by

Teks-Teks Nubuwwah Tentang Imamah Imam Ali

“Salam untuk Ali dan sebutlah dia Amirul mukminin” – Rasulullah saaw. 

Suatu kali Nabi Saww memanggil para sahabat beliau dan berkata:
“Salam untuk Ali dan sebutlah dia Amirul mukminin”
Ini juga dikatakannya pada kesempatan al-Ghadir, entah bagaimana kalimat ini diriwayatkan secara terpisah dari peristiwa al-Ghadir. Kaum Sunni tidak menerima hadits ini dikatakan mutawatir, tetapi para ulama Syi’ah telah membuktikannya, Tajrid tidak membuat penguraian selanjutnya mengenai hadits ini, ia menggambarkan hadits ini sebagai dapat dipercaya kendati rantai sanadnya terputus. Mulla Ali Qushchi mengatakan bahwa hadits ini tidak dapat di terima sebagai mutawatir dan pasti hadits yang terputus, karena hanya dikutip oleh beberapa orang, tidak semua.
al-gadir-syiahmenjawabKitab-kitab seperti ‘Abaqat dan al-Ghadir telah memfokuskan usaha mereka dalam membuktikan bahwa semua riwayat yang berhubungan dengan Imamah Imam Ali adalah mutawatir. Dalam dua kitab ini, khususnya al-Ghadir, para pembawa kitab hadits al-Ghadir dalam setiap generasi sampai abad 14 telah menyebutkan satu demi satu. Kitab ini menyebutkan lebih dari 60 sahabat Nabi telah meriwayatkan hadits ini. Cukup menarik untuk diketahui bahwa semua nama-nama ini dikumpulkannya dari kitab-kitab Sunni.
Demikian juga kitab ini menyebutkan para pembawa hadits ini dari para pengganti para sahabat. Semua ini kira-kira pada abad pertama. Oleh karenanya, dengan cara yang sama ia menyebut para pembawa hadits ini dalam setiap generasi dan setiap abad.
Suatu ciri khusus dari hadits ini adalah bahwa ia telah menyebutkan juga sumber kesusasteraan dalam mendukung hadits ini. Sedangkan ‘Abaqat hanya menyebutkan nama-nama dari pembawa hadits ini yang membawakannya dalam tiap zaman dan abad. Para penyair dalam setiap zaman menggambarkan ide-ide utama di antara orang-orang yang hidup pada masa itu. Jika benar bahwa hadits mengenai peristiwa al-Ghadir itu dibuat dalam abad keempat, maka tidak akan disebut-sebut dalam bait-bait yang disusun oleh para penyair abad pertama, kedua dan ketiga. Dalam setiap abad kita dapati bahwa peristiwa al-Ghadir merupakan bagian dari literatur abad itu.
Oleh karenanya, dari sudut pandang historis, bagaimana kita dapat mengingkari hadits ini? Kami sering menemukan para sastrawan memastikan apakah’masalah ini ada dalam sejarah. Jika ditemukan bahwa banyak sastrawan yang telah merujuk kepadanya dalam tiap-tiap abad, maka menjadi pastilah bahwa ide ini telah ada pada masa mereka. Penulis ‘Abaqat telah mencurahkan di selunih buku ini kepada sebuah hadits tunggal dan secara kritis menguji semua pembawa hadits ini. Dengan melihat apa yang disusunnya, seseorang akan dipenuhi dengan ketakjuban.
Ada hadits lain yang telah diriwayatkan berkenaan dengan ucapan Nabi Saww menyangkut Imam Ali As. Diriwayatkan bahwa beliau telah berkata:
“Engkau akan menjadi khalifah setelah aku. ”
Di samping kedua hadits ini, ada beberapa hadits lain yang sepertinya.
Sirah Ibnu Hisyam adalah sebuah kitab yang ditulis dalam abad kedua. Ibnu Hisyam sendiri mungkin hidup pada abad ketiga, tetapi kitab ini asalnya ditulis oleh Ibnu Ishaq, yang hidup pada abad kedua. Kemudian kitab ini diringkas oleh Ibnu Hisyam yang tulisannya telah sampai kepada kita. Kitab ini sebagai dapat dipercaya oleh kaum Sunni, ia menceritakan dua peristiwa yang tidak disebutkan oleh Tajrid. Bagaimanapun peristiwa-peristiwa itu relevan dan seperti halnya di sini kita uraikan kembali.
Sumber : Buku Imamah dan Khilafah karya Murtadha Mutahhari (80-82)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed