by

Mengenal Hawa Nafsu (3) : Manusia adalah Gabungan Akal dan Hawa Nafsu

“Semua manusia, bertaqwa atau tidak, sama-sama mempunyai hawa nafsu dan syahwat. Bedanya, yang bertaqwa mampu -secara aktif- menguasai dan mengatur hawa nafsu dan syahwatnya, sedangkan orang yang tidak bertaqwa -secara pasif- dikuasai dan diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya.”

Dari pembahasan yang telah lalu ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa meskipun hawa nafsu  mempunyai  daya  yang  sangat  kuat  dan  berperan  aktif  serta  efektif  dalam kehidupan manusia, tapi kehendaknya untuk menyempurnakan, mematangkan dan menonjolkan peran akal tidak pernah terampas. Hal itu disebabkan oleh karena manusia terdiri dari akal dan hawa nafsu.
Manusia  selalu  berada  dalam  tarik-menarik  keclua  faktor  ini.  Fluktuasi  keduanya berakibat langsung pada manusia. Semuanya, sebenarnya, bergantung pada manusianya sendin dalam  sejauh  mana  mengfungsikan  atau  medisfungsikan akal dalam kehidupannya.
Manusia  berbeda sekali dengan  binatang.  Binatang  tidak  mempunyai akal  yang  bisa mengatur dunianya; langkah-langkahnya secara total dikemudikan oleh hawa nafsu. la sepenuhnya tunduk padanya dan sikapnya termanifestasi melalui faktor hawa nafsu saja.
Imam Ali as berkata: “Allah menganugerahkan akal yang tak berunsur syahwat kepada inalaikat, syahwat tanpa unsur akal pada binatang, dan keduanya (akal dau syahwat) kepada anak cucu Adam. Karenanya, siapa yang akalnya bisa mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk daripada binatang.”
“Pelembutan” Hawa Nafsu
Di antara tema yang menonjol dalam psikologi keislaman adalah pelembutan dan penghalusan  hawa  nafsu, syahwat  dan  naluri.  Karena  watak  kesemuanya  itu  bisa melembut dan mengeras.
Di saat lembut , akallah yang menjadi hakim dan sempurnalah kemanusiaan seseorang. Di saat keras, hawa nafsulah yang menjadi hakim dan sempurnalah kebinatangan manusia. Dalam kedua kondisi tersebut, manusia sendirilah yang menentukan segalanya. Semakin sering seorang menuruti hawa nafsunya, semakin mengeras dan, akhirnya, semakin dominan ia. Sebaliknya, jika seseorang selalu malakukan tekanan atas hawa nafsu, maka lambat-laun ia akan melemah dan, implikasinya, mudah menurut pada kontrol akal.
Semua manusia, bertaqwa atau tidak, sama-sama mempunyai hawa nafsu dan syahwat. Bedanya, yang bertaqwa mampu -secara aktif- menguasai dan mengatur hawa nafsu dan syahwatnya, sedangkan orang yang tidak bertaqwa -secara pasif- dikuasai dan diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya. Pada kondisi manapun manusia tetap berikhtiar. Ikhtiar berati  melakukan  penekanan  dan  pelatihan  atas  hawa  nafsu,  atau  malahan  (menurut istilah Imam Ali as peny.)  menuruti kehendaknya (dengan mengurangi tuntutannya). Dalam kajian selanjutnya, akan membahas kiat-kiat menguasai hawa nafsu, nash- nash keislaman yang menjelaskan dua keadaan (posisi) hawa nafsu -yang lemah dan yang keras -, teknik melemahkan hawa nafsu, dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan terkristalnya hawa nafsu.
Alquran menjelaskan:“… tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu beuci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan…”(Q.S.Al-Hujurât:7).
Allah menanamkan rasa benci kepada kefasikan -yang diperebutkan para durja- dalam kalbu Mukmin dan ahli taqwa. Sebenarnya, siapakah yang membencikan orang-orang mukmin kepada kefasikan? Dan siapa pula yang  membuat  senang  orang-orang  fasik terhadap kefasikan?
Jawabnya, adalah Allah SWT. Dia yang membencikan kefasikan kepada jiwa orang-orang Mukmin. Hati orang mukmin berada dalam genggaman dan kekuasaan Allah dan Allah senang kefasikan berada dalam jiwa orang fasik sebab orang fasik itu sendiri mencmtai kefasikan dan selalu mengikut i hawa nafsunya.
Rasulullah SAWW bersabda: “Rutin melakukan kebaikan berarti kebencian bagi kejelekan”.
Konsistensi dalam melakukan kebaikan akan membawa kebencian atas kejelekan. Kejelekan yang dimaksud ialah syahwat dan kelezatan yang selalu dicari dan dikejar- kejar manusia. Karena, syahwat dan kelezatan yang diharamkan itu selalu dikejar-kejar oleh para penyeleweng dan kaum fasik. Begitu pula sebaliknya. Kejelekan yang selalu dilakukan akan membaca kecintaan pada kejelekan itu. Dan yang demikian itu adalah wajar dan rasional.
Imam Amiril Mukminin  Ali as dalam khotbahnya  yang  menerangkan ciri-ciri orang taqwa dan khotbah ini dikenal dengan Khotbah Hammâm, beliau berucap: ” (Ahli taqwa) itu  dekat  angan-angannya,  sedikit  kesalahannya,  khusyu’  hatinya,  mudah terpuaskan, sederhana makanannya, ringan urusannya, kukuh agamanya, “mati” nafsunya, dan tertahan emosinya.”
Sesungguhnya taqwa dapat  melunakkan syahwat  dan hawa nafsu  seseorang.  Dengan taqwa, jiwa yang serakah berubah menjadi qanâ’ah. Syahwat pun menjadi lemah-lembut seakan mati.
Nash di atas, dan yang semisalnya, tidak hendak menyatakan bahwa peran taqwa adalah pengekang syahwat dan hawa nafsu. Walau pengertian itu bisa dibenarkan, tapi maksud riwayat lebih jauh lagi. la ingin menekankan bahwa peranan taqwa itu juga untuk melemah-lembutkan hawa nafsu dan meringankan syahwat. Demikianlah riwayat-riwayat tersebut di atas saya pahami.
Selanjutnya saya akan nukilkan beberapa riwayat Imam Ali as tentang Hawa Nafsu :

“Semakin kokoh hikmah (seseorang), semakin lemah syahwatnya.”
“Jika  kemampuan  kita  (dalam  menaklukkan  hawa  nafsu)bertambah, maka (tuntutan-tuntutan) hawa nafsu kita akan berkurang.”
“lffah  (menjaga   diri)   dapat   melemahkan  syahwat   (hawa nafsu).”
“Siapa yang merindukan surga, akan melupalah syahwat.”
 “Ingatlah bahwa setiap kelezatan akan hilang. Setiap kenikmatan akan berpindah. Dan setiap bencana pasti akan berakhir jua. Dengan begitu kita telah niengabadikan nikmat, menjernihkan syahwat, menghilangkan takabur, mendekatkan bahagia, melipur lara, dan menggapai cita-cita.”

Taqwa dan kontrol hawa nafsu ialah dua faktor yang (seharusnya) menguasai syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Setelah itu, baru manusia dapat membenci dan lari dari segala yang dilarang Allah. Demikianlah manusia mencapai puncak interaksi dengan Tuhannya.
Perubahan jiwa yang  menakjubkan ini sebenarnya telah dijelaskan oleh Allah dalam Alquran di surah Al-Hujurât ayat 7 yaitu:
“… tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan…”.
Walhasil, keberadaan taqwa fase inilah yang sangat berpengaruh dalam jiwa manusia. Karena ia tidak hanya mampu mencegah seseorang dari kefasikan, kekafiran dan kemaksiatan, namun juga menanamkan rasa benci terhadap hal-hal tersebut.
 
(dikutip dari buku :Hawa Nafsu, Shohib Aziz Zuhri, penterjemah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed