by

Makna Malam-Malam Lailatulqadar Dalam Kitab-Kitab Syiah

Rasulullah saw bersabda, “Agungkanlah malam Lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”
Dalam kitab Tsawabul-A‘mal, diriwayatkan dari Humran yang bertanya kepada Imam Ja‘far as mengenai firman Allah swt, Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.
Beliau as menjawab, “Ya, itu adalah malam Lailatul qadar yang ada pada setiap tahun, bulan Ramadan, pada sepuluh hari terakhimya.”
Malam Kedua Puluh Satu, Dua Puluh Tiga, dan Dua Puluh Tujuh
Imam Muhammad Baqir as bersabda, “Imam Ali as memuh’akan malam Lailatulqadar, yaitu malam kesembilan belas, kedua puluh satu, dan kedua puluh tiga”.
Malam Kedua Puluh Tiga dan kedua Puluh Satu
Dalam kitab Tahdzibul Ahkam, diriwayatkan dari Zararah, dan’ Imam Muhammad Baqir as. Zararah berkata, “Aku bertanya kepada Imam as mengenai malam Lailatulqadar.” Beliau as menjawab, “Dia adalah malam kedua puluh satu, atau malam kedua puluh tiga.” Aku berkata, Apakah hanya malam itu saja?’ Beliau as menjawab, ‘Benar.’ Aku bertahya lagi, ‘Jelaskan mengenai kedua malam itu?’ Beliau as menjawab, ‘Bukankah Anda harus mengerjakan kebaikan pada kedua malam itu?
Malam Kedua Puluh Tiga
Rasulullah saw bersabda, “Malam Lailatulqadar adalah malam kedua puluh tiga.
Dalam kitab aI-Mushannaf, diriwayatkan dari Abu Nadhar bahwa Abdullah bin Anis Juhaniya berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah sebrang pria yang (tempat tinggalnya) jauh (dari Anda) pada  malam apakah agar aku dapat datang ke sini lagi.?”
Nabi saw menjawab, “Datanglah pada malam kedua puluh tiga”
Dalam kitab as-Sunan al-Kubra, diriwayatkan dan Abdillah bin Unais, “Kami berada di Badiyah. Lalu kami berkata, ‘Jika kami mendatangi keluarga kami maka mereka gembira atas kedatangan kami, tetapi apabila kami meninggalkan mereka, mereka merasa sedih. Maka mereka mengutus aku-saat itu aku yang paling kecil menemui Rasulullah saw. Aku mengatakan perkataan mereka kepada beliau saw, maka kami diperintahkan untuk memakmurkan malam kedua puluh tiga.”
Imam Muhammad Baqir as bersabda, “Juhaniya mendatangi Rasulullah saw dan berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, aku memiliki unta, domba, dan hamba sahaya. Aku ingin Anda memerintahkanku dengan satu malam yang ketika itu aku memasuki (Madinah) agar aku bisa shalat di dalamnya-yaitu pada bulan Ramadan. Rasulullah saw memanggilnya dan berbisik di telinganya.
Setelah itu, Juhaniya datang pada malam kedua puluh tiga, memasuki Madinah bersama dengan unta, domba, dan keluarga, serta anak-cucunya berikut hamba sahayanya. Malam itu adalah malam kedua puluh tiga. Ketika pagi menjelang, dia pergi bersama unta, domba dan keluarganya kembali ke tempatnyasemula.
Imam Ja‘far Shadiq as bersabda, “Malam kedua puluh tiga adalah malam yang, Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang, penuh hikmah. Di dalamnya juga ditentukan haji dan apa yang akan terjadi dari tahun ke tahun.”
Imam Ja‘far Shadiq as kembali bersabda, “Malam kedua puluh tiga pada bulan Ramadan adalah malam Juhaniya, Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah dan di dalamnya juga ditetapkan bala dan keselamatan, ajal dan rezeki serta kada, juga seluruh hal baru yang diciptakan Allah Swt hingga tahun depan. Beruntunglah hamba yang menghidupkan malam itu dengan rukuk dan sujud, menyadari segala dosanya dan menangisinya. Ketika dia melakukan itu, aku berharap dia tidak gagal, insya Allah.
 
sumber : Muhammad Ray Syahri, Kado dari Langit : Menghampiri Mihrab Ramadhan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed