by

Manusia dan Takdir : Apakah Takdir Membatasi Seseorang?

“..Ketetapan Ilahi mengharuskan manusia memiliki kearifan dan kehendak bebas agar mereka mampu sepenuhnya membebaskan diri dari kepatuhan terhadap kendala lingkungan dan sosial, serta mengatur nasib mereka” – Murtadha Muthahhari

Walaupun manusia tidak mungkin melepaskan hubungannya dengan faktor-faktor keturunan, lingkungan sosial dan alam, serta sejauh dan waktu secara sempurna, mereka tetap bisa berjuang melawan keterbatasan-keterbatasan serta membebaskan dirinya dari dominasi-dominasi yang mengungkungi itu. Mereka mampu mengadakan berbagai perubahan dalam wilayah-wilayah tersebut melalui kearifan dan pengetahuan mereka di satu pihak, dan kuasa kehendak serta keyakinan di pihak lain. Dapat pula mereka mengotakatik faktor-faktor di atas sesuai dengan keinginan mereka, dengan demikian mereka dapat mengendalikan nasib.
Manusia dan Takdir
Banyak orang beranggapan bahwa takdir merupakan faktor utama yang menjatuhkan batasan bagi kebebasan manusia. Kita, dalam Islam, tidak memercayai ini. Dua pertanyaan yang bisa muncul: Maujudkah takdir itu? Adakah takdir membatasi seseorang? Jawaban singkatnya adalah bahwa takdir maujud secara pasti sebagai suatu hakikat sejati, tetapi ia tidak membatasi kebebasan seseorang.
Takdir mengandung dua konsep terpisah, yang pertama bersifat ilahiah, yaitu keputusan mutlak menyangkut kreasi peristiwa-peristiwa dan fenomena-fenomena (qada’) dan yang kedua adalah takaran dari peristiwa-peristiwa dan fenomena-fenomena tadi (qadar). Menurut hukum samawi, ketetapan Ilahi pasti tidaklah ditimpakan pada setiap peristiwa secara langsung dan tanpa perantaraan. Ia mengubah setiap peristiwa melalui sebab-sebab yang relevan dengannya. Ia menuntut suatu jenis sebab dan pengaruh yang bersifat duniawi, yang di dalamnya manusia memperoleh kebebasan melalui kearifan dan kuasa-kehendaknya dan, pada saat yang sama, mendobrak pembatas-pembatas yang ditimpakan atas mereka, baik oleh faktor-faktor keturunan, historis, maupun lingkungan.
Kita kemudian akan melihat bahwa predestinasi (qada’ dan qadar) bukanlah merupakan faktor pembatas. Yang benar adalah bahwa semua jenis batasan yang muncul pada diri manusia karena ketetapan Ilahi, tercetus dari sebab-sebab di atas. Tambahan lagi, menyangkut kebebasan manusia, ketetapan Ilahi mengharuskan manusia memiliki kearifan dan kehendak bebas agar mereka mampu sepenuhnya membebaskan diri dari kepatuhan terhadap kendala lingkungan dan sosial, serta mengatur nasib mereka (penjelasan lebih lanjut merujuk pada manusia dan takdir).
 
(Murtadha Muthahhari, Membumikan Kitab Suci, Manusia dan Agama)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed