by

Korelasi Iman dan Amal, Sebuah Uraian dari Sayyid Ali Khamenei

Frase iman yang beredar dan diperbincangkan di pelbagai forum di tengah khalayak adalah jenis pengetahuan rasional, yang tidak lain adalah produk konsepsi subjektif dan relatif. Iman terdiri dari dua dimensi: 1) Dimensi kemutlakan yang bersifat ontologis, 2) Dimensi kerelatifan yang bersifat epsitemologis. Namun dimensi ontologis tidak bisa dijelaskan. Karenanya, dimensi ontologis hanya bisa dijelaskan secara epistemologis. Dengan demikian, dimensi kemutlakan dan dimensi kerelatifan menjadi bagian dari Iman Epistemologis (iman dengan pengetahuan). (Syiah Menurut Syiah).
Karena itu, dalam pembahasan ini akan diuraikan secara singkat tulisan Iman Ali Khamenei dalam buku “Akar Keimanan”. Tentang bagaimana hubungan Iman dan amal serta konsekwensinya dengan pendekatan Al-Qur’an.
Iman merupakan salah satu dari Ciri-ciri terpenting bagi Rasulullah dan Pengikut-pengikutnya Iman menjadi prinsip dan asasi agama sehingga hal ini selalu mendapatkan penekanan-penekanan khas di dalam Al-Qur’an.
Seperti firman-Nya :
”Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadan ya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, K itab-K itabNya dan Rasul-RasulNya. (Mereka mengatakan) ”Kami tidak membeda – bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-RasulNya,” dan mereka mengatakan: ”Kami dengar dan kami taat” (mereka berdoa); ”Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah temp at kembali. ” – Al Baqarah : 285. 
Iman lahir dari pengertian, kebijaksanaan dan ilmu; ia bukanlah kepercayaan yang membabi buta atau hanya taqlid semata-mata. lman dapat membedakan kepercayaan – kepercayaan sesat yang tidak masuk akal dan tidak mempunyai dasar ketinggian nilai apapun.
lman Dan Amal

“IMAN memang universal dan borderless, tapi ia harus mendarat di altar AMAL yang konkret & teritorial. Inilah konteks kesinian dan kekinian” – @muhsinlabib

Adakah Iman ini suatu kepercayaan yang abstrak atau pemikiran? Adakah patut dibicarakan lman sebagai suatu hal yang dinamis yang dapat memberikan warna-warna kehidupan kita?
Al-Qur’an senantiasa menghubungkan Islam lman dengan pengamalan dan menganggap ia sebagai pendorong yang sangat kuat untuk menuju ke arah destinasi yang diingini. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia akan bergantung kepada lman dan amainya untuk hidup di alam setelah kematian kelak menghampirinya.
Firman Allah dalam surat Al-Hajj :77-78
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. 22:77) Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu Pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Di dalam ayat di atas yang penting tentang kepercayaan agama ialah kemenangan, kejayaan, kelebihan, kepemimpinan Penganut-penganutnya. Bantuan Tuhan semuanya tergantung kepada iman yang dinamis disertai dengan amal-amalnya. Ayat yang berikut ini mengingatkan kita tentang amal perbuatan yang Iahir dari Iman dan menerangkan peranan Iman yang dinamis dalam masyarakat Islam.
Firman Allah dalam surat Al-Anfal : 72
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Iman dan Konsekwensinya
Menurut ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan tadi di atas Iman yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan amalan. Bagi orang-orang yang mencari keuntungan mereka tidak menganggap bahwa semua tanggungiawab Iman itu sebagai suatu kewajiban. Mereka hanya menerima tanggungjawab tersebut selaras dengan minat individu saia. Kalau tanggungjawab tersebut bertentangan dengan kehendak, dan kepentingannya, mereka akan melalaikannya.
Orang-orang seperti ini tidak disebut sebagai orang yang beriman. Mereka merasai keikhlasan Iman hanya apabila di dalam kesusahan. Al-Qur’ an telah menjanjikan keselamatan kemakmuran, kemenangan dan keutamaan kepada orang-orang yang beriman dalam semua keadaan dan menjalankan segala tuntutan keimanannya.

“Keyakinan universal (IMAN) yang dianut umat tidak menafikan penerapannya (AMAL) yang bersifat individual, profan,  dimensional & konkret.”- @muhsinlabib

Sumber : Buku Akar Keimanan  Karya Sayyid Ali Khamenei

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed