya ia memanggil anaknya Abu Thalib. Ia berkata, ‘Wahai anakku! Engkau tahu betul betapa aku mencintai Muhammad. Aku ingin mengetahui pendapatmu. Bagaimana engkau akan menjaganya sepeninggalku?  Abu Thalib menjawab, ‘Wahai ayah! Jangan mewanti-wantiku tentang pengasuhan Muhammad saw. Ia telah kuanggap sebagai anakku sendiri walaupun ia adalah anak saudaraku’.[2]

Ayah

            Ayahnya bernama Abdi Manaf. Ada dua nama yang disebutkan berkenaan dengan nama ayah Imam Ali bin Abi Thalib bin Abi Thalib; Imran dan Syaibah. Ayah Ali bin Abi Thalib lebih dikenal dengan sebutan Abu Thalib. Abdi Manaf adalah saudara sekandung Abdullah ayah Nabi Muhammad saw. Abu Thalib dilahirkan di Mekkah sekitar tiga puluh lima tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw. Abu Thalib adalah pemimpin kabilah Quraisy sepeninggal ayahnya Abdul Mutthalib. Tugasnya antara lain memberi minum mereka yang melakukan ziarah ke Mekkah secara keseluruhan. Tugas ini dalam sejarah disebut siqayatul haj. Abu Thalib adalah orang yang menyembah Allah dan mengesakan-Nya tanpa pernah terlibat penyembahan berhala. Pada masanya ia melarang perkawinan sesama muhrim, membunuh anak wanita yang baru lahir, zina, meminum minuman keras dan melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sambil telanjang.[3]

            Sepeninggal Abdul Mutthalib, ia menjadi pengasuh Rasulullah saw. Abu Thalib mencintai Muhammad lebih dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Setiap hendak tidur Muhammad selalu ditidurkan di sisinya. Bila ia keluar senantiasa Muhammad saw dibawa bersamanya. Makanan Muhammad saw pun olehnya disendirikan.

            Diriwayatkan bahwa Abu Thalib pernah mengumpulkan sanak keluarga Abdul Mutthalib dan berkata, ‘Kalian senantiasa mendengar bahwa Muhammad selalu melakukan kebajikan sayangnya kalian belum mengikutinya. Ikutilah dia, bantu dia niscaya kalian akan menemukan kebenaran’. Sepeninggal Abu Thalib kabilah Quraisy senantiasa berada di belakang Rasulullah saw membantunya.[4]

            Abu Thalib meninggal dunia tiga tahun sebelum hijrah dan setelah terbebasnya Bani Hasyim bersama Nabi dari As-Syi’b. Ketika meninggal Abu Thalib berumur delapan puluh tahunan lebih.[5] Nabi Muhammad saw juga memiliki kecintaan tersendiri terkait dengan pamannya Abu Thalib. Sejak berumur delapan tahun (sepeninggal kakeknya Abdul Mutthalib), ia hidup bersama pamannya. Sekitar 43 tahun ia merasakan kasih sayang pamannya.

            Jelas, Abu Thalib adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya. Ia memiliki keyakinan yang dalam akan kebenaran Islam hingga maut menjemputnya. Ia, selama hidupnya, menyembunyikan keimanannya agar masih tetap dapat melakukan hubungan dengan orang-orang kafir Mekkah dan mencari informasi tentang tipu daya dan makar yang akan dilakukan terhadap Muhammad saw. Semasa hidupnya ia melakukan taqiyyah (menyembunyikan iman). Ia bagaikan Ashabul Kafi yang menyembunyikan imannya dari masyarakat sekitarnya. Ia merupakan salah satu orang mukmin yang akan mendapat dua pahala karena keimanan yang dimilikinya dan taqiyyah yang dilakukannya.[6]

Ibu

            Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Nasab ibu dan ayahnya bertemu pada Hasyim. Ia memeluk Islam dan berhijrah bersama Nabi. Fathimah termasuk dari orang-orang pertama yang beriman. Fathimah di mata Muhammad bagaikan seorang ibu[7] yang telah bersusah payah membesarkannya. Oleh karenanya, ketika Fathimah ibu Ali bin Abi Thalib meninggal dunia Nabi Muhammad saw memasuki kamar tempat Fathimah dibaringkan dan duduk di bagian atas kepalanya dan berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu wahai ibu. Engkau kuanggap ibuku sendiri sepeninggal ibuku. Engkau sering rela untuk menahan lapar namun tidak membiarkan aku tanpa makanan. Engkau tidak memiliki banyak pakaian namun senantiasa aku kau pakaikan pakaian. Engkau menahan diri untuk tidak menikmati makanan yang lezat dan membiarkannya untukku. Ku tahu apa yang kau perbuat hanya karena mengharap pahala dari Allah di hari akhirat’.

            Setelah mendoakannya Nabi kemudian kembali menutupnya dan memerintahkan untuk memandikan jenazahnya dengan air tiga kali. Ketika sampai pada mandi dengan air yang dicampur dengan kapur Nabi sendiri yang menuangkan air dengan tangannya. Nabi kemudian melepaskan baju gamisnya dan memakaikannya ke tubuh Fathimah binti Asad ibu Ali bin Abi Thalib. Kemudian mengafankannya lalu beliau memanggil Usamah bin Zaid (budak Nabi yang telah dimerdekakannya), Abu Ayub Al-Anshari, Umar bin Khatthab dan seorang budak hitam untuk menggalikan kuburannya. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan Nabi dengan tangannya sendiri menggali tempat persemayaman terakhir ibu yang telah membesarkannya dan mengangkat tanahnya sendiri. Setelah itu beliau masuk lagi dan berbaring di dalam kuburan sambil berkata, ‘Allah Zat yang menghidupkan dan mematikan. Zat yang selalu hidup tak pernah mati. Ya Allah! Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad bin Hasyim. Beritahu bahwa ia telah menemukan kebenarannya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Nabi-Mu dan para Nabi sebelum ku, luaskan kuburan ini baginya. Sesungguhnya Engkau Maha pengasih Maha Penyayang. Setelah berdoa Rasulullah saw dengan dibantu oleh Abbas dan Abu Bakar memasukkan jasad Fathimah ke dalam kubur.[8]

            Disebutkan bahwa ada yang bertanya terkait dengan penguburan Fathimah binti Asad, ‘Wahai Rasulullah! Kami melihat engkau meletakkan sesuatu di kuburan Fathimah. Sementara engkau tidak pernah melakukan hal ini kepada siapa pun sebelumnya? Beliau menjawab, ‘Aku memakaikannya pakaianku sendiri agar kelak ia memakai pakaian orang-orang ahli surga. Aku juga sempat berbaring di kuburannya agar Allah meringankannya tekanan kuburan. Ia adalah salah satu ciptaan Allah yang terbaik bagiku setelah Abu Thalib. Semoga Allah rela dengan keduanya.[9]

[1] . Muhammad bin Saad, At-Thabaqat, jilid 1, hal 74, cetakan Leiden.

[2] . As-Shaduq, Kamal Ad-Din, hal 170, cetakan Najaf Asyraf. Hal 172, cetakan Tehran dari Ibnu Abbas. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 285.

[3] . Al-Fital, Raudhatul Wa’izhin, hal 121-122 tentang Washiyyah Abi Thalib Li Bani Hasyim.

[4] . Ibnu Saad, At-Thabaqat, jilid 1, hal 75.

[5] . Ibnu Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 90. Lihat: Mausu’ah At-Tharikh Al-Islami, jilid 1, hal 436.

[6] . Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 72. Lihat juga: As-Syaikh At-Thusi, Munyah At-Thalib fi Iman Abi Thalib. As-Syaikh Abdullah Al-Khunaizi, Abu Thalib Mu’minu Quraisy. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 514-517 dan 596-601.

[7] . As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 31.

[8] . Bashair Ad-Darajat, hal 71, hadis dari Imam Shadiq AS. Lihat Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 2, hal 433-437.

[9] . Ibnu As-Shabagh, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 32. Faraid As-Simthain jilid 1, hal 379 : ‘Engkau telah melakukan hal yang tak pernah kau lakukan kepada orang lain’. Para perawi hadis dan penulis banyak menuliskan tentang keislaman Fathimah, hijrahnya, cinta dan kasih sayangnya ketika membesarkan Muhammad, kematian dan keutamannya. Ibnu Asakir, Ibnu Al-Atsir, Ibnu Abdi Birr, Muhib Ad-Din At-Thabari, Muhammad bin Thalhah, Ibnu As-Shibagh Al-Baladzri dan lain-lainnya adalah contoh dari mereka yang menuliskan semua itu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed