by

​Imam Ali Khamenei : Ilmu Tauhid sebagai Ideologi Islam 

“Ilmu Tauhid menurut Al-Qur‘an bukanlah satu konsep yang abstrak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ia merupakan suatu pengertian yang membina, ia iuga adalah satu jalan pemikiran yang memainkan peranan dan yang berkesan dalam pembangunan dan pentadbiran (penciptaan/ pembentukan) sesuatu masyarakat. Ia memberi definisi kepada tujuan dan strategi kemasyarakatan, ilmu Tauhid ialah salah satu asas dalam prinsip ideologi Islam”.

Menurut pandangan dunia Islam, satiap fenomena di dunia bergantung dan dicipta oleh kakuasaan yang luar biasa. Kekuasaan yang luar biasa ini ialah Tuhan (Allah), Dia mempunyai segala Sifat-sifat yang mulia seperti ilmu, sumber kehidupan dan sebagainya.
Segala benda yang terdapat di dunia dari sekecil-kecilnya sampai kepada yang setinggi-tingginya seperti cakerawala, semuanya dicipta dan di bawah pengaturannya. Semua makhluk bernyawa di dunia ini (hewan, dan manusia) adalah hamba yang senantiasa tunduk kepadaNya. Dari segala segi pengabdian mereka tidak terkecuali baik itu kanakkanak, wanita, isteri-isteri dan sebagainya, Dialah pencipta dan Dialah yang memberikan kuasa untuk berfikir, menbuat keputusan, memilih keinginan dan sebagainya kepada semua makhluk-Nya.
Pandangan ini merupakan satu pandangan dasar yang penting mengenai prinsip-prinsip pemikiran (praktikal) dalam Islam (ldeologi Isiam).
Irama yang halus mengenai ilmu Tauhid dapat didengar dari beratus-ratus alunan ayat Al-Qur’an. Di antaranya bunyi ayat kursi sebagai berikut :
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
”Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (٨٨) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (٨٩) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (٩٠) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (٩١) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (٩٢)إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (٩٣) لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا (٩٤) وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ( )٩٥
“Dan mereka[1] berkata, “Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, 90. Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh[2], (karena ucapan itu), 91. Karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Allah Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari kiamat. (Maryam ; (88-95)
Ilmu Tauhid menurut Al-Qur‘an bukanlah satu konsep yang abstrak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ia merupakan suatu pengertian yang membina, ia iuga adalah satu jalan pemikiran yang memainkan peranan dan yang berkesan dalam pembangunan dan pentadbiran (penciptaan/ pembentukan) sesuatu masyarakat. Ia memberi definisi kepada tujuan dan strategi kemasyarakatan, ilmu Tauhid ialah salah satu asas dalam prinsip ideologi Islam.
Ketergantungan dunia dan manusia kepada Allah membuat dunia ini dicipta untuk sesuatu tujuan. Ia juga menunjukkan tanggungjawab itu untuk membolehkan manusia memilih jalan yang Iurus dan mana manusia harus menggunakan kebebasannya berfikir dan untuk memilihnya.
Makhluk yang bernyawa yang berfikiran waras adalah yang takluk di bawah pemerintahanNya dan menganggap Tuhan sebagai pencipta alam ini iuga menunjukkan bahwa kekuasaan undang-undangnya adalah melingkupi segala sesuatu. Ilmu Tuhan yang tidak terbatas itulah yang membuat suatu kebijaksanaan untuk memerintah manusia berdasarkan keinginan dan minat manusia sesuai dengan fitrah dasarnya.
Persamaan semua makhluk yang bernyawa terhadap Allah dari segi pengabdian membuat tiada makhluk-Nya yang diberi keutamaan dan kekuasaan untuk memerintah pihak yang lain. Pemimpin juga terdiri dari orang-irang yang Allah sendiri memilihnya, bagitu pula dengan menentukan seorang Imam atau dengan mendefinisikan kriteria-kriteria Islam untuk memimpin di masa ketiadaan Imam.
Ayat Al-Qur’an berikut ini dapat menjelaskan kembali mengenai pemikiran Islam mengenai Ilmu Tauhid :
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. Al-Baqarah: 166)
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)”
Kepatuhan dan Pengabdian Pada Allah
DaIam ayat Al-Qur’an berikut, IsIam memberi beberapa cadangan yang ditujukan kepada ahli kitab. Sebagaimana yang kita fahami bahwa ilmu Tauhid bukanlah satu konsep faIsafah, tetapi ia merupakan satu konsep keimanan seseorang manusia dalam menjalani kehidupan sosial maupun individu manusia itu sendiri.
Mengenai prinsip Ilmu Tauhid, manusia tidak mempunyai hak untuk menyembah atau mentaati siapa pun selain Allah. Semua penderitaan-penderitaan dan penindasan yang terjadi atas manusia oleh tuhan-tuhan palsu tidak mempunyai dasar apapun sebagai alasannya. Seperti halnya berhala, tuhan-tuhan palsu, raja-raja yang zalim dan kecenderungan pribadi dalam jiwa yang dipengaruhi nafsu. Berikut iaiah ayat-ayat yang membuat penjelasan mengenai tuhan-tuhan palsu itu. (seperti : manusia atau benda Iain) dan pandangan Ilmu Tauhid itu sendiri daIam menyoroti permasalahannya.
Jadi di sini amat jelas kepada kita bahwa nilai-nilai yang patut manusia terima hanyalah untuk mendapat petunjuk dan menjadi yang ditunjuk Ayat tarsebut di atas sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mengaku dirinya tuhan dan menganggap diri mereka sebagai sahabat tuhan dan menyuruh orang lain mentaati dan memerintah agama, ini menjadi hambanya. IsIam menoIak keras perhambaan terhadap tuhan-tuhan palsu rahib-rahib atau kepada raja-raja yang zaIim.
Ruh Tauhid : Ketiadaan Penghambaan Kepada Tuhan-Tuhan Palsu
Dengan meneliti ayat-ayat Al-Qur’an kita akan mendapatkan uraian-uraian dan keterangan-keterangan tentang kesan-kesan ilmu Tauhid dan kaitannya dengan tata cara kehidupan individu dan organisasi sosial.
Menurut Al-Qur‘an, dengan hanya mengingkari adanya tuhan-tuhan palsu saja belumlah dapat dikatakan bahwa seseorang itu betul-betul telah faham mengenai arti dari keEsaan Allah. Untuk membolehkan seseorang itu dipanggil sebagai orang yang memahami keEsaan Allah, dia mestilah menentang kekuasaan dan keta’atan kepada tuhan-tuhan itu tadi kecuali kekuasaan Allah.
Dengan cara ini, pengabdian dan kepercayaan kepada Allah barulah memberikan makna dan disini ruh Ilmu Tauhid baru boleh dikatakan sebagai “Ketaatan” hanya kepada Allah semata!. Maka, penyembahan kepada tuhan-tuhan palsu seperti mentaati perintah dari seseorang individu, undang-undang atau struktur sosial dianggap seperti penyembahan terhadap berhala.
Oleh sebab itu, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an berikut yang mempunyai nada menentang terjadinya hal-hal seperti itu.
Sumber : Buku “Akar Iman” Karya Sayyid Ali Khamenei

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed