by

Imam Muhammad Al-Jawad, Teladan Kedermawanan Sejati

image
“Merencanakan dengan bijak dan berpikir sebelum bertindak akan membuat kalian terhindar dari penyesalan”. – Imam Al – Jawad as.
Hari-hari bulan Rajab, satu per satu terlewati. Bulan Rajab yang penuh berkah merupakan bulan mulia yang dianugrahkan Allah kepada hambanya. Bulan ini merupakan salah satu moment terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Bulan Rajab juga dihiasi dengan pelbagai peristiwa bersejarah penting yang erat kaitannya dengan Ahlul Bait Nabi as.
Dengan mempelajari kembali sejarah Islam, peran konstruktif Ahlul Bait as dalam memperkaya pemikiran Islam tampak begitu jelas. Ahlul Bait merupakan khazanah ilmu dan makrifat ilahi. Mereka adalah pasangan tak terpisahkan Al-Quran. Merekalah penafsir hakiki Al-Quran yang menjaga Al-Quran dan sunnah nabi dari berbagai penyimpangan dan bid’ah. Tiap kali kesucian agama terancam, Ahlul Bait as merupakan pihak pertama yang senantiasa bangkit mematahkan ancaman yang ada.
Tanggal 10 Rajab, merupakan hari kelahiran salah seorang tokoh utama Ahlul Bait as. Pada tanggal ini 195 H, Imam Muhammad Taqi Al-Jawad lahir di kota Madinah.
Setelah bertahun-tahun menanti, Imam Ridho as akhirnya dianugrahi seorang putra saat beliau berusia 47 tahun. Beliau memberi nama putranya itu “Al-Jawad”, yang berarti seorang yang sangat dermawan. Perjalanan hidup Imam Jawad as penuh dengan pasang-surut. Belum genap 5 tahun, ayah Imam Jawad as, Imam Ridho as dipaksa oleh Khalifah Abbasiyah, Ma’mun meninggalkan Madinah dan hijrah ke Khurasan.
Setelah Imam Ridho gugur syahid, tampuk keimamahan berada di pundak Imam Jawad yang saat itu masih anak-anak. Peristiwa itu mengingatkan kita pada pengangkatan Isa as sebagai nabi saat usianya masih anak-anak atau pun nabi Yahya as yang diangkat sebagai nabi saat ia masih remaja.
Peristiwa itu merupakan juga bukti kebesaran Allah swt. Dengan izin-Nya, Allah swt bisa mengaruniakan kesempurnaan dan kematangan akal pada sebagian hambanya meskipun dalam usia yang masih kecil. Ali bin Asbath menuturkan, “Suatu hari aku melihat Imam Jawad as.
Dengan cermat, aku menatap sekujur tubuhnya, sehingga aku nanti bisa menceritakan sifat-sifat beliau kepada para pecintanya di Mesir. Dalam hatiku aku berpikir, bagaimana mungkin seorang yang masih berusia sangat muda, mampu menjawab soalan ilmiah dan agama yang paling sulit dan pelik serta menjadi jalan keluar pemikiran. Pada saat semacam itulah, Imam datang menghampiriku dan ia memahami apa yang terbersit di benakku saat itu. Beliau berkata: Wahai Ali bin Asbath, Tuhan membawa bukti atas keimamahan para aimmah.
Sebagaimana ia membawa bukti atas kenabian para anbiya. Kemudian beliau membacakan ayat 12 surat Mariam yang mengungkapkan keberadaan hikmat dan nubuwah Nabi Yahya di masa anak-anaknya. Ia pun berkata, Mungkin saja Tuhan memberikan hikmah kepada seoarang anak. Sebagaimana tidak mustahil juga ia memberikannya pada seseorang yang berusia 40 tahun.”
Keistimewaan ilmu yang dimiliki Imam Jawad juga membuat takjub para tokoh agama non-muslim. Ketika mereka menyaksikan secara langsung kehebatan ilmu dan hikmah Imam Jawad as, mereka pun mengakui bahwa keistimewaan yang dimiliki Imam Jawad as itu merupakan anugrah ilahi.
Latar Belakang Sosial-Politik
Imam Jawad as hidup dalam suasana politik yang sangat sulit. Ia hidup sejaman dengan dua khalifah Abbasiyah, Ma’mun dan Mu’tasim. Para pemimpin dinasti Abbasiyah begitu ketakutan dengan hubungan dekat umat yang begitu dekat dengan Imam Jawad as. Sebagaimana para tokoh Ahlul Bait lainnya, Imam Jawad as juga senantiasa menentang kezaliman dan tipu daya khalifah Abbasiyah.
Ia bahkan berani mengungkapkan hakikat kebenaran dalam kondisi sesulit apapun. Terkait masalah para pemimpin yang zalim, Imam Jawad as berkata, “Para penzalim, penolong orang yang zalim, dan mereka yang rela menerima kezaliman, mereka semua sama-sama bersekutu dalam dosa yang sama”.
Sambutan luas masyarakat terhadap Imam Jawad dan hubungan dekat beliau dengan para ilmuan dan ulama di masa itu, membuat Ma’mun menarapkan kebijakan politik yang sangat licik dan penuh tipu muslihat. Karena itu, Imam Jawad pun akhirnya diasingkan ke kota Baghdad, pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah di masa itu. Namun hal itu tak juga membuat kecintaan umat pada beliau makin surut. Tapi sebaliknya, pengaruh spiritual Imam Jawad makin tersebar luas ke pelbagai penjuru negeri-negeri muslim.
Teladan Kedermawanan
Imam Jawad as dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Bahkan sebelum seseorang mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya, beliau telah terlebih dahulu mengabulkan permintaan orang tersebut. Tak ada seorang pun yang merasa putus asa dan pulang dengan tangan kosong, jika mereka mendatangi Imam Jawad untuk meminta bantuan. Sebegitu dekatnya hubungan Imam Jawad as dengan masyarakat, sampai-sampai siapapun yang memiliki persoalan pribadi ataupun keluarga, mereka pun datang langsung kepada beliau menyampaikan persoalannya dan meminta arahan. Dalam kesaksiannya, Bakar bin Saleh menuturkan,
“Aku menulis sebuah surat kepada Imam Jawad as. Aku menceritakan padanya bahwa ayahku bukanlah seorang muslim. Ia juga seorang yang sangat keras dan otoriter. Sikapnya pada ku sebagai pengikut Ahlul Bait as juga sangat keras. Berdoalah untukku Imam dan apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus bersikap lunak dengan ayahku ataukah aku harus meninggalkannya?”
Dalam jawaban suratnya, Imam menulis, “Aku mengerti maksud suratmu tentang ayahmu. Aku juga selalu berdoa untukmu. Ketahuilah bahwa bersikap lunak itu lebih baik. Dalam kesulitan juga ada kemudahan. Bersabarlah, karena akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa. Insyaallah, Tuhan akan selalu meneguhkan langkahmu”. Bakar bin Saleh menambahkan, “Setelah itu, berkat doa Imam Jawad as, Allah swt mengubah hati ayahku menjadi sangat penyayang. Sampai-sampai ia tak pernah menentang apa yang kulakukan”.
Menjauh dari orang-orang yang tidak beriman dan menghindari kawan yang tidak baik selalu ditekankan berulang-ulang oleh Imam Jawad as, hingga beliau mengibaratkan hal itu seperti menghindar dari ketajaman pedang. Beliau berkata, “Jauhilah berteman dengan orang-orang yang buruk. Sungguh mereka itu laksana pedang yang tajam. Lahirnya tampak baik namun tindakannya bisa berakibat buruk”. Dalam ucapannya yang lain, Imam Jawad melarang pengikutnya untuk duduk bersama dengan orang-orang yang jahat. Sebab hal itu bisa memunculkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang baik. Beliau menuturkan, “Berkumpul bersama orang-orang yang jahat dan berprilaku buruk, bisa menimbulkan prasangka negatif terhadap orang-orang yang baik”.
Dalam masa hayatnya sepanjang 25 tahun, Imam Jawad as selalu membaktikan umurnya untuk mengembangkan budaya dan pemikiran Islam sesuai dengan tuntutan zaman di masa itu. Karena itu, hingga kini karya-karya beliau masih bertahan hingga sekarang. Sekitar 100 ilmuwan dan perawi besar telah menulis beragam buku dan risalah yang bersumber dari hadis-hadis dan ucapan yang mereka nukil dari Imam Jawad.
Sebelum kami akhir perjumpaan kita dalam acara perspektif kali ini, ada baiknya bila kita simak salah satu pesan Imam Jawad as. Beliau berkata, “Merencanakan dengan bijak dan berpikir sebelum bertindak akan membuat kalian terhindar dari penyesalan”.
 
Sumber : alhassanain.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed