by

Pandangan Ulama dan Sejarahwan Tentang Imam Ali Zainal Abidin as

“Sesungguhnya Ali bin Husain as adalah orang Madinah yang paling fakih.” (Imam Syafi’i tentang Imam Ali Zainal Abidin as)

Pandangan ulama dan sejarahwan tentang Imam Ali Zainal Abidin as

1. Al-Ya’qubi mengatakan, “Dia adalah orang yang utama dan paling kuat ibadahnya. Orang-orang menyebutnya sebagai Zainul Abidin (perhiasan para ahli ibadah). Ia juga dinamai sebagai Dzu ats-Tsafanat karena pada wajahnya terdapat bekas yang mengeras yang menunjukkan tanda seorang yang banyak bersujud….”

2. Al-Hafizh Abul Qasim Ali bin Hasan asy-Syafi’i menulis biografi tentang Imam Zainal Abidin as. Di dalamnya ia menyatakan, “Ali bin Husain as adalah seorang yang terpercaya dan terjamin keamanahannya. Ia juga seorang yang memiliki banyak koleksi hadis sekaligus seorang yang agung dan luhur.

3. Dzahabi berkata, “Dia adalah seorang yang mempunyai kebesaran yang menakjubkan. Dan demi Allah itu memang layak untuknya. Ia pantas untuk mengemban kedudukan
ayahnya baik dalam soal keilmuan maupun amal perbuatan.”

Ia juga berkata, “Para fukaha semuanya telah meriwayatkan ilmu-ilmu yang tak terhitung banyaknya (dari beliau as). Dari beliau telah direkam banyak sekali nasehat-nasehat, doa-doa, keutamaan-keutamaan al-Quran, hukum halal dan haram, juga tentang makna-makna kandungan [ajaran agama] serta [hal-hal yang berkaitan clengan masalah] sehari-hari. Hal tersebut sudah sangat masyhur di kalangan ulama.”

10. Ibnu Taimiah mengatakan, “Ali bin Husain as adalah salah seorang pembesar dan tokoh terkemuka di kalangan tabi’in, baik dari sisi ilmu maupun agama. Beliau mempunyai kekhusyukan dan bersedekah secara sembunyi-sembunyi serta keutamaan lainnya yang sudah banyak diketahui.

11. Syaikhani Al-Farisi mengatakan, “Junjungan kita Zainal Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib as adalah seorang yang telah dikenal kebaikan-kebaikan dan kemuliaan-kemuliaannya. Kebaikan-kebaikannya beterbangan di angkasa kedermawanan. la seorang yang tinggi kemuliaannya, sangat terbuka [bagi para peminta] dan berlapang dada. Ia mempunyai kekeramatan-kekeramatan yang disaksikan langsung oleh orang-orang serta dikukuhkan oleh riwayat-riwayat mutawatir.

11. Muhammad bin Thalhah al-Qarasyi asy-Syafi’i mengatakan, “Inilah perhiasan para ahli ibadah, teladan orang-orang yang zuhud, penghulu orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin kaum mukmin. Perilakunya menjadi saksi bahwa ia adalah seorang keturunan Rasulullah saw. Tanda yang melekat padanya menunjukkan makam kedekatannya kepada Allah Swt. Kulit yang menghitam dan mengeras [di badannya] mempakan rekaman atas banyaknya salat dan tahajjud yang dilakukannya.

Keberpalingannya dari kesenangan dunia telah menegaskan kezuhudan (ketakberhasratannya) pada dunia. Perilaku takwa berlimpah tuah dari dalam dirinya sehingga iapun tak tertandingi dalam hal tersebut. Memancar kepadanya sinar-sinar pengukuhan dari [Sang Sumber Cahaya Swt] sehingga dengannya ia beroleh petunjuk. Senandung wirid-wirid dalam beribadah melunakkan dirinya sehingga ia menjadi tentram bersamanya. Tugas-tugas ketaatan senantiasa bersama dirinya sehingga ia menjadi hiasannya. Ketika malam telah menghamparkan selimutnya iapun memulai menempuh jalan akhirat. Hausnya di siang hari merupakan ‘dalil’ yang melaluinya ia mencari petunjuk dalam menempuh perjalanan yang ‘jauh’.

Ia mempunyai sejumlah kekeramatan dan kemampuan adi insani yang disaksikan langsung oleh mata yang melihatnya dan dikukuhkan oleh riwayat-riwayat mutawatir. Semua itu menjadi saksi bahwa ia termasuk ‘raja’ alam akhirat.

13. Imam Syafi’i berkata tentang beliau, “Sesungguhnya Ali bin Husain as adalah orang Madinah yang paling fakih.”

14. Al-Jahizh menyatakan, “Adapun Ali bin Husain, maka ketahuilah bahwa sekaitan dengan diri beliau aku tidak melihat seorang Khariji (pengikut Khawarij) melainkan kulihat ia seperti seorang Syi’ah. Dan aku tidak melihat seorang Syi’ah melainkan ku lihat ia seperti seorang Mu’tazilah. Dan aku tidak melihat seorang Mu’tazilah melainkan ia seperti seoarang yang awam (ammi). Dan aku tidak melihat seorang yang awam melainkan ia seperti seorang dari kalan
gan khusus (khawashsh).

Tak ku dapati seorangpun yang berselisih tentang keutamaan-keutamaannya atau meragukan keterdahuluannya [dalam nilai-nilai kebajikan].

15. Sibth Ibnu Jauzi mengungkapkan, “Beliau adalah bapak para Imam. Gelarnya adalah Abul Hasan. Ia digelari sebagai Zain al-Abidin (perhiasan orang-orang yang ahli ibadah). Rasulullah saw menamainya Sayyidul Abidin (penghulu para ahli ibadah), Sajjad (orang yang banyak bersujud), Dzu ats-tsafanat (Tsafan adalah sesuatu bagian anggota tubuh unta yang mengeras dan biasa terjatuh ke tanah akibat banyak mendekam seperti bagian lutut. [barat ini digunakan karena begitu senangnya Imam Sajjad bersujud, sehingga daging dari anggota tubuh untuk bersujud menjadi mengeras), az-Zaki (orang yang suci) dan al-Amin (orang yang dapat dipercaya).

Seringnya beliau melakukan sujud yang panjang memberikan bekas yang mengeras pada anggota badan untuk bersujud yang ada pada beliau.”

Sumber : Buku “Teladan Abadi Imam Ali Zainal Abidin as”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed