by

Larangan Pengkafiran Terhadap Para Pengucap Syahadatain

Di bawah ini akan dipaparkan sekelumit fatwa ulama Ahlus-Sunnah mengenai sahnya keimanan Ahlut Tauhid secara keseluruhan dan keselamatan semua pengucap dan pengikrar dua kalimat syahadat. Di sini para pembenci dan penuduh sesat Syiah bisa membaca bahwa ulama-ulama besar Ahlussunah menganggap Syiah bagian dari Islam.
Hal ini dilakukan agar diketahui akan adanya keserasian antara nash dan fatwa tentangnya, dan demi mengukuhkan kembali keretakan yang telah dialami kaum Muslim. Sebab, setiap orang berakal bilamana dapat membaca nash-nash dalam buku-buku hadis yang sahih serta fatwa-fatwa para ulama yang menegaskan tentang sahnya keimanan semua Ahlut-Tauhid serta terjaminnya keselamatan, bagi mereka secara keseluruhan, maka sesudah itu tidak mungkin timbul suatu perasaan yang mampu merenggangkan hubungannya dengan sesama Muslim lainnya ataupun merintanginya dari persatuan dan kesatuan.
.. . orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. (At-Taubah: 71).
Mengapa mereka bercerai-berai dan saling mempertentangkan mazhab-mazhab mereka, padahal mereka adalah sama-sama ”saudara dalam Agama”? Apa sebabnya api permusuhan membakar segala hubungan baik di antara mereka?
Kalau saja mereka mau kembali kepada fatwa-fatwa para alim ulama mereka yang adil dan lurus, pasti mereka akan yakin dan percaya sepenuhnya bahwa masalahnya sangat bertentangan dengan omong kosong kaum penyebar fitnah. Nah, kini perhatikanlah keterangan-keterangan di bawah ini.
Pada pasal 58 dalam kitab Al-Yawaqit wa Al-Jawahir, Asy-Sya‘rani menyebutkan bahwa ia pernah melihat tulisan tangan Asy-Syaikh Syahabuddin Al-Adzra‘i, penulis buku Al-Qut, sebuah pertanyaan yang disampaikannya kepada Syaikh Al-Islam Taqiyyudin As-Subki, sebagai berikut: ”Bagaimanakah pandangan paduka yang mulia Syaikh Al-Islam tentang perbuatan melontarkan tuduhan sebagai “kafir” terhadap para ahli bid ‘ah (dalam hal akidah)?”
Kemudian datanglah jawaban (dari ‘As-Subki) kepadanya: ”Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa keberanian mengkafirkan orang-orang yang beriman) adalah sesuatu yang amat serius. Setiap orang yang menyimpan keimanan dalam kalbunya, akan merasa sangat takut melontarkan ucapan pengkafiran terhadap para ahli bid ‘ah itu, sementara telah mengikrarkan kalimat La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Sungguh, pengkafiran adalah perkara yang amat serius dan sangat berbahaya . . . ,” demikian seterusnya sampaj akhir keterangannya yang panjang lebar serta sangat mengkhawatirkan akibat pengkafiran yang sangat buruk itu.
Bacalah Al-Yawaqid wa Al-Jawahir buah karya Asy-Sya‘rani tersebut. Kitab itu telah menukil jawaban terinci yang disampaikan oleh As-Subki yang pada akhirnya ia mengingatkan: ”Maka demi menjaga adab dan sikap lurus, setiap orang Mukmin hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan mengkafirkan siapa pun dari para ahli bid‘ah itu, kecuali apabila mereka secara terang-terangan berlawanan dengan nash-nash yang jelas dan pasti dan yang tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwilkan.”
Begitulah jawabannya. Tak diragukan lagi, bahwa ia hanya dapat membenarkan tindakan pengkafiran, semata-mata terhadap orang yang menyimpang dari nash-nash yang amat jelas dan tergolong ma‘lum min ad-din bi adh-dharurah (sesuatu yang secara pasti diketahui sebagai bagian tak terpisahkan dari Agama). Itu pun jika penyimpangannya itu berdasarkan sikap kepala batu serta pengingkaran terang-terangan.
Dengan fatwanya ini, As-Subki telah meremukkan tulang punggung para penyebar berita-berita bohong, menyumbat mulut-mulut berdosa orang yang ”sok pintar” dan membuyarkan impian orang-orang yang ingin memecah-belah kesatuan kaum Muslim.
Dalam kitab Ath-Thabaqat karya Asy-Sya‘rani, halaman 10, disebutkan : Yang mulia Syaikh Al-Islam Taqiyuddin As-Subki pernah ditanya tentang hukum pengkafiran orang-orang ahli bid ‘ah yang ekstrem serta mereka yang hobinya memperbincangkan sifat dan zat Allah SWT yang Mahasuci. Beliau r.a. menjawab: ”Ketahuilah, bahwa setiap orang-orang yang takut kepada Allah SWT niscaya menganggap pengkafiran terhadap orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul Allah sebagai tuduhan yang amat besar dosanya!” Kemudian Asy-Sya‘rani mengutip jawaban As-Subki selanjutnya yang pada penutupnya ia berkata: ”. . . maka hukum pengkafiran hanyalah boleh ditujukan kepada orang yang mengingkari dua kalimat syahadat dan keluar dari agama Islam secara keseluruhan . . .”
Pada hemat saya, adanya beberapa perbedaan dalam kedua pertanyaan dan jawaban di atas menunjukkan bahwa memang telah terjadi dua kali pertanyaan dan dua kali jawaban, seperti tampak jelas dalam susunan kalimatnya. Jelas sekali, bahwa Imam besar ini membatasi dibolehkannya pengkafiran hanya terhadap orang yang secara terang-terangan mengingkari dua kalimat syahadat. Jelas pula bahwa ia tidak menyetujui adanya pengkafiran terhadap kaum Muslim walaupun yang tergolong ahli bid ‘ah atau yang mempunyai kebiasaan memperbincangkan sifat dan zat Allah Yang Maha Suci.
Nah, setelah penjelasan ini, masihkah kita perlu mempedulikan omong kosong orang-orang yang memang sengaja hendak mengobarkan api permusuhan atau para pembuat fitnah? Jika seperti itu penilaian Imam tersebut terhadap orang-orang yang gemar memperbincangkan sifat dan zat Allah SWT, betapa pula kira-kira penilaiannya terhadap orang-orang Muslim yang ”. . . biasa bertobat, beriman, beramal saleh kemudian beroleh hidayah . . .”?
Berkata Asy-Syaikh Ibn Arabiy pada bab ”Wasiat” dalam bukunya Al-Futuhat Al-Makkiyah : ”Jauhkanlah dirimu dari memusuhi para pengikrar ’La ilaha illa Allah’. Mereka itu memiliki kedudukan walayah ‘ammah (perwalian umum) dan mereka adalah wali-wali (kekasih) Allah. Kalau pun mereka pemah bersalah dan datang Menghadap Allah dengan dosa-dosa sebanyak isi bumi, sementara mereka tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka Allah SWT akan menyambut mereka dengan ampunan dan maghfirah sebanyak itu pula. Dan barangsiapa telah memiliki kedudukan walayah, haram memeranginya.” (Demikian ucapannya seterusnya sampai ia berkata): ”Apabila salah seorang dari kamu berbuat suatu dosa yang diancamkan oleh Allah dengan api neraka, maka hendaknya ia menghapusnya dengan kalimat Tauhid. Sungguh, kalimat Tauhid pasti akan menyelamatkan orang yang mengikrarkannya.”
Demikianlah ucapannya. Seperti yang Anda lihat, dengan ucapannya itu, Ibn Arabi telah menetapkan walayah (kewalian) bagi semua Ahlut-Tauhid. Juga penggembiraannya dengan ampunan bagi orang-orang yang melakukan kesalahan atau dosa, di samping pernyataannya bahwa Tauhid menghapus dosa dosa besar dan menyelamatkan pengikranya. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Sayyid Rasyid Ridha, dalam majalah Al-Manar (jilid 17,ha1aman 44) mengatakan: ”Sesungguhnya malapetaka paling hebat yang menimpa firqah-firqah (kelompok-kelompok) Islam ialah kebiasaan saling melontarkan tuduhan kefasikan dan kekafiran di kalangan mereka. Padahal tujuan dari semua firqah itu ialah demi mencapai kebenaran yang mereka perjuangkan dengan segala upaya sungguh-sungguh dalam mendukung, menghayati dan menyeru kepadanya. Maka Seorang Mujtahid (yakni yang telah berdaya upaya secara tulus untuk mencapai kebenaran) akan terampuni apabila ia bersalah . . .”
 
(Disadur dari Buku “Isu-Isu Penting Ikhtilaf Sunni-Syiah karya A. Syarafuddin Al-Musawi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed