by

Motivasi Qurani (1)

tafsir tematik, syiah menjawab

Motivasi Qurani

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.al-Ahzab[33]:21).

Segala sesuatu senantiasa bertaut dengan dua hal; motivasi dan efek. Tidak akan ada gerak, mulai dari hal remeh-temeh hingga hal besar tanpa diawali motivasi. Motivasi yang menetapkan adanya tujuan, atau bisa jadi keduanya adalah sesuatu yang sama. Motivasi adalah (sekaligus) tujuan. Gambarannya, motivasi Anda minum karena ingin menghilangkan haus, tidur karena melepas kantuk, dan seterusnya.
Bagi seorang muslim, tentu motivasi harus selaras dengan kehendak al-Quran, sebab ia adalah kitab yang menjadi modul petunjuk dan penjabar segala sesuatu (tibyan li kulli syai’i). Saya menyebutnya, Motivasi Qurani.

Motivasi Qurani
Motivasi Qurani adalah motivasi amal berbasis al-Quran. Segala aktivitas hidup, pengkajian ilmiah, world view, seluruhnya diselaraskan dengan al-Qur’an. Sebab ia telah menahbiskan dirinya sebagai Kitab Petunjuk bagi umat manusia.
Dalam konteks kajian historis, bagaimana al-Quran memandu kita bermotivasi? Sebagai kitab paling komprehensif, al Quran telah memenuhi halaman-halamannya dengan sirah orang-orang hebat, baik-buruk, serta kaum rendahan. Tak ada yang luput dari perhatian al-Quran. Semua terdeskripsi dengan baik, dalam redaksi yang multiinrepretasi dan sarat cahaya. Bahkan, wa la rathbin wa la yabisin illa fi kitabin mubin, tidak ada sesuatu yang lembab dan yang kering, kecuali termuat di dalam kitab yang benderang. Kita dapat dengan mudah menjumpai selaksa kisah tersebut, yang didedikasikan sebagai bahan renung. Kita tinggal menciduknya.

Lalu di antara beribu ayat tersebut, al-Quran menyisipkan pesan singkat dan tegas; bahwa motivasi kesejarahan dirangkum dalam tiga kategori; motivasi mauizhah, ibrah dan uswah.

Secara umum, ketiganya bermakna pelajaran. Namun ada hirarki dan kedalaman makna berbeda dari masing-masing. Ibarat sebuah biji, motivasi kesejarahan al-Quran memiliki lapisan luar, yaitu mauizhah. Lapisan dalamnya adalah ibrah. Sedangkan lapisan inti terdalamnya adalah uswah. Ketiganya harus diposisikan sebagaimana kehendak Dzat yang menurunkan Kitab Suci itu.

Mauizhah
Secara leksikal, mauizhah berarti khutbah, nasehat atau pelajaran. Para mufassir, di antaranya at-Thabarsi, mendefinisikan mauizhah adalah ‘upaya mengendalikan diri dari segala hal yang dibenci oleh Allah swt, menuju segala yang dicintai-Nya, serta memberikan perhatian terhadapnya.’ Mauizhah adalah tebaran jala cinta dari Allah swt kepada hamba-Nya. Mengambil mauizah berarti berupaya mengambil pelajaran, lalu melakukan ‘hijrah diri’ dari sesuatu yang dibenci Allah swt menuju sesuatu yang dicintai oleh-Nya. Selanjutnya, terhadap apa saja kita harus mengambil mauizhah? Al-Quran menegaskannya kepada kita dalam isyarat yang sangat tegas.

Kata mauizhah disebut sebanyak 9 kali di dalam al-Quran;

  1. Ketika mengisahkan peristiwa Hari Sabat, al-Quran menegaskan; “Maka Kami jadikan siksa tersebut sebagai peringatan bagi orang-orang (yang hidup) di masa itu dan generasi yang datang kemudian serta mauizhah (pelajaran) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.al-Baqarah[02]:66)
  2. Ketika menuturkan kondisi pelaku riba, al-Quran menyinggungnya; “Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, (pada hari Kiamat) mereka tidak akan dapat berdiri melainkan seperti orang yang kerasukan setan hingga gila berdiri. Hal itu dikarenakan mereka berkata, “Sesungguhnya jual-beli itu adalah sama dengan riba”, sedangkan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya mauizhah (baca : larangan) dari Tuhannya, lalu ia berhenti (dari mengambil riba), maka kentungan-keuntungan (hasil riba) yang telah diambilnya dahulu (sebelum datangnya larangan itu) adalah miliknya, dan urusannya (diserahkan) kepada Allah. Dan orang-orang yang mengulangi (mengambil riba) lagi, maka mereka adalah penghuni neraka. Mereka akan kekal di dalamnya.” (QS.al-Baqarah[02]:275)
  3. Setelah mendeskripsikan sifat-sifat orang yang bergegas mencari keridhaaan Allah swt, juga mengancam dengan tegas; fanzhur kayfa kana ‘aqibatul mukaddzibin, lihatlah kesudahan orang-orang yang mendustakan! Al-Quran menyisipkan pesan indahnya, bahwa ia adalah mauizhah; “(Al Qur›an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta mauizhah (pelajaran) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS.Alu Imran[03]:138 )
  4. Kitab Suci Injil (sebagai kitab samawi) juga disebut sebagai mauizhah. Al-Quran menyebutkan; “Dan Kami iringkan jejak mereka ( nabi- nabi Bani Israel ) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya ( ada ) petunjuk dan cahaya ( yang menerangi ), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang- orang yang bertakwa.” (QS.al-Maidah[05]:46)
  5. Kitab Taurat Nabi Musa as juga disebut sebagai Mauizhah. Allah swt berfirman; “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang (kepada perintah-perintahnya) dengan sebaik- baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang- orang yang fasik.”” (QS.al-A’raf[07]:145)
  6. Ketika mengenalkan fenomena semesta, langit-bumi, hidup dan kematian, al-Quran menyisipkan pula pesan indahnya; “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu mauizhah (pelajaran) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang- orang yang beriman.” (QS.Yunus[10]:57)
  7. Kisah para rasul, disebut pula sebagai mauizhah. Al-Quran menyebutkan; “Dan semua kisah dari rasul- rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah- kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang- orang yang beriman.” (Qs.Hud[11]:120)
  8. Mauizhah juga berhubungan erat dengan metode dakwah, menganjurkan kebaikan. Al-Quran menegaskan; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS.an-Nahl[16]:126)
  9. Selaksa ayat disebut pula sebagai mauizhah. Al-Quran menerangkan; “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS.an-Nur[24]:34)

Dari 9 ayat yang memuat kata mauizhah, dapat disusun pemahaman bahwa segala hal, baik-buruk, sederhana atau rumit, tekstual maupun kontekstual, dapat menjadi ibrah. Peristiwa ngeri yang menimpa kaum Nabi Musa di Hari Sabat, kesadaran dan adanya hukuman pelaku riba, anjuran bergegas meraih ridha Allah, renungan akan hidup dan kematian, keimanan kepada kitab suci (Injil, Taurat, Zabur dan al-Quran), tebaran kisah para rasul dan kiat-kiat menyampaikan kebaikan Tuhan seluruhnya dibingkai mauizhah. Mauizhah seperti satu kata yang menegaskan tujuan, sebab ia adalah pengajaran Tuhan kepada umat manusia. Maka, ketika manusia dapat menjadikan segala yang dijumpainya berproses dalam kanal mauizhah, niscaya ia tergolong orang-orang yang beriman dan bertakwa. [Bersambung]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed