by

Arti Sebuah Kesyahidan

KUbah, Karbala, Syahid, Makna Kesyahidan, Imam Husain, Syiah Menjawab, Syiah Sesat

ARTI SEBUAH KESYAHIDAN

Ali Syariati

 
Hari ini, hari Karbala, hari yang oleh umat Syiah dikenal sebagai “Hari Darah”, adalah hari yang memperlihatkan arti Syahadah (kesyahidan) dengan segenap maknanya yang begitu dalam dan agung. Pada hari  inilah Imam Husein as. tampil sebagai perwujudan dan model unggul bagi kepahlawanan sepanjang sejarah. Untuk itu, izinkan saya menguraikan kesyahidan seorang martir yang agung ini.
Begitu banyak orang yang menulis dan berbicara tentang sikap serta langkah Imam Husein as. selaku pahlawan Karbala. Mereka pun senantiasa menulis dan membicarakan hal itu. Sementara kaum tradisional telah menafsirkannya dengan gaya dan dari sudut pandang mereka yang khas, kaum intelektual yang modernis turut membubuhkan penafsiran yang –tentunya- berawal dari sudut pandang yang khas pula.
Di sini, saya –setelah melakukan perenungan yang dalam- dapat menyimpulkan bahwa visi, misi dan perjuangan Imam Husein tidak akan kita fahami selama kita tidak menyentuh arti dan hakikat syahadah. ketidakfahaman kita ini akibat dari keagungan pribadi beliau itu sendiri, juga  dari kita sendiri yang memfokuskan perhatian pada pribadi tersebut. Dua  faktor inilah yang telah membuat kita silau akan kebesaran Al-Husein, yang pada gilirannya kita kehilangan sesuatu yang lebih agung dari pribadi beliau itu sendiri. Lalu, apakah yang lebih besar dan agung dari pribadi Al-Husein itu? yaitu sesuatu yang telah diperjuangkan oleh beliau dengan segenap jiwanya.
Ada “masalah besar” yang dihadapi Imam Husein. demi masalah itu ia telah mengorbankan jiwanya. Di sini, seringkali kita hanyut  dalam gelombang emosionalitas tatkala kita berbicara tentang Imam Husein dengan penuh semangat, namun  kita melupakan “masalah besar” itu yang menjadi pusaran kesyahidan beliau. Sebuah masalah yang, dalam pandangan kita semua, benar-benar besar; besar dalam sejarah kemanusiaan dan besar di sisi al-Khaliq dan makhluk-Nya.
Sejauh analisis saya, masalah besar itu mencuat dari segenap kandungan Syahadah (kesyahidan) yang dalam. Poin inilah yang saya ambil dalam menafsirkan perjuangan dan kepahlawanan Imam Husein. Oleh karena itu, kita akan menelusuri masalah besar ini dari sisi yang berbeda. Yakni, mengamatinya dalam perspektif filosofis. Dalam rangka ini, logika dan kebijakan akan membantu kita dalam berfikir dan berargumentasi. Jelas bahwa demikian ini tidaklah mudah. Meski begitu, saya akan berusaha sejauh kesiapan dan kapasitas yang saya miliki.
Bukan rahasia lagi bahwa apa yang diangkat oleh kisah kesyahidan, dengan maknanya yang unik sekaligus membangkitkan keheranan, sanggup melumpuhkan nalar dan memandulkan ketajaman logika. Syahadah merupakan formulasi  perasaan yang hidup menggelinjang dan  hikmah (kebijakan) yang dalam serta rumit.
Dari sisi lain, upaya mengurai kedua dimensi tersebut dalam satu bingkai malah menghambat atau malah menahan pencapaian maksud utama yang diusahakan lewat kata-kata. Lebih dari itu, upaya ini benar-benar  menjadi berat bagi kapasitas orang  seperti saya yang sangat minus dari kekuatan jiwa dan kehangatan emosi. Tampak jelas bagaimana permohonan maaf saya atas apa yang akan saya sampaikan terselubung di balik keterbatasan kemampuan saya.  Barangkali saya pun hanya  dapat menguak sebagian maksud yang ingin dikemukakan, tanpa hendak basa-basi atau melebih-lebihkan.
Maka, syarat pertama untuk mengbongkar rahasia kesyahidan adalah menampilkan nilai-nilai dan serat-serat misi yang telah melapisi esensinya dan mengaktualisasikan maknanya yang khas di dalam bingkai tersebut. Perjuangan inilah yang telah menjadikan Imam Husein as. sebagai salah satu pilarnya. Maka itu, perseteruan yang terjadi sepanjang sejarah dan menjadikan beliau sebagai salah seorang pemegang panjinya dan Karbala sebagai salah satu medannya, merupakan bagian dari gerakan historis dan gugusan silsilah zaman, dengan pelaku yang berbeda-beda dan akan terus berlanjut. Demikian itu karena Imam Husein merupakan bagian dari silsilah sejarah ibrahimian yang selayaknya dipahami dari sudut pandang ini.
Tanpa syak lagi bahwa mengangkat riwayat Imam Husein sebagai satu mata rantai yang lepas  dari rangkaian sejarah, kemudian memandang tragedi Karbala sekadar sebuah kasus biasa (yang telah terjadi dan berlalu begitu saja) akan membuatnya kehilangan dasar-dasar historis dan visi-visi sosial, serta pada akhirnya akan mengosongkannya dari inti yang terkandung di dalamya; inti yang menjadikannya sebagai sebuah tragedi dan masalah yang terus baru, segar  dan berkesinambungan. Sayangnya, yang kita dapatkan sekadar isak tangis seperti yang kita lakukan sekarang.
Memisahkan Imam Husein as. dari falsafah yang dibangunnya di atas  basis-basis historis misi serta keyakinan yang ditumbuhkannya, tidak bedanya dengan memotong bagian tubuh manusia yang masih hidup untuk dilakukan penelitian atasnya atau sekedar untuk disimpan  saja.
 

Para Nabi sebagai Lapisan Bawah

Seperti yang telah saya sebutkan, bahwa revolusi Ilahi yang dilakukan oleh para nabi sepanjang sejarah dapat dikelompokkan berdasarkan nilai-nilai yang dikandung oleh agama tersebut. Padanya mereka berada dalam sebuah lapisan masyarakat menyaksikan kelahiran mereka lahir darinya dan mewadahi hubungan serta pergaulan sosial mereka, ataupun bentuk dan haluan dakwah yang mereka lakukan.
Secara umum, founding fathers perubahan besar dunia dapat diklasifikasikan kepada dua kelompok: Kelompok Pertama, ialah  kelompok yang dipelopori oleh Nabi Ibrahim as. begitu juga para nabi yang datang setelah beliau, sebagaimana yang telah  kita kenal mengingat akrabnya sejarah mereka dengan kita. Mereka semua adalah para nabi yang lahir dari lapisan bawah masyarakat mereka. Sesuai sabda Nabi kita saw, bahwa mayoritas mereka itu adalah  penggembala kambing. Pun sejarah mencatat bahwa pekerjaan mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan keseharian mereka, kecuali sebagian kecil dari mereka.
Kelompok Kedua, yaitu kelompok yang diprakarsai oleh mereka memiliki kelas sosial yang berbeda jauh dengan kelompok pertama. Mereka adalah jiwa-jiwa revolusioner dan para penggagas aliran pemikiran dan etika, baik dari yang (berkulit) kuning seperti: Cina, Iran, Yunani, atau selain mereka yang tidak termasuk dalam agama Ibrahimian. Mereka secara keseluruhan tanpa terkecuali muncul dari lapisan atas masyarakat; putra para raja, darah biru, rohaniawan dan saudagar kaya, dari jalur ibu,  ayah, ataupun dari kedua-duanya. Begitu pula kaitannya dengan Konfusius, Lautze, Zoroaster, Maniy, Muzdak, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Menelaah lapisan masyarakat dalam sejarah memberikan cacatan kepada kita bahwa di dalam masyarakat primitif, para raja, saudagar dan rohaniawan membagi-bagi kekuasaan politik, ekonomi dan kepercayaan di lingkungan mereka, baik dalam situasi damai maupun tegang. Sementara itu, rakyat biasalah yang malah menampung (limbah busuk) kedamaian dan ketegangan mereka. Sekali lagi, lapisan bawah ini sama sekali tidak mendapatkan keuntungan di tengah persatuan ataupun perseteruan mereka.
Ketika Al-Quran menyebutkan kata al-Ummiyyin seperti dalam ayat: “Dialah yang mengutus d iantara orang-orang yang ummiy seorang rasul …” (Q.S. 62/2), kata tersebut menunjuk lapisan bawah dan rakyat jelata. Sedangkan rasul yang dimaksud adalah rasul ibrahimian. Artinya, utusan Allah ini ialah manusia biasa, bukan seorang raja. Ia layaknya kebanyakan manusia yang hidup dalam kesusahan, bukan dari kelompok elit masyarakat.
Di tempat  lain, Al-Quran menerangkan: “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan dengan bahasa kaumnya. Hal itu untuk menerangkan kepada mereka, maka Allah menyesatkan siapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Dialah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana” (Q.S. 14/4).
Ayat ini tidak dalam rangka menerangkan bahwa Nabi Musa as berbicara dengan bahasa Ibrani (Hebrew), dan bahwa Nabi Muhammad saw itu berbicara dengan bahasa Arab sebagai dipahami oleh umumnya umat Islam. Kenyataan ini yang tidak perlu lagi  penjelasan; bahwa nabi yang diutus kepada bangsa Arab tidak akan berbicara dengan bahasa Mandarin atau Latin.
‘Bahasa kaum’ yang dimaksudkan di sini yaitu bahasa lapisan (masyarakat) yang di dalamnya seorang nabi dilahirkan. Yakni bahasa yang dapat mengungkapkan kesulitan dan harapan mereka. Dan, ‘berbicara dengan bahasa mereka’ artinya menolak bahasa kalangan intelektual yang hidup dahulu itu ataupun pada hari ini, dimana mereka berbicara dengan bahasa elit yang tidak lagi dimengerti oleh mayoritas bangsa.
Poin yang bisa kita tarik dari uraian di atas ini ialah bahwa membahas para nabi ibrahimian berarti membahas mayoritas manusia, sekuat adanya perbedaan yang mencolok antara kehadiran mereka dengan kehadiran selain mereka. Sementara yang belakangan ini mengerahkan kekuatan dalam menyebarluaskan keyakinan dan maksud mereka, para nabi itu mengandalkan basis rakyat umum dalam menghadapi kekuatan lawan. Tampak bagaimana Nabi Ibrahim as bangkit dengan tongkat di tangannya. Atau Nabi Musa as yang memasuki istana kebesaran Firaun dengan tongkatnya, sampai beliau berhasil menenggelamkannya bersama bala tentaranya di Nil, sama berhasilnya dalam membenamkan Qarun dan harta kekayaannya ke dalam tanah.
Dan yang terakhir ialah Nabi Muhammad saw sebagai barisan mutakhir yang hidup yatim dan serbapas-pasan, namun beliau berhasil menyusun berbagai pasukan jihad. Sejarah mencatat, hampir setiap lima puluh hari terjadi peperangan yang jumlahnya mencapai enam pulu lima kali pertempuran dalam waktu tidak lebih dari dari sepuluh tahun. Itulah mukjizat para nabi. Sebuah mukjizat yang relevan dengan misi mereka masing-masing; membubarkan kekuatan sihir dengan tongkatnya, menumbangkan Firaun dari tahta kekuasaannya. Dan akhirnya, inilah keterangan Al-Quran yang amat penting, bahwa Islam dan Al-Quran bukanlah produk Muhammad saw.

Muhammad sebagai Harapan Kaum Lemah

Sebuah kenyataan yang mau tidak mau kita akui bahwa ada satu agama sepanjang sejarah yang tidak kekurangan relevansinya dengan perkembangan zaman, kondisi dan lingkungan.  Itulah Islam. Al-Quran telah menekankan keunggulan fenomenal ini dan menggambarkannya sebagai pandangan historis yang komprehensif dan mencakup seluruh gerakan perubahan yang akan selalu berbenturan dengan kesyirikan dan orang-orang kuat dunia dalam rangka membela para dhu’afa. Al-Quran mengangkat semua benturan itu  sebagai sebuah peperangan di sepanjang zaman dan di belahan bumi manapun.
Sebagian ayat menjelaskan pandangan sejarah Al-Quran secara gamblang, bahwa ia menganggap semua peperangan ini merupakan sebuah garis silsilah yang saling terkait utuh. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah dari Al Kitab dan mnjualnya dengan harga yang murah, mereka tidak makan di dalam perut mereka kecuali api neraka dan di hari kiamat nanti Allah tidak akan mengajak mereka berbicara serta tidak akan mensucikan mereka, namun bagi mereka siksa yang pedih” (Q.S.2/174)
Ada tiga hal yang kita temukan dari dalam ayat di atas ini yang saling bertalian erat;

  1. Ayat-ayat Allah
  2. Para nabi
  3. Orang-orang yang menyerukan keadilan

Ayat tersebut menimbang mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah sama dengan pembunuh para nabi dan para penegak  keadilan. Sesuai ayat di atas, hukum pengingkaran dan pembunuhan itu sama. Inilah konsep sosial; filsafat sejarah kemanusiaan dan makna seluruh revolusi sepanjang sejarah, sebagaimana diterangkan Al-Quran.
Nabi kita Muhammad saw adalah nabi terakhir agama ini. Melalui para nabi, agama ini  mengajarkan kepada manusia butir-butir kebijakan, wahyu dan keadilan.  Al-Quran menjelaskan bahwa mereka mengemban satu  misi (risalah), yang obornya berpindah utuh dari satu nabi ke nabi yang lain, dari satu rasul ke rasul lainnya. Sampai saatnya datang guru penutup para  nabi yang telah berjuang untuk membebaskan manusia dari perbudakan sambil mengajak mereka menyembah dan menghamba pada Tuhan yang satu. Dia sanggup merealisasikan konsep kemanusiaan yang komprehensif yang muncul dari kesatuan sejarah kemanusiaan di dalam gerakan perubahannya yang besar. Dia telah mempersembahkan persatuan kepada seluruh bangsa dan etnis dengan berbagai warna kulit, darah dan status atau kelas sosial yang berbeda-beda serta aneka cara pandang. Beliau telah berhasil memporakporandakan kesyirikan yang merupakan  sumber  berbagai perpecahan.
Sesungguhnya kalimat Tauhid dalam Islam merupakan slogan pembebasan. Sebelum Nabi kita Muhammad saw menyampaikan kalimat ini kepada para filsuf, intelektual, orator, terpelajar, dan orang-orang kaya, beliau telah menyampaikannya kepada para hamba sahaya; orang-orang mustadh’afin (lemah)  yang hidup dalam penderitaan, penyiksaan, kelaparan di tengah  lapisan bawah masyarakat Mekkah. Sementara itu, para kalangan elit di sana senantiasa mencemooh beliau dengan mengatakan, bahwa para pengikut Muhammad tidak lain adalah orang rendahan. Padahal,  cemoohan itulah yang menjadi syahadah (kesaksian) terbesar yang dapat mengharumkan nama Islam dan misi perubahannya.
Muhammad telah hadir dari orang-orang yang lemah untuk orang-orang yang lemah, pada saat para tokoh Budha di India dan Cina tampil sebagai golongan elit di tengah masyarakat mereka. Pada hari inilah nilai-nilai kemanusian berbaur bersama Islam. Nabi kita Muhammad saw, sang Rasul Islam, telah menjadi harapan besar  para hamba sahaya di saat mereka berfikiran bahwa perbudakan adalah takdir  abadi,  di saat mereka hanya tahu bahwa mereka selamanya akan berada di bawah eksploitasi politik, budaya, ideologi serta militer para penguasa. Muhamaad  adalah manusia harapan yang dinantikan oleh kaum  jelata yang hidup untuk harus dikalahkan, tunduk dan selalu patuh mengabdi pada mereka. Muhammad  merupakan sosok perwujudan janji bagi kaum yang lemah, yang telanjur menganggap bahwa Tuhan, sebagai musuh para penguasa, telah menakdirkan mereka sebagai budak dungu yang harus melayani kepentingan orang yang kuat.
Tidak akan jauh berbeda sekiranya kita memulai singgungan dari keyakinan orang yang kuat. Ketika Maniy berbicara tentang peta ‘kegelapan dan cahaya’, ia menempatkan orang-orang miskin dan lemah itu di gerbong ‘kegelapan’, sementara kekuatan dzalim yang menang didudukkan di kelas ‘cahaya’.
Dalam pada itu, apa yang bisa kita simak dari tanggapan para pemikir non-ibrahimian? Aristoteles dan Plato pernah mengatakan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta ke dalam dua golongan; golongan hamba sahaya dan golongan tuan, yakni orang yang merdeka. Golongan tuan ini mesti adanya guna membangun peradaban yang diwujudkan dalam bentuk seni, musik dan sastra, sedangkan keberadaan golongan budak berfungsi untuk dapat mengabdikan dirinya dalam rangka melayani golongan tuan dengan melakukan tugas-tugas yang hina.
Adapun Muhammad bin Abdullah saw. telah mendeklarasikan  bahwa semua manusia itu satu; satu jenis, satu keluarga dan satu makhluk Tuhan yang satu. Berdasarkan prinsip kesamaan inilah beliau membangun masyarakat baru yang berlandaskan pada ideologi yang kuat dan konsep pembangunan ekonomi serta sosial yang kokoh.
Oleh karena itu, bukanlah hal yang aneh jika masyarakat Madinah telah mengembalikan Bilal –seorang budak yang hina- pada posisi dan kedudukannya sebagai manusia yang mulia. Begitu pula Salim, budak Hudzaifah, tidaklah membuat orang Arab dan Yahudi kebingungan tatkala ia menjadi imam sholat mereka di masjid Quba, padahal dia terkenal di kalangan bangsawan Quraisy sebagai budak yang sangat hina. Ketinggian derajat kemanusiaan dan kemuliaan Bilal sungguh telah diakui oleh para elit dan  tokoh Arab, sebagaimana Salim yang paling hina di tengah mereka itu telah dikedepankan sebagai imam para pembesar itu dalam pelaksanaan ibadah dan  sujud di hadapan Allah Yang Maha Besar.
Ini semua merupakan revolusi besar dalam meletakkan arti kemuliaan dan kepemimpinan di tengah masyarakat. Rasulullah  pun menyuruh mereka untuk memendekkan jenggot yang panjang dan pakaian yang panjang, karena demikian itu menandakan kesombongan. Namun sebaliknya, beliau mengajarkan agar setiap orang berjalan di atas muka bumi dalam keadaan penuh ketenangan dan kerendahan hati. “Jika salah seorang di antara kalian sedang mengendarai, maka hendaklah mengajak saudara seagama untuk naik di belakangnya”, begitu titah Nabi.
Lebih dari itu, Rasulullah saw. tidak kurangnya memberikan pentauladanan praktis, sampai menjadikan keledai biasa sebagai tunggangannya, dengan maksud menghilangkan image yang masih mengakar di benak setiap sahabatnya bahwa kemuliaan itu ditentukan dengan kendaraan yang indah dan mewah. Beliau pun senantiasa menanamkan persamaan di antara para sahabatnya. Jika ada di antara mereka yang merasa ketakutan melihat kebesaran dan kewibawaan status kerasulan Muhammad saw, segera beliau meyakinkannya: “Tenangkan dirimu! karena sesungguhnya aku tidak lain adalah anak seorang perempuan yang makan daging cincang”.
Inilah garis haluan perjuangan Islam yang dijejaki sang cucu Al-Husein setelah kepergian sang kakek Muhammad saw. Inilah misi Islam yang dibawa oleh para Nabi, yang mayoritas mereka adalah pengembala. Dan, inilah Islam yang dibawa oleh rasul terakhir yang lahir di tengah padang pasir yang tandus, untuk kemudian berhadapan dengan pusat-pusat kekayaan dan kekuasaan dunia, sebelum akhirnya meluluhlantakkan mereka.
 

Ali sebagai Syahid Pertama

Walaupun tidak ada rentang waktu antara masa Islam seutuhnya era Rasul dan para pelaku sejarah pasca beliau, namun seiring dengan bergulirnya  penyebaran misi hingga melampaui ribuan kilo meter persegi, tampak penyelewengan bermunculan secara perlahan-lahan. Bahkan,  jika dilibatkan faktor-faktor lain dalam penyelidikan, penyimpangan malah  semakin melebar, sehingga setiap arah akan mengambil garis masing-masing yang saling menggunting. Kenyataan menjadi fakta sejarah pada rentang waktu lima belas tahun, terhitung  sejak hari pertama wafatnya sang Rasul.
Dalam kurun tersebut, khilafah (kepemimpinan agama dan umat) menjadi magnet yang menarik setiap unsur yang bertentangan dengan revolusi Islam, laksana  jembatan yang dilintasi setiap faktor yang menjebol dinding-dinding pemisah antara Islam dan Jahiliyah.  Yang kita saksikan ialah runtuhnya segala konsep dan basis yang telah dibangun oleh Muhajirin dan Anshar.
Tak pelak lagi, Khalifah  menjadi alat yang dapat dimainkan oleh tangan-tangan yang telah dibuntungkang oleh Islam (orang-orang yang menanggung kerugian dan kehilangan kepentingan mereka dengan datangnya Islam, penj.) dalam rangka mengembalikan kembali kekuatan mereka yang telah dibenamkan oleh revolusi Islam. Upaya reinkarnasi Jahiliyah inilah yang kemudian menjadi akar setiap musibah umat yang terjadi setelahnya, bahkan menjadi sebuah preseden yang terus berlangsung sepanjang sejarah.
Kami tidak hendak mengatakan, bahwa preseden itu adalah sebuah tradisi yang tidak dapat diubah, sehingga menjadi sebuah kaidah paten, bahwa “Setiap revolusi akan memakan anak-anaknya” . Lihatlah Khalifah Utsman bin Affan yang menjadi alat untuk menyingkirkan mereka yang memang memiliki peran poros dalam revolusi Islam. Dengan bantuan agen-agen Bani Umayyah, ia lalu meruntuhkan bangunan yang telah dibangun dengan pedang, jihad, kesabaran dan pengorbanan. Fitnah inilah yang kemudian memupuk mentalitas kemurtadan dan menyegarkan kembali semangat musuh-musuh revolusi yang telah lumpuh. Dalam keadaan demikian, Ali bin Abi Thalib jatuh sebagai korban pertama fitnah.
Kebijakan-kebijkan politik, sosial dan pemikiran Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan awal pergolakan baru, yakni pergolakan kaum mukminin dalam rangka memulihkan kembali nilai-nilai revolusi dan slogan-slogan besar yang telah diajukan oleh Islam, melawan Jahiliyah baru yang telah berkobar dengan semangat kemunafikan, kedengkian dan kebencian yang mulai kembali menyesakkan dada mereka.
Untuk itu, beliau menyatakan perang secara terbuka pada satu waktu dan tertutup pada waktu lain. Kalau pertempuran di masa Rasul terjadi antara barisan Syirik dan barisan Tauhid, peperangan di era pemerintahan Imam Ali berlangsung antara generasi penerus revolusi besar Rasul yang hakiki dan kelompok penentangnya yang berlindung di balik busana Tauhid.
Jelas bahwa kita tidak bisa menganalogikan  peperangan yang terjadi antara Muhammad saw. dan Abu Sufyan sama dengan peperangan yang terjadi antara Ali dan Muawiyah. Yang pertama itu adalah peperangan antarmusuh, sedangkan yang belakangan ini adalah peperangan antara teman dan semi teman, yang tentunya menyimpan bahaya yang lebih besar. Maka itu, perang bentuk kedua ini lebih  merupakan perang dalam. Tidak sedikit peperangan dengan musuh luar yang dimenangkannya. Meski begitu, tidak sekali Imam Ali menerima kekalahan dari musuh dalam. Di  sinilah saatnya kita menangkap sebuah hikmah, bahwa peperangan melawan kemunafikan itu jauh lebih besar dari pada perang melawan kemusyrikan.
Peperangan yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad saw adalah merupakan salah satu fenomena kemenangan Islam atas kemusyrikan yang jelas di medan yang kasatmata. Namun peperangan yang dihadapi oleh Imam Ali merupakan kekalahan yang terjadi di medan gelap. Imam Ali telah berhadapan dengan jahiliyah baru yang bersembunyi di balik busana suci Islam. Beliau berhadapan dengan kesyirikan yang  meramahkan dirinya dengan wajah Tauhid. beliau  harus menghadapi para ‘penyembah berhala’ yang mengangkat Al-Quran di atas ujung tombak. Beliau memerangi mereka dalam waktu yang sangat panjang dan begitu pahit. Kemudian, belum lagi sempat menghela nafas panjang, beliau harus berhadapan dengan kaum ekstrim Khawarij yang merupakan bagian siasat busuk musuhnya (baca: Muawiyah, peny.).  Hal-hal di atas ini cukup melemahkan kekuatan beliau di hadapan perlawanan jahiliyah baru. Akhirnya, kekuatan revolusi sang ayah itu hilang dan dilanjutkan oleh sang anak, Imam al-Hasan as.

 

Al-Hasan Yang Terlantar

Al-Hasan adalah pewaris amanat Imam Ali as. Sepeninggal sang ayah, beliau menjadi pengemban utama yang harus memimpin umat dan angkatan bersenjata dalam kondisi jiwa  mereka yang telah dilumuri getah kemunafikan. Tak ayal lagi, para tokoh dan pemuka mereka tersungkur satu persatu di bawah  janji manis dan suap para penguasa Bani Umayyah di Syam (Syiria),  mereka siap untuk bermain bargaining dengan ideologi dan kedaulatan pemimpin mereka. Jual-beli nilai dan kemulian berlangsung di Damaskus, ibu kota dinasti Bani Umayyah. Selain itu, krisis moral di jajaran pembantunya, belum lagi kekayaan dan hasil bumi yang jatuh ke tangan musuh yang bisa dipergunakan sesuai dengan keinginannya, membuat kekuatan Imam Hasan tidak cukup kuat untuk mempertahankannya. Semua itu melengkapi Imam Hasan untuk tidak mampu berbuat,  apapun.
Masih ada yang bisa ditambahkan, yaitu apa yang terjadi di Iraq, dimana perpecahan telah merajalela di antara mereka. Jurang tajam yang semakin melebar di antara para tokoh yang telah melemah komitmen mereka pada prinsip keadilan Ali yang menjadi dasar kebijakan Imam Hasan dan segenap lapisan bawah. Tampak bagaimana kebanyakan umat Islam saat itu berada dalam kelemahan, kebodohan, keterbelakangan dan selalu dibayangi pengaruh ekstimitas kaum Khawarij yang berusaha membujuk perhatian orang-orang awam.
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed