by

Fiqih Syiah Thaharah (2) : Takhalli (Buang Air)

Hukum-hukum Takhalli (Buang Air Kecil dan Buang Air Besar)
a. Memperhatikan Arah Kiblat
Ketika tengah melakukan takhalli, tidak ada kebolehan bagi seseorang untuk menghadap atau membelakangi kiblat. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 33)
b. Penutup
Ketika tengah bertakhalli –dan pada waktu-waktu yang lain-, wajib bagi manusia untuk menutupi auratnya dari pandangan orang lain selain pasangannya, baik dari pandangan laki-laki, wanita, mahram ataupun non mahram, bahkan dari anak-anak belum baligh yang telah memiliki kemampuan untuk membedakan (mumayyiz). Akan tetapi antara suami dengan istri dan sebaliknya, tidak ada kewajiban untuk saling menutup auratnya masing-masing. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 34)
Sebagian dari Makruh-makruh dalam Takhalli 
1. Buang air kecil dengan berdiri;
2. Buang air kecil di atas tanah keras dan lubang hewan;
3. Buang air kecil di dalam air, khususnya air tergenang;
4. Menahan diri dari buang air kecil dan air besar;
5. Melakukan takhalli di jalan, tempat lalu-lalang, dan di bawah pohon yang tengah berbuah.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 39)
Istibra’
1. Laki-laki yang telah istibra‟ setelah buang air kecil, bila setelah itu keluar cairan dari lubang kencing yang tidak diketahuinya sebagai air kencing ataukah sesuatu yang lain, maka cairan tersebut dihukumi suci, dan tidak ada kewajiban baginya untuk memeriksa atau mencari informasi tentang masalah ini.(Ajwibah al-Istifta’at, no. 92, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 38)
2. Cara terbaik untuk melakukan istibra‟ adalah: pertama, setelah air kencing berhenti membersihkan lubang anus
jika bagian ini terkena najis, setelah itu menarik jari tengah dan ibu jari tangan kiri dari lubang anus ke arah pangkal vital sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan meletakkan ibu jari pada permukaan vital dan jari telunjuk di bawahnya lalu menariknya sampai ke kepala vital sebanyak tiga kali yang kemudian diakhiri dengan menekan kepala vital sebanyak tiga kali pula.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 91)
3. Dari sisi tata cara, tidak ada perbedaan antara istibra‟ yang dilakukan sebelum membersihkan lubang anus ataupun setelah membersihkannya.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 38)
4. Jika seseorang melakukan istibra‟ dan berwudhu setelah buang air kecil, kemudian darinya keluar cairan yang diragukan antara air kencing ataukah mani, untuk mendapatkan keyakinan akan kesucian (thaharah) dari hadats, maka wajib berwudhu. baginya untuk mandi dan juga.
(Ajwibah al-Istifta’at, Perhatian: no. 145)
Perhatian :
a. Jenis-jenis cairan yang kadangkala keluar dari manusia:
1. Wadziy yaitu cairan yang kadangkala keluar setelah keluarnya air mani.
2. Wadiy yaitu cairan yang pada sebagian waktu keluar setelah air kencing.
3. Madziy yaitu cairan yang keluar setelah laki-laki dan wanita bercumbu.
b. Keseluruhan cairan di atas adalah suci dan tidak membatalkan thaharah.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 93)
 
Istinja’ (Membersihkan Tempat Keluarnya Air Kencing dan Lubang Anus)
Tata cara membersihkan tempat keluarnya air kencing:
1. Tempat keluarnya air kencing tidak akan suci kecuali dengan air.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 89)
2. Berdasarkan ihtiyath wajib, tempat keluarnya air kencing ini akan menjadi suci dengan dua kali basuhan.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 90 dan 98, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 35)
 
Tata cara membersihkan lubang anus, Lubang anus bisa disucikan dengan dua cara:
1. Dibasuh dengan air hingga benda najisnya hilang, dan setelah itu tidak ada kewajiban untuk membasuhnya lagi.
2. Membersihkan ainun najisnya dengan tiga buah batu, tiga helai kain atau sejenisnya, bila setelah itu belum juga hilang, maka harus dibersihkan dengan batu lainnya hingga bersih secara sempurna. Tiga buah batu atau tiga helai kain, bisa juga digantikan dengan sebuah batu atau sehelai kain tetapi pengusapan dilakukan pada tiga sisi yang berbeda.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 90 dan 98, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 35)
Dalam tiga keadaan, lubang anus hanya bisa disucikan dengan air:
1. Bila terdapat najis-najis lain seperti darah yang keluar bersamaan dengan kotoran besar.
2. Bila terdapat najis-najis dari luar yang sampai ke lubang anus.
3. Bila daerah sekitar lubang terkotori hingga melewati batas kewajaran (dengan kata lain, kotoran telah mengenai tempat-tempat lain).
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 37)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed