by

Episode 1 (2): Akhirnya, Muawiyah Berhenti di Titik Pasti

Muawiyah Berhenti di Titik Pasti

Damaskus, Rajab, 60 Hijriah. Waktu terus berjalan dan roda zaman bergulir wajar di tengah riuh rendah kasak-ku­suk ketidakpuasan sebagian kaum Muslim atas kezaliman di pusat Peme­rin­tahan Syam. Pe­me­rin­tahan rezim Umayah tampak sema­kin mapan. Pajak upeti dan uang jaminan ke­se­la­matan rakyat mengalir lancar ke istana Damaskus.

Keadaan perlahan-lahan berubah tatkala penya­kit yang bercokol dalam tubuh Muawiyah kian meng­ganas. Nafasnya mulai tersengal-sengal dan pandangan matanya semakin kabur. Warga Syam, Kufah dan seluruh negeri mengamati dengan cemas detik-detik menegangkan itu.

Pada malam itu, ketika permukaan kota hangus ditelan gulita, tiba-tiba tulang persendiannya terasa amat nyeri. Sekujur tubuhnya menggigil dan batuk­nya bak debam rebana, terus menghentak-hentak. Bayang-bayang kematian seakan menye­ringai di ha­dapannya. Angin semilir berhembus sepi menye­li­nap menari-narikan tirai jendela istana, dan lolongan serigala-serigala sahara yang bersahutan lamat-lamat terdengar amat menyeramkan laksana irama aneh di rumah hantu.

Sang kaisar tercekam dalam kesendirian. Ia nya­ris roboh ketika dengan sisa kekuatan tubuh (dan keangkuhannya) meraih sepucuk kulit dan sepotong pena yang terserak di atas meja tulis kamarnya. Jari-jarinya, yang kian kisut dengan garis-garis malang melintang, menulis beberapa kata dan pesan untuk Yazid, putranya yang menjadi Gu­bernur Hum­mas. Surat seorang ayah kepada put­ranya itu ber­bunyi sebagai berikut:

Kepada Yazid dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sung­guh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki (berkuasa) seperti ayahmu. Namun, biar­kanlah, semua peran telah kumain­kan. Se­mua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah, dan semuanya telah ter­jadi. Aku sangat bangga telah berjaya membangun ke­kuasaan atas nama para leluhur Umayah.

Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengan­nya pada masa-masa mendatang. Maka cam­kan­lah, putraku, meski tubuh ayahmu telah ter­bujur dalam perut bumi, kekuasan ini, seba­gaimana yang diinginkan Abu Sufyan dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.

Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil. Berikan perhatian  istimewa kepada warga Syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan sarana mereka. Kelak mereka dapat kau jadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia padamu.

Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor ke­linci manis di tengah segerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap empat tokoh masyarakat yang kusebutkan di bawah ini:

Pertama adalah Abdurrahman putra Abubakar. Pesanku, jangan terlalu khawatir menghada­pi­nya. Ia mudah dibius dengan harta dan gemer­lap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi seperti keledai dungu, bah­kan menjadi pen­dukungmu.

Kedua adalah Abdullah putra Umar bin al-Kha­tab. Ia, menurut pengakuannya, hanya peduli pada agama dan akhirat, seperti men­da­lami dan mengajarkan Al-Qur’an dan meng­urung diri dalam mihrab masjid. Aku meramal­kan, ia ti­daklah terlalu berbahaya bagi kedudu­kanmu, karena dunia di matanya adalah kotor, sedang­kan janji-janji Muhammad adalah harapan per­tama dan terakhir. Biarkan putra rekanku ini larut dalam upacara-upacara keagamaannya dan menikmati mantra-mantranya!

Ketiga adalah Abdullah putra Zubair. Ia seperti ayahnya. Bisa memainkan dua peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak-geriknya. Jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan tidak meng­usik­mu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, serta­kanlah cucu al-Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun, jika ia berperan seba­gai harimau, yaitu berambisi merebut kekuasa­an­mu, maka janganlah mengulur-ulur waktu untuk mengemasnya dalam keranda. Ia adalah bangsawan yang cukup berani dan cerdik.

Keempat adalah al-Husain putra Ali bin Abi Thalib. Sengaja aku letakkan namanya pada uru­tan terakhir, karena ayahmu ingin meng­ulasnya lebih panjang. Nasib kekuasaanmu sangat diten­tukan oleh sikap dan caramu dalam menghada­pinya. Bila kuingat namanya, aku ingat pada kakek, ayah, ibu dan saudara-sau­daranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebongkah kayu menghantam kepalaku dan api cemburu mem­bakar jiwaku. Putra kedua musuh abadiku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan hara­pan masyarakat.

Pesanku, sementara, bersikaplah lembut pada­nya, karena, sebagaimana kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya. Ia pria satria, putra pangeran jawara, cucu penghulu para satria. Ia pandai, berpenampilan sangat me­na­rik, dan gagah. Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati, dan ditaati.

Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan ke­ada­an telah mendesak, kau harus memper­tahankan kekuasaan yang telah kuperoleh dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali me­nebas batang leher al-Husain dan menyedia­kan se­bidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya.

Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, kau siap me­laksanakan pesan-pesanku tersebut.

Ketika menulis nama al-Husain putra Ali bin Abi Thalib, Muawiyah berhenti lama, ia berpikir sangat panjang, ia khawatir, Yazid tidak mampu meng­­hadapi putra kedua Fatimah ini. Ia melihat banyak kelemahan Yazid yang lebih suka pada pesta-pesta ketimbang mencari perhatian rakyat dengan baju ‘kesalihan’ pura-pura yang paling mu­dah mengelabui. Yazid yang masih muda, lebih suka dikelilingi wanita-wanita cantik, dengan minuman keras, atau menghabiskan waktu senggangnya de­ngan berburu.

Muawiyah telah menyingkirkan al-Hasan kakak­nya, sebenarnya ia masih memiliki rencana untuk al-Husain, agar halangan bagi Yazid, putranya yang ia cintai tidak begitu berat.

Namun waktu tidak dapat dijinakkan. Pe­nya­kitnya semakin pa­rah. Tubuhnya makin lemah dan sema­kin dekat dengan kematian.

Surat telah ditulis lalu dititipkan pada adh-Dha­hak bin Qays al-Fihri, pejabat tinggi dalam rezim Umayah.

Muawiyah, kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Adh-Dha­hak membungkuk seraya mohon diri mening­galkan kamar.

Detak-detak waktu bersusulan menyer­tai per­geseran daur mentari meninggalkan ang­kasa Syam. Tiba-tiba tubuh cucu Umayah itu mengucurkan ke­ringat, membasahi wajahnya yang pucat.

Ia menggigil, Tat­kala kain kelambu putih jendela kamar berkibar-kibar ditiup angin malam, tubuh gemuk, khalifah terkulai dan detak jantungnya ter­henti seketika, …! Muawiyah kini berhenti pada satu titik pasti, kema­tian! Pe­ristiwa itu terjadi pada tahun 60 Hijriah.

Berita kematian ayah Yazid itu merambat dan menggegerkan Damaskus serta seluruh negeri. Esok, pagi hari, di bawah hujan sinar matahari yang me­nye­ngat, adh-Dhahhak dan para pengawalnya me­ning­galkan istana menuju masjid kota sambil menjinjing sehelai kain putih.

Kedatangan pembantu Muawiyah itu telah di­nanti oleh lautan manusia. Adh-Dhahhak, yang me­nge­nakan busana resmi panglima kerajaan, segera menyusuri tangga mimbar. Setelah menyapu kha­layak yang duduk berjejal dengan sekilas pandang, ia memulai ceramahnya dengan pujian “ala kadar­nya” pada Allah dan Rasulullah:

Hadirin sekalian, ketahuilah! Muawiyah putra Abu Sufyan adalah hamba Allah yang taat. Karena itulah, kepemimpinan dan kedudukannya dijaga dan dimenangkan oleh Allah, dan para penantangnya dikalahkan dan dihinakan-Nya. Ia sangat berjasa me­naklukkan negeri-negeri penantang Islam. Keta­huilah, Muawiyah yang kita cintai telah dipanggil oleh Kekasihnya, Allah SWT, yang menyambutnya dengan secercah senyum. Inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Kalian, yang mencintai dan mendukung le­laki mulia ini, diharap hadir nanti siang usai salat dhuhur untuk menyaksikan dan menghadiri upacara pemakamannya. Sekian. Wassalam.

Adh-Dhahhak mengakhiri ceramah singkatnya. Seketika khayalak bergumam dan saling berbisik, ada yang tertawa dalam hati, ada yang menampakkan raut murung, ada yang bingung sambil me­nunggu sikap sebagian besar warga.

Setelah turun dari mim­bar, panglima tentara itu menyuruh dua prajuritnya meninggalkan kota sam­bil mem­bawa surat pesan mendiang Muawiyah untuk Yazid di Hummas. Dua tentara itu segera me­macu kuda me­lak­sanakan perintah atasannya. Adh-Dhahhak dan para abdi istana hengkang membelah kerumunan massa.

Suasana istana Hummas sore itu tampak suram dan hambar. Sang gubernur sejak beberapa saat lalu hanya berjalan mondar-mandir dengan kepala ter­tunduk seakan sedang menghitung lantai-lantai ista­nanya. Pikirannya melesat jauh membayangkan keadaan ayahnya yang sekarat. Tatkala setitik sinar jatuh meninggalkan gelap malam, pintu kamar di­ketuk lalu berderit dan tertutup kembali. Penjaga pintu gerbang istana masuk. Setelah membungkuk dan mengucapkan salam hormat, ia memberitahu tentang kedatangan dua utusan dari Syam.

“Suruh mereka berdua menghadapku seka­rang juga!” ujar Yazid setengah membentak. Belum sem­pat membuka liang mulutnya, dua lelaki bertubuh gempal itu dihardiknya. “Hai, dua utusan! Kalian datang membawa be­rita suka atau duka!?” tanyanya lantang. “Berita duka, Baginda,” jawab mereka gugup. “Celaka kalian berdua! Sampaikan berita­mu!” pinta Yazid sembari berkacak pinggang.

“Amirul Mukminin Muawiyah telah wafat me­nyusul sakit yang dialaminya,” sahut mereka gagap.

Yazid seketika menundukkan kepalanya. Ia ter­lihat sangat sedih, meski terlalu keras untuk me­nangis.

Dengat isyarat jentikan jari kanannya, kedua utusan adh-Dhahhak tersebut diizinkan kembali..

Selama tiga hari Yazid memutuskan hubu­ngan dengan siapa pun, tak terkecuali selir-selirnya. Warga Hummas mulai mencurigai dan menduga-duga di balik sikap gubernur yang sejak tiga hari mengurung diri dalam kamarnya. Tak seorang pun berani me­nyapa atau mena­nyakan keadaannya.

Pada hari keempat, tatkala fajar merah mulai ber­ganti sinar benderang, Abdullah as-Saluli, se­orang kaki tangan, datang dan me­ngetuk kamar majikan­nya. Di luar dugaan, Yazid mempersilahkan bawa­han­nya yang dikenal peso­lek itu bersila di hada­pannya. ”Hamba membe­ranikan diri untuk datang untuk meng­ucapkan belasungkawa atas ke­matian Kha­lifah Muawiyah. Semoga Allah meng­ganti mu­si­bah yang me­nimpa Paduka dengan pahala dan ke­jaya­an. Hamba dapat merasakan betapa Bagin­da sangat ter­pukul oleh peristiwa ini,” tutur­nya menjilat.

“Terima kasih, terima kasih,” balas Yazid ringan. “Kini biarkan saya seorang diri,” sam­bungnya.

Pertemuan usai tanpa suguhan atau pem­berian apa pun untuk as-Saluli.

Saat Yazid nyaris mengangkat badannya dari permadani untuk mengantarkan tamunya, tiba-tiba sosok adh-Dhahhak muncul dari balik pintu diapit oleh dua pengawalnya. Yazid me­maksakan diri untuk sedikit tersenyum me­nyambutnya. Keduanya ber­pelukan. Setelah me­­nenggak segelas anggur Persia, adh-Dhahhak membuka mulutnya:

“Salam sejahtera atasmu, putra khalifah. Anda telah ke­hilangan kha­lifah dan menjadi khalifah pada saat yang sama. Anda mendapat musibah sekaligus anugerah. Anda kini adalah khalifah Rasulullah. Se­moga Allah mem­­berimu pahala sebagai ganti ke­sedihanmu.”

Yazid hanya tersenyum lalu mem­per­silahkan orang yang sangat dipercaya oleh ayahnya itu untuk men­comot buah-buahan yang baru saja disajikan.

Setelah morogoh jubahnya dan menge­luar­kan selembar kulit, adh-Dhahhak membungkuk.

“Kini perkenankanlah saya membacakan surat wasiat mendiang Muawiyah!”

“Ya, bacalah!” ucap Yazid tenang.

Adh-Dhahhak mulai membacanya dengan tenang dan teratur, sementara lelaki yang berada di hada­pannya mendengarkan dengan seksama. Ketika sam­pai pada bagian akhir, spontan dada Yazid ber­gemu­ruh, tenggorokannya tersekat hingga tak se­ngaja mulutnya menyemburkan sisa minuman ang­gur ke wajah tamunya itu. Yazid didampingi adh-Dhahhak dan dikawal selusin tentara berkuda meninggalkan Hummas menuju Syam.

Esok pagi, Yazid menyuruh para pe­gawainya agar memerintahkan seluruh warga Syam berkum­pul di masjid jami’. Khalayak yang memadati masjid menghentikan gumam, ketika Yazid berdiri dan me­ngangkat suaranya tinggi-tinggi:

Hadirin sekalian, Muawiyah bin Abi Sufyan adalah hamba Allah yang telah diangkat sebagai khalifah di atas bumi ini. Dalam hidupnya, ia selalu berguna bagi rakyatnya. Ia wafat tepat pada saat tak­dirnya tiba. Sejarah hidupnya se­nan­tiasa wangi dan semua orang pasti merasa kehilangan atas kepergiannya. Kini ia telah ber­sua dengan Tuhan­nya. Allah Mahakuasa untuk menyiksanya karena dosa-dosa yang telah ia per­buat, dan Allah juga Maha­kuasa untuk meng­­­ha­pusnya. Dengan kematian­nya, berarti ke­­du­dukannya sebagai khalifah dan pemim­pin yang berkuasa beralih kepadaku. Dalam surat wasiat­nya, beliau menun­jukku sebagai peng­gantinya. Beliau juga meng­anjurkan aku agar sekuat daya berbuat baik kepada kalian dan melupakan ke­salahan-kesa­lahan kalian.

Ketahuilah, wahai penduduk Syam, demi Allah, apa yang telah saya ucapkan ini semata-mata pesan ayahku, bukan karena aku merasa takut atau karena aku telah melakukan kesalahan yang membuatku merasa perlu meminta maaf kepada kalian semua!”

Usai memberikan ceramah, Yazid bergegas me­ninggalkan masjid diiringi para pengawalnya. Di istana, ia segera memimpin rapat guna membahas langkah-langkah yang akan diambilnya. Ia resmi men­­jadi penguasa pada bulan Rajab tahun 60 Hijriah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed