by

Syiah Menjawab Tulisan “Waspada Doa-Doa Versi Syiah Seputar Bulan Ramadhan”

Sejak tiga hari yang lalu beredar broadcast dengan “Waspada Doa-Doa Versi Syiah Seputar Bulan Ramadhan”, (doa hari ke-1 sampai hari ke-30 di bulan Ramadhan). Dari judulnya, kita sudah bisa langsung berkesimpulan ini pasti dari takfiri penyebar kebencian. Dimana mereka sangat rajin menulis artikel-artikel tentang syiah tanpa dasar yang kuat dan cenderung fitnah.
Artikel tersebut secara terburu-buru mengulas beberapa hal dari doa yang diambil dari kitab “Mafatihul Jinan”. Diantaranya pertama adalah meragukan keshahihan dari mana doa ramadhan tersebut berasal. Dan tanpa melakukan tabayun artikel tersebut menuduh doa ramadhan tersebut hanya karangan ulama syiah. Hanya karena tidak ada dalam kitab 4 madzhab ahlussunah. Kedua, Artikel tersebut menuduh Abbas Qummi sebagai penyusun kitab Mafatihul Jinan telah “mengedit al-Qur’an”dala salah satu doanya.
Lebih jelasnya berikut artikel lengkap yang dimaksud di atas, tanpa dikurangi sedikitpun :

WASPADA DOA-DOA VERSI SYIAH SEPUTAR BULAN RAMADHAN,
(doa hari ke-1 sampai hari ke-30 di bulan Ramadhan)
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, kesempatan bagi kita semua untuk mendapat keutamaan di bulan suci ini, namun juga sekaligus kesempatan bagi kita untuk waspada dan mawas diri.
Karena bulan ramadhan ini juga sekaligus dipakai oleh orang-orang syiah untuk berdakwah dengan memaksakan doktrinnya sedikit demi sedikit hingga kita jauh dari Sunnah yang diajarkan nabi Muhammad.
Barangkali kita pernah menjumpai tulisan/selebaran/artikel doa-doa yang tidak disertakan asal doa tersebut, apakah doa-doa tersebut berasal dari Rasulullah, atau hanya karangan pendeta syiah.
Dalam kaidah ahlus sunnah, hadits dhoif saja jika akan disebarkan harus menyertakan kedhoifannya agar cukup diambil fadilahnya saja, bukan dasar untuk beramal. Apalagi hadits palsu yang sangat tidak dianjurkan untuk diamalkan… Lebih parah lagi bukan sebuah hadits, hanya syair-syair karangan pendeta syiah.
Contohnya adalah doa-doa hari ke-1 sampai hari ke-30 di bulan Ramadhan. Pernah membaca/mendengar/menyimak sekelebat doa-doa berikut?
Doa hari – 18
اَللَّهُمَّ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ وَ نَوِّرْ فِيْهِ قَلْبِيْ بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ وَ خُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِيْ إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ بِنُوْرِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوْبِ الْعَارِفِيْنَ
Yaa Allah! Sadarkanlah aku akan berkah-berkah yang terdapat di saat saharnya. Dan sinarilah hatiku dengan terang cahayanya dan bimbinglah aku dan seluruh anggota tubuhku untuk dapat mengikuti ajaran-ajarannya, Demi cahaya-Mu Wahai Penerang hati para arifin.
Doa hari – 19
اَللَّهُمَّ وَفِّرْ فِيْهِ حَظِّيْ مِنْ بَرَكَاتِهِ وَ سَهِّلْ سَبِيْلِيْ إِلَى خَيْرَاتِهِ وَ لاَ تَحْرِمْنِيْ قَبُوْلَ حَسَنَاتِهِ يَا هَادِيًا إِلَى الْحَقِّ الْمُبِيْنِ
Yaa Allah! Penuhilah bagianku dengan berkah-berkah Ramadhan, dan mudahkanlah jalanku menuju kebaikan-kebaikannya. Janganlah Kau jauhkan aku dari keterkabulan amal-amalku di dalamnya, Wahai Pemberi Petunjuk Kepada Kebenaran Yang Terang.
Doa hari – 20
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّيْ فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku pintu-pintu sorga dan tutupkanlah bagiku pintu-pintu neraka, dan berikanlah kemampuan padaku untuk membaca Al-Quran, Wahai Pemberi Ketenangan di dalam hati orang-orang mukmin…. dst.
Pernahkah kita berpikir darimana asalnya doa-doa itu? Siapa pengarangnya? Dan siapa yang mengamalkannya? Dari kitab fiqih mana?
Jika sobat semua mencari di buku-buku Ahlus sunnah waljamaah, niscaya tidak akan Anda temukan, baik di kitab para imam 4 madzhab, bahkan di kitab hadits 9 imam pun tidak ditemukan. Jawabannya adalah karena doa doa tersebut ada di dalam kitab “Mafatihul Jinan” -> Kitab fiqih orang syiah.
hampir seluruh pengikut sekte Syiah di seluruh dunia pasti tidak asing lagi dengan kitab “Mafatihul Jinan”, koleksi berbagai doa, munajat, tawasul, ziyarah, wirid, hiriz dan sebagainya versi Syiah. Pengarang dan penulisnya adalah Abbas Qummi.
Pendeta besar ini lah yang bertanggungjawab atas tersesatnya Sekte syiah melalui doa-doa karangannya. Bernama lengkap Abbas bin Muhammad Ridha bin Abil Qasim al Qummi lahir pada tahun 1294 Hijriah dan wafat pada malam 23 Zulhijah 1359 Hijriah,
Abbas Qummi telah menulis 63 kitab, dan yang paling terkenal selain Mafatihul Jinan adalah: Al-Anwar Al-Bahiyyah, Baitul Ahzan, Al-Durrah Al-Yatimah, Manazilul Akhirah, Nafsul Mahmum.
Mari kita lihat bukti kesesatannya, tidak hanya mengarang doa, dia juga mengedit Al Quran. Mau lihat Ayat kursi versi syiah? Langsung dikutip dari Kitab Mafatihul Jinan, Beginilah bunyinya:
 
الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم من ذا الذي .. إلى هم فيها خالدون
Allaahu Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyuum , Laa Ta-khudzuhuu Sinatuw-walaa naum. Lahuu Maa Fis-Samaawaati Wa Maa Fil Ardh Wa Maa Baynahumaa Wa Maa Tahta Ats-Tsaraa , ‘Aalim Al-Ghaybi Wa Asy-Syahaadah, Ar-Rahmaan Ar-Rahiim , Man Dzalladzii …(hingga)… hum fiihaa Khaaliduun
Padahal Ayat Kursi yang Sebenarnya sebagaimana yang telah Kita ketahui  adalah
اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Gambar di bawah ini adalah Scan Kitab Mafatihul Jinan di halaman yang menjelaskan Ayat Kursi vers Syiah.
Dengan ini, semoga Allah memberikan kita semua hidayah, dan kita semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap agama syiah, yang bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal jamaah.
Semoga bermanfaat, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Tanggapan dan Jawaban Terhadap Tulisan Waspada Doa-doa Syiah Seputar Ramadan:
(1) Benar, Ramadan adalah bulan penuh berkah dan kesempatan buat kita memperoleh keutamaan di dan darinya, bukan kesempatan menambah dosa dengan membuat-buat dan mencari-cari kesalahan orang dan menyebar-luaskannya.
(2) Semua Muslim darimana dan apa pun latar belakangnya, melakukan “fastabiqul khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan, khususnya di bulan ini. Termasuk diantaranya adalah dengan mengajak semua orang untuk senantiasa mengingat Allah dan memperkuat ikatan ruhani dengan Beliau SWT. Cara yg paling baik antara lain dengan selalu berdoa kepada-Nya. Seperti halnya mengaji sehari satu juz, berdoa setiap hari kepada-Nya di bulan ini insya Allah termasuk diantara memanfaatkan kesempatan baik seperti disebut di atas dan meningkatkan ketakwaan. Ya kita harus waspada, bukan terhadap sesama saudara Muslim lain yg mengajak kita mengingat Allah, tapi terhadap dorongan hawa nafsu dan egoisme kita. Puasa membantu kita menekan ego itu dan doa-doa memperkuatnya.
(3) Doa-doa baik dapat disampaikan oleh siapa saja sesama Muslim. Bahkan bila kita berdoa dengan cara kita sendiri pun dan doanya baik ia layak dibagikan dengan sesama saudara Muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita minta agar didoakan sesama kawan, oleh Ibu dan ortu kita dan siapa saja yg kita pandang baik. Karena itu mengherankan ada orang yg mempersoalkan sumber doa dan bukan mengarahkan perhatian lebih pada isi doa itu sendiri.
(4) Dalam doa harian yang katanya dari Syiah itu adakah yang keliru atau menyesatkan pada isinya? Bacalah doa harian itu dari awal hingga akhir, dari doa hari pertama hingga hari terakhir (29/30), adakah ajakan kepada orang agar menjauh dari Allah dan Rasul-Nya atau meninggalkan agama mulia ini? Lalu mengapa itu dianggap sebagai usaha “orang syiah untuk berdakwah dengan memaksakan doktrinnya sedikit demi sedikit hingga kita jauh dari Sunnah yang diajarkan nabi Muhammad”? Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap berlebihan, ekstrim dan ghuluw dan menuduh yang bukan-bukan kepada sesama kaum Muslimin.
(4) Kalau penulis komentar itu menyatakan ini doa-doa Syiah, mengapa ia repot-repot mencarinya dalam kitab-kitab Sunni? Ada yang keliru dalam cara berpikirnya barangkali. Kalau memang itu dari sumber Syiah lalu apa masalahnya? Bukankah sejak 1400 tahun lalu Sunnah dan Syiah sudah ada dan Al-Azhar, Risalah Amman, dll, menyatakan Syiah diantara ajaran sah dan resmi umat Islam di dunia. Bukankah Wahabi/Salafi, yg mungkin mejadi latar belakang penulis komentar ini, juga termasuk sebagai penanda-tangan Risalah Amman tsb?
(5) Untuk informasi bagi sang penulis, seperti halnya Sunni, Syiah juga mengikuti Rasulullah SAW. Bedanya Sunni mengambil ajaran Rasul melalui para sahabatnya sementara Syiah mengambilnya melalui keluarga Rasul, Ahlul Bait, Al-Itrah. Karena itu dalam perjalanan sejarahnya pun terdapat perbedaan, meski ditemukan lebih banyak persamaannya.
(6) Sehubungan dengan hal di atas, bila anda tak menemukannya dalam kitab-kitab Sunni, ketahuilah bahwa doa-doa harian itu diajarkan Rasulullah SAW dan terdapat dalam khazanah Syiah, seperti yang anda curigai. Jadi bukan “syair-syair” karangan para “pendeta Syiah”. Perhatikan hal berikut yang terdapat dalam Mafātih al-Jinān: ‘dalam riwayat dari ibn Abbas, Rasulullah SAW menjelaskan tentang berbagai keutamaan puasa setiap hari selama bulan suci Ramadan, dengan mengajarkan doa untuk setiap harinya bersamaan dengan keutamaan dan pahalanya. Di sini kita membatasi diri untuk hanya menyebutkan teks dari doa-doa ini (tanpa menyertakan sanadnya – penulis).’ lalu Syeikh Abbas Qummi memasukkan doa-doa harian ini (ke dalam bukunya – pen). Menurut Sayyid Quli Qarai yg baru-baru ini menuntaskan terjemahan Mafatīh, doa-doa harian ini diambil dari Zād al-Ma’ād, halaman 144-147.
(7) Luar biasa dan ajaib, sang penulis yg meluangkan waktu cukup banyak untuk mengetahui tentang Syeikh Abbas Qummi, pengumpul doa-doa dll yg dibukukan dalam Mafatihul Jinan ini, tidak terkesan dengan seluruh isi kitab lain yg bermanfaat besar ini. Buat yg ingin mel
Lihat edisi digitalnya, silakan klik http://alhassanain.org/english/?com=book&id=928 Dari kitab itu, ia rupanya lebih tertarik mencari-cari kesalahan kecil yang bisa ia besar-besarkan (blow up) untuk kepentingan agendanya: menyebarkan dusta tentang “kesesatan Syiah”. Ia menemukan “Ayat Kursi” pada CATATAN KAKI dari kitab itu dalam bab Amal Hari Jumat.
Catat: bukan pada kitab Mafatihul Jinan itu sendiri, tapi pada catatan kakinya. Sebagaimana diketahui secara umum, catatan kaki atau syarh tidak menjadi tanggung jawab penulis buku. Contoh: Imam Ali bin Abi Talib tidak bertanggung-jawab atas catatan kaki Ibnu Abil Hadid yg membuat Syarh Kitab beliau, Nahjul Balaghah. Betul, memang ditemukan pada catatan kaki Mafatih “Ayat Kursi” yg dikutipkan dan di-scan oleh sang penulis komentar. Namun sebelum kita buru-buru menuduh itu sebagai usaha Syiah “mengedit Al Quran”, ada baiknya kita dan ia berpikiran jernih dan meminta penjelasan dari para ahli Syiah. Bukankah ini tradisi akademis dan keilmuan yg baik dan santun?
(8) Siapa pun boleh mengecek langsung dan berkesimpulan bahwa seperti halnya Ahlus Sunnah/Sunni, Syiah meyakini otentisitas Al-Quran karena Allah sudah menjaminnya: “inna nazzalna Al-Dzikra wainna lahu lahafizhun” (sungguh telah Kami turunkan Al-Dzikra/Quran dan Kami yang menjaganya). Karena itu mempercayai Quran mengalami perubahan (tahrif) akan menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Sebuah konsekuensi sangat besar. Namun demikian, dalam hadis-hadis, baik di kalangan Sunni (riwayat dari Khalifah Umar dan Ummul Muminin Aisyah diantaranya) maupun Syiah ada riwayat2 lemah (dhaif) dan palsu (meski di Sunni riwayat dari Umar dan Aisyah tsb sempat masuk Sahih Bukhari atau Muslim). Namun hal itu tak berarti Sunni dan Syiah mempercayai tahrif.
(9) Sebelum kita menganggap itu Ayat Kursi versi Syiah, mohon catat ini dulu. Rasulullah SAW dan khususnya para Imam sejak Ali bin Abi Talib hingga Imam Mahdi, biasa memasukkan ayat-ayat Quran dalam doa-doa mereka. Contohnya lihat Munajat Imam Ali, Doa Sabah dan Doa Kumail dari Imam Ali. Beliau menyelipkan beberapa ayat Quran dalam doa-doa beliau. Karena itu, siapa tahu “Ayat Kursi” kutipan dari Al Majlisi itu pun dalam konteks doa di atas. Kalau tidak, ini penjelasan berikutnya.
(10) Merujuk pada butir (8), mungkin saja itu bagian dari hadis dhaif yang terbawa oleh penulis catatan kaki. Kalau memang begitu, sederhana saja. Kita abaikan saja karena bukankah kita bias menerima adanya hadis-hadis tahrif dalam Bukhari seperti saya sebutkan di atas dan kita tidak meyakininya.
(11) Bertentangan dengan tuduhan di atas, seperti halnya Sunni, Syiah pun mengambil Ayat Kursi dari QS Al Baqarah 255. Bahkan lebih lengkap lagi, Syiah memasukkan ayat 256 dan 257 sebagai bagian dari Ayat Kursi karena adanya relevansi pada kedua ayat terakhir tersebut.
(12) Akhirnya marilah kita mengajak penulis komentar tsb membuka diri, kalua tidak memperoleh hidayah seperti yang ia sampaikan, agar dapat melihat sesuatu dengan hati dan pikiran yang jernih. Semoga pula ia diberi kemudahan oleh Allah untuk mampu meninggalkan sikap eksklusifnya dan mulai melihat semua Muslim dan umat manusia sebagai saudaranya. Insya Allah dunia dan Islam terasa lebih indah.
 
Tanggapan ini ditulis oleh AM Soeherman pada tanggal 26 Juni 2016

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed