by

Seri Kepeloporan Syiah dalam Bidang Al Quran : Tokoh-tokoh Ilmu Al-Quran dari Kaum Syi’ah

Di antara mereka adalah Abdullah ibn Abbas. Ialah orang pertama dari kalangan ulama Syi’ah yang mendiktekan tafsir Al-Quran. Seluruh ulama kami telah memberikan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Ibnu Abbas. Mereka juga memberikan keterangan riwayat hidupnya secara baik, seperti Sayyid Ali ibn Sadruddin Al-Madani di dalam kitab Ad-Darajat Ar-Rafi’at fi Thabaqot Syi’ah. Dan Sayyid Hasan Shadr telah membahas perihal pribadinya ini di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam secara memadai.
Ibnu Abbas wafat pada tahun 67 H. di kota Thaif, dan menjelang wafatnya, ia berikrar di dalam doanya; “Ya Allah, Sungguh aku memohon kedekatan diriku kepadamu dengan kesetiaanku pada kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib alahissalam.”
Di antara mereka adalah Jabir ibn Abdullah Al-Anshari; seorang sahabat mulia Nabi saw. Sebagaimana yang dicatat oleh Abul Khair di dalam Tabaqotul Mufassirin, Jabir tergolong sebagai bagian dari jajaran pertama para mufassir. Fadhl ibn Syadzan An-Naysaburi; seorang sabahat Imam Ali Ar-Ridha a.s. mengatakan bahwa Jabir ibn Abdullah Al-Anshari ra. adalah dari generasi pertama yang merujuk kepada Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Masih berkaitan dengan ihwal pribadi Jabir, Ibnu ‘Uqdah menga-takan: “Ia begitu tulus kepada Ahlul Bait”. Dan saya sendiri telah menyebutkan dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam beberapa keterangan tambahan mengenai dirinya. Jabir ibn Abdullah meninggal di Madinah pada tahun 70 H., yakni pada usia 94.
Di antara mereka adalah Ubay ibn Ka’ab; pemuka para qori’ (pembaca bacaan khas Al-Quran). Para ulama dan ahli sejarah mencatatnya berada di jajaran pertama dari silsilah kedudukan para mufassir. Ia adalah seorang sahabat Nabi saw. Dan ia sebagaimana yang sudah diketahui, adalah seorang Syi’ah. Riwayat hidup Ubay dicatat secara memadai oleh Sayyid Ali ibn 50 Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Al-Quran Sadruddin Al-Madani di dalam Ad-Darajatur Rafi’at fi Thabaqot Syi’ah.
Termasuk dari tokoh-tokoh ilmu Al-Quran yang datang setelah nama-nama sahabat di atas ialah para tabi’in. Di antara mereka ialah Sa’id ibn Jubair; seorang tabi’in yang paling ulung dibidang tafsir. Ini berdasarkan kesaksian Qotadah atas hal ini. Begitu pula kesaksian pengarang Al- Itqon, yaitu As-Suyuthi. Dan telah saya bawakan bukti-bukti lain atas kesyi’ahan Sa’id. Di antara para Tabi’in adalah Yahya ibn Ya’mur; seo-rang tabi’in dan tokoh kaun Syi’ah di bidang ilmu Al-Quran. Ibnu Khalkan mengatakan: “Yahya adalah salah satu qorie; imam bacaan Al-Quran dari Basrah, dan kepadanya Abullah ibn Ishaq belajar qiroah (bacaan Al-Quran). Ia amat menguasai Al-Quran, ilmu Nahwu dan pelbagai cabang ilmu bahasa Arab. Yahya mempelajari Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali. Dan ia dikenal sebagai seorang tokoh dari generasi pertama kaum Syi’ah yang mengakui kedudukan tinggi Ahlul Bait a.s., tanpa merendahkan orang mulia selain mereka. Dan saya telah menyebutkan sebagian riwayat hidupnya di dalam Tasisusy Syi’ah li Fununil Islam, yaitu ketika membahas tokoh-tokoh ilmu Nahwu.
Di antara para Tabi’in ialah Abu Soleh. Ia dikenal pula dengan panggilan nama nasabnya. Abu Soleh merupakan murid Ibnu Abbas di bidang tafsir Al-Quran. Nama asli Abu Soleh sendiri adalah Mizan Bashri. Tak syak lagi, ia adalah seorang tabi’in Syi’ah. Syeikh Mufid Muhammad ibn Nu’man di dalam Al-Kafiah fi Ibtholi Taubatil Khotiah, telah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan dan keterpercayaan Abu Soleh, yaitu tatkala Syeikh Mufid menyinggungnya setelah mengulas ihwal Ibnu Abbas. Abu Soleh wafat pada tahun 100 H. Di antara para tabi’in ialah Thawus ibn Kisan Abu Abdillah Al-Yamani. Ia mempelajari tafsir pada Ibnu Abbas. Syeikh Ahmad ibn Taimiyah menganggapnya sebagai orang yang paling menguasai tafsir, sebagaimana yang dicatat pula di dalam Al-Itqon oleh Jalaluddin As-Suyuthi.
Ibnu Qutaibah dalam kitab Al-Ma’arif juga memberikan kesaksian atas kesyi’ahan Thawus. Dalam cetakan Mesir, hal. 206, dia mengatakan: “Dari kaum Syi’ah adalah Al-Harts Al-A’war, Sha’sha’ah ibn Shuhan, Ashbagh ibn Nabatah, Athiyah Al-‘Aufi, Thawus dan Al-A’masy”. Thawus meninggal di Mekkah pada tahun 106 H. Dan ia dikenal sebagai oang yang amat setia pada Imam Ali ibn Husein As-Sajjad a.s.
Di antara para tabi’in adalah Al-A’masy Al-Kufi Sulaiman ibn Mehran Abu Muhammad Al-Asadi. Dan sebagaimana yang telah lalu, Ibnu Qutaibah telah mem-berikan kesaksian atas kesyi’ahannya. Begitu pula Syahristani di dalam kitab Al-Milal Wan Nihal serta selain merekaberdua. Adapun dari ulama kami yang memberikan kesaksian yang sama ialah Syeikh Syahid Tsani Zainuddin dalam Hasyiyatul Khulashah dan Muhaqqiq Bahbahani di dalam At-Ta’liqoh dan
Mirza Muhammad Baqir Ad-Damad di dalam Ar-Rawasyih. Dan saya telah membawakan teksteks yang menyatakan kesak-sian mereka atas kesyi’ahan Al-A’masy di dalam kitab Tasisusy Syi’ah li Fununil Islam. Di sana yang menambahkan beberapa kesaksian lain. Al-A’masy Al-Kufi  meninggal pada tahun 148 H. pada usia 88.
Di antara pata tabi’in ialah Sa’id ibn Al-Musayyab. Ia belajar tafsir pada Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan Ibnu Abbas. Ia tumbuh cerdas di bawah didikan guru pertamanya. Sa’id senantiasa menyertainya dan tidak pernah berpisah dengannya. Ia telah ikut bertempur dalam perbagai peperangan secara langsung. Imam Ja’far Ash-Shadiq dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. telah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan Sa’id, sebagaimana yang tercatat di dalam juz ketiga dari
kitab Qurbul Isnad, karya Al-Humairi. Sa’id ibn Al-Musayyab adalah imam qiroah di Madinah dan telah dinukil dari Ibnu Al-Madaini bahwa “Aku tidak mengenal dari kaum tabi’in yang lebih luas ilmu dan wawasannya daripada Sa’id ibn Al-Musayyab.” Sa’id wafat pada tahun 70 H., yaitu ketika ia berusia lebih dari 80 tahun.
Di antara para tabi’in ialah Abu Abdurrahman As-Sulami; seorang tokoh qiroah ‘Ashim. Ibnu Qutaibah mengatakan: “Ia adalah salah satu sahabat dekat Imam Ali ibn Abi Thalib a.s., dan ia adalah seorang pembaca Al-Quran yang baik, dan ia mempunyai wawasan fiqih yang luas”.
Abu Abdurrahman telah belajar qiroah Al-Quran pada Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. sebagaimana yang dicatat oleh Ath-Tabarsi dalam kitab tafsir Majma’ul Bayan. Dan Al-Barqi dalam kitab Ar-Rijal fi Khowashi Ali, telah menggolongkannya ke dalam sahabat-sahabat Ali dari kabilah Mudhar. Abu Abdurrahman wafat pada tahun 70 H. Dan di antara para sahabat ialah As-Sudi; seorang ahli tafsir yang masyhur, sebagaimana telah disebutkan sekelumit riwayat hidupnya pada bab pertama. Di antara mereka ialah Muhammad ibn As-Saib ibn Bishr Al-Kalbi; pengarang tafsir besar yang telah disebutkan ihwal hidupnya di bab pertama (Bersambung)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed