by

Motivasi Qurani (2)

al quran smc

Motivasi Qurani (2)

Ibrah

Hirarki kedua dalam motivasi kesejarahan adalah mengambil ibrah. Kata ibrah diambil dari kata ‘ubur (perpindahan). Karenanya, air mata disebut ‘abrah, disebabkan perpindahan air mata itu dari kelopak mata. Ia juga seakar kata dengan kata ibarat (ungkapan), yang berarti memindahkan konsep-konsep dari seseorang ke seseorang.

Dalam konteks ini, segala kejadian dan peristiwa yang mengandung unsur pelajaran, nasehat dan peringatan disebut ibrah.

Hal itu disebabkan kejadian-kejadian tersebut menjabarkan kepada manusia mata-rantai dogma universal, kemudian memindahkannya dari satu subyek kepada subyek yang lain. Oleh karenanya, kata ibrah diikuti dengan ulil abshar (orang-orang yang memiliki pandangan), atau ulil albab (orang-orang yang memiliki akal) sebagai pribadi-pribadi yang mampu mengintegrasikan berbagai kejadian dengan mata realitas, hingga menembus ke dalam lubuk hatinya. Hanya pribadi-pribadi ini yang memiliki tendensi memperoleh manfaat dari ibrah, sebab al-Quran telah mengarahkan pandangan mereka untuk memperhatikan pelbagai kejadian dan peristiwa, agar mereka memiliki kesadaran atas makna berbagai fenomena.

Dalam bahasa Arab, mengambil ibrah disebut i’tibar, yaitu sebuah kegiatan mengkomparasikan berbagai peristiwa yang serupa dengan mengoptimalkan akal. Seperti membandingkan keadaan kaum kuffar dengan keadaan orang-orang Yahudi dari Suku Nadhir yang merusak perjanjian, dan sebagainya. Syekh Makarim as-Syirazi dalam al-Amtsal menyebut kata i’tibar (mengambil pelajaran) sebagai istintaj kulli (konklusi universal) di dalam al-Quran.
Apa saja yang menjadi objek i’tibar? Al-Quran mengisyaratkan beberapa kejadian berikut ini sebagai ibrah buat kita;

  1. Ketika al-Quran mengisahkan fenomena perang Badar, Allah swt berfirman; “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan(segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat(seakan- akan) orang- orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS.Alu Imran[03]:13)
  2. Tatkala al-Quran menggarisbawahi kisah Nabi Yusuf (dan para rasul), Allah swt menegaskan; “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang- orang yang mempunyai akal. Al Qur›an itu bukanlah cerita yang dibuat- buat, akan tetapi membenarkan (kitab- kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.Yusuf[12]:111)
  3. Ketika bertutur tentang fenomena dunia binatang, al-Quran menurunkan ayat; “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar- benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” Juga ayat, “Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang- binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan.”
  4. Ketika menguraikan dengan rinci fenomena semesta, pergantian siang-malam, spesies flora-fauna, serta hubungannya dengan keimanan, al-Quran menyisipkan pesan indahnya; “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS.an-Nur[24]:44)
  5. Setelah mengisahkan arogansi dan kecongkakan Firaun, serta azab yang ditimpakan kepadanya, al-Quran menegaskan; “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS.an-Nazi’at[79]:26)

Itulah objek ibrah yang ditegaskan di dalam al-Quran. Perang Badar ditampilkan sebagai bahan ibrah. Fenomena perang Badar adalah ilustrasi pertempuran antara hak dan batil, bahwa kebenaran bukan soal minoritas-mayoritas. Bagaimana tidak? Sejumlah pasukan kecil tanpa peralatan perang, kecuali modal keimanan yang menancap kuat, menghadapi dan menang atas pasukan besar yang unggul dalam jumlah dan peralatan tempur. Seandainya harta benda dan jumlah mayoritas berkuasa atas sesuatu, niscaya hal itu tidak berlaku di perang Badar.
Begitu juga, kisah Nabi Yusuf as. Surat Yusuf dibuka dengan penegasan, bahwa ia adalah kisah terbaik; “Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur›an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang- orang yang belum mengetahui.”
Kemudian rangkaian plot kehidupan Nabi Yusuf dijabarkan dengan redaksi yang detail. Ada derita, romansa, dan tentu perjalanan kenabiannya. Sebuah episode manusia langit, yang harus diciduk hikmahnya sebagai ibrah. Di akhir surat Yusuf, al-Quran kemudian menyisipkan sebuah redaksi ‘benang merah’, yaitu firman-Nya:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang- orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang- orang yang musyrik”. Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang- orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya. Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang- orang yang berdosa.” (QS.Yusuf[12]:108-110)
Bahwa, misi Rasulullah adalah sebagaimana misi Nabi Yusuf, yaitu mengajak manusia untuk menyembah Tuhan yang Esa, bahkan ketika ia di penjara.

Karena sejarah para rasul adalah satu.

Para rasul adalah manusia esoteris yang dianugerahi wahyu, hidup di kota atau kampung seperti umatnya, merasakan derita mereka, serta berempati memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karenanya, penolakan atas dakwah mereka akan berakibat derita selama-lamanya. Redaksi, “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul),” adalah upaya al-Quran menyadarkan umat manusia. Mereka ditantang untuk mengelilingi dunia, menyaksikan sisa-sisa arkeologis masa lalu, serta punahnya kejayaan dan kota-kota mereka disebabkan azab Ilahi. Peninggalan arkeologis tersebut adalah pelajaran hidup yang gamblang.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang- orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat- buat, akan tetapi membenarkan (kitab- kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Demikian pula dengan fenomena alam semesta, mulai dari pergantian siang dan malam, hingga kehidupan lebah. Semuanya adalah objek melimpah yang disediakan oleh Allah swt agar manusia mengambil ibrah. Keengganan mengambil pelajaran dari itu semua, akan menumpulkan kesadaran yang berakibat pada derita tiada tara. Al-Quran pun mencontohkan Firauan, simbol arogansi sepanjang masa.
Apabila dirangkum ayat-ayat Qurani yang menurunkan kata ibrah, maka akan jelas bahwa objeknya melimpah sepanjang masa, bisa apa saja. Hanya yang dapat mengambil iktibar sangat eksklusif; orang-orang yang menyadari kehambaan, memiliki pandangan, kesadaran dan akal. Ibrah bukan pelajaran kasat mata yang dapat ditangkap siapapun. Ia memerlukan kontemplasi dan perenungan. (Bersambung)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed