by

Episode 1 (3): Yazid Naik Tahta

Yazid Naik Tahta

Langkah pertama yang diambil Yazid demi mem­pertahankan kedudukannya ialah menge­luarkan surat perintah dan keputusan. Yang pertama ditu­jukan ke­pada gubernur Madinah, al-Walid bin Uq­bah.7 Yazid memerintahkannya memungut baiat dari warga Madinah, terutama empat tokoh yang di­se­butkan Muawiyah dalam surat wasiatnya, Abdur­rahman putra Abu Bakar, Abdullah putra Umar, al-Husain putra Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah pura Zubair.

Al-Walid, da­lam surat itu, diberi we­wenang pe­nuh untuk memisahkan kepala empat putra sahabat itu dari tubuh mereka jika me­nolak memberikan baiat. Surat senada juga dikirimkan kepada setiap gu­bernur.8 Mereka dituntut setia dan patuh pada pe­merintahan pusat di Damaskus, Syam.

Sesampainya surat Yazid ke tangannya, al-Walid menyuruh pegawainya mengundang Mar­wan bin al-Hakam. Sesepuh Bani Umayah itu dengan suka cita memenuhi undangan al-Walid. “Baiklah!” jawabnya dengan mata berbinar sete­lah pegawai istana itu ber­kata bahwa Gubernur mengundangnya untuk mem­­berikan pendapat. Tak lama kemudian lelaki tua itu me­ninggalkan halaman rumahnya dan ber­jalan terta­tih-tatih menuju istana yang ter­letak di jantung kota.

“Benarkah kau mengundang dan memer­lu­kan­ku?” tanyanya pongah membuka pembi­caraan.

“Ya, aku membutuhkan pendapatmu tentang surat ini,” jawab al-Walid seraya memper­li­hatkan secarik kulit berisikan beberapa tulisan.

Marwan menanggapi surat perintah dari Yazid itu dengan semangat meletup-letup.

“Sebaiknya kau segera melaksanakan perin­tah kha­lifah itu, karena masyarakat akan meng­ikuti je­jak mereka,” sahutnya seraya menjulur­kan tangan­nya mengambil segelas arak.

Pertemuan singkat itu diakhiri dengan kebu­latan tekad mendukung Yazid dan meng­hubungi empat tokoh masyarakat itu guna mengais kata baiat untuk Yazid. Beberapa pundi dinar diterima Marwan sebe­lum mengangkat kakinya menjauhi halaman istana.

Kerumunan merpati yang bersenda gurau di ha­laman masjid Nabawi tiba-tiba bubar. Utusan al-Walid9 bersama sepuluh tentara melangkah cepat memasuki beranda. Di antara empat orang yang duduk melingkar itu, hanya Abdullah bin Zubair yang bangkit menemui utusan itu. Abdullah bin Umar kelihatan sibuk berkomat-kamit sambil me­mu­tar-mutar batu-batu tasbih­nya. Al-Husain memu­sat­kan pandangannya ke mihrab kakeknya. Abdur­rah­man hanya diam, entah apa yang ada di benaknya.

“Saya datang menemui Anda semua atas perin­tah Gubernur al-Walid. Al-Husain, Anda, Ibnu “Umar, dan “Abdurrahman diminta segera meng­hadap be­liau untuk memberikan baiat pada Yazid sebagai kha­lifah,” papar lelaki berse­ragam tentara itu tegas.

“Terima kasih, Anda telah melaksanakan tugas. Kini kembalilah dan katakan pada al-Walid bahwa kami akan segera menemuinya!”10 Balas Abdullah bin Zubair mewakili rekan-rekannya.

Utusan al-Walid dan para pengawalnya ber­ge­gas. Ibnu Zubair kembali bergabung dengan tiga sahabatnya.

“Tahukah Anda, wahai cucu Nabi, siapakah lela­ki itu?” tanya Ibnu Zubair menguji.

“Aku tahu, dialah utusan al-Walid,”11 sahut yang ditanya. “Dan tahukah Anda, apa tujuan keda­ta­ngan­nya tadi?” tanya Ibnu Zubair lagi sembari memperhatikan paras tampan putra Fatimah itu.

“Muawiyah telah binasa, lalu digantikan oleh anaknya yang bejat, Yazid. Kini ia menyuruh al-Walid untuk mengambil kata baiat dari kita semua,” jawab al-Husain mengakhiri teka-teki Ibnu Zubair.12

Abdullah menyunggingkan se­nyum kekagu­man­nya.

“Lalu, sikap apakah yang akan saudara-saudara tunjukkan terhadap kehendak Yazid itu?” tanya salah seorang dari mereka.

“Dari dulu aku tidak mau terlibat dalam urusan kekuasaan. Aku akan hengkang dari kehidupan du­niawi, me­nyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an,” ujar Ibnu Umar datar.

Mereka terdiam sejenak. Kemudian al-Husain berkata tegas. “Aku akan menolak!”

Hal itu ia ucapkan karena al-Husain tahu benar siapa Yazid yang sama sekali tidak pantas men­du­duk jabatan Amirul Mukminin.

“Aku pun tak mempunyai alasan untuk mem­baiatnya,” timpal Ibnu Zubair.

Abdurrahman hanya diam.

“Menghadapi keadaan demikian, aku tidak bisa diam. Aku dan keluargaku, akan bersama-sama meng­hadap al-Walid untuk beradu alasan. Pada saat itulah aku akan menun­juk­kan sikapku,” ujar al-Husain mantap sembari membe­nahi letak jubahnya.

Lingkaran empat tokoh itu pudar. Me­reka bangkit dan meninggalkan halaman masjid.

Sesampainya di rumah, al-Husain mengum­pul­kan seluruh keluarga dan pembantunya, lalu meng­ajak mereka menemui al-Walid di istana­nya. Sebelum bergerak, al-Husain memberikan petunjuk dan pesan. “Bila sampai di depan ger­bang istana, biarkan aku masuk sendirian, jika terdengar teriakan dari dalam, segeralah me­nyerang. Jika tidak, jangan sekali-kali bergerak!” kata lelaki gagah itu dari atas punggung kudanya.

Rombongan bergerak. Al-Husain diper­sil­ahkan masuk lalu mengucapkan salam. Balasan dari al-Walid begitu keras hingga terdengar dari luar istana. Tatapan mata al-Husain tertumpu pada sosok lelaki tua yang cukup dikenalnya, Marwan bin al-Hakam, yang sedang berbincang serius dengan al-Walid. Keduanya menghen­tikan perbincangan ketika al-Husain telah me­masuki ruang tamu. Al-Walid ber­lagak kikuk seraya mempersilakan tamunya duduk di atas permadani persia yang tergelar di situ dan me­nik­mati aneka makanan yang tersaji.

“Terima kasih atas kesediaan Anda meme­nuhi undangan kami. Begini, saya mendapat perintah dari Yazid untuk mengambil pernya­taan baiat Anda. Saya berharap Anda tidak berkeberatan untuk mela­ku­kannya,” ucap al-Walid berusaha ramah. Marwan hanya diam dan menun­juk­kan sikap ketidak­se­nangan pada al-Husain.

Inna lillah wa inna ilaihi rajiun! Ini adalah ben­cana besar!” tukas al-Husain agak keras.

Al-Walid terkejut. Mata­nya terbelalak. Marwan berusaha menutupi keterkeju­tan­nya. “Apa maksud Anda dengan bencana besar itu?” tanya al-Walid masih belum mengerti.

“Ketahuilah, seseorang yang berke­dudukan dan berpengaruh seperti diriku tidak pantas memberikan baiat dan dukungan secara tertutup. Akan lebih baik dan menguntungkan bila besok aku di hadapan seluruh anggota masyarakat menyatakan baiat agar diikuti oleh mereka,” sambung al-Husain menepis rasa curiga al-Walid.13

Marwan, yang sejak tadi hanya diam, kali ini bersusah payah menahan amarah dan ke­kesalannya. Ia meragukan ucapan al-Husain.

“Baiklah, aku setuju.” Balas al-Walid me­nye­ringai.

Al-Husain bangkit dari duduknya dan mohon diri. Ketika langkah al-Husain nyaris melewati pintu ista­na, sekonyong-konyong terdengar suara Marwan memaki al-Walid.

“Hai anak Uqbah, jangan bersikap bodoh! Jangan biarkan anak Ali itu berkelit dan me­ni­pumu! Semes­tinya kau tidak membiarkannya pergi dari sini sebelum menyatakan baiatnya untuk Yazid. Aku peringatkan, kau hanyalah keledai dungu. Kau pasti akan menyesali sikapmu. Kau bertang­gung jawab atas kegagalan ini di depan Yazid!” cecar Marwan.

Al-Husain berbalik, melompat gesit dan meng­hadap mereka. Betapa terperanjat Marwan. Al-Husain menghar­diknya:

“Hai anak pelacur! Apakah kau menyuruhnya membunuhku dari balik punggungku? Hai lelaki terkutuk, demi Allah Yang Menggenggam jiwaku. Kau telah mem­buat rencana busuk dan menyatakan perang secara terbuka! Camkan, kematian bagi putra Ali laksana oase di mata musafir dahaga,”14 ujar al-Husain dengan sorot mata tajam.

Ucapan al-Husain bak anak panah menem­bus ulu hati Marwan dan mengubah wajahnya menjadi pucat.

Kedua orang itu hanya tertunduk ketika sosok al-Husain terus bergerak dan kian jauh dari halaman istana. Al-Walid amat marah pada Marwan dan me­nyesalkan peristiwa tak terduga itu. “Celaka kau! Kau menyuruhku menempuh cara yang bakal me­rugikan diri dan seluruh keturunanku!” kecam­nya seraya menu­ding sesepuh Bani Umayah itu.

“Jika itu pendapatmu, maka berarti kau me­mang pemimpin yang baik dan penyantun. Tapi ingat, orang yang berpura-pura baik seperti kau lebih patut menjadi gelandangan atau penghuni gunung, bukan menjadi gubernur dalam peme­rin­tahan Bani Umayah!” tangkis Marwan lalu beranjak tanpa pamit.15

Senja di persada Jazirah perlahan bergeser, dan burung-burung dara melayang kembali ke tempat­nya. Sore itu al-Walid berteriak-teriak me­manggil nama salah seorang dari pe­nga­walnya.

“Temuilah Ibnu Zubair, dan katakan pada­nya bahwa al-Walid sedang menanti kedata­ngannya se­karang!” titahnya singkat.

Pengawal istana bersama sepuluh tentara ber­senjata lengkap melarikan kuda menuju kediaman putra Zubair bin al-Awam itu. Abdullah ternyata tidak berada di sana. Setelah dilakukan pencarian, ia ditemukan sedang duduk bersebelahan dengan al-Husain di emperan masjid Nabi.

“Gubernur al-Walid memerintahkan saya untuk mengajak Anda menemuinya di istana,” ujar lelaki bertubuh kekar itu singkat.

“Hai, siapa pun namamu, aku adalah orang yang paling segan dipaksa, apalagi digiring. Katakan pada al-Walid, aku perlu sedikit waktu!” jawab Ibnu Zubair lantang. Pengawal itu tak bergeming, berdiri tegak mena­tapnya, pertanda bahwa suasana mulai menghangat. Beberapa orang yang kebetulan lewat sempat ter­kesima dan berhenti.

“Baiklah, baiklah. Aku akan segera meme­nuhi panggilannya sesaat lagi,” katanya mengalah. Petu­gas itu dipersilakan untuk mening­gal­kannya.

Jingga sore telah sirna, berganti gelap yang per­lahan-lahan melebar membungkus langit Madinah, ketika al-Walid duduk di singgasa­nanya menanti dengan cemas kedatangan Abdullah bin Zubair. Rasa cemas dan curiga dalam dirinya kian mem­besar kala malam telah tiba, sedangkan Abdullah tak kunjung muncul. Al-Walid berusaha sabar sembari tetap duduk menanti “tamu”-nya, hingga malam larut dan matanya terbawa kantuk.

Jauh, di luar lingkaran dinding istana, se­iring nyanyian satwa malam dan tembang deng­kur al-Walid, dua bayang sosok manusia berkelebat, me­ngendap-endap dan melompat-lompat. Abdullah bin Zubair dan adiknya, Ja‘far, dengan hati-hati menyu­suri lorong demi lorong yang senyap mening­galkan Madinah, dan membiarkan janjinya menggelantung ditelan gulita.

Saat sinar pagi menembus kaca jendela istana, al-Walid terjaga dari tidurnya sambil mencaci-maki Ibnu Zubair. Ia segera menge­rahkan satuan tentara untuk menyeret Ibnu Zubair dari rumahnya. Pasu­kan bersenjata itu beberapa saat kemudian kembali menghadap al-Walid dan melaporkan bahwa rumah Abdullah lengang. Al-Walid menam­bah jumlah pasu­kannya dan memerintahkan mereka menang­kap, menggeledah setiap rumah, atau menyisir seisi kota Madinah dan sekitarnya. Usaha gigih al-Walid tak membuahkan hasil.

Al-Walid, yang gagal melaksanakan perintah Yazid, mulai gusar, takut dan mengumpat-umpat Ibnu Zubair. Api kemarahan yang se­be­lum­nya telah mem­bakar hati al-Walid kian ber­kobar dan perlahan menghanguskannya tatkala pasukan yang ia tugas­kan menyeret al-Husain kembali dengan tangan hampa. Di rumah putra Ali itu hanya ada adiknya, Muhammad al-Hanafiyah, yang sedang terbaring sakit.

“Menurut berita yang kami terima, al-Husain bermalam di samping makam Rasulullah dan pada pagi hari meninggalkan Madinah bersama rombo­ngannya dengan melintasi jalan utama,” ujar pe­ngawal itu gemetar.16 Kini wajah putra Uqbah itu mulai pucat dan dirinya sadar bahwa ia telah me­lakukan sebuah kesalahan besar dan harus siap menanggung akibatnya di hadapan Yazid. Al-Walid mengirim ratusan tentara dengan harapan dapat me­ngejar al-Husain dan rombongannya sebelum me­ninggalkan batas wilayah kekuasaannya, Madi­nah. Lagi-lagi al-Walid gagal! Yazid menunjuk Amr bin Sa‘id bin al-Ash sebagai gubernur Mekah, an-Nu‘man bin Basyir sebagai gubernur Kufah, dan Ubaidillah bin Ziyad sebagai gubernur Bashrah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed