by

Apakah Imamah Merupakan Persoalan Pewarisan?

“Gen suci untuk Nabi dan imam memang penting namun tidak cukup. Ulil amri/imam dilantik oleh Allah SWT, demikian pula halnya dengan para Nabi. Lihatlah Quran suci dimana Allah SWT berkali-kali menyatakan bahwa Dia adalah Zat yang melantik imam.”

Menurut Syi’ah, imam dipilih oleh Allah SWT. Itu bukan masalah pewarisan, karena jika demikian maka Imam Husain seharusnya tidak menjadi Imam setelah kesyahidan Imam Hasan. Imam Hasan mempunyai banyak anak dan keturunan, tak seorang pun dari mereka menjadi imam. Alih-alih, saudaranya Imam Husain, menjadi imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak lelaki dan cucu yang menyimpang dari para imam, tak seorang pun yang menerima kedudukan Imamah.
Hal ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan masalah pewarisan. Tentu saja, suatu gen suci adalah penting bagi imam, namun imam membutuhkan banyak syarat lain juga. Allah SWT merigetahui apa yang mempunyai semua kualifikasi seperti itu. Adalah kehendak Allah SWT yang menempatkan seluruh imam dalam garis keturunan Nabi SAW. Sesungguhnya, jika seseorang mengkaji sejarah para Nabi Tuhan, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama.
Allah Yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman, Dan (ingatlah) kletika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim  menunaikannya
Allah berfirman Sesungguhnya, Aku akan menjadikan Mu Imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku .”Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim. (QS. al-Baqarah : 124}
Dalam ayat di atas, Allah SWT tidak menolak kepemimpinan dari keturunan Ibrahim, namun Dia membatasi kedudukan ini hanya pada keturunan Nabi Ibrahim as yang memenuhi syarat. Allah SWT berfirman, kepemimpinan yang ditunjuk Tuhan tidak sampai kepada orang yang zalim, sekalipun orang itu merupakan keturunan Ibrahim.  Dengan demikian, keturunan Ibrahim tidak perlu menjadikan orang itu imam karena mesti ada syarat lain selain itu.
Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku kezaliman (bebas dari dosa) memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, namun mereka telah di peroleh kualifikasi lain melalui penderitaan. Sebagaimana Allah SWT wumpunyai pengetahuan sebelumnya ihwal kesabaran dan kualifikasi mereka, Dia mempercayakan kepada mereka posisi ini dan mengutamakan wureka di atas semua makhluk-Nya yang lain.
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahint, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) (QS. Ali Imran : 33).
Garis nasab Muhammad kembali ke Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim as. Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Isa kedua-duanya berasal dari Nabi Ishaq yang merupakan putra lain dari Nabi Ibrahim as. Sesungguhnya, semua Nabi setelah Ibrahim berasal dari keturunannya. Namun, kita tidak mengklaim bahwa keNabian merupakan masalah pewarisan. Dialah Allah SWT yang memilih mereka satu demi satu.
Dalam madah lain, kita tidak mengatakan bahwa anak lelaki Nabi harus selalu menjadi  seorang Nabi. Banyak syarat lainnya selain itu. Jika tidak, Kan’an , putra Nuh as, niscaya masih hidup. Nabi Nuh as mempunyai tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang merupakan orang-orang beriman dan yang bersama istri – istri mereka menaiki bahtera  dan akhirnya  selamat. Mereka berasal dari  ibu yang  berbeda dibandingkan dengan Kan’an. Oleh karenanya, putra seorang Nabi atau seorang imam tidak mesti menjadikan orang itu Nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.
Ringkasnya, gen suci untuk Nabi dan imam memang penting namun tidak cukup. Ulil amri/imam dilantik oleh Allah SWT, demikian pula halnya dengan para Nabi. Lihatlah Quran suci dimana Allah SWT berkali-kali menyatakan bahwa Dia adalah Zat yang melantik imam. (lihat al-Baqarah:124; al-Anbiya: 73; as-Sajdah: 24).
Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumen-dokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.
Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka, dan juga melalui didikan langsung dari Allah SWT melalui inspirasi (ilham). Para pelanjut Nabi (selain pelanjut Nabi Muhammad) adalah para Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah SWT. Juga Quran mengatakan bahwa sebagian Nabi itu, atas perintah Allah, menunjuk imam-imam (yang bukan para Nabi).
Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa as, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah!” (QS. al-Baqarah: 246).
Setiap  orang yang telah ditunjuk secara khusus oleh Allah SWT sebagai  raja adalah seorang imam. Seorang Nabi bisa juga (berperan) seorang imam/raja namun tidak semua Nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi Raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah SWT, itu tidak berarti dengan sendirinya ia akan berkuasa secara fisik. Ayat Quran di atas berbicara tentang Thalut. Di bawah ini ayat Quran lainnya yang memberikan lebih banyak rincian.
Nabi mereka (1) berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah  mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja(2)nue.” Mereka menjawab “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup?(3)” Dia (Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya(4) menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah mernberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.(6) Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 247)
Bagian pertama ayat di atas (nomor 1) membuktikan bahwa masyarakat mempunyai seorang Nabi dan Thalut berada di tengah-tengah mnsyarakat tersebut, sehingga Nabi mereka adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukanlah seorang Nabi.
Bagian bertanda nomor 2 menunjukkan bahwa Allah menunjuk I’halut sebagai imam/pemimpin/raja. Angka 3 memperlihatkan bahwa rpa yang ditunjuk Tuhan tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan ini pada dasarnya berwatak spiritual, dan sudah tentu, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah secara fisik juga, namun yang terakhir ini tergantung pada pengakuan orang-orang kepada mereka sementara kedudukan sebelumnya (kepemimpinan spiritual) senantiasa diciptakan bagi imam.
Memilih imam/raja bukanlah tugas manusia, dan bagaimana bagian disarankan, Allah SWT memilih raja/imam karena Dia tahu siapakah orang yang paling memenuhi syarat untuk menduduki kedudukan luhur tersebut. Di sini raja berarti orang yang memiliki otoritas melalui Allah SWT. Ini dibuktikan oleh bagian 6 ayat di atas. Orang yang memiliki otoritas ini disarati dengan ilmu dan hikmah sebagaimana bagian 5 tegaskan.
Dalam ayat selanjutnya, kita baca, Dan Nabi (lebih dari itu) mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang berirnan” (QS. al-Baqarah : 248).
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).
Sekali lagi, kerajaan ini merupakan Imamah karena hanya sedikit dari keluarga  Ibrahim yang memerintah secara fisik.
 
Sumber : buku Antologi Islam, silahkan download secara gratis di http://www.syiahmenjawab.com/download-buku-buku-syiah/

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed