by

KAJIAN AKHLAK ISLAMI (Bag. 2)

image
Tanda-tanda Akhlak yang Baik
Di antara tanda-tanda akhlak yg baik adalah memberikan senyum ketika bertemu, berksta-kata perkataan yang lembut, dan bergaul dengan pergaulan yang baik.
Setiap orang yang berakal dan memiliki hati harus mendidik dirinya dengan kemuliaan-kemuliaan akhlak, karena kebahagiaan itu hanya bisa diperoleh dengan akhlak yang baik.
Suatu ketika Rasulullah saaw bersabda kepada Imam Ali as: “Maukah engkau kuberitahu siapa orang yang paling menyerupaiku akhlaknya?”, Imam Ali menjawab: “Iya Rasululllah”, Rasulullah saaw bersabda: “Dialah orang yang paling baik akhlaknya, paling besar rasa malunya, paling berbakti kepada kerabat (keluarga)nya, dan orang yang paling adil bahkan terhadap dirinya sendiri”. (al-Bihar, jld. 73, hal. 58)
Ahlul Bait as dan Akhlak
Ahlul Bait as benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu para Nabi as. Nabi yang paling terakhir dari para Nabi as itu adalah Rasulullah saaw, dimana Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang dirinya,  “Sesungguhnya engkau berbudi pekerti yang agung”. (Q. S. al-Qalam: 4). Orang-orang telah menyaksikan dan mendengar tentang akhlak Ahlul Bait as, yang mana akhlak Ahlul Bait as mengingatkan mereka akan akhlak Rasulullah saaw. Insyaallah kami akan menyebutkan sebagian kecil dari akhlak-akhlak, ilmu-ilmu, serta keutamaan-keutamaan Ahlul Bait as supaya menjadi pengajaran dan bimbingan bagi orang-orang di setiap aspek kehidupan mereka.
Pensucian diri (Tazkiyatunnafs)
Sesungguhnya diri dan jiwa (nafs) manusia membutuhkan pendidikan, gemblengan, dorongan, dan peringatan. Allah swt berfirman: …. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan…. (Q. S. Yūsuf: 53). Dan Allah swt juga berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. Asy-Syams: 7-10). Pensucian jiwa dapat dilakukan dengan cara taat dan patuh kepada Allah swt. Dan pengotoran jiwa itu dapat terjadi karena maksiat dan dosa.
Di dalam suatu riwayat dikatakan, bahwa ketika kembali dari salah satu peperangan, Rasulullah saaw bersabda: “Kita telah kembali dari jihad kecil, dan akan menuju jihad yang besar, yaitu jihadunnafs (jihad melawan hawa nafsu)”. (Bihar al-Anwar, jld. 67. Hal. 71, hadis ke-21).
Setiap orang mampu memperbaiki dirinya dan menggembleng akhlaknya. Akhlak bisa berubah menjadi akhlak yang baik dan yang utama. Kalau bukan karena hal itu, para Nabi as, para wali dan orang-orang bijak tidak akan berjihad menyeru manusia kepada kemuliaan-kemuliaan akhlak. Orang yang berakal sudah sepatutnya menggapai keutamaan-keutamaan dengan berusaha berpuas diri (qana’ah), malu, sabar, bermurah hati, memaafkan,  penuh kasih sayang, rendah hati, dll. Ia juga harus menjauhi dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela. Seperti sombong, cepat emosi, kikir, ghibah, berdusta, pengecut, gosip, dll.
Dan manusia harus berhati-hati terhadap dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya yang berkaitan dengan syahwat dan hal-hal yang haram, serta ia harus selalu mengingat Sang Pemberi Nikmat Yang Maha Agung. Manusia akan mampu mendekati-Nya jika ia menjauhi hal-hal yang diharamkan dan berjalan di jalan ketaatan dan istiqomah.
— Bersambung —
Ditulis oleh : R. Zulfahmi Khan
Referensi:
1. Al-Quran al-Karim,
2. Kitab al-Akhlaq wa al-Adaab al-Islamiyyah, Abdullah al-Hasyimi, cet-1, Dar al-Amin, Beirut, Lebanon.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed