by

"Ramadan" Salah Satu Nama Allah?

“Dia dinamai Ramadan hanya karena membakar dosa.”
– Rasulullah saw –
Kata “Ramadan” berasal dari kata ramadha yang artinya hujan yang turun di awal musim kemarau, yang membersihkan udara dari kepulan debu serta menyucikan kotoran-kotorannya. Atau juga bisa bermakna, melunaknya batu lantaran diterpa terik panas matahari yang ekstrem.
Terkait alasan pemberian nama ini, Zamakhsyari (w. 568 H) berkomentar, “Jika Anda bertanya, ‘Mengapa dinamai bulan Ramadan?’ Saya akan menjawab, ‘Puasa adalah ritual [yang dipraktikkan] sejak dulu. Tampaknya mereka menamakannya dengan itu dikarenakan dahsyatnya tekanan rasa lapar dan kesabaran ekstra di dalamnya, sebagaimana mereka juga menamakannya dengan nathiqan; karena menyiksa mereka. Ada juga yang mengatakan, ketika ingin memberi nama bulan-bulan dari bahasa-bahasa kuno, mereka (orang-orang Arab) memberi nama sesuai dengan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Bulan Ramadan dinamai demikian karena pada bulan ini, terdapat hari-hari yang panas membakar.
Kemudian, beberapa riwayat menjelaskan alasan-alasan penamaannya berdasarkan peran yang diemban, berupa penyucian jiwa manusia dari berbagai kotoran dosa, pemurnian jiwa dari berbagai debu kesalahan. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda, “Dia dinamai Ramadan hanya karena membakar dosa.”
Pengungkapan alasan ini, di satu sisi, tetap bersandar pada asal usul kata Ramadan, dan di sisi lain berkaitan dengan berkah-berkah, karunia-karunia, serta pengaruh-pengaruh bulan ini.
Apakah Ramadan Salah Satu Nama Allah?
Secara tegas, beberapa nas riwayat dari dua jalur (Sunni dan Syi‘ah) mengatakan bahwasanya Ramadan merupakan salah satu nama dari Allah Swt. Karena alasan inilah, berlaku larangan untuk memberikan nama mandiri tanpa dibarengi penambahan bulan kepadanya. Dengan demikian, setiap orang dilarang mengatakan ini Ramadan atau telah datang Ramadan, atau telah berlalu Ramadan, atau aku berpuasa Ramadan. Siapa yang mengatakan demikian, maka dia harus bersedekah dan berpuasa kafarat.
Meski demikian, riwayat-riwayat tersebut memicu berbagai keberatan karena sanad (mata rantai periwayatan) dan matanya (teks) riwayat-riwayat itu cacat, sebagaimana dapat dipertimbangkan dari beberapa aspek berikut:
1. Dalam masalah ini, tidak terdapat riwayat yang sanadnya muktabar.
2. Ketika dilakukan analisis mengenai hadis-hadis yang berkaitan dengan nama-nama Allah Swt, tidak ditemukan nama ini.
3. Dalam sejumlah besar riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw dan dari Ahlulbait as, istilah Ramadan tidak disandangkan dengan kata bulan. Kecil kemungkinan para perawi riwayat-riwayat tersebut menghilangkan seluruh kata bulan dari riwayat-riwayat ini.
Nama-nama Bulan Ramadan
Hadis-hadis Islam menggambarkan bulan Ramadan dengan nama-nama dan sifat-sifat yang bermacam-macam. Semua nama itu menunjuk pada keagungan bulan Ramadan serta menceritakan peran positif yang mendalam dan paling aktual yang dikandungnya dalam melambungkan derajat dan keagungan manusia, sekaligus perwujudan kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Di antara nama-nama dan sifat-sifat itu adalah:
Bulan Allah, Bulan Allah yang agung, Bulan Jamuan Allah, Bulan Turunnya al-Quran, Bulan tilawatul Qur’an, Bulan Puasa, Bulan Islam, Bulan Suci, Bulan Ujian,“ Bulan Salat Malam,” Bulan Tanggung Jawab, Bulan Kesabaran, Bulan Pelipur Lara, Bulan Beirkah, Bulan Pengampunan, Bulan Kasih sayang, Bulan Tobat, Bulan Pengangkatan, Bulan Memohon Ampunan, Bulan ‘Doa,” Bulan Ibadah, Bulan Ketaatan, Bulan Yang diberkahi, Bulan Agulrig, Bulan saat Allah Menambahkan Rezeki Kaum Mukmin, Penghulu Bulan, Hari Raya Para Wali Allah. Musim Semi al-Quran, Musim Semi Kaum Fakir, Musim Semi Orang-orang Mukmin,” Arena Pertandingan dan Yang Diberi Rezeki.”
Sumber : Muhammad Ray Syahri, “Kado Dari Langit : Menghampiri Mihrab Ramadhan”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed