by

Motivasi Qurani (3)

cahaya nabi
Uswah
Hirarki tertinggi dalam motivasi kesejarahan adalah motivasi uswah. Al-Quran menurunkan kata uswah dalam 3 ayat; pertama, Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.al-Ahzab[33]:21).
Ayat ini merujuk kepada pribadi Rasulullah saw.
Secara tekstual, ayat di atas diturunkan kala perang Ahzab. Dimulai dengan menjabarkan berbagai kelompok; orang-orang yang lemah iman, kaum hipokrat, pembesar kuffar, juga sekelompok orang yang menentang jihad. Puncaknya, al-Quran menyudahinya dengan menguraikan prototype orang-orang mukmin sejati, moralitas mereka nan luhur, sikap maskulin dan keteguhan mereka dalam ‘jihad akbar’, serta karakteristik lain yang khas. Pembahasan ini dimulai dengan sebuah sabda suci nan indah prihal Nabi saw, panutan dan teladan mereka; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Redaksi ayat di atas sangat jelas. Bahwa Rasulullah saw adalah sebaik-baik model bagi ‘kalian’. Bukan hanya dalam konteks perang Ahzab, namun dalam seluruh lingkup kehidupan.
Semua karakteristik Nabi saw. nan luhur, kesabaran dan konsistensinya, keteguhannya, kecerdasan dan ilmu pengetahuannya, keikhlasan dan orientasinya menuju Allah swt, penguasaan dan pengendaliannya atas pelbagai peristiwa, seluruhnya adalah teladan yang dapat dicontoh oleh kaum muslimin. Sang Pemimpin Agung ini tak membiarkan kelemahan dan ketergesa-gesaan menghinggapi dirinya, kala periuk kehidupannya diterpa badai ataupun didebur ombak. Ia adalah seorang nahkoda kapal sekaligus sauhnya nan tenang lagi kokoh. Ia adalah pelita hidayah dan tempat melabuhkan ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan jiwa. Ia adalah pemimpin yang memegang cangkul dengan tangannya yang suci, untuk menggali parit bersama kaum mukmin. Tangan kokohnya lincah menggunakan sekop dan memindahkan debu galian. Ia bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya untuk menjaga spirit mereka, dan demi meringankan beban yang menggelayuti mereka. Ia adalah pemimpin yang pandai mengalunkan syair kepahlawanan untuk menguatkan jejiwa bawahannya. Ia adalah panglima yang seantiasa mengarahkan serdadunya untuk senantiasa mengingat Allah swt, serta senantiasa memberikan kabar gembira dengan capaian-capaian masa depan. Ia adalah pemimpin yang menancapkan kesadaran dan kesiapsiagaan yang konstan ke relung hati pasukannya. Iya, pada dirinya terdapat puncak keteladanan bagi kaum beriman. Bukan hanya di medan perang Ahzab, namun dalam seluruh aspek kehidupan.
Uswah semakna dengan kata qudwah, yang berarti contoh, model atau teladan. Secara definisi, uswah adalah ‘kondisi’ yang digunakan sebagai tolok ukur oleh seseorang kala mengikuti orang lain. Redaksi lain menyebutkan, uswah berarti menjadikan ‘seseorang’ sebagai pelipur lara dan model keteladanan. Berdasarkan ini, kata uswah memiliki makna infinitif, bukan sifat. Jadi, pemahaman redaksi; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu,” adalah bahwa di dalam diri Nabi saw terdapat pelipur lara dan keteladanan yang sangat baik bagi kalian. Kalian mampu meneladani dan mengikutinya guna membaikkan seluruh aspek kehidupan, serta berjalan di atas titian shirat al-mustaqim (jalan nan lurus).
Menariknya, di dalam redaksi ayat di atas diikuti dengan kriteria-kriteria khusus, tiga karakteristik;
1. Percaya kepada Allah swt,
2. Beriman kepada ma’ad, serta
3. Senantiasa mengingat Allah swt.
Inilah orang-orang yang dapat meneladani Sang Uswah. Karena sesungguhnya keimanan terhadap mabda’ wal ma’ad adalah sebab motorik yang menggerakkan jiwa, dan senantiasa mengingat Allah swt adalah faktor yang menjaga kontinuitasnya. Sebab tak diragukan lagi, bahwa siapapun tidak memenuhi relung hatinya dengan keimanan seperti ini, ia tidak akan mampu mengikuti jejak Nabi saw. Dan siapapun yang tidak melanggengkan serta senantiasa mencerahkan hatinya dengan dzikrullah di tengah ‘perjalanan’ ini, niscaya ia tidak akan mampu melestarikan peneladanannya.
Ayat Kedua dan ketiga, Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang- orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya:” Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”
” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang- orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia- lah Yang Maha Kaya lagi terpuji.” (QS.al-Mumtahanah[60]:04-06)
Umumnya, metodologi al-Quran dalam menguatkan ajarannya nan berharga adalah dengan menampilkan based on story tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan. Tiga ayat pada surat al-Mumtahanah di atas adalah contohnya. Ia diturunkan setelah doktrin ‘keberlepasdirian dari prilaku musuh-musuh Allah’, kemudian Allah swt mengajak kita untuk merunut kisah Nabi Ibrahim as, dengan firman-Nya; “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang- orang yang bersama dengan dia..”
Kisah kehidupan Nabi Ibrahim as, salah seorang nabi besar, menginspirasi kita dengan banyak pelajaran penting; kehambaan kepada Allah swt, ketaatan, jihad dan kecintaan kepada-Nya. Pengulangan dua kata ‘uswah’ pada surat al-Mumtahanah di atas dapat dipahami, bahwa keteladanan Ibrahim adalah dalam ketegasannya menentukan wala’ wal bara’ (kesetiaan dan keberlepasdirian), dan keteladanan tersebut bagi orang-orang yang berharap pahala dari Allah swt dan kesudahan yang baik di hari Kiamat.
Dari tiga ayat yang menurunkan kata uswah, dapat disimpulkan, bahwa objek uswah adalah Nabi Muhammad saw dan ‘bapak Tauhid’, Ibrahim as. Adapun orang-orang yang dapat menjadikannya sebagai uswah hanyalah orang-orang khusus, dengan tiga kriteria sebagaimana disebutkan.
Melejitkan Potensi Diri Dengan Sejarah
Hukum kausalitas meniscayakan adanya action dalam peneladanan, maka terdapat beberapa hal yang saling berkelindan, serta merupakan runutan Motivasi Qurani, yaitu Output Qurani.
Itulah bagian berikutnya dari alur kesejarahan. Setelah membangun wawasan historis dengan pondasi motivasi Qurani yang kokoh, pada gilirannya seorang muslim harus mengadaptasikannya dalam dunia nyata. Karena sejarah selalu berulang. Hanya beda tokoh dan latarnya.
Dalam sebuah adagium disebutkan, “Laqad gharasu hatta akalna, wa inna lanaghrisu li ya’kulannas ba’dana. Mereka (para pendahulu) telah menanam, sehingga kita bisa makan. Kita pun akan menanam untuk orang-orang sesudah kita.”
Nabi Muhammad saw telah menorehkan tinta emasnya. Beliau telah dinobatkan sebagai pelaku sejarah terbaik. Darinya kita akan mencuplik, mengadaptasi, melakukan aksi dan meneladani. Maka, sebelum berjalan bersama Kafilah Muhammad, kita harus menguatkan tekad dan mencukupkan bekal, khususnya tiga prasyarat utama; Iman kepada Mabda’ wal Ma’ad dan melazimkan dzikrullah;
Karena perjalanan ini tidak untuk kembali.
Karena medan juang ini beronak duri.
Karena duka nestapa di zona ini tiada terperi.
Karena suka cita di altar ini dinikmati nanti, bukan kini.
“Duhai Tuhan yang memiliki hati, jagalah hati kami! Mampukan kami dalam meniti di Jalan Cinta Sang Nabi!”
Amin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed