by

Empat Rute Kelana Filosofis-Mistik Mulla Sadra

Mollâ Shadrâ menerapkan prilaku rasional filosofis (as-sulûk al-’aqlî al-falsafî) atas prilaku emosional teosofis (as-sulûk al-qalbi al-irfânî). Karena itulah ia melakukan pembagian perjalanan filosofis dengan gaya pembagian perjalanan teosofis.
Menelusuri empat rute perjalanan Mollâ Shadrâ sangatlah melelahkan, apalagi dalam bagian-bagian tertentu dalam perjalanannya, ia sering memberikan sentuhan-sentuhan rfani, bahkan kadang kala kembali ke Yunani lagi. Itulah, sebabnya, karya-karya Mollâ Shadrâ tidak bisa diperlakukan sebagaimana lazimnya buku-buku filsafat lainnya, sampai-sampai ada yang merasa tidak sopan apabila membuka atau membacanya tanpa lebih dahulu berwudhu’. Sebagian orang menganggap penerjemahan karya Mollâ Shadrâ yang tidak dilakukan oleh tim yang mumpuni dan direstui oleh para ulama dianggap sebagai kelancangan.
Mollâ Shadrâ membagi empat rute perjalanan (al-Asfâr al-Arba’ah) sebagai berikut:
1. As-Safar min al-Khalq ila al-Haq atau ‘Perjalanan dari al-khalq (makhluk) ke al-Haq (Tuhan).
Dalam tahap ini pelaku perjalanan mempelajari hukum-hukum dalam filsafat (metafisika). Ia juga disebut dengan perjalanan dalam natur. Ia dapat dianggap sebagai pemanasan sebelum perjalanan menuju (pengenalan terhadap) Allah. Inilah fase pembahasan masalah-masalah umum dalam filsafat.
2. As-Safar bi al-Haq fî al-Haq atau ‘Perjalanan dengan al-Haq dalam al-Haq.’ Dalam tahap ini pelaku perjalanan membahas tema-tema Tauhid dan sifat-sifat al-Haq. Ia juga disebut dengan perjalanan dalam kesempurnaan al-Haq. Dalam perjalanan ini, yang dipelajari adalah filsafat ketuhanan atau filsafat teologi (bukan ilmu kalam) yang lazim disebut dengan al-falsafah bi al-ma’nâ al-akhash, masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan. Inilah fase tauhid dan sifat-sifat Tuhan.
3. As-Safar min al-Haq ilâ al-Khalq bi al-Haq atau ‘Perjalanan dari al-Haq menuju al-khalq dengan al-Haq.’
Dalam tahap ini, pelaku perjalanan membahas perbuatan-perbuatan Tuhan. Ia juga disebut dengan ‘Penampakan Ilahi (Tuhan) dalam segala sesuatu yang dipandangnya. Inilah fase pembahasan aksi-aksi Tuhan.
4. As-Safar bi al-Haq fî al-Khalq atau ‘Perjalanan dalam al-khalq dengan al-Haq’. Dalam tahap pelaku perjalanan membahas jiwa dan Hari kebangkitan.
Perlu ditambahkan pula, bahwa setiap arif menganggap masing-masing dari empat perjalanan diatas sebagai tingkatan tauhid. Sebagaimana telah diketahui bahwa terdapat lima peringkat tahuid, yaitu 1. tahuhid untuk kalangan umum (tauhid ’âmmah); 2. tauhid untuk kalangan khusus (tauhid al-khâshshah); 3. tauhid untuk kalangan lebih khusus dalam kalangan khusus (tauhid khâshah al-khâsh); 4. tauhid untuk kalangan inti dalam dalam kalangan yang lebih khusus (tauhid khulâshah khâshah al-khâsh); 5. tauhid untuk kalangan paling inti dari kalangan yang lebih khusus (tauhid shafâ’ khulâshah khâshah al-khâshshah). Peringkat terakhir ini hanya ditempati oleh para pelaku safar keempat.
Henry Corbin menyesalkan keterangan sebagian pemikir dan orientalis Barat yang terkesan ’sok tahu’ tentang Mollâ Shadrâ, seperti Cont De Gobino dari Perancis yang menafsirkan ’empat safar’ sebagai perjalanan geografis, Edward Granvill Brown dari Inggris, yang kata Asfâr dari “sifr” yang berarti lembaran. (Dicopy dari HIKMAH YANG MENJULANG, akan diterbitkan Mizan)
 
sumber:http://www.facebook.com/album.php?aid=15128&id=1618081247&op=6#!/yandasadra?v=app_2347471856
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed