by

Kisah Imam Ali Ridha as : Jenazah Pencinta Ahlulbait as

“Wahai Musa bin Sayyar! Orang yang mengantar jenazah salah seorang pencinta kami niscaya ia bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya, ia tidak lagi memiliki dosa”.  -Imam Ali Ridha as

JenazahPencintaAhlulbait-SyiahmenjawabKisah berikut ini menunjukkan bahwa seorang Imam Maksum seperti Imam Ridha as berperan aktif dalam mengawal pencinta dan orang yang berWilayah kepada Ahlulbait as untuk memasuki alam barzakh, alam yang menakutkan banyak orang.
Adalah Musa bin Sayyar, sahabat Imam Ridha as, yang bertutur:
“Suatu hari aku bersama Imam Ridha menyusuri pinggiran kota Thus, lalu terdengar suara tangisan. Setelah kami menuju arah suara tangisan itu ternyata ada jenazah seorang lelaki yang sedang ditangisi kerabatnya.
Seketika Imam Ridha as turun dari kudanya dan menuju jenazah tersebut. Beliau mengangkat jenazah tersebut, mendekapnya seperti seorang ibu mendekap hangat anak kesayangannya.
Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Musa bin Sayyar! Orang yang mengantar jenazah salah seorang pencinta kami niscaya ia bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya, ia tidak lagi memiliki dosa’.
Setelah tiba di tempat pemakaman, kulihat Imam Ridha turun ke liang lahatnya, menjauhkan orang banyak dari jenazah hingga jenazah itu tampak bagi beliau lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada jenazah dan berkata, ‘Wahai fulan bin fulan! Bergembiralah dengan surga yang akan engkau tempati karena tidak ada lagi ketakutan bagimu setelah saat ini’.
Selesai penguburan, aku bertanya kepada beliau, ‘Semoga aku menjadi tebusan bagimu! Apakah engkau wahai Imam mengenal lelaki yang baru saja dikuburkan itu? Demi Allah! Bukankah kita sebelum hari ini tidak pernah menginjakkan kaki kita di wilayah ini?’
Imam Ridha as menjawabku, ‘Wahai Musa bin Yasar! Tidakkah engkau tahu bahwa amalan-amalan para pencinta kami diserahkan kepada kami para Imam setiap pagi dan petang? Apabila mereka lalai dalam beramal niscaya kami memohon kepada Allah untuk mengampuni mereka, dan apabila mereka bagus dalam beramal niscaya kami bersyukur kepada Allah untuk itu’.”
Sumber : Kitab Biharul Anwar 49/98-99; Manaqib Aali Abi Thalib, Ibnu Syahr Asyub, 4/370.
(Diambil dari Facebook Ali Yahya)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed