by

Entitas Cahaya (3)

cahaya nabi
Cahaya Muhammad
 

Jabir bin Abdillah al-Anshari ra berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw perihal makhluk pertama yang Allah swt ciptakan.”

Beliau saw menjawab; “Cahaya nabimu, wahai Jabir. Setelah Allah swt menciptakannya, kemudian Dia menciptakan darinya segala bentuk kebaikan. Dan sesudah itu, Dia menciptakan segala sesuatu. Dan ketika Dia menciptakan cahaya itu, didiamkan-Nya di maqam al-Qurbah (level kedekatan dengan Allah swt) selama 12 ribu tahun.
“Kemudian Allah swt membaginya dalam 4 (empat) bagian; dari bagian pertama, Dia ciptakan ‘Arsy. Dari bagian kedua, Dia menciptakan al-Kursi. Dan dari bagian ketiga, diciptakan-Nya malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga al-Kursi. Lalu, bagian keempat, Allah swt mendiamkannya di Maqam al-Hubb (level kecintaan) selama 12 ribu tahun.
“Dan dari bagian keempat itu, Allah swt membaginya lagi menjadi empat bagian; dari sebagian Dia ciptakan al-Qalam, dari sebagian Dia ciptakan al-lauh, dan dari bagian ketiga Dia ciptakan surga.
“Kemudian, bagian keempat Dia diamkan di Maqam al-Khauf (level ketakutan) selama 12 ribu tahun. Dan dijadikan-Nya menjadi 4 (empat) bagian lagi; Dia ciptakan para malaikat dari sebagian. Matahari, dari bagian kedua. Bulan dan bintang-gemintang, dari bagian ketiga.”
“Selanjutnya, bagian keempat Dia diamkan di Maqam al-Raja’ (level harapan) selama 12 ribu tahun. Dia membaginya menjadi 4 (empat) bagian pula; dari sebagian Dia ciptakan akal. Dari sebagian yang lain Dia ciptakan ilmu dan hilm (kesabaran, kemurahan hati). Dan menciptakan ‹ishmah (penjagaan) dan taufiq, dari sebagian yang lain.”
“Kemudian Dia diamkan bagian keempat di Maqam al-Haya’ (level malu)selama 12 ribu tahun. Kemudian, Allah swt melihat bagian keempat tersebut. Maka, memancarlah nur tersebut menjadi percikan-percikan, yang menetes darinya 124 ribu percik cahaya. Dan dari tiap percikan tersebut, Allah swt menciptakan ruh para anbiya’ (nabi-nabi) dan rasul. Dan percikan-percikan ruh nabi dan rasul itu memendar dalam nafas. Dan dari tiap nafas, Dia ciptakan ruh para wali-Nya, syuhada’, su’ada’ (orang-orang yang beruntung), dan orang-orang yang menaatinya, hingga kelak-hari Kiamat.”
“Maka, ‘Arsy, Kursi, malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga kursi adalah dari cahayaku. Al-Qalam, al-Lauh, malaikat al-karubiyun dan al-Ruhaniyun, juga surga dan segala kenikmatannya adalah dari cahayaku. Malaikat di tujuh petala langit, matahari, bulan, dan bintang-gemintang adalah dari cahayaku. Akal, ilmu, hilm (kesabaran), penjagaan dan taufiq adalah dari cahayaku. Ruh para nabi dan utusan, bagian dari cahayaku. Dan, ruh para wali-Nya, syuhada›, orang-orang yang sukses, dan para shalihin adalah dari natijah cahayaku. ”
“Lalu, Allah swt menciptakan 12 ribu hijab. Dan meletakkan bagian keempat dari cahayaku di tiap hijab, selama seribu tahun. 12 hijab itu adalah; hijab al-karamah (kemuliaan), al-sa’adah (keberuntungan), al-haibah (kebesaran), al-Rahmat, al-Rif›ah (ketinggian), al-‘Ilm (pengetahuan), al-Hilm, al-Waqar (kewibawaan), al-Sakinah (ketenangan), al-Shabr, al-Shidq (kejujuran), dan al-Yaqin. Setelah Allah swt mengeluarkannya dari segala hijab ini, maka Dia menyinari—dengan cahayaku—bumi ini; dari barat hingga ke timur-nya, laksana lentera di malam gelap gulita.”
“Kemudian, Dia ciptakan Adam as, dan menitipkan cahayaku di sulbi-nya. Ia senantiasa berpendar di kening Adam as dan jari telunjuknya. Lalu, ia bertanya kepada Allah swt tentang cahaya ini. Dia swt menjelaskan: Itu adalah cahaya Muhammad, anak keturunanmu.’ Dan cahaya itu berpindah dari Adam as ke Syits as. ”
“Dan begitulah, cahayaku berpindah dari satu sulbi terbaik kepada yang terbaik sesudahnya. Dari yang suci kepada yang suci sesudahnya. Hingga, sampai kepada ayahku, Abdillah bin Abdil Mutthalib. Dan darinya, Allah sampaikan ke rahim ibuku, Aminah. Dan Dia mengeluarkanku ke dunia ini, dan menjadikanku sebagai penghulu para utusan, penutup nabi-nabi, sebagai utusan kepada seluruh umat manusia, dan sebagai rahmat bagi alam semesta, juga pemimpin bagi orang-orang yang memiliki cahaya. Itulah awal penciptaan Nabimu, wahai Jabir.” [1]
Demikianlah, Nabi Muhammad saw menegaskan awal penciptaan, sebagaimana dituturkan oleh Al-Qunduzi.
Lalu, bagaimana al-Quran menjustifikasi penegasan tersebut? Allah swt berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah[2], dan Kitab yang menerangkan.” (QS.al-Maidah[05]:15).

Sebagian mufassir menginterpretasi “cahaya” pada ayat di atas adalah al-Quran itu sendiri sebagai kitab yang terang-benderang. Namun, penegasan ayat di atas, diperkuat oleh ayat lain, yaitu firman Allah swt:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS.al-Ahzab[33]:45-46).
Siraj adalah lampu yang terang. Matahari yang terang-benderang. Cahaya. Nabi saw adalah cahaya, makhluk pertama yang diciptakan dari cahaya-Nya. Dan segala kesemestaan ini hanyalah merupakan percikan dari pendar cahayanya.
Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw disebut abu al-arwah (bapak ruh), dan Adam as disebut abu al-asybah (bapak jasad).[3] Tidak mungkin, jasad bernilai tanpa ruh.[4] Mustahil ada makhluk di dunia ini, jika tidak ada Cahaya Nabi Saw.
(Bersambung)
[1] Al-Qunduzi,Yanabi’ al-Mawaddah, jil.01, hal.48,57.
 
[2] Terjemah Al-Quran Departemen Agama menerjemahkan dalam footnote 408: cahaya maksudnya: Nabi Muhammad saw dan Kitab maksudnya: al-Quran.
 
[3] Al-Milani, Nafahat al-Azhar,jil.05,hal.221; Lihat pula, Mi’raj al-Arwah karya Syekh Abi Bakar bin Salim
 
[4]Al-Bahr al-Muhith, jil.01,hal.12.
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed