by

Antara Tuhan & Kebebasan Manusia

image
Kisah Abu Hanifah dan Imam Musa Al-Kazhim as kecil.
Suatu hari, kala Imam Ketujuh dalam Syiah Imamiyyah, Imam Musa Al-Kazhim yang saat itu masih berusia 5 tahun,
Salah seorang murid ayahnya yang bernama Abu Hanifah datang berkunjung untuk bertanya beberapa masalah kepada ayah Imam Musa Al-Kazim as.
Imam Keenam kita, ayah Imam Musa al-Kazim as,
Imam Ja’far as-Shadiq as sedang sibuk bersama dengan tamunya yang lain dan Abu Hanifah menunggu untuk beberapa waktu.
Lalu, ia melihat Imam Musa Al-Kazhim as sedang bermain dengan seekor binatang.
Ia berkata kepada binatang tersebut,
“Bersujudlah kepada Allah yang telah menciptakanmu.”
Abu Hanifah bertanya-tanya,
Apakah si bocah belia ini akan menjadi Imam selanjutnya..?
Ia memutuskan untuk bertanya kepada Imam Musa Al-Kazhim as beberapa pertanyaan.
Abu Hanifah berkata kepada
Sang Imam belia
(Imam Musa Al-Kazhim as),
“Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?”
Lalu Imam Musa Al-Kazhim berdiri dan dengan mantap berkata kepada Abu Hanifah,
“Silahkan ajukan pertanyaan apa pun yang engkau sukai.”
Kemudian Abu Hanifah mengajukan sebuah pertanyaan yang telah membuat Abu Hanifah merasa kebingungan. Ia bertanya,
“Apakah seluruh perbuatan manusia terlaksana dari kebebasannya atau berada dalam kendali Tuhan dan membuatnya melakukan hal itu (terpaksa)?”
Imam Musa Al-Kazhim menjawab bahwa ada tiga kemungkinan di balik pertanyaan Abu Hanifah itu:
1). Allah Swt memaksanya untuk melakukan sebuah perbuatan.
2). Antara Allah Swt dan manusia bertanggung jawab atas perbuatan itu.
3). Manusia melakukannya sendiri, dalam rangkuman kebebasannya.
Imam Musa al-Kazim as menjelaskan:
Apabila kemungkinan atau anggapan pertama benar,
Maka manusia tidak seyogyanya diadili pada Hari Hisab dan dikirim ke surga atau neraka,
Lantaran ia tidak pantas mendapatkan hal itu.
Manusia tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Anggapan ini tidaklah demikian adanya (tidak masuk akal).
Apabila kemungkinan dan anggapan kedua benar bahwa antara Allah Swt dan manusia keduanya harus diadili pada Hari Hisab.
Anggapan ini juga tentu saja tidak masuk akal.
Kemudian, tersisa kemungkinan dan anggapan yang ketiga dan menjadi anggapan satu-satunya yang tersisa.
Anggapan yang benar adalah anggapan yang ketiga,
Lantaran manusia telah diberikan kebebasan setelah menerima bimbingan dan tuntunan tentang apa yang baik dan apa yang buruk.
Abu Hanifah berujar bahwa alangkah luar biasanya rumah tangga seperti ini.
Bahkan bocah kecil sekalipun dapat menjawab dan memberikan kepuasan atas kumpulan beberapa pertanyaan.
Ia berkata bahwa tidak perlu lagi ia bertemu dengan Imam Keenam, Imam Ja’far As-Shadiq as, dan ia kembali ke rumahnya setelah mendapatkan jawaban dari Imam Musa Al-Kazhim as.
Sumber : @tafsirhikmah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed