by

Sahabat dan Tasyayyu' (3) : Amar Bin Yasir

“As-Suyûthi, salah seorang ulama besar Ahlussunnah,  justru  mendukung  klaim Syi’ah yang berkeyakinan bahwa Rasulullahlah  yang menyematkan  kata Syi’ah kepada para pengikut Ali.”  
– Muhammad Babul Ulum
Tasyayyu‘ adalah gerakan pemeliharaan Islam dan pengawasan terhadap  penerapan  prinsip-prinsip  Islam secara benar. Golongan yang setia di jalur tasyayyu‘ adalah mereka yang ber- kepentingan  untuk  menjaga Islam agar tetap seperti yang diinginkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Kelompok ini, di masa jahiliyah, adalah kaum lemah dan tertindas, para budak, orang-orang asing. Mereka tidak berkepentingan apapun dalam berjuang, selain keinginan agar Islam tetap seperti aslinya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw.
Sahabat tasyayyu’ lain setelah Salman dan abu dzar yang teguh dalam memelihara ajaran nabi serta menjadi syiah Ali yang paling setia adalah Amar bin Yasir.
Amar bin Yasir
Tokoh lain yang merupakan pilar tasyayyu‘ adalah Amar putra Yasir. Sosoknya mencerminkan  keteguhan  sikap atas kebenaran yang harus dipertahankan, walaupun harus dengan mengorbankan  jiwa dalam memperjuangkan  prinsip kebenaran yang diyakininya. Dialah yang pertama kali membangun mesjid di rumahnya untuk beribadah. Dia pula yang pertama kali disiksa di jalan Allah demi mempertahankan kalimat Tauhid.
Pada masa kekuasaan Khalifah Utsman, siksaan kembali menimpa  Amar karena sikap oposisinya terhadap kebijakan Utsman dalam memanjakan Bani Umayah, salah satu musuh bebuyutan Islam. Keluarganya pun mengalami hal yang sama. Ia dan keluargannya mengalami penindasan mereka. Dengan perlindungan Islam, Amar akhirnya terbebas dari perbudakan golongan borjuis Umayah di masa jahiliyah.
Rasulullah Saw pernah  menyatakan bahwa kebenaran selalu berpihak kepada Amar selama hidupnya dan orang yang memusuhi Amar sebagai kelompok pemberontak. Oleh karena itu, di saat Rasulullah mengabarkan perselisihan yang akan terjadi di kalangan sahabat-sahabatnya sepeninggalnya, Nabi berwasiat kepada seluruh umat Islam untuk bergabung dengan kelompok  yang Amar berada di dalamnya. Ibnu  Katsîr meriwayatkan dari Imam  Tirmidzi  bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:
Wahai Amar, kelompok pemberontak akan membunuhmu!
Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Katsîr meriwayatkan Sabda Rasulullah Saw kepada Khalid bin Walid:
Wahai Khalid, jangan engkau sakiti Amar! Sesungguhnya siapa yang membuat  Amar murka, Allah pasti memurkainya.  Dan siapa memusuhi  Amar, Allah pasti memusuhinya.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw bersabda sebagai berikut:
Sesungguhnya  surga merindukan   tiga orang: Ali, Amar, dan Salman.
Dari rangkaian sabda Nabi di atas, dapatlah disimpulkan, Rasulullah Saw ingin menyatakan bahwa orang seperti Amar dan para tokoh Syi’ah lainnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam memeluk  agama Islam. Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dalam berjuang, kecuali agar Islam tetap seperti apa yang diinginkan oleh Rasulullah Saw.
Amar dan para tokoh Syi’ah lainnya, di masa jahiliyyah, adalah para budak, kaum lemah dan tertindas, al-Mustadh‘afîn, orang-orang asing, yang kemudian menjadi tokoh terhormat  di masa Islam. Mereka dan Imam Ali adalah orang-orang yang paling dekat terhadap keagungan nilai-nilai Islam yang benar.
Di hari pengangkatan Abu Bakar sebagai penguasa, Amar berseru kepada seluruh kaum Muslimin:
Wahai bangsa Quraisy, wahai seluruh umat Islam, sesungguh- nya keluarga Nabi kalian lebih utama dalam masalah ini (al- khilafah). Kalian pasti telah mengetahui bahwa Bani Hasyim lebih berhak memegang al-khilafah  daripada kalian, dan Ali lebih dekat hubungannya dengan Nabi kalian. Dia juga berasal dari kalian. Dialah pemimpin  kalian dengan janji Allah dan Rasul-Nya.
Di bawah ini di antara ucapan Amar yang terkenal pada peristiwa Siffin adalah:
Berjalanlah menuju Al-Ahzab, para musuh Nabi, bersegeralah! Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah para pengikut Ali.
Amar menyamakan para penentang  Imam Ali dengan para musuh  Rasulullah Saw. Dalam arti lain, siapa saja yang melawan apalagi memerangi Amirul Mu’minin Ali kw, berarti berada dalam kebatilan. Oleh  karena itu, Amar menyeru  seluruh  kaum mukminin  saat itu untuk  berpihak kepada kebenaran sejati, yaitu Imam Ali.
Dengan sangat jelas kita dapat melihat tasyayyu‘-nya Amar dalam ucapan pembunuhnya,  Muawiyah putra Abu Sufyan, pemimpin  kaum pemberontak,  di hari terbunuhnya  Malik Asytar al-Nakha‘i:
Ali mempunyai dua tangan kanan. Salah satunya  telah aku potong dalam  Perang Siffin, yakni Amar bin Yasir, dan satu yang lainnya kupotong pada hari ini.
Hidup Amar berakhir di medan Siffin dipenuhi dengan keikhlasan dan keyakinan terhadap nilai-nilai luhur Islam yang menjelma pada pribadi Amirul Mu’minin, Imam Ali bin Abi Thalib. Nubuwat  Rasulullah Saw bahwa ia akan terbunuh  di tangan kaum pemberontak selalu melekat dalam dirinya. Amar bertekad mengorbankan  dirinya dalam membela Imam Ali, pemimpin  dan panutannya,  agar umat  Islam menyadari kebenaran  Imam  Ali dan  kebatilan orang-orang  yang memusuhinya.
Salman, Abu Dzar dan Amar mewakili kelompok sahabat yang menjadikan  Imam  Ali sebagai wali, pemimpin,  dan panutan sepeninggal Rasulullah Saw. Semasa hidup Rasulullah Saw, mereka memandang  Imam Ali sebagai calon penerus perjuangan dan pengganti kedudukannya. Hal itu, di samping karena hubungan  kekerabatan Imam Ali yang sangat dekat  dengan Rasulullah, juga karena ilmunya yang sangat luas. Mereka  juga memandang  Imam  Ali sebagai prototipe Rasulullah  Saw dalam hal kesederhanaan  dan kebiasaan mereka yang senang bergaul dengan kaum lemah dan tertindas.
Selain itu ada kelompok  Syi’ah lainnya, yaitu kaum Anshar, para penolong Nabi yang kemudian menjadi Anshar Ali sepeninggal Rasulullah Saw. Sikap golongan ini dalam memihak Imam Ali sangat jelas, ditunjukkan dalam penolakan mereka untuk  membaiat  khalifah selain Imam  Ali dalam peristiwa Saqifah. Ibnu Katsîr meriwayatkan dalam kitabnya, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, bahwa di antara yang menyertai Imam Ali dalam Perang Siffin, 80 mujahidin Badar, dan 150 sahabat yang ikut baiat di bawah pohon adalah orang Anshar.38
Syiah Ali, Tasyayyu‘ Gerakan Pemeliharaan Islam
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tasyayyu‘ adalah gerakan pemeliharaan Islam dan pengawasan terhadap  penerapan  prinsip-prinsip  Islam secara benar. Golongan yang setia di jalur tasyayyu‘ adalah mereka yang ber- kepentingan  untuk  menjaga Islam agar tetap seperti yang diinginkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Kelompok ini, di masa jahiliyah, adalah kaum lemah dan tertindas, para budak, orang-orang asing. Mereka tidak berkepentingan apapun dalam berjuang, selain keinginan agar Islam tetap seperti aslinya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Bersama mereka bergabung kaum Anshar yang menyokong politik Rasulullah Saw dalam membangun  basis kekuatan mengimbangi  ke- kuatan kafir Quraiys Makkah.
Mereka semua termasuk Syi’ah Ali, penolong dan pengikut setia Amirul Mu’minin, sebagai manifestasi keimanan mereka kepada Allah Swt serta kesetiaan mereka mengikuti  wasiat Rasulullah Saw. Dengan demikian, tidak benar anggapan yang mengatakan bahwa Syi’ah baru muncul di kemudian hari. Syi’ah telah ada sejak masa Rasulullah Saw. Bahkan Nabi-lah  yang menyebut para pengikut Ali sebagai Syi’ah.
Imam Jalaluddin as-Suyûthi adalah mufasir terkenal di kalangan Ahlussunnah.  Salah satu kitab tafsirnya, Tafsîr Jalâlain, menjadi bacaan wajib bagi kalangan santri di hampir seluruh pondok pesantren di Indonesia. Dalam salah satu kitab tafsirnya yang lain, Al-Durr al-Mantsûr, Jalaluddin meriwayatkan dari Ibnu ‘Asakir, dari Jabir bin Abdullah:
Kami sedang bersama  Nabi Saaw. Tak lama kemudian Ali datang. Lalu Nabi bersabda, “Demi yang jiwaku berada di genggam-Nya,  sesungguhnya ini (Ali)dan Syi’ahnya benar-benar orang yang menang di hari kiamat.” Kemudian turunlah ayat,
‘Sesungguhnya  orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik manusia.’ Sejak peristiwa itu, bila para sahabat Nabi sedang berkumpul  kemudian  Ali Datang, mereka berkata, “Telah datang sebaik-baik  manusia.
Dalam halaman yang sama, As-Suyûthi juga meriwayat kan dari Ibn Abbas yang berkata, “Ketika turun ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah  sebaik-baik  manusia’, Rasulullah  Saw berkata kepada Ali,
“Mereka adalah engkau dan Syi’ahmu.”
Riwayat As-Suyûthi tersebut di atas mematahkan tuduhan Farid Okbah  dan para penentang  Syi’ah lainya seperti Hidayat Nur  Wahid yang menganggap kata ‘Syi’ah’ baru muncul di paruh terakhir kekuasaan Utsman. Berbeda dengan anggapan mereka, As-Suyûthi, salah seorang ulama besar Ahlussunnah,  justru  mendukung  klaim Syi’ah yang berkeyakinan bahwa Rasulullahlah  yang menyematkan  kata Syi’ah kepada para pengikut Ali.
 
(Muhammad Babul Ulum, Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed