by

Para Imam Ahlulbayt as (Imam Syiah) Mendapatkan Ilham dan Bertemu Malaikat ?

Apakah anda berpikir bahwa wahyu hanya diperuntukkan bagi Nabi dan Rasul? Apabila demikian anda telah bertentangan dengan Quran karena ibunda Nabi Musa as bukanlah seorang Nabi ataupun Rasul. Bukankah demikian? Allah SWT mewahyukan untuk meletakkan putranya pada sebuah keranjang di sungai ~agar tentara- tentara Fir’aun membawanya ke istana.

Apakah Para Imam Mendapatkan Ilham ?
Tidak ada keraguan ketika ayat ini turun, “Hari ini telah aku sempurnakan agamamu dan telah aku cukupkan karuniaku kepada kalian, dan aku ridhai Islam menjadi agamamu” ( QS. al-Maidah : 3 ), agama telah sempurna. Allah SWT menurunkan Quran juga syariat hanya kepada Nabi Muhammad SAW, dan tidak ada wahyu seperti itu yang diturunkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Apabila Imam Ali diberi ilham, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan firman Allah SWT: Ilham yang diberikan kepadanya merupakan hal yang telah dan akan terjadi.
Allah SWT memiliki banyak cara untuk memberi tahu sesuatu kepada hamba- hamba-Nya.
Salah satunya adalah dengan wahyu (wahy). Cara lain adalah dengan membisiki (memberi ilham). Dengan cara memberi ilham ini, Allah memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam hati hamba-Nya. Hal ini diyakini oleh semua mazhab Islam.
Tetapi apakah anda berpikir bahwa wahyu hanya diperuntukkan bagi Nabi dan Rasul? Apabila demikian anda telah bertentangan dengan Quran karena ibunda Nabi Musa as bukanlah seorang Nabi ataupun Rasul. Bukankah demikian? Allah SWT mewahyukan untuk meletakkan putranya pada sebuah keranjang di sungai ~agar tentara- tentara Fir’aun membawanya ke istana.
Dan Kami memberi wahyu kepada ibunda Musa. Susuilah (bayi itu) tetapi apabila engkau telah merasa takut, lemparkanlah ia ke sungai dan janganlah engkau takut bahwa engkau akan berduka cita karena Kami akan menjaganya untukmu dan Kami akan mengangkatnya menjadi salah satu utusan Kami (QS. al-Qashash : 7).
Perhatikanlah bahwa secara langsung Quran menggunakan kata “wahy” (wahyu). Di sini, Yusuf Ali telah menerjemahkan kata’wahy dengan artian ilham. Tetapi Quran menggunakan kata ‘wahy’ (wahyu), dan bukan bisikan (ilham). Wahyu dan ilham merupakan dua hal yang berbeda.
Bagaimanapun, satu hal yang jelas adalah bahwa wahyu yang diturunkan kepada selain Nabi atau Rasul tidak memiliki sangkut paut dengan syariat. Wahyu tersebut tidak berkaitan dengan ajaran agama dan lain-lain. Wahyu tersebut lebih merupakan perintah untuk memilih ketika sedang dalam kebingungan dan atau memberitahukan apa yang telah dan akan terjadi.
Kita dapat menyimpulkan bahwa wahyu memiliki berbagai jenis. Hanya wahyu yang diberikan kepada Nabi dan Rasul saja yang berhubungan dengan ajaran agama dan praktik-praktiknya yang baru, sedangkan wahyu lainnya tidak.
Catatan: Quran juga menggunakan kata wahy kepada selain manusia, tetapi hal itu bukan pembahasan kami. Dalam buku ini kami menitikberatkan pada jenis wahyu lain untuk manusia saja.
Apakah Para Imam bertemu dengan Malaikat?
Menurut Quran, berkomunikasi dengan malaikat bukan sesuatu yang khusus bagi para Nabi dan Rasul. Allah SWT menyebutkan dalam Quran bahwa Maryam (ibunda Nabi Isa) berkomunikasi dengan malaikat, dan malaikat berbicara dengan Nabi Isa. Lihatlah Quran mengenai percakapan ibunda Maryam dan para malaikat!
Ingatlah ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah menggembirakan kamu dengan Kalimat daripada-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia ini dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). “(QS. Ali Imran : 45)
Ada sebuah percakapan yang lengkap antara Maryam dan malaikat. Lihatlah beberapa ayat sebelum dan sesudahnya dari ayat di atas! Maryam as bukanlah seorang Nabi atau Rasul, tetapi ia berkomunikasi dengan malaikat. Namun demikian, komunikasi antara Maryam dengan malaikat tidak berkaitan dengan syariat. Percakapannya tidak ada sangkut paut dengan praktik agama. Tetapi lebih berupa berita tentang apa yang akan terjadi, dan perintah yang harus dilakukan.
Surah yang berhubungan dengan ayat ini adalah Hud ayat 69-73 di mana malaikat berkomunikasi dengan istri Nabi Ibrahim dan membawakannya berita gembira bahwa ia akan mengandung Nabi Ishak as.
Bahkan kaum Suruai menyatakan bahwa Imran bin Husain Khuza’i (52/672) yang merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, dikunjungi oleh malaikat, menyapa mereka, berjabatan tangan dan memandang mereka. Ia hanya ditinggalkan oleh mereka sesaat setelah para malaikat kembali hingga wafatnya.’
Tidak ada keraguan bahwa Imam Ali adalah muhaddats yang artinya ‘seseorang yang telah diajak bicara’. Tidak hanya Imam Ali, tetapi semua Imam dua belas, demikian juga dengan Sayidah Fathimah. Berdasarkan hadis Sunni yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Aisyah bahwa Nabi Muhammad bersabda,
“Di antara umat sebelum kamu terdapat orang-orang yang menjadi muhaddatsun (orang yang dapat mengetahui sesuatu akan terjadi dengan benar, seperti orang-orang yang telah diberi ilham oleh kekuatan ilahi), dan apabila ada orang-orang seperti itu di antara pengikutku, mereka adalah…”
Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Di antara bangsa-bangsa sebelumnya ada orang-orang yang sering diberi ilham (meskipun mereka bukanlah para Nabi). Dan apabila terdapat orang- orang seperti itu, di antara pengikutku, mereka adalah…”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda, “Di antara bangsa
Israil yang hidup sebelum kalian, ada orang-orang yang sering mendapat ilham melalui petunjuk meskipun mereka bukan para Nabi, dan apabila terdapat orang-orang seperti itu, di antara pengikutku, mereka adalah…”
Selain itu diriwayatkan, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya di antara bangsa-bangsa yang hidup sebelum kalian terdapat orang-orang muhaddatsun dan apabila ada salah seorang di antara pengikutku, ia adalah…”
Nabi Muhammad juga bersabda, “Sesungguhnya diantara Bani Israil sebelum kalian terdapat orang-orang yang diajak berbicara (rijalun yukallamun) dan mereka bukan Rasul dan apabila ada salah satu di antara umatku, ia adalah…”
Kesimpulannya adalah bahwa eksistensi muhaddatsun (orang-orang yang diajak berkomunikasi) merupakan suatu hal yang dibenarkan oleh semua umat Islam dan bahwa hal ini bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Catatan kaum Sunni di atas juga membenarkan bahwa muhaddatsun bukanlah para Nabi dan mereka tidak membawa syariat (aturan ilahi) dari Allah SWT kepada umat.
Berikut ini definisi Nabi, Rasul, dan imam. Nabi adalah orang yang menerima syariat. Syariat di sini berkaitan dengan keyakinan (aqaid) atau dengan aktivitas praktis (ibadah). Syariat meliputi urusan kehidupan Nabi dan juga umatnya, atau keduanya. Ini adalah definisi dasar dari Nabi, meskipun Nabi juga mungkin diberitahu hal lain. Turunnya syariat ini dapat langsung atau melalui perantara seperti malaikat.
Rasul adalah Nabi yang menerima syariat yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain selain dirinya. Sedangkan imam adalah orang yang ditunjuk oleh Allah SWT sebagai pemimpin dan sebagai penunjuk (QS. al-Anbiya : 73) yang kepadanya ketaatan harus kita berikan dan orang-orang harus mengikutinya. Rasul adalah pembawa peringatan dan imam adalah penunjuk jalan (QS. al-Ra’d : 7) atau cahaya petunjuk (QS. al-Maidah : 97).
Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika ayat tentang sempurnanya agama Islam diturunkan, banyak ulama tafsir Sunni membenarkan bahwa ayat Hari ini telah aku sempumakan agamamu dan telah aku cukupkan karuniaku kepada kalian, dan aku ridhoi Islam menjadi agamamu (QS. al-Maidah: 3), turun di Ghadir Khum ketika Nabi Muhammad mengumumkan siapa penerus dirinya.20 Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa agama Islam tidak akan sempurna jika tidak ada pernyataan tentang kepemimpinan Imam Ali, dan kesempurnaan agama ditentukan oleh pernyataan Nabi tentang penerus setelahnya.
(Murtadha Mutahhari)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed