by

Syiah Bukan Pendatang Baru, Negeri Ini Bukan Milik Satu Kelompok

“Aneh kalau ada yang mengatakan bahwa Syiah adalah pendatang baru di Nusantara seraya mengklaim bahwa negeri ini adalah bumi satu kelompok tertentu saja. Itu padangan yang ahistoris. Syiah sudah ada sejak awal pertama Islam datang ke nusantara.”

Syiah bukan pendatang baru, Syiah sudah ada sejak awal Islam masuk ke Nusantara.
Proses akulturasi antara Islam dengan kebudayaan setempat di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara. Teori Gujarat menyatakan bahwa pembawa Islam yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah pedagang-pedagang yang datang dari Gujarat yang sangat kental dengan budaya Persia.
Menurut beberapa sejarawan, kerajaan Islam pertama di Nusantara didirikan oleh Syiah: Kerajaan Perlak (Tahun 840 – 1292 M).. Bukti arkeologisnya adalah makam Raja Perlak pertama, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, di Peureulak, Aceh Timur
Itu berarti,yang pertama kali masuk ke nusantara adalah Islam versi Persia-Gujarat (Syiah). Ajaran pantheisme (kesatuan wujud, union mistik, Manunggaling Kawula Gusti) di Jawa dan Sumatera merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang tidak harmonis dengan akidah Asy’ariah, apalagi Islam wahabi yang literal. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah situs teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia.
Kedatangan para pendakwah Islam dari Saudi Arabia (yang sebelumnya dikenal dengan jazirah atau Hijaz) telah membuka sebuah babak baru benturan antara Islam Gujarat-Persia-Syiah dan Islam Arab-wahabi. Agaknya inilah yang bisa dianggap sebagai embrio konflik antara literalisme dan rasionalisme di Indonesia.
Pada masa-masa berikutnya, terhentinya arus kedatangan pedagang dan pendakwah dari Persia telah membuka kesempatan bagi kedatangan para pendakwah Islam dari Arab.Inilah yang menandai berakhirnya pengaruh mazhab Syiah di Indonesia. Kini yang tersisa hanyalah situs-situs budaya dan peninggalan sejarahnya.
Jadi aneh kalau ada yang mengatakan bahwa Syiah adalah pendatang baru di Nusantara seraya mengklaim bahwa negeri ini adalah bumi satu kelompok tertentu saja. Itu padangan yang ahistoris. Syiah sudah ada sejak awal pertama Islam datang ke nusantara.
Jejak Kultur Syiah di Indonesia, Syiah Bukan Madzhab Kemaren Sore
Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan. Menurut beliau, itu semua tradisi Syiah. Tradisi tersebut lahir di sini dalam bentuk mazhab Syafi’i. Jadi, di luarnya Syafi’i, di dalamnya Syiah.
Masih ada juga bukti-bukti ritus khas Syiah – bukan khas Syafi’i – yang populer di Indonesia. Salah satunya ialah tahlilan hari ke satu atau keempat puluh (setelah kematian seseorang) dan juga haul. Tradisi Sunni seperti ini tidak dikenal pada, misalnya, mazhab Syafi’i di Mesir. Lalu, di kalangan NU setiap malam Jumat sering dibacakan maulid Dibâ’ dan lainnya yang sarat dengan shalawat dan salam kepada Rasulullah dengan berdiri, yang tidak lain merupakan tradisi ziarah dari jauh, yang tidak kita temui kecuali dalam tradisi orang-orang Syiah saja.
Hal di atas menunjukkan bahwa antara para penganut muslim Syiah dan Sunni telah terjadi pembauran sosial yang sanggup memberi contoh kerukunan dan hidup harmonis. Secara sosio-kultural Syiah telah sejak lama menjadi bagian utuh dari Bangsa Indonesia. Demikian halnya secara teologis, terdapat irisan yang mempertemukan ajaran Sunni Nahdlatul Ulama dengan Syiah, dan dalam penghargaan terhadap rasionalitas juga mempertemukan Sunni Muhammadiyah dengan Syiah.
Syiah di Indonesia adalah Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang dianut secara pribadi-pribadi. Keyakinan tersebut hidup dalam masyarakat Indonesia dengan tingkat adaptasi yang amat tinggi. Syiah di Indonesia belum pernah memberikan catatan sejarah yang membuktikannya sebagai sebuah mazhab Islam agresif serta ekspansif. Pribadi-pribadi yang menganut Syiah tadi selain karena berasal dari keluarga Syiah tetapi boleh jadi sebelumnya Sunni, namun bukan hasil dari suatu agresivitas yang memaksakan terjadinya perpindahan mazhab tersebut.
Sekali lagi, Syiah bukan pendatang dan madzhab baru di Indonesia, Syiah bukan madzhab kemaren sore, dan negeri ini bukan milik satu kelompok. (QosimAli)
 
Referensi : 
Buku “Syiah Menurut Syiah”
muhsinlabib.com
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed