by

Entitas Cahaya (2)

cahaya nabi
Allah, Cahaya Di Atas Cahaya
Al-Quran menegaskan:
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.Annur[24]:35).
Para filosof, ahli tafsir dan ilmuwan Islam banyak yang menguraikan destinasi ayat ini. Betapa manis redaksinya!  Iya, Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya yang meliputi segala sesuatu dan menyinarinya. Sebagian mufassir mengatakan, makna kata “Nur (cahaya)” adalah  al-Hadi (yang memberi petunjuk), al-munir (yang menerangi), dan sebagian lain mengatakan zinat as-samawat wa al-ardh (hiasan langit dan bumi). Seluruh makna ini benar. Hanya saja, konsepsi ayat di atas lebih luas dari yang telah dijabarkan. Kita akan menjumpai, bahwa al-Quran, keimanan, hidayah Ilahi, agama Islam, Sang Nabi, Ahlulbait nan Suci, ilmu pengetahuan seluruhnya adalah cahaya.[1]
Ini dari sebagian sisi. Dari sisi yang lain, kita juga harus melakukan sigi mendalam, bahwa cahaya begitu istimewa.

  1. Cahaya adalah sesuatu yang paling indah dan bagus di alam semesta. Ia adalah sumber segala keindahan dan kelemahlembutan.
  2. Cahaya adalah sesuatu yang paling cepat. Ia memiliki kecepatan  300.000 km perdetik. Kita dapat mengelilingi bumi sebanyak 7 kali dengan waktu tak lebih dari dua detik. Oleh karenanya, jarak antarbintang dihitung dengan kecepatan cahaya, serta satuan yang dipakai adalah satuan kecepatan cahaya.
  3. Dengan cahaya, kita dapat menyaksikan segala sesuatu di alam semesta ini. Tanpanya, mustahil segalanya dapat dilihat. Cahaya adalah sesuatu yang ‘nyata’ dan membuat selainnya ‘nyata’.
  4. Cahaya Matahari dianggap sebagai cahaya paling penting di dunia kita. Ia berpartisipasi penting dalam tumbuhnya tetumbuhan, bunga-bunga, dan kontinuitas kehidupan. Bahkan ia adalah simbol lestarinya makhluk hidup. Tidak mungkin ada keberlangsungan makhluk hidup, jika tidak memperoleh sinar matahari, langsung atau tidak.
  5. Seluruh aneka warna dapat dilihat dengan adanya cahaya matahari atau cahaya-cahaya lain. Tanpa cahaya, seluruh makhluk hidup dalam kegelapan.
  6. Semua energi di sekitar kita (kecuali energi nuklir) bersumber dari matahari dengan perantara tenaga angin, hujan, aliran sungai, atau air terjun. Jika kita melakukan penelitian atas gerak makhluk hidup, seluruhnya berhubungan dengan cahaya matahari. Sumber panas dan warming system adalah matahari. Bahkan panas api yang dikeluarkan oleh kayu, batubara, arang, atau minyak bersumber dari panas matahari.
  7. Cahaya matahari adalah yang membunuh mikroba dan kuman-kuman membahayakan. Tanpa cahaya matahari, bumi akan berganti menjadi rumah sakit besar, di mana penghuninya akan terserang berbagai penyakit yang mematikan tiap detik.

Begitulah, apabila kita meneliti dunia cahaya yang fenomenal dan unik ini akan semakin jelas kepada kita efeknya yang sangat penting.[2] Dan dengan meneliti dua sisi sebagaimana telah disebutkan, kala kita hendak mengumpamakan Dzat Suci Tuhan Semesta—kendatipun tiada perbandingan dan perumpamaan yang menyamai kedudukan-Nya yang Mahaagung—kita tidak akan menemukan yang lebih baik dari ‘cahaya’. Allah swt adalah Dzat yang menciptakan segala entitas di alam eksistensi dan meneranginya. Seluruh makhluk dapat hidup dengan berkah-Nya, Dia memberikan rezeki dari kebajikan-Nya. Seandainya rahmat ini terputus, meski sedetik, maka segala kesemestaan ini akan berada dalam kegelapan fana dan ketiadaan. Prinsip ini akan menetapkan, bahwa seluruh makhluk berhubungan dengan Allah dengan kuantitas tertentu, sebagaimana diperolehnya dari cahaya.

  1. Al-Quran adalah cahaya, karena ia adalah Kalamullah.
  2. Islam adalah cahaya, karena ia adalah agama-Nya.
  3. Para nabi adalah cahaya, karena mereka adalah utusan-Nya.
  4. Para Imam Maksum adalah cahaya-cahaya Ilahi, karena mereka adalah para pelestari agama Allah setelah rasul-Nya.
  5. Iman adalah cahaya, karena merupakan simbol koherensi dengan Allah swt.
  6. Ilmu adalah cahaya, karena merupakan jalan mengenal-Nya.
  7. Karenanya, Allah adalah cahaya langit dan bumi.

Apabila kita memaknai kata ‘cahaya’ dengan kedalaman pengertiannya nan luas, maka penggunaan frase ‘Cahaya’ untuk Dzat Allah swt yang suci adalah faktual, bukan kiasan. Karena tiada realitas yang lebih nyata tinimbang Allah swt, dan segala entitas merupakan jelmaan dari berkah eksistensi-Nya.
Layak untuk dikutip di sini penggalan ke-47 Doa Jausyan al-Kabir yang merangkum dengan indah sifat-sifat Allah swt:
يا نور النور، يا منور النور، يا خالق النور، يا مدبر النور، يا مقدر النور، يا نور كلّ نور، يا نوراً قبل كلّ نور، يا نوراً بعد كلّ نور، يا نوراً فوق كلّ نور، يا نوراً ليس كمثله نور
“Wahai Cahaya sebuah cahaya, wahai Yang Menerangi cahaya, wahai Yang Menciptakan cahaya, wahai Yang Mengatur cahaya, wahai Yang Menentukan cahaya, wahai Cahaya segala cahaya, wahai Cahaya sebelum segala cahaya, wahai Cahaya setelah segala cahaya, wahai Cahaya di atas segala cahaya, wahai Cahaya Yang tidak dapat diserupai cahaya.”
***
(Bersambung)
[1]             Al-Amtsal,11/102.
 
[2]             ibid, 11/104
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed