by

Tauhid: Bukan Konsep Bilangan, Tapi Konsep Ontologis

Ciri lain tauhid sebagaimana terkandung dalam Nahj al-Balaghah adalah bahwa Keesaan Tuhan bukanlah konsep numerik, tetapi sesuatu yang lain. Kesatuan numerik berarti kesatuan sesuatu yang punya kementakan (possibility) pengulangan. Senantiasa mungkin saja membayangkan bahwa kuiditas dan bentuk suatu maujud bisa diketahui dalam wujud individu lain.
Dalam kasus seperti itu, kesatuan suatu individu yang memiliki kuiditas tersebut merupakan suatu kesatuan numerik dan berdiri berlawanan dengan duplisitas atau multiplisitas. ‘Itu satu’ berarti tidak ada sesuatu yang lain yang seperti itu. Tak pelak lagi, jenis kesatuan ini membutuhkan kualitas wujud yang dibatasi dalam jumlah, yang merupakan suatu kekurangan; karena satu lebih kecil dalam bilangan ketika dibandingkan dengan dua atau lebih.
Akan tetapi, jika suatu wujud berupa asumsi pengulangan yang berkaitan dengannya adalah mustahil karena ia mutlak dan tidak terbatas, dan jika kita mengasumsikan hal lain yang seperti itu ada- maka itu berarti bahwa ia sama dengan wujud pertama atau ia berupa sesuatu yang tidak sama dengannya. Oleh karenanya tidak bisa disebut contoh kedua. Dalam hal tadi, kesatuan tidak bercorak numerik. Yakni, jenis kesatuan ini tidak berlawanan dengan duplisitas maupun kemajemukan, danketika disebutkan ‘Ia adalah satu’, itu tidak berarti bahwa ‘tidak ada dua, tiga, atau lebih’, namun itu berarti bahwa yang kedua darinya tidak dapat diterima.
Konsep ini lebih jauh bisa dijelaskan melalui contoh berikut. Kita tahu para astronom dan fisikawan tidak sepakat tentang dimensi alam semesta, apakah itu terbatas ataukah tidak dalam ukuran. Sejumlah ilmuwan telah mendukung ide alam semesta yang tidak terbatas dan mutlak. Sebagian lain mengklaim bahwa alam semesta terbatas dalam dimensi sehingga andaikan kita berjalan dalam arah manapun, kita akan sampai pada suatu titik yang di baliknya tidak ada ruang lagi. Isu lain adalah apakah alam semesta yang kita tempati satu-satunya alam semesta dalam eksistensi, atau apakah ada alam semesta lain di luar itu.
Secara gamblang, asumsi alam fisik lain di luar alam kita sendiri adalah suatu akibat dari pandangan bahwa alam semesta kita tidak tak terbatas. Hanya dalam kasus ini, adalah mungkin untuk mengasumsikan keberadaan, katakanlah, dua alam semesta fisik masing-masing darinya terbatas dan memiliki dimensi-dimensi yang terbatas. Tapi jika kita mengasumsikan bahwa alam semesta kita tidak terbatas, maka tidak mungkin untuk mengasumsikan adanya alam semesta lain di luar itu. Karena, apapun yang kita asumsikan akan identik dengan alam semesta ini atau bagian darinya
Asumsi lain sarna halnya dengan Wujud Tuhan Yang Satu -seperti dugaan adanya alarn sernesta fisik lain di samping alarn semesta material tidak terbatas- menambah dugaan kemustahilannya. Karena, Wujud Tuhan adalah mutlak: Kedirian Mutlak dan Realitas Mutlak.
Konsep bahwa Keesaan Tuhan bukan suatu konsep numerik dan bahwa mensyaratkannya dengan suatu bilangan sama dengan memaksakan batasan pada Zat Tuhan dibahas dalarn Nahj al-Balaghah secara berulang-ulang:
Dia adalah Satu, tapi bukan dalam arti jumlah.
Dia tidak dibatasi oleh batasan-batasan ataupun tidak dihitung oleh angka-
Ia yang menunjuk-Nya, berarti mengakui batas-batas-Nya, dan ia yang mengakui batas- batas-Nya berarti telah menghitung-Nya.
Ia yang menggambarkan-Nya, berarti mernbatasi-Nya. Ia yang membatasi-Nya, memberikan jumlah kepada-Nya, Ia yang memberi jumlah kepada-Nya, menolak ke- azalian-Nya.
Segala sesuatu yang disebut satu adalah kurang, kecuali Dia.
Kalimat terakhir menunjukkan keindahan, kemendalaman, dan keberbobotan dari Nahj al-Baldgitah, Kalimat itu menyatakan bahwa segala sesuatu selain Zat Tuhan adalah terbatas meski ia satu. Yaitu, segala sesuatu yang dapat menerima jenis lainnya merupakan wujud terbatas dan tambahan pada wujud lain akan menambah jumlahnya. Namun ini tidak tepat untuk Keesaan Zat Tuhan, karena Keesaan Tuhan terletak pada Keagungan dan Kemutlakan-Nya yang karenanya keserupaan, kesamaan, atau kesepadanan tidak bisa diterima.
Konsep bahwa Keesaan Tuhan ini bukan suatu konsep numerik secara eksklusif merupakan konsep Islam yang orisinal dan mendalam, dan belum pernah ada sebelumnya dalam mazhab lainnya. Bahkan para filosof Muslim hanya mengetahui secara perlahan kemendalamannya melalui perenungan akan spirit teks-teks Islam yang orisinal dan khususnya wacana-wacana Imam ‘Ali as dan pada akhirnya secara formal memadukannya dalam filsafat metafisik Islam.
Tidak ada jejak dari konsep mendalam ini dalam tulisan-tulisan para filosof Islam awal semisal al-Fara.bidan Ibn Sina. Hanya para filosof belakangan mencangkokkan konsep ini ke dalam pemikiran filsafat mereka dengan menyebutnya sebagai “Kesatuan Hakikat yang Paling Hakiki” (al-wah.dat al-h.aqqat al-h.aq’iqiyyat) dalam terminologi mereka..
(Murtadha Muthahhari : Tema-Tema Pokok Nahj Al-Balaghah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed