by

Mengenal Hawa Nafsu (4) : Peran Positif Hawa Nafsu dalam Kehidupan Manusia

Sekiranya tak ada hawa nafsu yang telah diciptakan-Nya, niscaya tak ada pula jalan yang mengantarkan manusia mendaki ke puncak ilahi.

Memperhatikan peran destruktif hawa nafsu bagi manusia -yang Insya Allah- akan kita bahas secara terpisah dalam kajian berikutnya, maka wajar kalau ada yang bertanya- tanya tentang faedah Allah menciptakan hawa nafsu? Atau apakah sesungguhnya nilai positif hawa nafsu manusia itu? Untuk jawaban yang memadai, perhatikan beberapa butir di bawah ini.
Hawa Nafsu ialah Agen dan Aktor Penggerak Terkuat pada Jiwa Manusia
Hawa nafsu mampu membentuk sulûk (prilaku) manusia. Oleh sebab itu, Allah SWT mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu menjamin terpenuhinya beragam kebutuhan primer manusia. Masalah reproduksi, misalnya. la merupakan bagian vital kehidupan manusia. Tanpa proses tersebut spesies manusia akan punah. Untuk kebutuhan vital seperti di atas, Allah menganugrahi manusia dengan hawa nafsu seksual yang merangsang perkawinan dan reproduksi sebagai jaminan kelangsungan dan kelestarian jenis manusia.
Allah  SWT  menggantungkan  pertumbuhan  manusia  pada  nafsu makan  dan  minum. Tanpa keduanya, manusia tidak akan dapat menumbuhkan lagi sel-sel yang rusak oleh gerak dan kerja manusia.
Allah SWT juga telah membekali manusia dengan naluri bermasyarakat yang melaluinya sistem kehidupan sosial dan madani manusia muncul.
Posesifitas atau rasa memiliki dijadikan sebagai motor kegiatan ekonomi. Tanpa insting atau naluri ingin memiliki ini akan hancur seluruh sistem ekonomi manusia.
Amarah Allah jadikan sebagai sumber bagi aktivitas mekanisme pertahanan diri (self defense  mechanism)  dan  pertahanan  terhadap  kehormatan,  harta  dan  keluarga.  Jika amarah tidak ada pada manusia, maka permusuhan tidak akan ada dan nilai perdamaian pun akan sirna. Demikianlah, Allah SWT menjamin kebutuhan-kebutuhan hidup umat manusia yang primer dengan hawa nafsu.
Hawa Nafsu Sebagai Tangga Menuju Kesempurnaan
Hawa nafsu adalah tangga menuju kesempumaan, seperti itu juga ia dapat menjadi peluncur   menuju  kepada  kekurangan.   Berikut   ini  kita  akan  menjelaskan  makna pernyataan di atas.
Berbeda dengan jenis perkembangan dan penyempurnaan pada benda padat, tetumbuhan dan binatang yang bersifat deterministik atau terpaksa, gerak penyempurnaan integral manusia menuju Allah berakar dari “irâdah”.
Allah SWT memuliakan manusia dengan irâdah. Setiap langkah yang digerakkannya, berdasarkan  irâdah  dan  ikhtiar.  Meskipum  kehendak Allah  berlaku  pada  seluruh makhluk, namun manusia adalah makhluk yang melaksanakan kehendak Tuhan (hukum- hukum Tuhan) dengan irâdah dan ikhtiarnya sendiri.
Sebenarnya hudûd merupakan irâdah dan kehendak Allah SWT yang dilakukan manusia melalui ikhtiar dan irâdahnya, sebagaimana “hukum alam” juga merupakan keingi nan dan irâdah Allah yang dijalani makhluk lain secara terpaksa.
Dalam konteks inilah istilah khalîfatullâh dalam Alquran mesti dipahami.Sedangkan makhluk lain dalam istilah Akjuran disebut musakharât bi amrihi (mereka yang tunduk pada perintah-Nya).
Kata khalîfah dan taskhîr (eksploitasi) adalah dua kata yang mempunyai sisi persamaan dan sisi perbedaan. Persamaannya, keduanya bermakna menjalankan perintah Ilahi. Perbedaannya, khalîfah   menjalankan   berdasar ikhtiarnya  sendiri, adapun   yang Musakharât bi amrihi melaksanakan perintah tanpa ikhtiar dan irâdah atau secara deterministik dan terpaksa.
Disinilah letak rahasia nilai keagungan manusia. Seandainya ketaatan manusia kepada Allah tidak terjadi karena irâdah dan ikhtiar, niscaya dia tidak memiliki nilai yang lebih tinggi  dibanding makhluk  lainnya.  Dan  karena  itu pula  Allah  mengangkat  manusia sebagai khalifah Allah SWT
Nilai perbuatan manusia berbanding-lurus dengan usaha yang dicurahkan dalam ketaatannya kepada perintah Allah. Karenanya, bertambah besar usaha dan susah-payah manusia dalam merealisasikan suatu ketaatan, bertambah pula nilai perbuatannya. Dari sisi lain, efektifitas perbuatan yang dilakukan dengan susah-payah itu lebih tinggi.
Jelas ada perbedaan yang mencolok antara nilai ‘makan-minum’ dan ‘puasa’ meski keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah. ‘Makan-minum’ dilakukan manusia tanpa susah-payah dan pengorbanan sedikitpun, karenanya nilainya pun tak berarti.
Apakah maksud susah-payah? Bagaimana ia bisa muncul? Mengapa derajatnya berbeda- beda?
Dalam peristilahan Islami, susah-payah itu disebut ibtilâ` (penderitaan). Penderitaan ini selalu vis a vis hawa nafsu dan syahwat. Seandainya hawa nafsu dan naluri yang telah diletakkan oleh Allah dalam jiwa kita tidak ada, dan sekiranya ketaatan kepada Allah tidak dilaksanakan dengan menentang  hawa nafsu,  maka suatu perbuatan tidak  akan mempunyai nilai dan tidak akan menjadi faktor pendorong dan pendekat manusia kepada Allah.
Perbedaan  derajat  penderitaan terjadi  akibat  perbedaan  intensitas hawa  nafsu  dan syahwat. Jika hawa nafsu dan syahwat lebih menguat dan memaksa, maka penderitaan manusia dalam menahan, menentang dan menguasainya akan lebih besar. Selama perbuatan menuntut manusia untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menentang hawa nafsu dan syahwat, maka selama itu pula perbuatan akan lebih besar nilainya dalam taqarrub manusia kepada Allah, dan lebih agung pula pahala yang Allah berikan kepadanya kelak di surga.
Dengan demikian, jelaslah apa nilai hawa nafsu dalam menggerakkan manusia menuju Allah. Semua taqarrub mesti melewati hawa nafsu dan syahwat yang berada dalam jiwa.
Nilai  bipolar  (berkutub  ganda) hawa  nafsu  -sebagai  tangga kesempurnaan  dan  juga sebagai peluncur kesesatan- ini merupakan salah satu pemikiran keislaman yang amat unik. Di bawah ini ada beberapa nash keislaman berkenaan dengan bipolaritas hawa nafsu:
1. Dari Abi Al-Bujair – sahabat Nabi SAWW – berkata, suatu hari  Nabi SAWW merasa lapar, lalu beliau meletakkan sepotong kerikil di perutnya dan mengatakan: 
“Ketahuilah! Berapa banyak orang yang kenyang perutnya dan rapi pakaiannya di dunia, tapi dia akan kelaparan dan telanjang di akhirat. Berapa banyak orang yang memuliakan nafsunya, padahal dia menghambakan dirinya. Berapa banyak orang yang menghmakan nafsunya, padahal dia memuliakan  dirinya.  Berapa  banyak  orang  yang  tenggelam  menikmati sesuatu yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya, namun dia di sisi Allah tidak mendapat bagian apapun. “Ketahuilah bahwa ‘kinerja surgawi’ bagai bukit-bukit terjal yang bertebing cadas dan kinerja neraka bagai jalan mulus yang mudah dilalui nafsu. Berapa banyak nafsu yang sekejap (di dunia), justru mengakibatkan sengsara yang berkepanjangan (di akhirat).”
Nash di atas mengandung banyak renungan yang luar biasa. Banyak orang yang berperut kenyang, berdandan rapi, selalu memenuhi hawa nafsu clan memperoleh kelezatan tanpa pernah merasakan puas apalagi bersikap wara’… Sosok jiwa ini akan hadir di hari kiamat dalam keadaan lapar dan telanjang.
Sekian banyak orang yang seakan memuliakan hawa nafsunya dengan cara memenuhi setiap ajakannya. Padahal, dengan begitu, dia hanya akan merendahkan jiwanya sendiri. Sebaliknya banyak juga orang yang bersikap keras, sinis dan acuh tak acuh akan tuntutan hawa nafsunya, padahal begitulah cara yang sebenarnya untuk raemuliakan diri manusia.
Sungguh tidak  sedikit  manusia yang  sengsara di akhirat  akibat berfoya-foya dengan kelezatan hawa nafsu clan syahwatnya di dunia.
Ada sebuah riwayat yang demikian bunyinya: “Ketahuilah bahwa jalan yang mengantarkan manusia menuju surga bagai jalan terjal dau bertebing.”
Kata al-haznah artinya ialah tanah keras yang penuh bebatuan. Perbuatan surgawi mesti melalui bukit yang tinggi nan terjal. Sedang perbuatan neraka hanya bagai berjalan di atas tanah yang mulus dengan “peluncur” nafsu, kesenangan dan kelezatan.
Demikianlah, orang yang berjalan di atas tanah yang keras, terjal dan menaiki tebing- tebing yang bebatuan, seakan dia melawan gravitasi. Sedangkan orang yang berjalan di tanah  yang  mulus,  seakan  dia  berserah-diri  pada  gravitasi.  Inilah  perbedaan  antara “kinerja surgawi” dan “kinerja neraka” serta antara ketaatan dan kemaksiatan.
2. Imam Ali as pernah menukil sabda Rasulullah SAWW yang demikian bunyinya: 
Sesungguhnya (jalan ke surga) penuh dengan kesusahan, sedang (jalan ke) neraka penuh dengan nafsu (Baca : kemudahan). Camkanlah! Ketaatan kepada Allah dilakukan dengan kesusahan. Sedang kemaksiatan hepada Allah dilakukan dengan nafsu. Semoga Allah merahmati orang  yang  menjauhkan jiwanya dari rayuan syahwatnya dan orang  yang mengalahkan hawa nafsunya. Sesunggnhnya syahwat hendaknya ditarik sejauh mungkin (dari jiwa). Syahwat senantiasa rindu kepada kemaksiatan yang dilakukan dengan nafsu.”
Nash ini mengungkap kesimpulan yang sama dengan teks-teks keislaman lainnya. Surga adalah terminal akhir gerak askendensial (menaik) manusia menuju Allah, sedang neraka adalah terminal akhir gerak deskendensial (menurun) manusia menuju kehancuran.
Tujuan yang pertama itu diliputi berbagai derita dan rintangan.  Berbagai clerita dan rintangan itu terjadi akibat dari upaya jiwa menentang dan menolak ajakan hawa nafsu. Adapun tujuan yang keduanya penuh clengan kesenangan yang mudah menggelincirkan seorang ke jurang hawa nafsu.
Melalui sabda Nabi SAWW di atas, Imam Ali as menciptakan suatu landasan umum yaitu, tiada ketaatan yang diperoleh seorang kecuali dengan ketidaksukaan. Dan tiada kemaksiatan yang dilakukan seorang kecuali dengan kesenangan nafsu.
Setelah uraian ini, tidak sulit bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa mengapa jalan menuju kesempurnaan pertumbuhan dan gerakan menuju Allah harus melintasi hawa nafsu. Dan hanya melalui hawa nafsu ini manusia dapat naik menuju Allah SWT.
(dikutip dari buku :Hawa Nafsu, Shohib Aziz Zuhri, penterjemah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed