by

Episode 1: KAFILAH SYAHADAH MERAJUT SAHARA

karbala, Kisah Karbala, pembantaian Keluarga Nabi
KAFILAH SYAHADAH MERAJUT SAHARA

Gadis-gadis merajut benang permadani merah terhampar menderu bergemulai hempaskan harapan dan cercah senyum memetik dawai-dawai tembang syahadah beriring desau angin berbaur nafas terengah, peluh dan nyeri dahaga Zainab, Shafiyah, Atikah, Sukainah dan gadis-gadis Ali dihadang kawanan serigala

Kegelisahan Sang Kaisar

Madinah, menjelang tahun 50 Hijriah. Ranting kering zaitun di hamparan gurun bergesekan bak biola, me­ngalunkan lagu sendu, sebuah berita duka. Tangisan, erangan, dan ratapan warga menyayat kalbu. Irama sendu ber­senandung lirih mengiringi hembusan ter­akhir nafas al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Angin kencang dan berita duka merayap hingga menerpa gerbang Kufah. Warga kota menyongsong kabar kematian putra su­lung Fatimah binti Muhammad itu dengan dengus den­dam dan gemeretak geraham beradu. Kutukan dan sumpah serapah mereka merebak ke setiap rumah dan menampar daun telinga penghuni istana gubernur.

Para tokoh pendukung Ahlulbait mengendap-ngendap menuju rumah Sulaiman bin Shard al-Khu­za’i diam-diam mereka mengadakan rapat darurat di ruang bawah tanah (sirdab) rumah Sulaiman. Suara Sulaiman bercampur kesedihan dan kemara­han, yang nyaris melengking meng­hentikan suasana bising dalam ruangan itu.

“Rekan-rekan seperjuangan! Al-Hasan bin Ali yang kita cintai, telah pergi menemui Kekasihnya, Allah SWT, dalam keadaan teraniaya. Kini telah tiba saatnya kita membuktikan kecintaan dan kesetiaan kepada Ahlulbait dengan mendukung al-Husain bin Ali sebagai pemimpin yang sah dan menolak de­ngan tegas Muawiyah bin Abi Sufyan yang bejat dan zalim. Mari kita tunjukkan dukungan dengan mengundang kedatangan al-Husain ke kota kita untuk memulai perlawanan terhadap kekuatan Ja­hiliah yang terpusat di Damaskus! Allahu Akbar!”

Pidato berapi-api yang meluncur dari mulut le­laki tua berwibawa itu membakar jiwa para peserta rapat. Mereka meneriakkan yel-yel menyambutnya. “Hidup al-Husain!” “Hancurkan pemerintah Jahi­liah!” “Mampus Muawiyah!” setiap orang dalam ruangan tertutup itu secara bergiliran mengung­kap­kan dan menyatakan duku­ngan dengan caranya masing-masing. Wajah Sulai­man tampak berseri.

“Saya mohon hadirin untuk segera mening­gal­kan ruangan ini, karena saya khawatir antek-antek dan mata-mata Nu‘man akan segera mene­mukan kita. Namun, sebaiknya kita keluar dari ruangan ini sendiri-sendiri. Saya akan meminta beberapa orang untuk tetap di sini guna menyusun surat dukungan dan undangan kepada al-Husain.”

Pesan Sulaiman telah mereka laksanakan dengan baik. Kini di ruangan tertutup itu hanya ada Sulai­man, pemilik rumah, al-Musayyib bin Najiyah, Rifa‘ah bin Syidad, dan Habib bin Mazhahir. Me­reka sibuk berembuk memilih kata dalam surat untuk al-Husain, dan memilih siapa yang akan di­utus ke Madinah.

Rapat berakhir dengan pernyataan bersama da­lam sebuah surat yang ditujukan kepada putra kedua Ali bin Abi Thalib itu. Surat yang ditan­datangani oleh Sulaiman atas nama para pemuka Kufah itu segera dibawa oleh seorang kurir menuju Madinah. Isi surat itu berbunyi sebagai berikut:

“Dari Sulaiman bin Shard, al-Musayyib bin Na­jiyah, Rifa‘ah bin Syidad, Habib bin Mazhahir, atas nama orang-orang Mukmin Kufah, kepada al-Husain bin Ali….”

Suasana dan suhu udara kota Kufah belakangan ini terasa lebih panas. Kete­ga­ngan mencekam para penduduknya. Lorong-lorong tampak lengang bisu, meski sesekali teriakan bocah-bocah yang bermain petak umpet terdengar me­nu­suk telinga.

Berita tentang pertemuan rahasia dan sikap tegas warga Kufah menyebar ke pasar-pasar Baghdad, Syam, dan Mekah.

Dari kejauhan lampu-lampu istana serentak me­nyala, pertanda angkasa mulai ditinggal sang men­tari. Muawiyah, yang sedang duduk termenung dengan lutut kanan tertekuk di antara beberapa bantal gembung beraneka warna, dilanda kekalutan, mengernyitkan dahi hingga guratan kening dan wajahnya tampak lebih mirip seonggok daging matang. Setelah beberapa kali batuk dan meng­usapkan sebuah bantal berlapis sutra pada mulutnya yang bertabur bintik dahak kental dan darah ke­hi­taman, putra kesayangan Abu Sufyan itu me­manggil pembantu dan menyuruhnya menye­diakan setangkai pena dan selembar kulit.

Berita tentang dukungan yang mengalir pada al-Husain seakan membakar jenggotnya. Ia mulai me­rangkai kata, menyuguhkan sederet ancaman ke­pada adik al-Mujtaba (al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib) yang telah diracunnya itu. Sebuah teriakan dari kamar Sang Khalifah terdengar amat lantang me­manggil nama dua pengawal yang sedang asyik berjudi di belakang istal kuda istana.

Keduanya sa­ngat ter­peranjat lalu lari tunggang langgang nyaris menab­rak salah seorang penari istana. Setelah di­bubuhi tanda tangan dan simbol kerajaan (khilafah), surat diserahkan kepada dua pengawal untuk di­sampaikan kepada al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Madinah. Perintah saat itu  dilaksanakan.

Di Madinah, tangan mulia Abu Abdillah (al-Husain bin Ali bin Abi Thalib) menerima surat Muawiyah. Setelah mempersilahkan kedua orang itu meninggalkan rumahnya.

Al-Husain membaca isi surat yang tertulis se­bagai berikut:

Dari Muawiyah bin Abi Sufyan kepada al-Husain bin Ali. Aku telah mencium ge­lagat buruk yang menyumbat rongga nafasku. Berita-berita seputar kau yang beredar di beberapa negara bagian dan kota telah membuatku merasa perlu me­luang­kan waktu untuk menghu­bu­ngimu me­la­lui surat yang kutitipkan pada dua pengawalku.

Konon, beberapa gelintir orang yang mengaku sebagai para pemuka Kufah telah mendesakmu menjadi pemimpin mereka. Upaya ini, kendati sepintas meng­gelikan, membuatku sangat risau. Karena itulah, aku merasa perlu bermurah-hati untuk memperingatkanmu.

Usai membaca surat itu, al-Husain segera me­nu­lis surat balasan. Di bilik yang semerbak dengan aroma kenabian Rasulullah itu, jemari kanan al-Husain meng­ge­rak­kan pena dan merangkai kata yang indah dengan mak­sud yang jelas dan nada yang tegas.  Surat ter­tulis sebagai berikut:

Dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib ke­pada Muawiyah bin Abi Sufyan. Suratmu telah sam­pai dan seluruh isinya telah kumengerti.

Yang perlu kau ketahui dan camkan ialah, aku tidak pernah berniat untuk menerjang kebijak­sanaan al-Hasan, saudaraku, yang telah nenan­da­tangani pakta perdamaian denganmu. Kabar-kabar dan desas-desus seputar diriku yang telah menyambar hidung, telinga, dan dadamu itu ha­nyalah dusta yang menyembur dari para penebar racun perpecahan.

Demikian surat dan penegasan dariku. Allah, Tuhan kebenaran, selalu mendukung orang-orang yang benar.

Beberapa hari kemudian, surat al-Husain dise­rah­kan kepada lelaki yang sedang duduk bersila di­kelilingi para penasehat dan penyair yang selalu siap menggelitiknya dengan beragam sanjungan. Isi surat al-Husain cukup melegakan hati Muawiyah. Pesta diseleng­garakan nanti malam.

Selama beberapa waktu pemerintahan Mua­wi­yah tidak goyah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed