by

AYAT-AYAT KEAGUNGAN NABI

Nabi Muhammad, Rasulullah
Nabi Muhammad SAW.

 

Ayat Kebersamaan Nabi dengan Allah

 “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan Anda dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”[1] (QS.al-Dhuha[93]:1-4).
Lima belas hari lamanya, Rasulullah saw menunggu hadirnya wahyu. Namun, tiada satupun ayat yang turun kepadanya. Orang-orang musyrik mulai berdesas-desus: Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya, dan ia telah dibenci oleh-Nya!” Para sahabatnya juga gelisah. Dan mereka bertanya-tanya: Mengapakah tidak turun wahyu kepadamu, ya Rasulullah?” Kemudian, turunlah ayat di atas (al-Dhuha:1-4). Saat itu, terjadilah dialog antara beliau saw dengan Jibril as. Beliau saw berkata: Mengapakah engkau tidak datang, sehingga Aku merindukanmu!”  Jibril menjawab: Dan sungguh, Aku lebih merindukanmu, (Wahai Muhammad!) akan tetapi aku hanyalah seorang hamba yang diperintah. Tidaklah aku turun, melainkan atas perintah Tuhanmu.” [2]
 

Ayatpenegasan

Nabi Idola

 Dan(ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya Anda akan sungguh- sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman:” Apakah Anda mengakui dan menerima perjanjian- Ku terhadap yang demikian itu” Mereka menjawab:” Kami mengakui”. Allah berfirman:” Kalau begitu saksikanlah( hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama Anda”. (QS.Ali Imran[03]:81).
 
 

SepenggalBukti

dari Isra’ Mi’raj

  وَ سْئَلْ مَنْ أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنا أَ جَعَلْنا مِنْ دُونِ الرَّحْمنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ
Dan tanyakanlah kepada rasul- rasul Kami yang telah Kami utus sebelum Anda: “Adakah Kami menentukan tuhan- tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah”.(QS.al-Zukhruf[43]:45).
Fragmentasi ayat ini, memerintahkan agar Nabi saw bertanya kepada nabi-nabi sebelumnya. Sementara, ketika masa hidup beliau, sudah tidak ada nabi lagi.  Bukankah antara beliau saw dengan Isa as saja terpaut 500 tahun? Lalu dimana ‘aplikasi’ pertanyaan ini? Para mufassir—baik Ahlussunnah maupun Syi’ah—bersepakat, bahwa fenomena ayat ini, yaitu ‘pertanyaan sang Rasul’ kepada nabi-nabi sebelumnya adalah ketika beliau saw melaksanakan Mi’raj. Berikut ini saya kutip sebuah redaksi, mewakili pemaparan-pemaparan otentik lainnya. Yaitu, riwayat Imam al-Baqir as (cucunda Rasulillah saw):
“Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang diperlihatkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw ketika Isra’ Mi’raj adalah, ketika dikumpulakannya seluruh nabi-nabi dan utusan—dari generasi pertama hingga terakhir. Kemudian Jibril as diperintahkan untuk mengumandangkan adzan.
Lalu, Rasulullah saw menjadi imam bagi mereka. Dan ketika usai, beliau saw diperintahkan bertanya; Tanyakanlah Muhammad kepada siapapun, utusan kami sebelummu; Adakah kami menjadikan selain Dzat yang Maharahman sebagai Tuhan?”
Kemudian, Rasulullah saw bersabda: Apa yang kalian saksikan, dan apa yang kalian sembah?”
Mereka berkata:Kami bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan bahwasanya engkau adalah utusan-Nya. Demikianlah Kami telah diambil sumpah.”[3]
 
 
KisahNabi
di Sidrat al-Muntaha
 
Konon, dalam mi’raj Rasulullah saw, setelah sampai di Sidrat al-Muntaha, dan tiada lagi segala hijab, Jibril as tertinggal jauh di belakang.
Beliau saw berkata kepadanya; “Wahai Jibril, mengapa engkau menelentarkanku di sini?”
Jibril menukas; Majulah ke depan, sesungguhnya Engkau telah sampai ke puncak yang tiada siapapun di antara makhluk Allah swt sebelummu, yang pernah mencapainya.[4] Dan seandainya aku mendekat walau seujung jemari saja, niscaya aku akan terbakar.”[5]
 
 
 
[1]             Footnote 1582, Terjemah al-Qur’an Departemen Agama: Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.
 
[2]             Al-Thabarsi, Tafsir Majma’ al-Bayan, jil.10, hal.339; Nur al-Tsaqalain, jil.05, hal.594; al-Syirazi, Tafsir al-Amtsal, jil.20, hal.273; al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, jil.08, hal.454; Tafsir al-Thabari, jil.18, hal.223.
 
[3]             Tafsir Nur al-Tsaqalain, jil.03, hal.132; al-Qummi, jil.01, hal.232-233; Al-Kasyani, Tafsir al-Shafi, jil.04, hal.393; Bihar al-Anwar, jil.10, hal.162; al-Thabarsi, al-Ihtijaj, jil.02, hal.60; Hal ini juga dimuat di dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur (Tafsir QS. Az-Zukhruf:45). As-Suyuthi mengutip pendapat Ibnu Jarir dari jalur periwayatan Ibnu Zaid.
 
[4]    Al-Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, jil.05, hal.155.
 
[5]    Al-Thabathaba›i, Tafsir al-Mizan,  jil.13, hal.09
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed