by

Fiqih Syiah Thaharah (3) : Najis (a)

Macam-macam Najis
Najis terdiri dari: a. Air kencing; b. Kotoran besar; c. Mani manusia; d. Bangkai (jasad mati); e. Darah; f. Anjing; g. Babi; h. Minuman yang memabukkan, berdasarkan ihtiyath (wajib); i. Orang kafir yang tidak percaya terhadap agama- agama langit (Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan Islam).
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 9)
Perhatian:
Segala sesuatu berada dalam hukum thaharah (suci) kecuali Tuhan menghukumi kenajisannya. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 93)
Penjelasan:
A. Air kecing, dan B. Kotoran besar terbagi menjadi: 
1. Air kencing dan kotoran besar yang najis, terdiri dari:
a. Air kencing dan kotoran besar manusia. b. Air kencing dan kotoran besar setiap hewan berdaging haram yang berdarah memancar (berdarah panas), seperti tikus, kucing, dan sebagian dari spesies burung.
2. Air kencing dan kotoran besar yang tidak najis, terdiri dari:
a. Air kencing dan kotoran besar hewan-hewan berdaging halal, baik burung, seperti burung
gereja, burung merpati, atau selain burung, seperti sapi dan kambing.
b.Air kencing dan kotoran besar hewan-hewan berdaging haram yang tidak berdarah memancar, seperti ular dan ikan yang tak bersisik.
c. Air kencing dan kotoran besar burung-burung berdaging haram, seperti burung gagak dan burung nuri.
Perhatian:
a. Air kencing dan kotoran manusia dan setiap hewan berdaging haram yang berdarah memancar adalah najis, kecuali dari jenis burung-burung berdaging haram yang kotoran dihukumi suci.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 279 dan 280, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
b.Air kencing dan kotoran hewan-hewan berdaging halal, baik dari jenis burung maupun selain burung, adalah suci.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 279 dan 280, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
 
C. Mani
1. Mani manusia adalah najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 277, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
2. Seseorang yang istibra‟ setelah buang air kecil dan bersamaan dengan istibra‟ tersebut keluar cairan yang tidak dia ketahui sebagai mani ataukah selainnya, bila dia tidak menemukan keyakinan akan ke-mani-annya dan keluarnya cairan tersebut tidak pula diikuti dengan tanda-tanda syar’i keluarnya mani, maka cairan ini tidak memiliki hukum mani dan dianggap suci.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 278)
Perhatian:
Tanda-tanda mani:
a. Pada laki-laki:

  1. Diikuti dengan syahwat (kenikmatan seksual yang akan muncul ketika gairah seksual terpuaskan secara sempurna, orgasme).
  2. Adanya tekanan dan pancaran.
  3. Tubuh menjadi lemas.

b. Pada wanita: hanya syahwat.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 171, 177, 180 dan 186)
 
D. Bangkai (jasad mati)
Bangkai terdiri dari :
a. Bangkai manusia, yang terbagi menjadi:
1. Bangkai Muslim dihukumi najis, kecuali:a. Anggota-anggota tubuhnya yang tak bernyawa, seperti kuku, rambut dan gigi. b. Syahid di medan perang. c.  Ketika telah dimandikan.
2. Bangkai Kafir, terdiri dari:
a. Kafir ahli kitab, adalah najis, kecuali anggota- anggota tubuhnya yang tak bernyawa. b. Kafir yang bukan ahli kitab, keseluruhan anggota tubuhnya adalah najis. b. Bangkai hewan, terbagi menjadi:
– Bangkai anjing dan babi, keseluruhan anggota tubuhnya najis.
–  Selain anjing dan babi, yang terbagi pula menjadi:

  • Berdarah memancar:

1.  Anggota tubuhnya yang bernyawa seperti daging dan kulit adalah najis, kecuali hewan yang disembelih sesuai syar’i.
2. Anggota-anggota tubuh yang tak bernyawa seperti bulu dan tanduk adalah suci.

  • Tidak berdarah memancar: keseluruhan anggota tubuhnya suci.

 
Penjelasan:
1. Bangkai manusia dan setiap hewan yang berdarah memancar adalah najis, baik yang berdaging haram maupun halal.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
2. Hewan yang disembelih sesuai aturan syar’i dan juga jasad manusia setelah dimandikan, terkecualikan dari hukum bangkai dan tidak najis.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
Perhatian:
Yang dimaksud dengan telah dimandikan di sini adalah ketiga mandi jenazahnya. Oleh karena itu, tubuh jenazah selama mandi ketiganya belum diselesaikan dengan sempurna, akan tetap dihukumi najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 271)
Segala sesuatu dari bangkai yang tidak memiliki ruh, seperti bulu, rambut, gigi, tanduk dan sebagainya adalah suci, kecuali pada anjing, babi dan orang kafir yang bukan ahli kitab.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
 
Dua Poin Berkenaan dengan Bangkai

  1. Kulit tipis (kulit ari) yang terpisah dengan sendirinya dari tangan, kaki dan seluruh bagian tubuh, dihukumi suci.
    (Ajwibah al-Istifta’at, no. 272)
  2. Daging, lemak dan seluruh anggota tubuh hewan yang dijual di wilayah Islam adalah suci, demikian juga bila barang-barang ini berada dalam kewenangan Muslimin. Namun, meskipun barang-barang ini disediakan oleh non Muslim, jika tidak ada keyakinan akan tiadanya pensucian syar’i, maka tetap akan dihukumi suci. Dengan ibarat lain, barang-barang ini akan dianggap
    najis hanya ketika kita memiliki keyakinan bahwa hewan tersebut tidak disembelih secara Islami, sedangkan bila kita mengetahui atau berasumsi bahwa hewan tersebut telah disembelih secara Islami, maka hukumnya suci.
    (Ajwibah al-Istifta’at, no. 275 dan 276, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 12)

E. Darah

  1. Darah manusia dan darah setiap hewan yang berdarah memancar adalah najis, baik yang berdaging haram maupun halal.
    (Ajwibah al-Istifta’at, no. 266 dan 267, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
  2.  Darah yang tertinggal di dalam tubuh hewan setelah disembelih adalah suci.
    (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 14)
  3. Bercak darah yang kadangkala terdapat di telur, dihukumi suci, akan tetapi memakannya adalah haram.
    (Ajwibah al-Istifta’at, no. 269, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 14)

 
F. Anjing, dan G. Babi
Anjing dan babi adalah najis, dan dalam hukum ini tidak ada perbedaan antara anggota-anggota tubuhnya yang bernyawa ataupun tidak bernyawa.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 274, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
Satu Poin Berkenaan dengan Anjing dan Babi
Menggunakan rambut (anjing dan) babi pada masalah yang mensyaratkan kesucian, seperti wadah air untuk wudhu dan mandi, adalah tidak diperbolehkan, akan tetapi menggunakannya pada persoalan-persoalan yang tidak  mensyaratkan kesucian, seperti pada kuas-kuas yang digunakan untuk melukis, tidaklah menjadi masalah. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 274)
 
H. Minuman yang Memabukkan
Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyath (wajib) adalah najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 301, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
Perhatian:
a. Tiap-tiap jenis alkohol memabukkan yang bentuk awalnya adalah cair, berdasarkan ihtiyath (wajib) adalah najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 307, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 9)
b. Air anggur yang telah dididihkan dengan api, belum berkurang hingga dua pertiganya, dan tidak memabukkan, tidaklah dianggap najis, namun haram memakannya.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 302)
c. Bila sebuah zat yang memabukkan pada awalnya tidak berbentuk cair, seperti ganja dan narkotik, apabila berubah menjadi cair dengan mencampurkan air atau cairan lain, maka hal seperti ini tidak dianggap najis.
(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah, masalah 15)
d. Jika di dalam sejumlah anggur mentah terdapat biji anggur matang yang jumlahnya sangat sedikit, dimana jika keseluruhannya terendam di dalam air, air dari buah anggur matang akan terserap ke dalam air anggur mentah sedemikian hingga tidak bisa dibuktikan, maka dengan mendidihkannya tidak akan menjadikannya najis. Akan tetapi bila buah anggur matang tersebut dididihkan secara terpisah dengan api, maka memakannya dihukumi haram.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 303)
 
I. Kafir
Orang yang mengingkari tauhid, nubuwwat (kenabian), atau mengingkari salah satu dari prinsip-prinsip agama Islam, seperti shalat, puasa, atau meyakini adanya ketidaksempurnaan dalam risalah Rasul saw, maka dia adalah kafir dan najis, kecuali bila ia seorang ahli kitab.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 313, 316, dan 336)
Perhatian:
1. Mengingkari masing-masing prinsip agama, baru bisa membuat seseorang menjadi kafir ketika hal tersebut menyebabkan penolakannya terhadap risalah, pendustaan terhadap kerasulan Rasul saw, atau penghinaan syariat.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 336)
2. Orang kafir yang ahli kitab dihukumi suci. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 336)
Perhatian:
Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah setiap orang yang menganut salah satu dari agama-agama Ilahi, menganggap dirinya sebagai pengikut dari salah seorang utusan Allah swt, dan memiliki salah satu dari kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada para Nabi as, seperti Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan ash- Shabi‟un (yang mengaku sebagai pengikut Yahya as dan menyatakan memiliki kitab Yahya as).
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 316 dan 322)
3. Hanya dengan memiliki keyakinan terhadap risalah Nabi terakhir saw tidaklah cukup menjadi dasar untuk melaksanakan hukum Islam, oleh karena itu sekelompok ahli kitab yang dari sisi keyakinan beriman kepada risalah Rasul saw, akan tetapi secara praktis berperilaku berdasarkan asas, metodologi dan adat istiadat para nenek moyang dan leluhur mereka, tidak bisa dianggap sebagai Muslim. Namun, bila
mereka tergolong sebagai ahli kitab, maka dihukumi suci.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 314)
4. Para Muslim yang murtad, dihukumi kafir, dan bila mereka berubah menjadi kafir yang bukan ahli kitab, maka mereka pun akan menjadi najis. Akan tetapi meninggalkan shalat, puasa dan seluruh kewajiban- kewajiban syar’i lainnya, hanya akan menjadikannya diragukan sebagai seorang Muslim dan tidak akan mengubah statusnya menjadi kafir atau menjadikannya najis, dan selama keraguan tersebut belum terbukti, dia tetap memiliki hukum sebagaimana yang dimiliki oleh seluruh Muslim. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 315)
5. Aliran “Aliyullahi” apabila mereka berkeyakinan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as adalah Tuhan atau menganggapnya sebagai sekutu- Nya, maka mereka adalah kafir dan najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 317 dan 318)
6. Seseorang yang menjelek-jelekkan dan menghina salah satu dari Imam Maksum as, akan dihukumi kafir dan najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 320)
7. Seluruh pengikut aliran sesat Bahaiyyah, dihukumi najis.
(Ajwibah al-Istifta’at, no. 328)
 
Sumber : FIKIH PRAKTIS ; KUMPULAN FATWA-FATWA Ayatullah al-Uzhma Ali Khamenei

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed