by

Agama dan Dunia [2]

worldpeace2_thumb
Agama dan Dunia [2]

 

Analisa Terhadap Stetmen Sekularisme

Terdapat begitu banyak stetmen-stetmen yang telah dinukilkan sehubungan dengan teori sekularisme, dimana berlawanan dengan penampakan lahiriah dari pembahasan ini, stetmen-stetmen para penyanggah muncul dalam bentuk yang tidak begitu mencolok, sedemikian hingga kadangkala mereka telah merasa cukup dengan hanya mengajukan stetmen-stetmen kosong yang tak bermakna, dan tak jarang pula mereka meletakkan dan menjadikan ilusi dan khayalan sebagai landasan argumen, sedangkan hal tersebut sama sekali tidak otentik dan tidak valid, baik secara akal, teks suci ataupun historis.
Stetmen-stetmen yang diajukan oleh kelompok sekularisme ini terbagi ke dalam dua kelompok, kelompok pertama lebih banyak memaparkan prinsip dan asas dari stetmen itu sendiri, dan bukan mengenai argumennya. Dikarenakan bentuknya yang sangat mencolok yang merupakan pembentuk landasan pemikiran berbagai kelompok dalam memilih teori sekularisme dan juga merupakan cabang yang penting untuk mengenal berbagai kelompok sekuler, hal ini telah mendudukkannya pada posisi yang sangat penting, akan tetapi dari sisi karena mereka tidak memiliki bentuk yang argumentatif dan mendetail, telah menyebabkan penjelasan dan analisa terhadap stetmen-stetmen tersebut dilakukan hanya dalam bentuk yang singkat, ringkas dan disajikan hanya dalam kemasan sebagai pengenalan dan pendahuluan.
Sedangkan kelompok kedua, memiliki stetmen-stetmen yang bersifat argumentatif meskipun masih dalam tingkatan yang minimal. Dari sinilah sehingga perhatian dan analisa lebih banyak dilakukan pada kelompok yang disebutkan terakhir ini, kadangkala pula stetmen-stetmen tersebut bahkan telah diteliti dari berbagai dimensi. Oleh karena itu, bisa jadi dari sinilah sebagian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tak terungkap yang masih tertinggal dalam prinsip keraguan personal bisa ditemukan.
Bisa jadi dan terdapat asumsi bahwa sebagian dari keraguan-keraguan yang disebutkan, tidak seluruhnya diketengahkan dengan nama “Argumentasi Sekularisme”, melainkan dituangkan dan dikemas dalam bentuk yang lain; akan tetapi, analisa dan penelitian yang cermat terhadap hal-hal di atas menunjukkan bahwa apa yang mereka paparkan tak lain adalah merupakan penguat dan penegas teori sekularisme. Oleh karena itu, terdapat dua asumsi, pertama, bisa jadi mereka mengungkapkan pendapat dan teori, tanpa menyadari dan memahami kelengkapan dan konklusi dari pendapat mereka sendiri, atau kedua, secara sadar dan praktis mereka menjadi pendukung dari hasil pemikiran sekuler, akan tetapi mereka menyembunyikan dan tidak bersedia menampakkan keberadaan dan identitas dirinya. Dari sinilah sehingga hanya dengan adanya klaim ketidak-sekuleran seseorang, bukan merupakan dalil yang cukup untuk tidak memperhatikan dan mengesampingkan perkataan mereka, atau menyebabkan berhentinya analisa serta kritik terhadap pemikiran dan akidah mereka.

Pendapat Kelompok-kelompok Sekuler

Mereka yang dalam menjelaskan pendapatnya menyetujui bahwa keterpisahan antara agama dan dunia didasarkan pada motivasi, tujuan dan metode yang berbeda, terbagi ke dalam berbagai kelompok: sebagian meyakini adanya Tuhan dan meyakini bahwa kalam-Nya memberikan warna pada agama, sebagiannya lagi memperhatikan proposisi tersebut dengan pandangan ateis. Distingsi dan perbedaan ini bisa jadi muncul dari ketidakdewasaan, kerumitan prinsip teori atau dari konklusi yang mereka simpulkan dari argumen-argumen mereka sendiri, akan tetapi keseluruhan hal di atas memiliki kesetaraan, yaitu dalam masalah tolok ukur keterpisahannya dan keluarnya agama dari arena politik, pemerintahan dan masalah-masalah duniawi serta aspek social manusia. Berikut kami akan melakukan analisa terhadap stetmen dan kritik teori dari keempat kelompok yang merupakan kelompok-kelompok utama pendukung pemisahan agama dan dunia. Dan keempat kelompok tersebut adalah:
Kelompok pertama: adalah sebagian dari mereka yang memiliki pemikiran sekularis, yang menganggap agama adalah batil dan bahkan meletakkan nilai-nilai agama pada tataran fiksi dan dongeng belaka. Mereka menolak keikutsertaan dan peran global agama dalam arena pemerintahan dan kemasyarakatan, terutama dalam masalah politik, selanjutnya mereka juga menganggap bahwa melakukan hal tersebut merupakan sebuah langkah yang mutlak salah dan tak benar. Kelompok ini menganggap berbaurnya agama dengan persoalan sosial kemasyarakatan adalah sebagaimana berbaur dan bercampurnya sesuatu yang jelas (ma’lum) dengan sesuatu yang tak jelas (majhul) atau bercampurnya sesuatu yang hak dengan batil, selanjutnya mereka mengatakan bahwa sebuah perbauran dan percampuran yang diperoleh dari unsur-unsur yang tak harmoni pastilah akan menghasilkan sesuatu yang salah dan tak bermanfaat.
Kelompok kedua: adalah kelompok yang meyakini bahwa prinsip agama adalah hak dan benar, akan tetapi mereka membatasi wilayah dan teritorialnya. Kelompok ini meletakkan agama dan doktrin-doktrinnya hanya dalam batasan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan persoalan individu dan etika, dan peran agama hanya sebatas pada edifikasi dan perbaikan ruhani serta pembersihan jiwa saja. Dari sinilah sehingga kemudian keberadaan persoalan seperti pemerintahan, politik, perekonomian, dan lain sebagainya dinafikan dari doktrin dan pengajaran agama.
Kelompok ketiga: adalah mereka yang meyakini prinsip agama, juga meyakini keluasan domain dan jangkauan agama, dan bahwa agama akan membuahkan hasil yang cemerlang ketika dimanfaatkan untuk mengatur masyarakat dan mengarahkan hal-hal yang berkaitan dengan sosial kemanusiaan, akan tetapi mereka meyakini bahwa pengatur dan pemimpin agama ini harus dan hanya dari mereka yang memiliki kesucian batin dan terhindar dari segala bentuk kesalahan (ishmah), dan insan biasa yang tidak suci sama sekali tidak berhak dan tidak layak menjadi penyelenggara dan pemimpin agama dalam masyarakat. Mereka sepakat bahwa Rasul saw, Imam Ali As dan Imam Hasan As merupakan pemimpin-pemimpin Ilahi yang berperan utama pada masa awal pembentukan Islam dan bagi masyarakat pada eranya, dan mereka juga menyepakati bahwa Imam Mahdi As (Imam terakhir yang gaib) pada saat kehadiran dan kemunculannya kelak, merupakan pemimpin agama Ilahi. Akan tetapi, mereka ini melakukan pemisahan dalam strukturisasi agama yaitu membuat jurang pemisah antara pemimpin suci Ilahi (Imam Makshum) dan para ulama biasa, mereka mengatakan bahwa agama hanya harus diatur dan diawasi oleh insan Makshum –yang dalam struktur agama menduduki posisi inti dan tertinggi- sedangkan insan biasa –yang berada dalam posisi luar- tidak memiliki kelayakan sedikitpun untuk memegang tampuk keagamaan tersebut.
Kelompok keempat: adalah mereka yang meyakini bahwa prinsip agama merupakan sebuah persoalan yang suci dan muqaddas, selanjutnya mereka meyakini bahwa intervensi dan campur tangan agama dalam masalah duniawi hanya akan menyebabkan tercemar, terkontaminasi dan hilangnya kesucian yang dimilikinya, hal ini terjadi sebagaimana yang bisa disaksikan dalam sepanjang sejarah, ketika seseorang atau suatu kelompok melakukan intervensi dan campur tangan dalam persoalan kemasyarakatan dan pemerintahan, maka orang atau kelompok tersebut akan kehilangan posisi dan simpati dari masyarakat, bahkan bisa jadi hal tersebut akan menimbulkan pandangan yang negatif dan merugikan pihaknya. Demikian juga halnya apabila intervensi semacam ini dilakukan oleh agama dan kaum ulama, sudah pasti hal ini akan menyebabkan agama kehilangan wajah suci dan mulianya, yang kemudian akan berlanjut dengan munculnya pandangan negatif masyarakat terhadap agama, dan akhirnya akan mengotori dan mencemari kesucian dan citra agama. Oleh karena itu, persoalan-persoalan duniawi harus sepenuhnya diserahkan kepada mereka yang menginginkannya, sedangkan agama harus tetap dijaga dalam kedudukannya yang mulia.

Kritikan atas Stetmen Kaum Sekuler

Sebelum melakukan kritikan lebih lanjut terhadap stetmen-stetmen tersebut, kami akan mengisyaratkan pada rumusan global berikut bahwa “kejahilan dan kebodohanlah yang senantiasa menjadi sumber dari sikap yang ekstrim (baik sikap itu berlebihan atau berkekurangan)”. Dari sinilah sehingga dalam salah satu hadisnya, Amirul Mu’minin Ali As bersabda, “Kejahilan akan menyebabkan sikap yang berlebihan atau berkekurangan”.[1] Teori pemisahan agama dari dunia di atas dikatakan sebagai sikap yang berlebihan (ekstrim kanan), karena adanya stetmen yang menyatakan bahwa karena agama adalah persoalan langit dan suci, apabila dia berkecimpung dan memberikan perhatiannya pada masalah dan persoalan duniawi, maka hal ini akan menyebabkannya menjadi kotor, tercemar dan kehilangan kesucian …, dan dikatakan sebagai sikap yang berkekurangan (ekstrim kiri) dengan sebuah peryataan bahwa agama tidak muncul dari hakikat langit (malakuti) dan tidak pula dari realitas bumi, karena sebenarnya agama hanyalah khurafat, khayalan dan imajinasi belaka, dan selalu saja, apa yang dikatakan sebagai imajinasi dan khayalan pasti tak akan memiliki manfaat dan hanya merupakan kesia-siaan belaka. Karena itulah agama, tidak seharusnya dan tidak boleh melakukan intervensinya dalam masalah pribadi maupun sosial masyarakat.
Berikut ini akan diketengahkan analisa-analisa dan kritikan-kritikan atas perspektif kelompok-kelompok di atas:
Kelompok pertama: adalah kelompok yang merupakan sebagian dari pendukung teori sekularisme yang menganggap agama sebagai sebuah perkara yang batil dan khayalan belaka, mereka yang berada dalam kelompok ini menyangka bahwa intervensi agama terhadap dunia manusia hanya akan menyebabkan semakin banyaknya problem dan musibah saja. Pencetus asli dari teori ini harus dicari di era Renaissance. Sebenarnya, pada awal era Renaissance belum ada pihak yang mengetengahkan bahwa agama itu bersifat khayalan, para pelopor paham sekularisme ini, lebih banyak menampakkan stetmen mereka dalam bentuk sebagai pihak pemerhati, pembaharu dan penjaga agama, akan tetapi teori dan satetmen selanjutnya berkembang hingga menempatkan dirinya dalam posisi yang berlawanan secara utuh dengan prinsip agama.
Berdasarkan teori ini, agama dalam segala bentuk dan metodenya dianggap sebagai sebuah unsur penghalang dan tak memiliki manfaat sama sekali, mereka menyatakan bahwa sebenarnya akal manusia telah mencukupi untuk mencari solusi serta jawaban atas segala persoalan, baik persoalan individu maupun sosial, sedemikian sehingga yang pada awalnya agama memiliki peran, meskipun sangat lemah dalam membantu akal manusia, kini malah menjadi tak berdaya dan tak memiliki peran apapun.
Akan tetapi, harus diketahui bahwa apabila mereka ingin mengetengahkan teori-teori yang cerdas dan logis tentang persoalan universal, tidak seharusnya mereka mencukupkan diri dengan hanya memperhatikan salah satu dari realitas-realitasnya, akan tetapi paling tidak mereka harus meletakkan beberapa realitas yang berbeda untuk mengevaluasi persoalan universal tersebut. Sepertinya, mereka yang menganggap agama hanya sebagai khayalan dan imajinasi ini, tidak saja hanya mencukupkan diri pada salah satu dari realitas-realitas universal agama, melainkan mereka juga telah meletakkan realitas yang tak benar dan tak hakiki dari agama sebagai landasan untuk proses evaluasi itu. Mereka melihat dan menyaksikan sempitnya teori serta pandangan yang dimiliki oleh pihak gereja, juga mendeteksi pandangan-pandangan akidah yang mereka miliki, kemudian hanya dari satu pandangan dan visi seperti ini-lah mereka mengklaim dirinya telah mampu menghukumi dan menyimpulkan tentang agama. Tentu saja, pendapat, pandangan, visi dan pengevaluasian seperti ini tidak akan memiliki nilai logika dan akal.
Perlu diketahui bahwa analisa akal serta praktisi setiap maktab didasarkan pada norma dan aturan, yaitu apabila ingin menemukan hakikat yang sebenarnya, maka para pencari hakikat tersebut harus melakukan evaluasi dari berbagai realitas yang valid dan bisa dipercaya, lebih penting dari itu mereka juga harus melakukan analisa pada dasar-dasar realitas hakiki yang dimiliki oleh agama Islam, karena agama-agama Ilahi, seperti agama Masehi dan Yahudi, meskipun keduanya memiliki sumber wahyu, akan tetapi karena adanya distorsi dan penyimpangan serta masuknya khurafat-khurafat dalam doktrin-doktrinnya, telah menyebabkan keduanya tidak bisa menjadi cermin jernih yang mampu merefleksikan agama Ilahi secara sempurna. Dari sinilah sehingga dalam melakukan analisa dan evaluasi, mengarahkan rujukan kepada agama hakiki yang terlepas dari distorsi dan penyimpangan –dimana agama Islam merupakan contoh sempurna dari realitas tersebut- merupakan sebuah persoalan yang sangat signifikan. Demikian juga orang-orang yang menganggap agama sebagai sebuah imajinasi, khayalan dan batil, seharusnyalah mereka melakukan rujukan pula pada argumen-argumen yang berkaitan dengan filsafat agama. Dengan melakukan analisa semacam ini, sudah pasti mereka akan sampai pada hakikat agama, eksistensi hakiki Tuhan, dan kehidupan pasca alam materi (alam akhirat); demikian juga kebutuhan mereka terhadap adanya pembimbing dan penuntun ghaib akan menjadi terpenuhi. Al-Quran al-Karim menukilkan dan memberikan stetmen-nya terhadap apa yang dikatakan oleh kelompok-kelompok yang menganggap agama hanya sebagai sebuah imajinasi dan khayalan belaka, dengan salah satu firman-Nya, “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja“[2]
Penjelasan dari apa yang dikatakan oleh para penentang serta jawaban yang diberikan oleh al-Quran bisa membuka kritikan terhadap Stetmen yang diungkapkan oleh kelompok pertama, akan tetapi, karena analisa penyimpulan agama yang seperti ini bukan merupakan topik bahasan kita, maka kami mencukupkan pembahasan hingga di sini.
Kelompok kedua: adalah mereka yang membatasi teritorial agama hanya sebatas pada persoalan individu dan ibadah saja. Dengan alasan inilah, meskipun mereka tidak menghalangi intervensi dan campur tangan agama yang bersifat reformasi serta pembaharuan, akan tetapi mereka menolak adanya intervensi agama dalam masalah hukum dan pelaksanaan agama pada persoalan duniawi –seperti politik dan pemerintahan- dan mereka menganggap hal ini sebagai sebuah intervensi yang tidak pada tempatnya. Stetmen yang dikeluarkan oleh kelompok ini bisa dianalisa dari dua arah:
1. Akal. Basanya mereka yang sepakat dengan personalitas aturan-aturan agama dan menganggap bahwa persoalan sosial masyarakat dan persoalan-persoalan duniawi berada di luar zona personalitas tersebut, akan menyandarkan diri pada akal; dan pola dari topik-topik bahasan semacam “Penantian Manusia terhadap Agama”, dan “Pandangan Eksternal atas Agama” merupakan penegas dari masalah ini.
Sekarang harus ditanyakan: Apakah perbedaan yang ada antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan sosial, sehingga hal tersebut telah menyebabkan manusia pada posisi pertama membutuhkan agama, dan akal memahami kebutuhan pribadinya terhadap agama; akan tetapi pada posisi kedua, tidak dapat disaksikan adanya kebutuhan semacam ini, dan akal mengetahui bahwa manusia dalam arena duniawi dan sosial sama sekali tidak membutuhkan kehadiran agama melainkan mandiri secara total?! Dengan sedikit melakukan kontemplasi maka bisa dipahami bahwa sebenarnya akal yang mengetahui bahwa manusia membutuhkan kehadiran pembimbing gaib dalam persoalan-persoalan pribadinya, ternyata juga memberikan fatwanya pada kebutuhan manusia terhadap kehadiran pembimbing dalam persoalan-persoalan hukum pemerintahan, pencaharian dan …, dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan semacam ini, bergantung pada keberadaan aturan yang sempurna dan mandat Ilahi, sebuah aturan yang di dalamnya memperhatikan seluruh nilai-nilai dan potensi-potensi manusia, dimana manfaatnya tidak hanya bergantung pada kelompok tertentu dan pelaksanaannya pun bisa dilakukan oleh seluruh kelompok masyarakat secara adil dan setara.
Kontemplasi dan perenungan dalam masalah sosial kemasyarakatan, menunjukkan adanya kerumitan yang lebih tajam dalam masalah ini, karena mengatur permasalahan-permasalahan sosial, dimana di dalamnya mengatur interaksi sebegitu banyak personal, apabila dibandingkan dengan manajemen permasalahan-permasahan pribadi, sudah pasti akan membutuhkan tenaga dan usaha yang lebih banyak dan lebih cermat. Dari sinilah sehingga apabila para penyetuju agama berkeyakinan bahwa dalam permasalahan pribadinya sendiri mereka membutuhkan kehadiran agama, maka mereka harus menerima pula bahwa pada permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan sosial dan politik pun mereka membutuhkan kehadiran agama, bahkan dalam porsi yang lebih besar.
Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan sosial atau masyarakat –karena bahkan yang dibutuhkan oleh masyarakat lebih besar dari itu-, karena bahkan bisa diketahui dari sisi akal, dan bisa dibuktikan bahwa berkembang dan meluasnya agama senantiasa mencakup dan meliputi seluruh dimensi-dimensi manusia dari segala sisi, dan membatasi agama hanya pada permasalahan-permasalahan individu sama sekali tidak logis dan tidak bisa diterima oleh akal.
2. Teks Suci. Untuk melakukan analisa dan pemeriksaan terhadap sebuah agama atau aliran, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah merujuk pada agama atau aliran itu sendiri, lalu melakukan evaluasi secara langsung terhadap teks-teks suci yang dimilikinya.
Pengkajian terhadap teks-teks agama Islam menunjukkan bahwa tidak hanya Rasul saw saja yang memberi penegasan terhadap permasalahan-permasalahan duniawi, melainkan masalah ini telah merupakan sirah dan sunnah seluruh Nabi Ilahi, sebagaimana dalam al-Quran disebutkan bahwa tugas paling utama yang dipegang oleh Nabi Musa As adalah menentang sikap bengis Fir’aun dan menyingkirkan mereka dari tahta pemerintahan lalu menggiringnya ke dasar kehinaan, Tuhan berfirman, “Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya, lalu mereka menzalimi ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat (yang dirasakan oleh) orang-orang yang membuat kerusakan”.[3] Demikian juga disebutkan bahwa langkah awal yang dilakukan oleh Nabi Isa As adalah memberikan pembenaran terhadap perlawanan sengit yang dilakukan oleh Nabi Musa As terhadap perbuatan zalim Fir’aun, Allah Swt berfirman, “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Isra’il) dengan Isa putra Maryam, untuk membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat”.[4] Jadi, perjuangan dan kerja keras para pemimpin terdahulu dalam menentang kezaliman dan kesewenang-wenangan-lah yang telah menyebabkan mereka mampu memegang dan merebut kembali pemerintahan di muka bumi dari para perampasnya.
Sekarang yang harus ditanyakan adalah bagaimana perlawanan dan perjuangan melawan kaum zalim bisa dihubungkan dengan prinsip sekularisme? Apakah hanya karena para pemimpin dan para utusan Ilahi ini secara langsung mampu memasuki wilayah politik dan mengatur pemerintahan negara setelah menggulingkan kezaliman para penguasa masa itu lalu meletakkan hal tersebut pada teks-teks risalahnya?
Setelah Nabi Isa As yang membenarkan risalah Musa as, Nabi Muhammad saw merupakan sosok berikutnya yang membenarkan risalah Isa As. Dari sini, Allah Swt dalam salah satu ayat dari surah As-Shaff berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam yang telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Para pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah para penolong agama Allah.” Lalu segolongan dari Bani Isra’il beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”.[5]
Pesan al-Quran menjelaskan bahwa tidak sebagaimana dengan yang ada dalam kebanyakan bagian-bagian penting agama Masehi sebagai pendahulu agama Islam, agama Islam mengkhususkan diri pada persoalan-persoalan pemerintahan, pencarian nafkah, perang, perdamaian dan persoalan-persoalan dunia lainnya, sedemikian sehingga berkaitan dengan masalah perlawanan dan perang, Allah Swt meletakkan kelompok Khawariyyun Isa al-Masih As sebagai teladan untuk kaum muslim.
Jadi, sirah yang kontinu dan berkesinambungan dari para anbiya, Nabi Muhammad saww dan dilanjutkan oleh para Imam Suci As, -yang merupakan sirah yang tidak memberikan kesempatan kepada orang zalim untuk berkuasa, melainkan mempertahankan hak-hak kaum tertindas- dengan sangat baik menjelaskan bahwa mereka tidak saja tak memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakatnya serta perkara-perkara sosial para pengikutnya, melainkan mereka menganggap bahwa campur tangan dan intervensi dalam masalah-masalah sosial merupakan salah satu dari tugas dan kewajibannya, dan kewajiban serta tugas ini pun telah diatur atas prinsip dan doktrin agama Tuhan dan mereka mengamalkannya supaya umat Islam mendapatkan manfaat dan keuntungan dari hal tersebut, bukannya dengan menawarkan dunia itu sendiri; maksudnya pengarahan dan pengaturan persoalan kehidupan dalam bentuk yang baik – yang tak lain merupakan proses kelanjutan dari agama- yang akan menyebabkan karakterisasi dunia menjadi lebih baik, pengaturan menjadi lebih baik serta perputaran politik berjalan lebih baik, adalah merupakan sebagian dari intervensi agama dalam keseluruhan tingkatan persoalan dunia.
Kelompok ketiga: menurut pendapat kelompok ini, dilema utama yang dihadapi oleh sebuah pemerintahan agama terletak dalam masalah bahwa seorang pemimpin itu haruslah suci dan tak pernah bersalah (maksum). Dengan perkataan lain, sebenarnya problem utama yang dihadapi oleh pemerintahan agama bukanlah terletak pada intervensi agama pada persoalan-persoalan sosial dan politik, melainkan kembali pada tiadanya kelayakan sosok yang non-makshum untuk memegang jabatan pemerintahan.
Analisa ringkas dan sinopsis terhadap teks-teks riwayat menunjukkan bahwa anggapan yang salah ini bersumber dari ketiadaan pengetahuan mereka terhadap asas dan pondasi agama. Harus diketahui bahwa agama Islam adalah agama yang abadi, dan keabadiannya –yang termanifestasi dalam kontinuitas doktrin-doktrin agama dan pelaksanaan hukum-hukum Tuhan- tidak hanya diperuntukkan dan khusus terdapat pada zaman para Imam Makshum As saja, melainkan kontinuitas dari sebagian agama dalam arena pengajaran dan pelaksanaannya pada masa ini yaitu masa kegaiban Imam Mahdi As –berdasarkan riwayat-riwayat yang masyhur- berada dalam tanggung jawab wakil-wakil Imam dan para fukaha yang adil, kompeten dan mengenal Islam secara baik.
Para fukaha yang adil dan kompeten ini, dengan usaha kerasnya dan ijtihadnya yang terus berkelanjutan, dari satu sisi bertugas untuk menjelaskan hukum-hukum universal syariat yang berkaitan dengan seluruh topik, baik mengenai topik-topik yang lama maupun yang baru, dan pada sisi lainnya dengan melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan berdasarkan ijtihad tersebut, mereka pun melanjutkan kepemimpinan masyarakat dan mengatur masyarakat muslim.[6]
Dengan demikian, apabila orang mengatakan bahwa: pemerintahan hanya untuk para Imam Makshum As, maka maksud sebenarnya sudah jelas bahwa tujuan sebuah pemerintahan bukanlah untuk memperluas kekuasaan dan teritorial negara, melainkan maksud mereka dari pemerintahan yang seperti ini adalah bagaimana mengevaluasi pelaksanaan hukum-hukum Tuhan, mengaplikasikan dan menyebarkan doktrin-doktrin suci Tuhan. Jelas, konsekuensi dari berhentinya pemerintahan seperti ini pada masa gaibnya Imam Mahdi As akan sama artinya dengan berhentinya pelaksanaan dan pengaplikasian hukum-hukum serta doktrin-doktrin suci Tuhan dalam kebanyakan perkara dan juga terpenggalnya suatu perjalanan sejarah, sebagaimana realitas yang saat ini telah terjadi. Begitu banyak hukum-hukum agama seperti hukum cambuk, diyah, dan sepertinya, yang tidak dapat diberlakukan dan diaplikasikan hanya dikarenakan ketiadaan pemerintahan Islam; dan pada prinsipnya tidak bisa pula diharapkan bahwa pemerintahan non-agamis -yang manapun juga- akan mampu melakukan pelaksanaan hukum-hukum agama –seperti qishash dan berbagai hukum cambuk-, sebuah hukum yang tidak bisa terwujud tanpa adanya suatu intervensi kekuasaan dan pemerintahan.
Oleh karena itu, ada dua alternatif yang harus dipilih, pertama tidak berjalan dan berhentinya hukum-hukum Tuhan dalam masa yang panjang –seperti masa gaibnya Imam Mahdi As- harus dianggap sebagai sebuah persolan yang bebas, wajar dan biasa, dimana persoalan ini dengan sangat tegas telah dinafikan dalam teks-teks agama; atau yang kedua, harus menerima bahwa sebenarnya pembentukan pemerintahan ditangan para non-Makshum pun tidak menjadi masalah. Sebenarnya, apabila kita perhatikan dengan seksama terhadap adanya interaksi tertutup antara pemerintahan dengan pelaksanaan hukum, maka bisa disimpulkan bahwa bukan saja persoalan di atas –yaitu pembentukan pemerintahan oleh para non-Makshum- tidak bermasalah, bahkan akal dan hadis pun menganggapnya sebagai sebuah kemestian yang wajib dan harus dilakukan.[7]
Kelompok keempat: Menurut pendapat kelompok ini, agama merupakan sebuah unsur yang suci dan muqaddas, dan intervensinya dalam persoalan sosial dan politik merupakan sebuah hal yang tidak layak baginya yang hanya akan menyebabkan munculnya pandangan negatif masyarakat kepada kesucian sebuah madzhab dan tercorengnya wajah agama serta tercemarnya kesucian agama tersebut.
Mencermati proses tercemar dan tercorengnya seseorang atau kepribadian seseorang, hampir senantiasa menunjukkan bahwa penyebab asli dari peristiwa tersebut kembali kepada persoalan-persoalan internal semacam kejahilan, kelalaian dan kedengkian; dan kadangkala dikarenakan masalah-masalah dan kondisi-kondisi internal seperti inilah, manusia menjadi benci dan tidak menyukai suatu persoalan.
Maka, untuk menjawab stetmen di atas harus dikatakan bahwa untuk meneliti penyebab pencemaran dan faktor-faktor yang memunculkan kebencian masyarakat terhadap agama, kita harus mencermati kedua poin di bawah ini:
a. Dalam lingkup kekuasaan Tuhan, persoalan-persoalan di atas dinafikan secara mutlak, karena wujud azali Tuhan, sebagaimana ilmu, adalah mutlak; dalam keluasan ilmu-Nya, Dia tidak memiliki keterbatasan, dan tidak ada sebutir ilmu-pun di alam penciptaan (takwini) ini yang bisa keluar dari lingkup ilmu-Nya, Dia berfirman: ” … dan kamu sekalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak akan luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak ada (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh)“.[8] Oleh karena itu, penisbahan kejahilan kepada zat-Nya merupakan hal yang absurd dan tak mungkin bisa dilakukan. Demikian juga, mustahil dan tidak mungkin terjadi kelalaian dan kealpaan dalam lingkup ilmu Tuhan, karena segala sesuatu senantiasa hadir di hadapan-Nya, berfirman: “Musa menjawab, “…, Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa“.[9]
Dari sisi yang lain, wajah-Nya adalah suci dan bersih, bahkan suci dari paling kecilnya aib dan cacat, lalu bagaimana mungkin kedengkian bisa dinisbahkan kepada-Nya. Jadi, ketika kita menerima bahwa dalam lingkup Tuhan, tidak mungkin terdapat sifat-sifat sebagaimana yang telah tersebut di atas, maka agama dan doktrin-doktrin Tuhan pun -yang muncul dari kehendak istimewa-Nya- pasti terlepas pula dari sifat-sifat tersebut, karena keseluruhannya merupakan sifat-sifat yang tidak ada pada Tuhan dan sifat-sifat yang meniadakan agama Tuhan.
b. Apabila relasi dari berbagai persoalan sebagai petunjuk bagi ketaksempurnaan dan kecacatan agama telah dinafikan, maka penafian sifat-sifat tersebut pasti bukan hanya untuk sebagian persoalan agama saja, melainkan berlaku untuk seluruh hal yang berkaitan dengan agama, dari masalah yang tertinggi hingga cabang-cabangnya, dengan demikian pada masing-masingnya tidak mungkin terdapat kecacatan dan ketaksempurnaan. Jadi, apabila kita menerima bahwa sebagian dari doktrin agama, berkaitan dan berhubungan pula dengan dunia dan persoalan-persoalan duniawi, berarti pada hubungan yang ini pun, tidak mungkin terdapat kecacatan; sebagaimana pula apabila kita menerima bahwa sebagian dari doktrin agama berkaitan dengan persoalan individu dan ibadah, maka bagian ini pun terbebas dari kecacatan dan ketaksempurnaan. Oleh karena itu, esensi agama dalam seluruh dimensinya terlepas dari ketaksempurnaan dan kecacatan yang manapun, -khususnya dari ketaksempurnaan-ketaksempurnaan yang tersebut di atas- baik dalam hukum-hukum individunya maupun yang berkaitan dengan sosial dan masyarakat, baik hukum-hukum duniawinya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukum akhirat.
Oleh karena itu, kita harus yakin bahwa agama dengan seluruh kesempurnaannya dalam berbagai arena kehidupan manusia dan juga dengan kesuciannya dari segala aib dan ketaksempurnaan, telah menjadikannya mampu mengambil tanggung jawab campur tangan dan intervensinya dalam seluruh sisi kehidupan manusia, dan dia akan menyelesaikan tanggung jawab yang diembannya ini dengan penuh kepercayaan dan kebanggaan. Pada hakikatnya, wajah agama yang memikat, akan muncul semakin memikat lagi ketika dia telah hadir pada beragam sisi kehidupan manusia dan telah berhasil menarik tangan mereka dan membimbingnya menuju ke arah dan tujuannya yang sesuai. Dengan analisis seperti ini, maka sudah pasti manusia tidak akan mengatakan, sungguh sayang bahwa agama telah memasuki arena percaturan politik sehingga membuat dirinya sendiri tercemari, melainkan dengan logis mereka akan mengatakan, sungguh sayang, apabila manusia diatur oleh selain agama.

Catatan Kaki:

[1] . Nahjul Balaghah, Hikmat 70.
[2] . Qs. Al-Jatsiyah: 24.
[3] . Qs. Al-A’raf: 103.
[4] . Qs. Al-Maidah: 46.
[5] . Qs. As-Shaff: 14.
[6] . Rujuklah: Wilayah Fakih, Ayatullah Jawadi Amuli, hal. 237.
[7] . Rujuklah: Hukumat-e Islami, Imam Khomeini ra, hal. 47.
[8] . Qs. Yunus: 61.
[9] . Qs. Thaha: 52.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed