by

Mahasiswa UGM : Benarkah Syiah itu Kafir?

“Mengkafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad Saww tetapi juga tidak pantas dan juga tidak menguntungkan baik dipihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya”. – Ust. Husein Al-Habsyi –

Berikut ini adalah dialog tanya jawab antara Al-Ustadz Husein Al-Habsyi dengan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Islam Yogyakarta (UII) di Solo. Dalam dialog tersebut para mahasiswa menanyakan beberapa masalah tentang Madzhab Syi’ah Imamiyah, antara lain:
Sunnah-Syi’ah dalam dialog antara Mahasiswa UGM, UII Yogyakarta dengan Ustadz Hussein Al-Habsyi
Mahasiswa: Ustadz Husein yang terhormat, kedatangan kami ini bertujuan untuk silaturahmi. Kami rombongan mahasiswa dan Yogya, sebagian kami ini dan Universitas Islam Indonesia dan ada juga dan Universitas Gajah Mada. Kami banyak mendengar tentang Mazhab Syi’ah dan beberapa Ulama yang pernah kami datangi. Tetapi kami belum merasa puas karena masih ada beberapa jawaban yang kurang tepat menurut kami. Sekarang kami minta agar Ustadz menjelaskan masalah Madzhab Syi’ah ini, dan kami telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang kami anggap perlu.
Ustadz Husein: Saudara-saudara mahasiswa dari Yogya, Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu. Saya bahagia atas kedatangan saudara-saudara kepada saya, apalagi dengan tujuan yang baik yaitu silaturrahim. Saya bersyukur kehadirat Allah karena saudara-saudara masih mempunyai keinginan untuk mengetahui Sebuah Madzhab, yang selama ini di Indonesia tidak terkenal. Tetapi kemudian setelah dikenal banyak fitnah yang ditujukan kepada Madzhab ini. Namun sayang saudara-saudara, sebab saya sendiri bukan Syi’ah. Jadi sebenarnya lebih tepat bila saudara-saudara terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada yang menyatakan bahwa dirinya memang orang Syi’ah.
“Benarkah Syi ‘ah itu Kafir?”
Mahasiswa: “Walaupun Ustadz bukan seorang Syi’ah tetap kami rasa paling tidak Ustadz telah membaca tentang Madzhab ini. Jadi kami rasa tidak salah bila kami bertanya kepada Ustadz. Dan sebaiknya kami langsung saja bertanya. Pertanyaan kami yang pertama adalah: “Benarkah Syi‘ah itu Kafir?”
Ustadz Husein: Baiklah saudara-saudara, saya akan menerima desakan saudara agar saya menjawab pertanyaan saudara-saudara Insya Allah, namun sebaiknya dalam majelis ini kita hindarkan perdebatan. Saya sangat tidak setuju bila majelis seperti ini yang sedianya bermaksud mencari ilmu, mendengar sesuatu yang bisa menambah ilmu, kemudian berbalik menjadi majelis perdebatan, sedangkan perdebatan itu hanya akan membawa permusuhan. Jadi kalau itu terjadi, maka hilanglah maksud yang baik dan majelis ini.
Saudara-saudara yang terhormat! Menjawab pertanyaan saudara ini saya kira mengkafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad Saww tetapi juga tidak pantas dan juga tidak menguntungkan baik dipihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya. Siapa di antara kita kaum muslimin –apalagi saudara mahasiswa ini– yang belum mendengar tentang Kristenisasi yang galak dan dahsyat seperti sekarang ini. Mereka sebelum ini sudah bersatu dan segala aliran; Katolik, Protestan, Advent, ditambah dengan kaum musyrikin, Zionis dan Yahudi, mereka semua sudah bersatu, sedangkan kaum Nasrani bergabung dalam satu dewan gereja. Padahal mereka tidak punya ayat yang berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya umatmu ini adalah ummat yang satu dan Kami adalah Tuhanmu, maka sembahlah Kami.” (Q.S.21: 92).
Mereka tidak pernah dipersatukan dengan Injil mereka atau Taurah mereka, tampaknya mereka dalam taktik mencapai target mengkristenkan kita, memurtadkan kita, maka bersatulah mereka untuk menghadapi kita. Menurut informasi yang saya terima, ribuan sekolah dasar sekarang murid-muridnya dibiayai oleh kaum inissionaris (kaum Nasrani), tentunya dengan maksud -maksud tak asing lagi bagi kita. Jadi gereja menginginkan agar mereka itu merasa berhutang budi kepada Nasrani kemudian mudah ditarik oleh mereka ke Gereja. Karena itu mereka mencapai kemajuan yang pesat di tahun-tahun terakhir ini.
Sedangkan kita –maaf– secara tidak sadar membantu mereka mengeluarkan saudara- saudara dan generasi kita yang sekarang ini dan ummat dan agama Islam. Jadi mereka akan lebih mudah mengkristenkan kita, sedangkan kita mengkafirkan saudara kita sendiri.
Adakah fanatisme yang lebih berat daripada ini?
Kita sekarang ini tidak perlu Syi‘ah atau Sunnah menjadi bahan gaduh di antara kita, kaum muslimin. Kita perlu Islam yang bersumber kan Al-Qur’an dan Al-hadits diterapkan pada diri kita.
Kita memerlukan ukhuwah, memerlukan pengumpulan dana dan seluruh masyarakat dan organisasi Islam untuk menebus jutaan pemuda muslim yang sekarang diambang pintu Nasrani untuk dikristenkan.
Untuk menyelamatkan mereka, barangkali kita perlu mengurangi belanja rumah tangga dan uang jajan anak-anak kita. Dan gadis- gadis serta wanita kita, harus mengurangi segala macam kelebihan benda-benda yang tidak diperlukan seperti alat-alat make-up dan sebagainya, karena uang itu nanti akan kita sumbangkan kepada penduduk yang miskin di antara kaum muslimin yang sekarang dipegang oleh gereja dengan maksud-maksud seperti itu.
Sekarang kita membuang uang untuk mencetak buku-buku, membagikan buku-buku secara gratis yang hanya isinya caci-maki, tuduh-menuduh dan kafir-mengkafirkan. Sehingga uang ratusan juta di Indonesia ini kita habiskan hanya untuk membumihanguskan rumah tangga kita sendiri. Apakah tindakan seperti ini cocok dengan syariat, sesuai dengan akal sehat, pantas dengan waktu seperti sekarang dan sejalan dengan politik perjuangan dewasa ini? Biasanya tindakan-tindakan semacam itu diilhami oleh wawasan yang sempit, fanatisme yang bergejolak di dada, atau kesempitan akhlaq dan kedengkian yang mendalam terhadap sesama muslim. Paling tidak itu hanya intrik dan zionisme atau salibisme internasional. Kita (Ahlussunnah) mengkafirkan Syi‘ah Imamiyah berdalilkan teks books kita dan secara subyektif serta in-absentia. Ini salah satu dan wawasan yang sempit, sebab kita tidak berhadapan dengan mereka secara langsung. Belum pernah kita mengadakan diskusi bersifat final antara Ulama Syi‘ah dan Ulama kita. Kita mencaci mereka dengan menggunakan dalil buku-buku orientalis, itu juga menunjukkan wawasan yang sempit.
Kita kafirkan mereka berdasarkan caci-maki, ejekan dan segala macam kebohongan, itu juga merupakan akhlaq yang sempit. Orang yang berwawasan sempit akan mengatakan, bahwa kita (Ahlus sunnah) ini juga melakukan tahrif, seperti kita mengatakan bahwa Syi’ah melakukan tahrif dan begitu seterusnya. Saya kira hal ini perlu saudara-saudara camkan sebelum majelis ini akan kita lanjutkan nanti.
 
*Dikutip dari Buku “Sunnah-Syiah Dalam Dialog” yang disusun oleh Al-Marhum Al-Ustadz Husein Al-Habsyi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed