by

Episode 1 (4); Selamat Tinggal, Madinah

puisi

Selamat Tinggal, Madinah

Petang hari Sabtu, tanggal 28 Rajab, sebelum me­ninggalkan rumahnya, terjadilah dialog singkat yang mengharukan antara al-Husain dan adiknya, Ibnu al-Hanafiyah.17

“Al-Husain, seandainya Engkau tidak mela­wan atau tidak menolak tekanan Yazid, kau te­tap­lah mulia dan sempurna. Masyarakat tetap memerlukanmu,” tuturnya memberikan pertim­bangan.

“Muhammad, ketahuilah! Aku hanya ingin me­netap di Mekah, hanya itu. Namun, bila ke­ada­an tidak mengizinkan dan aku terdesak, maka aku akan men­daki gunung dan menetap di gua,” jawab al-Husain sembari mengemasi seluruh perlengkapan.

“Apa yang membuatmu bertekad pergi dari Madinah?” tanya Muhammad yang berselimut.

“Adikku, mengertilah! Apa yang kulakukan ini semata-mata untuk melihat dari dekat ma­sya­rakat Mekah. Kini ada wabah penyakit ganas yang me­nyebar di tengah umat Muhammad. Percayalah, Allah senantiasa mengiringi setiap jejak langkah dan hembusan nafasku! Ini telah dipastikan oleh Allah. Serahkan semua ini pada-Nya, Maha Peren­cana!” ujarnya sembari mene­puk-nepuk pundak adiknya yang lemah itu.18

Kini penghulu para pemuda surga itu telah duduk di atas punggung kudanya. “Semoga Allah melindungimu,” ucap Muhammad terbata-bata mem­biarkan air hangat menyiram kelopak matanya.

“Aku akan berziarah ke kakek dan mohon pamit lalu bermalam di sisinya sebelum pergi,” katanya seraya menggerakkan tali kendali kuda.

Angin semilir berdesir mengelus malam nan sepi, mengiringi derak-derak sekedup onta wanita-wanita Ahlulbait. “Selamat tinggal, Madinah!” seru mereka parau.

Sebelum mencapai masjid, al-Husain ber­temu dengan Ummu Salamah. Istri Nabi yang setia itu sangat sedih atas kepergian al-Husain. Al-Husain berusaha menghibur dan membesar­kan jiwanya, namun tidak berhasil.19

Abdullah bin Umar dengan langkah tergesa-gesa menemui al-Husain dan memintanya untuk tidak meninggalkan Madinah. Namun al-Husain membe­ritahukan kepadanya tentang rencananya melaksa­nakan ibadah haji.20

Belum sampai di depan pusara kakeknya, al-Husain mendadak terjungkal, tak mampu mengen­dalikan jiwanya yang sarat pilu. Ia perlahan-lahan mera­patkan dirinya lalu men­ciumi batu nisan itu sam­bil merintih. Zainab, dan para wanita Ahlulbait berlarian menuju masjid dan mendekap tanah suci pem­baringan manusia teragung itu. Mereka berebut mencium dan melepas rindu.

Al-Husain menunaikan salat Tahajud de­ngan khusyuk di tengah sepinya malam. Usai salat, ia me­ngangkat kedua tangannya tinggi seraya bermu­najat dalam untaian kata syahdu dan menggugah.

Ya Allah…

Tiada kami ketahui hakikat

keagungan-Mu…

Namun kami yakin Kau Mahahidup

dan Maha­mandiri…

Tiada akan pernah rasa kantuk

dan lupa menghinggapi-Mu…

Mata tak mampu menjaring Dzat-Mu…

Lidah menjadi kelu…

Mulut pun membisu…

Akal membeku…

Membingkai-Mu, melukiskan-Mu…

Engkau kuasa melihat semua

yang tak terlihat…

Engkau dapat hitung semua

yang tak berbilang…

Engkau ayun-ayunkan ubun-ubun

para pembangkang…

Engkau tegakkan kerajaan langit

tanpa pilar tanpa tiang…

Ya Allah, Majikanku…

Kasihanilah kami…

Setelah memanjatkan doa dan menunjukkan ke­hambaannya di hadapan Allah, al-Husain du­duk sembari memusatkan pandangannya ke makam ka­keknya, lalu mengadu, dan terjalinlah sebuah kon­tak; terjadilah sebuah dialog memi­lukan antara kakek termulia dan cucu termulia itu dalam suasana yang tak terbayangkan:

“Demi ayah dan ibu, wahai Rasulullah, serasa sebongkah batu di atas pundakku bila harus berpisah denganmu. Izinkan cucumu ini berada di tempat sedikit jauh dari sisimu, karena me­reka memaksaku untuk berbuat sesuatu yang tak mungkin kulakukan, yaitu mendukung ke­pe­mimpinan Yazid yang tak pantas menjadi manusia, si penenggak khamar dan penghina kaum wanita. Andai kuberikan baiatku, maka cucumu telah berbuat kekufuran. Jika kutolak, maka niscaya mereka mem­bunuhku di sini, di kota­mu, kakekku. Karena itulah, berikan restu atas ke­per­gianku demi agamamu, keluarga, dan umatmu!”

Usai menumpahkan kesah di hadapan pusara kakeknya dan menguras air matanya, tiba-tiba rasa kantuk menyerang al-Husain. Perlahan-lahan ia ter­geletak lalu tenggelam dalam mimpi indah. Sete­lah ter­jaga dan melaksanakan salat subuh berja­maah, Abu Abdillah menceritakan perihal pertemu­an­nya de­ngan Rasulullah yang menciuminya seraya berkata:

“Cucuku, al-Husain! Ketahuilah bahwa ayah, ibu, dan al-Hasan, saudaramu, telah pergi dari dunia fana menyusulku. Mereka kini se­dang asyik berpesta dan ber­cengkrama di sebuah taman yang rindang dan asri. Tapi ketidak­hadiranmu menyebabkan kegem­bi­ra­an kami dan semaraknya pesta itu kurang leng­kap. Ketahuilah, kami semua merindukanmu. Sege­ra­­lah bergabung dengan kami! Ketahuilah, anak putriku, derajatmu yang amat tinggi terlapisi dengan cahaya Allah. Kau tak akan dapat men­capainya melainkan dengan syahadah. Betapa saat itu kian dekat dan mendekat! Tahukah kau, Musa bin Imran selalu me­nanyakan dan me­nunggu kedatanganmu?”21

Setelah memeriksa dan merapikan bekal per­jalanan, al-Husain menga­jak seluruh keluarga dan para pengikut­nya berjalan mundur seraya mem­bung­kuk meninggalkan ruang makam suci Rasulullah. Se­lamat tinggal, Rasulullah. Selamat tinggal, Ma­dinah!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed