by

MT. Misbah Yazdi : Tawassul & Syafaat, Pintu Menjalin Hubungan dengan Allah swt

Pengertian syafaat di kalangan muslim, terkadang bervariasi. Karenanya memberikan interpretasi yang valid terhadapnya akan memompakan semangat yang positif. Syafaat yang merupakan perpanjangan dari luth (kelembutan) illahi ini coba diuraikan dengan proporsional dan renyah dalam tulisan ini.

“.. Dia tidak menjadikan adanya orang yang menghalangi antara engkau dan Dia. Dia juga tidak menjadikan adanya perantara antara engkau dan Dia. Apabila engkau berbuat kesalahan, Dia tidak pernah melarangmu untuk bertobat; Dia tidak mencelamu, bila kau kembali kepada-Nya. Dia tidak bercepat-cepat dalam memberikan hukuman padamu.. ” – MT. Misbah Yazdi

 
Syafaat dalam Pandangan Islam 
Syafaat di dunia, di samping pengertian tentang syafaat yang tertolak itu, terdapat dua makna dan pengertian lain. Ada substansi lain berkaitan dengan syafaat yang ditemukan. Pertama, adalah syafaat di dunia, yakni tawasul (berwasilah/ berperantara) dengan Rasulullah dan para Imam suci as yang biasa kita lakukan, agar mereka memohonkan kepada Allah untuk mengabulkan doa-doa kita.
Namun perlu digarisbawahi, bahwa amalan ini, bukan berarti apabila syafaat dan tawasul yang seperti ini tidak ada, maka jalan sehingga tidak ada doa yang sampai dan dikabulkan oleh-Nya. Tidak demikian! Akan tetapi, syafaat dan tawasul merupakan nikmat dan pintu lain bagi rahmat illahi, sehingga sesuai dengan kemampuan berdoa dan ibadah kita, kita akan mendapatkan rahmat ilahi.
Di samping itu, terdapat sebuah faktor penguat yang dengannya kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang menjadi hak kita. Dengannya doa kita akan menjadi lebih balk, lebih banyak (dalam mendatangkan anugerah), lebih sempurna dan lebih cepat dikabulkan.
Melalui tawasul, apa yang menjadi keinginan kita akan kita peroleh secara sempurna. Fungsi tawasul dan syafaat di sini adalah sebagai faktor penguat, dan bukan berarti tanpanya kita tidak lagi dapat berdoa. (Di dalam ajaran Islam), setiap orang bisa menjalin hubungan dengan Allah kapan dan di mana saja sesuai kemauannya; ia bisa memohon ampunan dan meminta hajatnya sendiri. Akan tetapi, bertawasul dan menjadikan manusia-manusia suci para kekasih Allah sebagai pemberi syafaat adalah upaya untuk memuluskan dan melancarkan berbagai permohonan dan doa.
Lebih daripada itu, jalan ini telah ditentukan dan dianjurkan oleh Allah sendiri, yakni sementara kita sendiri berdoa dan mengajukan permohonan kepada Allah, kita juga bertawasul kepada Rasulullah saw agar doa kita lebih cepat diterima dan dikabulkan.
Contoh dan substansi nyata dari syafaat dan tawasul, adalah makna yang dikandung dalam ayat berikut ini:
Apabila (para pembangkang) yang menganiaya dirinya ini datang padamu dan memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun bagi mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Jadi, berdasarkan makna ini, syafaat berarti sebuah faktor penguat, sebuah faktor yang menjamin doa menjadi lebih sempurna dan lebih cepat dikabulkan. Bukan berarti apabila syafaat tidak ada dan Allah tidak mengadakan wasilah ini, lalu doa tidak mungkin dipanjatkan dan hubungan dengan Allah Swt. Jadi putus-dengan alasan bahwa cara ini sebagai satu-satunya jalan berhubungan dengan Allah.
Sehingga, berdasarkan makna ini, meminta pertolongan kepada para wali dan kekasih Allah, bertawasul dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafaat adalah perbuatan yang sah-sah saja.
Yang perlu diingat, sekali lagi, hal seperti itu tidak berarti bahwa seandainya syafaat tidak ada, lantas kita tidak bisa menjalin hubungan langsung dengan Allah Swt. Allah tidak pernah menutup jalan bagi siapapun untuk berhubungan langsung dengan-Nya, tetapi mereka yang melewati jalan tawasul dan syafaat akan mendapatkan kemudahan serta kelancaran. 
Oleh karena setiap orang akan menjalin hubungan dengan Allah sesuai kadar makrifat dan imannya, dan karena iman serta makrifat kita lemah, maka kualitas hubungan kita pun sangatlah rendah dan berada pada jalur yang sangat terbatas. Akan tetapi, apabila kita dapat menghubungkan diri kita pada jalur yang lebih kuat, jalan yang lebih luas dan saluran yang lebih baik, sementara diri kita sendiri juga berusaha dan berdoa serta menggantungkan tangan kita pada pintu rahmat Allah yang luas, maka kemungkinan kita untuk mendapatkan rahmat-Nya akan menjadi lebih besar dan lebih banyak. Sekali lagi, bukan berarti tanpa tawasul dan syafaat berarti kita tidak mungkin mendapatkan rahmat ilahi.
Satu hal tidak boleh diabaikan dan dilupakan, bahwa Allah swt memberikan nikmat ini, yakni bertawasul kepada Rasul saw dan Ahlulbait as, sebab jalan ini lebih cepat dan mujarab untuk sampai pada rahmat illahi. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dan menyombongkan diri seraya berkata “Aku akan mendatangi langsung pintu Allah tanpa perantara dan syafaat. Karena aku tidak membutuhkan semua itu.”
Maka kesombongannya ini akan bisa menjauhkan dirinya dari rahmat dan anugerah-Nya. Yakni, apabila ia berpaling dari nikmat yang Allah berikan ini dan berlaku sombong, dapat dipastikan ia akan jauh dari rahmat dan belas kasih Allah Swt.
Dengan kata lain, apabila orang tersebut berkata, “Aku tidak mau berada di bawah bayang-bayang Rasulullah dan Ahlulbait as, biarlah aku sendiri yang berdoa dan berhubungan langsung dengan Allah”, maka keberpalingannya ini dapat menjauhkan dirinya dari syafaat (orang-orang yang memang diberi hak oleh Allah untuk memberikannya). Mereka dapat dipastikan akan terdepak dari rahmat illahi. Berkaitan dengan kaum munafik di masa Rasulullah saw yang menolak untuk datang menghadap Rasulullah agar beliau memintakan ampunan bagi mereka, Allah swt berfirman ;
Baik engkau memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak, hal itu tidak akan mengubah apa pun, karena Allah  tidak akan pernah mengampuni mereka. Karena mereka berpaling dan menyombongkan diri serta mengatakan, “bahwa kami sama sekali tidak membutuhkan Rasulullah untuk menjadi perantara atas iman kami”, oleh sebab itu akhirnya mereka tidak mendapatkan syafaat.
Kesimpulannya, apabila pintu syafaat duniawi tidak dibuka, hal ini bukan berarti tidak ada lagi jalan untuk berhubungan dengan Allah Swt. Akan tetapi, seseorang tetap dapat menjalin hubungan langsung dengan Allah Swt meski tanpa perantara. Namun, apabila seseorang itu mempunyai syafi’ (pemberi syafaat), maka hubungannya dengan Allah Swt akan menjadi lebih kuat dan dia akan lebih mudah, lebih banyak serta lebih cepat sampai pada rahmat ilahi dan apa yang menjadi keinginannya.
Bersambung…
*Tulisan ini merupakan bagian dari buku Pand_e Javid, jilid 1, pelajaran Kedelapan belas, karya Ayatullah MT. Misbah Yazdi. Uraian ini merupakan sarah atas surat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada Imam Hasan Mujtaba.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed